Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
ah….ada dia disana
ternyata bisa untuk mengenal dia
tapi, terasa jauh !
yap…mungkin karena dia baru
dan aku pun baru.
tapi, pasti….suatu saat nanti
aku akan kenal kamu…..lebih dekat !
tak ada lagi tanya..
Permanent link to this post (35 words, estimated 8 secs reading time)
Keramaian ini benar-benar membuat dadaku sesak! Aku hanya bisa mengamati sekelilingku! Tubuhku tak mampu kugerakkan! Argh! Kutolehkan kepalaku ke arah kanan dan kau ingin tahu apa yang kulihat?!
Seorang gadis berumur sekitar 15 tahun kuduga - dengan bergairah membelai si lelaki tua itu. Bukan! Bukan! Bukan dia yang membelai tetapi lelaki itu yang terus menggerayangi tubuhnya. Bodoh sekali gadis itu, kupikir. Kuamati dengan semakin seksama. Kupelototi mereka berdua hingga si gadis menyadari keberadaanku sepertinya. Matanya sendu - menatap dingin tepat menembak bola mataku.
Ssstt..!!!
Sekali ku mengenalimu,
begitu aku ingin menyentuhmu dengan ujung jariku.
Engkau yang begitu tipis dan rapuh..
engkau yang begitu bening dan halus.
Begitu aku takut padamu,
dan sebelum aku melukaimu.
Biarkan aku pergi dan tak mengenalmu.
Kau yang seharusnya hanya hidup di angan saja.
Jadilah cinta seperti cinta seharusnya,
tanpa luka tanpa noda.
Posted in Puisi, Kelam on November 21st, 2008 No Comments »
Nafas bergejolak……….
Jantung berpacu melawan Samudra.
Tekad membara melawan Dunia.
Tulang bergemeretak menahan Pelor.
Picu meletup letup.
Melawan sang Mentari Merah.
Tubuh !!! Letih menahan belati.
Otot-otot meregang menampak wujud.
Tetesan darah engan memeluk badan.
Tak jua kunjung nyata,…….
Darah bergemericik, berlinang……
Meneteskan kesediahan.
Membakar menghidupkan Jiwa.
Nafas-nafas yang tak pernah lepas,
Unjukkan rasa yang selalu bebas,
Rebahkan jiwa di hati yang luas,
Usir segala sunyi yang menindas,
Legakan rasa berikan cinta,
Auman merdu dari bibir indahmu,
Imbuhkan cinta dalam hati yang luka,
Nirwana dunia bagi jiwa yang bahagia,
Iliran cinta nan elok dan bersahaja.
Permanent link to this post (49 words, estimated 12 secs reading time)
Sayang…
betapapun jarak yang memisahkan kita
aku tetap berdoa untukmu dari kejauhan
Sayang…
betapa bangga hati ini apabila
melihat semangatmu seperti sekarang ini
tunjukkan pada dunia bahwa
cinta tak selamanya menyakitkan
bahwa cinta bisa merubah segala sesuatu yang buruk menjadi baik
Pagi-pagi buta aku sudah terbangun oleh dering handphoneku yang senada ketika ia berputar bergesekan dengan meja. Sungguh mengesalkan terbangun seperti itu. Aku berusaha tidak mengubrisnya tapi percuma. Telepon itu dari Sinta. Dan kalau tidak aku angkat, maka mampuslah aku. Jadi aku angkat telepon itu, dengan benar-benar enggan.
“Halo?”
“Banguun, Say. Kau tidak lupa janji kita, kan?” kata Sinta, bertepatan dengan saat aku mengeluarkan uap panjangku.
“Apa? Oh, iya. Tentu saja. Aku, err..dalam perjalanan kesana.” Bohong.
“Bohong. Aku dengar tadi kau menguap. Sudah kamu di situ saja. Biar aku yang kesana.”
Cinta adalah sebuah karangan hidup
Melambai ketika pergi
Bosan ketika datang
Cinta bukan meminta
Cinta hanya ingin dipinta
Cinta lahir dari sosokmu
Besar oleh jiwamu
Cinta adalah persembahan surga
Namun kepergiannya adalah neraka
Cinta kadang datang memaksa
Namun yang datang adalah nelangsa
Seira tahu hari ini akan jadi hari yang menyebalkan. Dia harus jadi panitia Hari Kartini di sekolahnya, SMA Nagari Khatulistiwa, dan acaranya dilaksanakan hari ini. Padahal dia tidak mau menjadi panitia. Itu semua gara-gara temannya, Meidi.
” Uh…. Kenapa sih, harus aku?” keluh Seira sambil baca buku di kelasnya, kelas 2-4. ”Meidi itu nyebelin!!!”
Laki-laki berkemeja biru tua itu meninggalkan aku dalam kebekuan yang seolah abadi. Dia sesungguhnya sangat berarti untuk saat ini. Tapi, dia memilih pergi, menyisakan kau dan amplop putih yang gemuk berisi. Kini aku kembali sendiri.