Kala Pagi di Bukit Sunyi
Desember 2nd, 2008 by eno rusnadi
Pada mulanya bukit itu mewarnai hari-hariku
Dia tampak kukuh
Teduh
Hijau
Dan dia senantiasa mengundang orang untuk datang
Sepasang mataku tak bosan waktu memandang
***
Bukit dan penghuninya itu seakan akrab dan lekat
Semua lepas
Bercanda
Bercengkrama
Tiada yang membatasi juga menghalangi kebebasan mereka
Kebebasan mereka murni
Kebebasan mereka sejati
Seakan lukisan alam terentang di sana
Oh Eloknya !
***
Aku kerap kunjungi dia
Entah sekadar menengok
Atau
Menikmati suasana yang alami
Sejenak saja sudah cukup bagiku
Bagi orang, dan bagi kita
Untuk rehat di bukit ini
***
Tapi sayang beribu sayang
Setelah tergilas oleh waktu
Terampas oleh keserakahan
Teracuni oleh bujukan
Bukit berubah gersang bagai hamparan tanah lapang
Dia menjelma huma
Huma membentang tak alang kepalang
Bukit itu pun menjadi terang
Ah sungguh disayang !
***
Aku pun di sini di kaki bukit ini
Sekarang
Sendiri
Tiada teman, tiada orang
Aku ingin melihat
Mendengar
Merasakan
Atas semua perubahan yang terjadi
Tatkala pagi masih tipis diselimuti kabut
***
Pagi ini ..
Tak kurasakan setetes pun embun
Embun yang pernah menerpa dan lekat di wajahku
Embun kini serasa menjauh
Embun menolak untuk membasuh
Tak kulihat pula pancaran matahari
Tak kurasakan kehangatan pagi
Matahari seolah redup
Angin?
Desirnya hanya sesaat
Juga tanpa suara, tiada hembusan dari sang empunya kesejukkan ini
***
Di pagi ini pula
Tiada kicauan burung-burung yang menyapa
Tiada kupu-kupu yang hinggap
Mereka hanya terbang
Melayang-layang
Mengitari, kemudian hilang
***
Lalu di hadapanku tampak juga
Dedaunan kering yang terserak-serak
Ilalang yang jarang, tak memanjang
Rerumputan liar tumbuh berjauhan di antara sisa akar pepohonan yang mati, menanti busuk
***
Sungguh..
Tiada lagi gemeretak ranting-ranting yang jatuh atau terinjak
Tiada lagi gemercik air
Bahkan hanya satu, dua dan sedikit cendawan yang tumbuh dan melekat di sela-sela bebatuan
Aku tertegun
Kelu
Kecewa, demi menyaksikan semua ini
Bukit ini sunyi di kala pagi