Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Aku adalah anak keempat dari lima bersaudara di keluargaku. Aku terlahir dari keluarga yang dapat dibilang cukup berada. Kedua orang tuaku adalah pengusaha batik yang cukup sukses dan terkenal di kotaku, Yogyakarta. Usaha batik yang dijalani oleh kedua orang tuaku tidak diperoleh karena warisan dari orang tua mereka tetapi mereka peroleh dari kerja keras dan ketekunan mereka selama bertahun-tahun menjadi buruh batik di tempat seorang pengusaha batik lokal. Setelah cukup lama menjadi buruh batik, kedua orang tuaku mulai memberanikan diri membuka usaha batik sendiri dengan modal pengetahuan yang telah mereka miliki dan diperolehnya sebagai buruh batik. Dengan penuh keyakinan dan percaya diri yang kuat akhirnya usaha batik mereka mulai berkembang sampai sekarang. Dan saat ini usahanya sudah merambah ke luar negeri.
Sudah berapa kali kau jatuh cinta? Sama siapa saja?
Kalau pertanyaan ini kuajukan pada anak-anak ABG sekarang, pasti mereka akan semangat dengan segudang jawaban reaksi dan ekspresi.
Masa muda emang penuh cinta Mbak. Hmm, cinta itu universal Mbak, bla..bla..bla. Jatuh cinta itu kayak sebatang coklat, Mbak. Jatuh cinta itu, menghanyutkan. Dan sederet definisi yang mereka fahami tentang cinta dan jatuh cinta.
“Aaa… aaa, yuhu… uuu………!”
Kami berteriak begitu keras. Kami berteriak seolah kami telah menggenggam dunia yang berat ini. Kami berteriak lantang lagi dan huruf A berjejer keluar dari mulut kami.
“Aaa……aaa!”
Jam terakhir di kelas XI SMA Pelita kosong. Jam ini semestinya diisi oleh pelajaran Biologi namun gurunya sedang sakit. Kelas pun sangat riuh, ada siswa yang berkelompok ngobrol saja, ada yang ke kantin, dan sebagian kecil mengerjakan tugas yang diberikan guru piket.
”Wi…Dewi…ayo bangun! Hari sudah siang, nanti kamu terlambat ke sekolah,” teriak ibu Dewi.
Suara gemuruh derasnya air sungai membuat kicau parkit terdengar samar. Udara mulai dingin namun aku belum beranjak dari tempat dudukku. Entah kenapa rasa rindu itu kembali melintas di benakku. Ya, rasa rindu akan sosok seorang ibu. Waktu itu tepatnya 6 tahun. Saat-saat itu masih terekam jelas di benakku. Senja yang hendak membenamkan diri menjadi saksi bisu kepergian ibuku, setelah beberapa tahun kanker mengerogoti tubuhnya. Setelah kejadiaan itu aku hanya hidup berdua dengan ayahku yang seorang pemabuk. Hari-hari kulalui dengan penuh beban dan aku merasa tertekan dengan keadaanku sekarang. Dengan terpaksa aku harus putus sekolah karena ayahku tak lagi mau membiayai sekolahku. Dalam hatiku ingin rasanya aku berontak, ingin rasanya aku menangis kenapa aku jadi begini?
Semburan cat spray beragam warna berhamburan membasahi baju-baju seragam putih kami, membentuk garis-garis penanda sebuah kebebasan. Kami bersorak saling menyalami satu sama lain. Merayakan sesuatu yang kami sebut kelulusan. Sesekali juga spidol besar bertinta hitam menghujam dan menghujani tubuh kami dengan berbagai kata-kata kenangan. Tak ada yang mengelak, bahkan masing-masing kami terus meminta. Meminta dibubuhi sekedar tanda tangan dan kalimat-kalimat perayaan di dada, lengan, kerah dan seluruh bagian yang belum bergurat dan berwarna. Kepada siapa saja, bahkan yang tak pernah dekat sekalipun. Semua menjadi satu dalam rangkaian kebahagiaan keberhasilan di hari terakhir ujian.
Ane terus mencari dari gerbong satu ke gerbong yang lain. Hari ini kekasihnya Reno akan melanjutkan sekolahnya ke Perguruan Tinggi di Jakarta. Walau belum lama kenal, Ane sangat menyukai Reno. Ane tak dapat menemukan Reno. Tak lama kemudian kereta itu berangkat, seseoarang melambaikan tangan kepada Ane. Itu Reno. Ane berusaha meraih tangannya tapi tak bisa. Ane hanya bisa menangis. Kereta semakin cepat berjalan. Entah berapa lama Ane tak dapat bertemu dengan Reno. Tapi ia berjanji kalau lulus sekolah nanti dia akan menyusul Reno ke Jakarta.
“Sekarang Kakak tanya sama kamu, Tih. Jawab yang jujur, mengapa kamu masuk kerja di perusahaan ini?”
Aku diam, mengepalkan tanganku. Kecurigaan dapat kulihat jelas dari bola matanya.
“Jawab, Tih.”
Aku tetap bungkam. Kali ini bukan wajah Kak Tio yang kutatap tapi dadanya . Jantung, tempat hatinya berada.
Rasanya sudah terlepas semua beban yang dirasakan Aurel, siswi kelas XII SMU Harapan Bangsa ini telah menyelesaikan Ujian Akhir Sekolah nya, kini ia hanya tinggal menunggu saat-saat yang paling dinanti-nantikan yaitu pengumuman hasil Ujian Akhir Nasional (UAN).
Hari ini rencananya ia akan pergi hang out bersama Dava kekasih Aurel, mereka baru jadian selama sekitar satu bulan, jadi gak heran kalau sekarang ini mereka sedang merasakan sebuah cinta yang begitu indah di antara mereka. Tepat pukul 9.30 pagi Dava datang menjemput Aurel di rumahnya, yang beralamat di daerah Buaran Jakarta Timur.