Diriku dan Mama
Desember 1st, 2008 by deeya_
Rumah bercat biru yang teduh. Kota kelahirahanku. Canda tawa dan derai tangis. Secuil kenangan itu kembali berkelebat dipikiran, saat aku melihat mantan rumahku itu.
Tiga belas tahun lalu…
Saat itu aku baru berusia tiga tahun. Aku yang sama sekali belum mengerti apa arti hidup itu. Aku yang masih terlalu kecil untuk mengerti semua itu. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar bunyi sirine ambulan nyaring memekakkan telinga. Semakin lama semakin dekat, dekat. Lalu bunyi itu menjauh hingga akhirnya hilang tak lagi terdengar.
Kringgg…. Kringg… Kring…
Dering telepon menggantikan. Mama yang saat itu tampak masih muda, berlari kecil menghampiri telepon. Mengangkat telepon, terdiam sesaat. Gagang telepon terlepas dari genggamannya. Tubuh Mama merosot jatuh ke lantai, keringat mengalir deras di dahinya, matanya tampak berkaca-kaca. Aku menangis meraung-raung melihat keadaan Mama yang seperti itu. Entah apa yang kutangisi saat itu, keadaan ataukah nasib?
Detik itu juga, Mama lalu menggendongku, menyandarkan diriku di bahunya yang terasa naik turun. Bergegas menuju kamar, menyambar tas yang telah berisi dompet, lalu melesat keluar rumah menuju ke rumah sakit.
Bau rumah sakit yang sangat khas, bercampur dengan bau pewangi ruangan dan aroma pembersih lantai. Hawa dingin dan suasana yang sepi rumah sakit membuatku merasa tak nyaman, aku pun kembali menangis.
Mama tampaknya telah terlalu lelah untuk menggubris tangisanku. Kakinya terus melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang sepi sambil tetap menggandeng tanganku. Kaki Mama mulai berheni melangkah saat berada di depan sebuah ruangan yang baru beberapa tahun kemudian kuketahui sebagai Unit Gawat Darurat.
Sebuah ruangan dengan dua pintu kembar besar. Terbuat dari kaca. Sebenarnya kita bisa saja melihat pemandangan di dalam kalau saja tidak ada gorden hijau tipis yang menghalangi.
Seseorang dengan baju putih panjang keluar dari ruangan itu sambil menunduk dalam hingga tak menyadari kehadiran kami di hadapannya. Beberapa detik kemudian akhirnya orang itu menyadari kehadiran kami. Ia lalu mengangkat wajahnya dan terseyum sekilas. Kerutan di dahinya bertambah banyak saat ia tersenyum. Kedua ujung bibirnya tertarik secara simetris ke kiri dan kanan, menandakan betapa baik hatinya orang yang ada di hadapanku itu.
“Anda keluarga dari pasien kecelakaan di dalam?” tanyanya pada Mama. Akan tetapi Mama hanya mengangguk lemah menjawab pertanyaan orang itu.
“Bagaimana keadaan suami saya Dok?”
“…”
“Suami saya tidak apa-apa kan Dok?”
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” ucap orang yang dipanggil Mama dengan sebutan Dokter.
Sebuah kalimat yang terlontar dari mulut sang Dokter itu rupanya menjadi salah satu pukulan berat untuk Mamaku. Air matanya langsung meleleh, wajahnya memutih, lalu tubuh ringkihnya jatuh.
Sang Dokter lalu membopong tubuh Mama ke salah satu kamar. Menidurkannya di atas tempat tidur. Menekan pergelangan tangannya sesaat. Kemudian melihat ke arahku dan tersenyum miris.
Setelah kejadian itu aku tak ingat apa-apa lagi. Yang aku tahu hanyalah aku telah menjadi anak yatim sejak saat itu juga.
***
Saat ini, setelah kejadian itu berlalu. Tiga belas tahun adalah waktu yang menurutku sangat panjang. Banyak sekali hal yang terjadi selama kurun waktu selama itu. Selama itu aku telah merasakan pahit dan manis kehidupan ini.
Aku tak mengenal wajah Ayahku secara nyata, aku hanya mengenalnya lewat sebuah album foto. Rasa kangen selalu menyergap hatiku. Aku selalu iri melihat mereka yang masih memiliki Ayah. Mereka diantar dan jemput, berlibur bersama waktu musim liburan.
Kutatap rumah yang ada di depanku itu sesaat, lalu mencoba membayangkan aku, Mama dan Ayahku sedang bercanda bersama disana. Bermain, berlarian, saling kejar, lalu aku tersandung dan terjatuh. Aku kembali ke dunia nyata. Di belakangku seseorang tengah menatapku dengan mata berkaca-kaca. Ia lalu berlari menghampiriku dengan serta lalu memelukku. Dialah Mamaku.
Saat ini hidup kami selalu berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat yang lainnya. Selepas kepergian Ayah kami pindah. Aku dan Mamaku tak lagi tinggal di kota kelahiranku. Selamat tinggal…
***
Selepas kematian Ayahku beberapa tahun yang lalu, aku dan Mama hidup merantau, tetapi bukan dari kota ke kota, melainkan merantau dari satu rumah ke rumah lain, dari satu kos-kosan ke kos-kosan lain. Kontrak berkali-kali, dari rumah yang mahal sampai ke kos-kosan yang paling murah. Sejarah tempat tinggal yang amat panjang.
Pertama kali, kami tinggal menjadi satu bersama Nenek dan Budeku. Bukannya aku munafik, tetapi memang hidup menjadi satu seperti itu sangatlah tidak enak. Terlebih pada saat seisi rumah saling berbeda pendapat dan saling memperjuangkan pendapatnya masing-masing. Mementingkan ego dari pada berpikir secara sehat dengan membicarakan berbagai hal dengan baik secara kekeluargaan.
Keluarga kami yang sangatlah jauh dari kata keharmonisan, penuh pertengkaran dan adu mulut. Sehari tenang, hari berikutnya perang kembali terjadi. Dan aku tahu peristiwa ini lama-lama akan terjadi juga.
Prang!!!
Bunyi pecahan benda kaca bergaung di dalam rumah yang hari itu sepi. Nenek sedang mengambil uang bulanannya di kantor pos, di rumah hanya tinggal aku, Mama dan Budhe.
Bunyi pecahan kaca itu sungguh sangat mengerikan, hingga membuatku terjaga dari tidur siangku.
“Brengsek!”
Samar-samar terdengar suara Budeku yang sedang mengumpat dengan kata-kata yang seharusnya tidak kudengar. Suara kasar Budeku disusul dengan suara isak tangis yang aku asumsikan itu adalah suara tangisan Mamaku. Dari beberapa hal tersebut aku lalu mulai menyimpulkan bahwa di luar sana sedang terjadi pertengkaran antara Mama dan Bude yang sangat sering terjadi itu. Saat ini tidak ada Nenek yang biasa menjadi penengah masalah mereka. Hanya ada aku. Aku yang masih kecil, aku yang anak bau kencur, dianggap belum mengerti masalah orang dewasa. Padahal sesungguhnya aku sudah sangat katam masalah yang sering diperdebatkan oleh mereka. Masalah dekorasi tata letak rumah, yang nyatanya bukan milik Mama ataupun Bude. Dekorasi rumah milik Nenek. Masalah pembagian kamar yang menurut mereka itu tak adil.
Aku hanya bisa menonton mereka dari lubang kunci pintu kamar tidurku. Aku seorang anak kecil yang sedang memperhatikan dua orang dewasa yang bertingkah layaknya anak seumurku. Saat ini aku hanya bias berharap semoga Nenek cepat pulang.
Harapan hanya tinggal harapan. Orang yang kunanti tak kunjung pulang. Dan saat itu juga aku harus menerima kenyataan untuk tidak lagi tinggal di rumah Nenek di bawah kekuasaan budeku. Selamat tinggal rumah keduaku…
***
Hingga akhirnya, kami menempati rumah yang jauh lebih kecil dari pada rumah Nenek. Aku bisa menerima kenyataan itu, asal hidupku damai, tempat tinggal tak menjadi masalah. Aku telah terbiasa hidup sederhana.
Mama menikah lagi. Semua kepedihan hatiku, luka yang dengan susah payah kubalut kini kembali menyakiti diriku. Secara jujur kuungkapkan bahwa aku tidak setuju dengan keputusan Mama untuk menikah lagi dan membina keluarga baru. Tetapi rupanya Mama hanya menganggap meminta persetujuanku itu hanya sebagai salah satu prosedur yang harus dilakukannya. Mama tetap tak mau mempertimbangkan jawabanku, dan terus melangkah maju.
Yang sangat kusayangkan saat itu adalah Mama menikah dengan suami orang, Mama menjadi istri muda. Hidup kembali penuh dengan pertengkaran. Aku benci semua itu. Ingin rasanya aku pergi dari rumah. Tapi nyaliku tak sebesar itu. Semuanya hanya dapat aku simpan di dalam hati. Semua perasaan tak nyaman, kesedihan, dan putus asa menumpuk dan menggunung di dalam hati. Menjadikan aku sebagai orang yang tertutup dan cenderung enggan untuk bergaul. Aku lebih suka mengurung diri di dalam kamar. Menghabiskan waktu untuk melamun di atas tempat tidur.
Semua terjadi begitu cepat. Kejadian yang serupa berulang hingga tiga kali, ya Mamaku menikah hingga tiga kali. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang mampu membahagiakan kami, membahagiakan Mama. Yang ada hanyalah mereka yang menguras keuangan Mama tanpa ampun. Uang habis, dan para lelaki brengsek itu tak kembali lagi.
Tak sanggup membayar kontrakan rumah, akhirnya kami pindah ke sebuah rumah petak. Lingkungan yang terbilang agak kumuh. Sekali lagi aku bisa menerimanya. Cobaan kembali menyambangi. Mamaku setiap malam terisak di pojok kamar, entah apa yang ditangisinya. Bila kutanya Mama hanya menggeleng lemah. Aku menyerah. Jalan pikiran Mama sama sekali tak dapat kumengerti.
Belakangan ini kuketahui akibat Mama menangis. Rupanya satu di antara tiga lelaki brengsek yang menikahi Mama, ada yang paling Mama cintai. Hingga detik ini, Mama sama sekali tidak dapat menghapus bayangannya.
Berkali-kali aku katakan pada Mama bahwa, ia bukan lelaki yang tepat untuk Mama. Ia hanya lelaki yang menginginkan harta Mama. Ia hanya lelaki yang tega memperbudak perasaan Mama hanya untuk materi. Ia hanya lelaki tak bertanggung jawab, yang meninggalkan Mama.
Kukatakan juga pada Mama, bagaimana sakitnya hatiku bila melihat Mama menangis. Betapa sakitnya hatiku melihat wajah Mama yang murung. Kukatakan pada Mama bahwa selama ini aku selalu mementingkan perasaan Mama dari pada perasaanku sendiri. Aku tidak menampakkan sisi keegoisan diriku pada Mama untuk tidak menikah lagi. Aku yang selalu berusaha untuk disamping Mama walau terasa sangat berat.
***
Entah apa yang merubah sifat mama. Yang ku tahu sekarang Mama telah berubah. Mudah sekali tersinggung. Sering memarahiku hanya untuk hal-hal yang menurutku tidak perlu dipersoalkan. Aku memaklumi sikap Mama yang telah berubah itu. Mungkin beban yang ditanggungnya begitu berat, sehingga kemarahan yang di dalam hatinya bisa meledak sewaktu-waktu.
Yang kupikirkan saat ini adalah sekolah dan bagainama cara agar aku menghasilkan uang sendiri, hingga tidak terlalu bergantung kepada Mama. Aku juga ingin mengentaskan keadaan sulit yang sedang menimpa.
Aku terus berdoa dan berharap semoga semua keinginanku tercapai. Demi aku dan Mama.
sedih bacanya
ceritanya klise…tapi bagus