KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

“Hai, pagi dah melamun!” Aku dikagetkan suara Ayu, gadis manis yang manja dan kolokan. Maklum usianya baru 18 tahun meskipun dalam paspornya tertulis angka 23 tahun. Aku mengenalnya satu tahun yang lalu, kebetulan kami satu blok. Tiap pagi kami sama-sama mengantar anak bos ke sekolah, main di play ground bersama dan sekali dalam sebulan kami libur bersama. Kuanggap dia seperti adikku dan bagi dia, aku adalah tempat meluahkan semua uneg-unegnya.

“Mbak, bener nggak mau ngasih kabar dulu sama suami di rumah?” tanya Ayu sambil makan buah rambutan yang dari tadi masih belum kusentuh.

“Tidak Yu, Mbak ingin buat kejutan pada Mas Joko,” jawabku sambil membolak balik halaman majalah tanpa ada niat untuk membacanya.

“Lusa terbangnya jam berapa?” tanya Ayu, aku malas menjawabnya. Pikiranku, perasaanku sudah ada di Jawa, rasa rinduku setelah 4 tahn meninggalkan Mas Joko sudah tak terlukiskan dengan kata-kata. Aku rindu belaiannya, senyumnya dan aaaah…segalanya tentang Mas Jokoku.

“Mbak! Mbak Yana! Aduh Mbak, baca apa merenung sih?” teriak Ayu geram sambil melempar kulit rambutan ke arahku.

“Jam 8.45 malam, nanti teman Mbak yang jemput di bandara. Terus Mbak langsung ke Malang, baru besuk paginya ke Kediri,” jawabku panjang lebar karena kutahu pasti Ayu akan tanya macam-macam lagi. “Dah puas dengan jawabanku?” sambungku, kulihat Ayu mencibir ke arahku dengan mimik lucu.

“Apa tidak ke Kediri dulu? Yaaa, katanya mau bikin kejutan, kalau malam-malam bikin kejutan kan lebih seram.” Ayu memberi pendapat. aku cuma diam tanpa respon.

“Cuma Ayu kuatir nanti bukan Mas Joko saja yang terkejut tapi Mbak Yana juga syok,” sambung Ayu. Aku mengerutkan keningku

“Apa maksud di balik kata-katamu itu Yu?” tanyaku penuh keheranan dengan kalimat yang kudengar darinya.

“Aaah, lupakan sajalah Mbak! Ayu cuma bercanda kok dan suer nggak ada maksud apa-apa.” Ayu berusaha menghindar dari kejaran pertanyaanku. Kami sama-sama terdiam hanya sesekali debur ombak menjamah bibir pantai Changi, mencipta gemerisik alun yang memecah kebisuan mereka.

“Yu, pernahkah kamu dikecewakan lelaki?” Entah mengapa tiba-tiba aku ingin bertanya satu pertanyaan yang tak mungkin terjawab, seandainya Ayu pernah sakit hati tentu dengan cinta monyetnya. Aku tersenyum sendiri dengan pertanyaan konyolku.

“Pernah Mbak, meski bukan Ayu yang disakiti tapi Ayu ikut merasa betapa perih luka itu. Luka yang dirasa Emak Ayu karena dikhianati Bapak. Hanya dengan alasan Emak tak bisa memenuhi kebutuhan batin Bapak, akhirnya Bapak mencari wanita lain. Aaah.. kalau saja kami hidup berkecukupan, tak mungkin Emak harus meninggalkan kami. Tak seharusnya Emak kehilangan Bapak dan tak seharusnya Bapak melempar kesalahan pada Emak. Itu sungguh tak adil!!”

Kulihat raut wajahnya berubah, Ayu yang selama ini kukenal periang kini nampak murung. Sungguh aku tak pernah menyangka sama sekali pertanyaanku tadi telah mengusik keceriaannya.

“Kamu membenci bapakmu, Yu? Apa kamu menyesali nasib yang kamu alami sekarang ini?” tanyaku. Kulihat senyum manis itu kembali mengulum di bibirnya yang dipoles lipstik merah jambu.

“Pinginnya sih begitu, tapi melihat ketegaran Emak dan keikhlasannya menyadarkan Ayu bahwa nasib itu sudah ada yang ngatur,” jawabnya penuh ketegaran. Ayu mulai bisa mengawal rasa dan wajahnya kembali ceria.

Aku terpaku sejenak, satu cerita yang seringkali tertangkap telingaku. Cerita klasik yang sering dialamai para wanita pendulang dollar, wanita yang menjadi tulang punggung keluarga yang harus rela jauh dari orang-orang yang mereka cintai, rela menekan rasa rindu bertahun dan pada akhirnya harus rela dijadikan korban pengkhianatan sang suami. Sungguh tidak adil! Bagaimana seandainya aku yang mengalaminya? Bisakah aku setegar emaknya Ayu? Bisakah?

Aku percaya Mas Joko tak mungkin mengkianati cinta yang telah kami bina semenjak di bangku sekolah dulu. Aku percaya pada kesetiaannya walaupun aku sadar masa empat tahun adalah masa yang tidak singkat, banyak hal yang bisa terjadi dan banyak perkara yang bisa berubah, tapi itu bukan cinta kami.

Selamat tinggal Singapura, aku pulang untuk cintaku untuk suamiku. Aku akan mengabdi pada keluargaku.
Aaah.. tak terasa empat tahun kuabaikan keluargaku. Tidak! Aku tidak mengabaikan tapi aku berusaha untuk memperbaiki kehidupan kami demi masa depan yang lebih mantap.

oooOooo

“Hai Yan, tambah cantik kamu.” Baru saja aku keluar dari ruang bagasi di Juanda, Harsono teman lamaku dan juga tetanggaku dulu sudah mengenaliku.

“Hai Har, makasih loo dah sudi menjemputku,” kujabat tangannya, dia semakin dewasa.

“Mana barangmu Yan?” tanya Harsono heran melihatku cuma membawa hand bag dan kopor kecil. Maklum sajalah sudah jadi hal yang lumrah kalau seseorang pulang kerja dari luar negeri akan membawa satu kontainer barang.

“Mas Joko tidak memerlukan barang Har, yang dibutuhkan cuma aku!” gurauku sambil mengikuti langkahnya ke tempat parkir.

“Ke mana Yan? Malang atau Kediri?” tanya Harsono begitu mobil yang dia kemudi sudah keluar kawasan Juanda. Entah mengapa tiba-tiba pikiranku terusik oleh kata-kata Ayu tempo hari.

“Kediri saja Har, tidak keberatan kan?” Kulihat ada senyum getir di sudut bibirnya.

“Hmmm mimpi apa Joko malam ini? Pasti tak terpikir olehnya malam ini selimutnya datang,” goda Harsono membuat wajahku memanas.

“Kamu sendiri kapan akan dapat selimut? Jangan terlalu pilih-pilih nanti keburu basi jadi bujang lapuk,” aku menimpali gurauannya untuk menutupi perasaan gundahku.

“Aku nunggu kamu Yan!” jawabnya singkat.

“Gila!”

“Sudahlah. Lupakan kata-kataku tadi, aku cuma bercanda!” Harsono meralat kata-katanya, dan entah untuk berapa lama kami diam, hanyut dalam pikiran kami masing-masing. Tanpa aku sadari mobil sudah berhenti di depan rumah, rumah mungil tapi indah dan asri.

“Yan, aku…” Kudengar Harsono menggantung kalimatnya seakan ingin mengatakan sesuatu.

“Ada apa Har?” tanyaku dan kuurungkan niatku untuk membuka pintu mobil menunggu dia melanjutkan kalimatnya.

“Masuklah Yan! Kalau perlu bantuan jangan seegan menghubungiku,” Harsono merubah jalur pembicaraannya.

“Sekali lagi, makasih ya Har,” ucapku.

Aku pun turun dan memasuki halaman rumah yang belum berpagar. Debar jantungku semakin berpacu tak beraturan. Mas Joko, kamu tahu aku sangat merindukannmu.
Sesampai di depan pintu, kuketuk perlahan, tak ada jawaban. Sekali lagi agak keras, sepi. Hatiku semakin gundah, belum sempat kuketuk untuk ketiga kalinya, kulihat lampu ruang depan menyala. Ada getar-getar aneh dalam hatiku. Aaahhh… sedetik, dua detik, tiga detik!! Nafasku seakan berhenti ketika kudengar batuk seorang wanita. Siapa? Aku berusaha menenangkan perasaanku sendiri.

“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” Kudengar lembut suara wanita dengan baju tidur dan aku merasa kakiku lemas seketika. Aku mencoba mengumpulkan segala kekuatan agar tubuhku tak limbung.

“Maaf Mbak, Mbaknya cari siapa?” Aku tergagap, bibirku terasa kelu untuk menjawab.

“Pak Jokonya ada Bu?” Kutahan sekuat mungkin getar suaraku dan kucoba untuk tenang, tenang dan tenang meski perasaan marah, benci, sedih dan cemburu berbaur merasuki diriku.

“Cari siapa Ma? Ada yang penting?” Terdengar suara yang amat kukenal, suara itu..

“Malam Pak Joko,” sapaku dengan membuang sebutan Mas yang selama ini kupakai memanggilnya. “Maaf kalau saya mengganggu istirahat Pak Joko sekalian,” sambungku datar.
Kulihat Mas Joko seperti mayat hidup, pucat dan tanpa kedip menatapku yang masih tercekat di depan pintu.

“Aduh Mbak, maaf sampai lupa mempersilahkan masuk. Silahkan duduk Mbak!” Suaranya lembut dan ramah namun justru itu yang mencabik-cabik hatiku.

“Pa, ganti baju dulu dong! Nggak sopan ada tamu kok pakai baju tidur!” perintahnya pada Mas Joko. Kuperhatikan Mas Joko seperti lembu dicocok hidungnya, dia pun berbalik mengikuti perintah wanita itu.

“Mbaknya minum kopi? Maaf di rumah kami hanya ada kopi tidak pernah ada yang lain.”

“Rumah kami? Hai perempuan, kamu tahu tidak, rumah ini kubangun dari hasil keringatku menjadi babu!! Siapa kamu, mengaku ini rumah kalian!” Kalimat itu hanya terucap di hatiku.

Aku tak sanggup bicara kasar pada sesama wanita meski wanita di depanku telah merampas cintaku, Mas Jokoku, pria yang sangat kusanjung. Wanita itu.. aaahh.. sangat lembut dan cantik. Dia… dia sedang hamil. Oh Tuhan betapa menyakitkan pemandangan ini.

“Saya ke belakang dulu Pa.” Wanita itu segera masuk begitu melihat Mas Joko keluar. Kutatap Mas Joko, agak gemuk dan semakin matang. Inginnya aku berlari ke arahnya dan memeluk tubuhnya, tapi itu tidak mungkin kulakukan. Aku harus menghormatinya di depan wanita itu, aku tak mau memperuncing keadaan. Biarlah aku sendiri yang tahu siapa Mas Joko yang ada di depanku saat ini.

“Maafkan aku pulang tanpa memberi tahu dulu.” Aku membuka suara, kucoba untuk tidak menangis meski dada ini terasa mahu pecah menahan sebak.

“Seharusnya aku yang minta maaf,” gumannya lirih. “Tapi tolong dengar penjelasanku dulu Yan,” sambungnya.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi Mas, aku sudah dapat penjelasan dari apa yang kulihat saat ini. Biarlah aku yang undur diri dan anggap ini semua hadiah dariku atas pernikahanmu.” Hampir saja bendunganku bobol, aku harus kuat!!!

“Yan, kamu ada hak atas rumah ini, kamu…” Belum sempat Mas Joko melanjutkan kalimatnya, aku sudah memotongnya.

“Mas, kalau dulu mungkin ya! Tapi sekarang ada yang lebih berhak, lebih baik aku menjauh dari kehidupanmu dan hiduplah seperti aku tak pernah ada dalam hidup dan hatimu, tapi satu pintaku, tolong lepaskan aku!”

Entah kekuatan apa yang mendorongku mengucap kalimat tersebut. Mungkin kekecewaan dan sakit hati yang kurasa saat itulah yang membuatku meminta sesuatu yang mungkin teramat berat bagi Mas Joko untuk mengabulkannya.

“Itu tak mungkin lakukan Yan. Aku masih mencintaimu, kamu tahu itu.”

“Jangan ucapkan kata cinta saat ini Mas! Jangan lukai wanita lain, cukup aku saja yang terluka,” ucapanku hampir tak terdengar oleh telingaku sendiri.

“Dan cari jawaban yang tepat seandainya istrimu tanya siapa tamu tengah malammu,” sambungku sambil berdiri.
Baru saja aku membalikkan tubuhku kudengar suara wanita itu.

“Lho Mbak, kok buru-buru? Diminum dulu kopinya!” Lembut suaranya semakin menggodam ulu hatiku, perih!!

“Maafkan saya, Bu Joko, suami saya sudah menunggu di ujung jalan.” Aku berbohong dan minta diri.

oooOooo

Kulangkahkan kakiku keluar dari rumahku sendiri, rumah yang selama ini menjadi impianku dengan Mas Joko. Aku tak lagi menoleh ke belakang karena itu sudah menjadi sejarah hidupku. Tubuhku sepert kapas, ringan, jalan yang terang terasa gelap olehku.

“Ya Alloh, beri hamba kekuatan, kalau ini memang kehendak-MU aku ridhoi ya Alloh,” doaku lirih.

Kuayun langkah kakiku dalam malam yang sempurna tanpa kutahu tujuanku, ke mana? Aku sendiri tak tahu. Kakiku semakin lemah, lemah dan entah sudah berapa langkah iba-tiba kurasa kepalaku berat, mataku mulai gelap. Hanya satu yang kuingat, seseorang telah memapahku. Dan ketika aku mulai sadar kulihat ruang di sekitarku putih bersih, kepalaku masih terasa berat. Kucoba untuk bangun namun badanku terasa tiada daya.

“Maaf Bu, sebaiknya Ibu istirahat dulu, jangan dipaksakan untuk bangun kalau masih lemah!” Suara seorang wanita tiba-tiba masuk, seorang suster.

“Suster, siapa yang mambawa saya ke mari?”

“Suami Ibu, sekarang beliau masih di ruang dokter, sebentar lagi juga kemari,” jawab perawat itu sambil menulis laporan di buku catatan kesehatanku.

“Mas Joko? Benarkah dia yang memapahku semalam dan membawaku kemari?” tanyaku pada diriku sendiri.

“Pagi Dok, pasiennya sudah bangun.” Aku tersentak oleh sapaan suster itu.

“Selamat pagi, Bu. Bagaimana perasaan Ibu sekarang?” tegur dokter wanita yang masih muda itu, namun perhatianku tertuju pada sosok pria yang melangkah di belakangnya.

“Har!” Hanya itu yang terucap ketika kutahu dia yang bersama dokter itu.

Kulepas segala beban yang ada dalam hatiku lewat tangisku, aku menangis sepuas hatiku dalam pelukan Harsono, pelukan seorang sahabat.

“Menangislah Yan, kalau itu bisa meringankan beban batinmu,” bisiknya sambil membelai rambutku. Aaaahhh.. seharusnya tangan Mas Joko yang membelaiku, memelukku saat sedih. Tapi kini Mas Joko telah memiliki wanita lain, bukan aku.

“Har, sampai hati Mas Joko mengkhianatiku. Mengapa Har, mengapa harus kualami hal ini?” rintihku di sela isak tangisku.

Mengapa tidak semalam kutanyakan ini pada Mas Joko, mengapa aku masih sudi menjaga nama baiknya di depan istrinya. Mengapa aku tak punya nyali menuntut kesetiaannya, mengapa? Terlalu banyak tanda tanya dalam benakku sehingga aku tak mampu menahan beban.

“Har, boleh aku tanya sesuatu padamu ?” Kubuka suara setelah beberapa saat aku terdiam dalam dalam kekecewaan

“Apa?” jawab Harsono sambil menyeka sisa-sisa air mataku.

“Mengapa kamu masih berada di sana semalam?” Entah mengapa pikiranku mengatakan Harsono mengetahui sesuatu dan menyembunyikannya dariku. “Apa kamu bisa menebak apa yang akan terjadi Har?” sambungku lagi dengan nada menuduh.

“Maafkan aku Yan, sebenarnya aku sudah tahu perihal Joko tiga bulan yang lalu, kebetulan temanku tinggal di sekitar rumahmu. Inginnya aku memberitahumu tapi aku tak sampai hati karena aku tahu kamu sangat mencintainya,” jelas Harsono dan itu merupakan pukulan yang teramat sakit buatku. Sahabatku menutupi kecurangan suamiku!!

“Kamu sama jahatnya dengan Mas Joko!!” hardikku penuh rasa kecewa atas sikap Harsono.

“Yan, dengar dulu! Andai kukatakan semua tentang Joko tentu kamu pikir aku sengaja menebar fitnah dan aku yakin kamu tak akan pernah mempercayai kata-kataku,” Harsono berusaha membela dirinya. Aku terdiam. Tak seharusnya aku menyalahkan dia, untuk beberapa saat kami saling diam dalam kekakuan. Aku hanyut dalam kekecewaan yang teramat sakit.

“Yan, ada seseorang yang dari tadi ingin bertemu. Kamu tidak keberatan kan?” tanya Harsono. Kutatap matanya penuh selidik, dia berusaha menghindar.

“Mas Joko maksudmu?” Aku berusaha menebak siapa gerangan yang dimaksud Harsono. Dia mengangguk. Aku tergugu, haruskah kutemui dia?

“Bagaimanapun dia masih suamimu, Yan. Bicaralah dengan leluasaa di sini tanpa harus sungkan dengan istrinya. Temui dia Yan!! Dari tadi dia menunggu.”

Aku mengangguk mengiyakan. Mungkin benar kata Harsono, di sini aku bisa meluahkan semuanya pada Mas Joko. Rasa marahku, rasa kecewaku, semuanya! Tapi untuk apa? Bisakah mengembalikan rasa percayaku pada Mas Joko.
Kulihat Harsono melangkah keluar, tak lama kemudian…

“Yan, ampunkan aku! Hukumlah aku! Apapun hukumanmu aku terima asal jangan kau pinta perpisahan, asal jangan kau benci aku. Aku tak sanggup melihat sinar kebencian itu, Yan!” Mas Joko tiba-tiba menghambur dari arah pintu dan memelukku. Hatiku bergetar dalam pelukan yang sudah teramat lama kurindukan.

“Kamu tahu Mas betapa aku sangat mencintaimu, merindukanmu!” Ingin sekali kulafaskan kalimat itu namun mulutku terkatup rapat, hanya air mataku yang bicara atas nama rasa dan hatiku.

“Sudahlah Mas, Yana tak akan pernah membencimu meski telah kaku hancurkan segalanya, cintaku, harapanku, mahligaiku, hidupku, semuanya, Mas,” lirih kuucap kalimat tersebut di sela isakku sambil kulepas pelukannya.
Aku tak mau hanyut meski aku sangat merindukan itu semua. “Kamu bukan milikku, Mas,” sambungku.

“Yan beri aku kesempatan sekali lagi,” pintanya.

“Untuk apa Mas? Untuk menghancurkan dua hati? Tidak Mas, biarlah aku yang mengalah. Aku yang akan pergi dari kehidupanmu, dia lebih memerlukanmu juga calon pewarismu yang bakal lahir.” Kucoba untuk tidak menangis lagi, aku harus siap menghadapi segalanya. Harus!! Aku tak boleh menunjukkan kelemahanku pada Mas Joko.

“Pulanglah Mas, jangan sampai ada rasa curiga dari istrimu. Percayalah, aku tak akan pernah membencimu walau ingin aku membencimu. Tapi tolong lepaskan aku!” Kuraih tangan Mas Joko dan kucium.

“Maafkan segala salah silapku selama kita hidup bersama dan halalkan segala makan minum yang telah Mas beri padaku.” Aku sudah tak mampu lagi berkata-kata, kupeluk dia untuk yang terakhir kali sebagai suamiku.

“Pergilah Mas, aku ikhlas melepasmu,” pintaku pada Mas Joko.

“Yan..”

Kuletakkan jariku ke bibir Mas Joko yang ingin mengatakan sesuatu.

“Jangan bicara apa-apa lagi Mas, pergilah! Kebahagiaanmu sudah menunggu di sana.”

Mas Joko berdiri, diraihnya tanganku. Perlahan kutarik tanganku dan kupalingkan wajahku, aku tak ingin melihat air mata Mas Joko.

Selamat jalan Mas, pergilah! Di sana telah menunggu seorang wanita yang mampu memberi kesempurnaanmu sebagai seorang lelaki. Sesuatu yang tak akan pernah kau dapat dariku.

4 Responses to “Kusangka Panas Hingga ke Petang, Kiranya…”

  1. on 03 Dec 2008 at 22:39Hartanto

    Waah, bguz bgt crt’y. Mzkipun Gw cwo’ tp Q bS t’hnyuT dLm aLur crtany spt pd realita, wnita 5ng b’jiwa besar.
    Trz b’karya yaCh..! :)

  2. on 04 Dec 2008 at 12:23afi

    satu kata doank!kereeeeeeeeeeeen

  3. on 06 Dec 2008 at 10:56sekar

    hartanto…afi… thanks ya komentarnya..terus terang nihc hampir semua cerpen yang saya tulis selalu berlatar belakang kejadian nyata yang sering saya dengar dari para PAHLAWAN DEVISA NEGARA…

  4. on 25 Mar 2009 at 18:31ega

    keren banget kayak nyata ini nyata apa hanya khayalan atau memang di alami sendiri jujur keren bgt cerpennya..

Tinggalkan Komentar