Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Me….
I don’t someone woman of letters
But I’m only woman usual who always fall in love
My self like as woman whom thirsty with love
A moment… I’m aware from my fancy
Because I impossible to hope something who for me just a dream
Although, sometime that’s a dream can be really and happiness
Pintu hatiku terketuk…
Ibarat, disapa angin yang diarah menyeru
Ku laju ragaku…
Di serpihan untaian cita dan asa
Ku rintiskan titik peluh asa
Di dalam hati yang dihalau rasa
Anganku melonjak kian tinggi
Seakan…
Menepis surauan yang tiada berlaku
Ku sandarkan diri yang lemah…
Di dalam keluh kesah yang berkepanjangan.
Kelamnya hati yang penuh dosa…
Mencuatnya beribu tanya tiada arti
Seakan hati ini tak yakin,
Pada saat yang akan terjadi
Ku berjalan ditengah dinginya malam
Melewati beribu lintasan menerjang di hadapanku
Namun dapatkah seseorang menemaniku
Di dalam rintihanku …MUSTAHIL…
Ku telusuri jalan setapak demi setapak
Tuk mencari arti dalam kehidupan
Namun apa maksud dari semua ini…MUSTAHIL…
Ku lelah, ku bingung, ku benci dalam kesedihanku
Anak manis tertawa padaku karena kelakuanku
Namun dapatkah seseorang mengerti rintihanku ini …MUSTAHIL…
“ Ku tahu dia…”
Hijaunya pohon nan rimbang
Di tengah kehampaan hutan tiada makna
Kicauan burung kian berlalu lalang
Menghiasi semesta jagat raya bersorak
Diirngi goyangnya rumput tiada bernada
Lalu, anginpun menyeru membawa asa
Yang tiada pasti adanya…
Waktu…
Ibarat hidup yang tiada kunjung hingga penghabisan
Tatkala masanya usai…
Senyummu merekah indah
dalam balutan bibir merah basah
Matamu sayu mempesona
dengan bola sejernih air telaga
Buatku selalu ingin bersamamu
Senyumnya manis menggula
sebentuk bulan sabit merah muda
Matanya lembut merenggut
sepadan matahari musnahkan kabut
Buatku tak ingin kehilangannya
Seketika surga menghening
Tak ada canda dan tawa
Malaikat-malaikat kecil
Jatuh ke bumi…
Tubuh lemah patah sayap
Melawan panas sang mentari membakar
Tergolek tak berdaya
Bertahan dalam kabut gelap sang malam
Ku di sini,
Rindui kembalinya sang penghuni surga
Permanent link to this post (40 words, estimated 10 secs reading time)
Saat pertama kali aku bilang aku hamil, kami berdua nyaris terbunuh. Mobil yang kami tumpangi menabrak tembok pembatas rumah dan menghamburkan serpihan tembok ke udara.
Dia bilang aku harus cepat keluar dari sini sebelum orang lain datang menghampiri kami. Sambil melepas sabuk pengaman milikku, dia mengusap darah yang mengalir dari luka di keningku dengan sweaternya. Buang sweater itu nanti, jangan disimpan. Pergi, sekarang. Jika itu bukan cinta, aku tidak tahu lagi apa artinya cinta.
Langkah kakiku semakin cepat menelusuri jalanan. Sesekali tanganku menarik tas sampingku yang melorot. Lelaki di seberang jalan itu tetap berteriak, “Lily, Lily!”
Siapa gerangan wanita yang bernama sama denganku itu? Dia membuatku tertipu berulang-ulang karena aku menengok ketika lelaki itu memanggil namanya. Sesekali aku benar-benar berniat melihat lelaki itu. Wajahnya tampak bingung. Dia tetap berteriak memanggil nama yang sama. Tubuhnya tinggi, dibalut setelan jas dan kawan-kawan.
..S’lamanya, kan ku jaga dirimu, seperti kapas putih dihatiku, takkan ku buat noda…
Kupikir aku tidak pernah mencintainya, tapi aku tak pernah bisa menghindar dari ketetapan Tuhan, nyatanya aku mencintainya, sangat.
Dia pernah bicara seperti ini padaku,
Jadi selama ini, kamu melihat aku dari sisi dominanku aja?
Dan ketika aku menjawab,
Maaf, aku tak pernah melihatmu sedangkal itu,
Dia kembali menjawab,
Bukan bermaksud menuduhmu, tapi hampir semua orang memandangku lewat apa yang ditawarkan oleh pantulan fisikku.
Aku marah saat itu, sangat marah. Dia tak pernah mengerti panjangnya filosofiku atasnya, berbagai alur yang harus kulalui sendiri untuk membangunkanku, menyadarkan diriku, bahwa dia hanyalah dia, bukan sesuatu dari masa lalu yang kembali ke sini dari suatu detik di masa lalu.
Tapi kini, kuterduduk, menerawang sendiri. Benarkah sedalam itukah perjuanganku untuknya, benarkah aku tak pernah tersilaukan kemilau rupawan yang akan selalu ada padanya.
Keindahan adalah nikmat, sedangkan ia adalah keindahan yang lain. Di lidahku, ia melebihi sebuah nikmat. Di hatiku, ia tak lebih dari segelas air segar yang kuharap bisa melegakan keringnya yang telah kubawa seumur hidupku. Paradoks.
Benar kata Rama,
Di dunia ini, tak ada orang yang tak ingin punya kekasih.
Tetapi mungkin akulah yang terkutuk, hanya bisa mencintai bukan dicintai.
Aku kembali terbakar amarahku sendiri, aku tak mau terkutuk. Aku tak mau terkutuk. Aku tak pantas terkutuk. Lalu sejenak aku berhenti dan menoleh ke suatu sudut di belakang bahuku. Ketika kuhadapkan kembali ke depan, aku berpikir. Aku tersenyum sinis, senyum sinis yang terasa pahit. Jangan-jangan amarahku menunjukkan kejujuranku, aku memang tak pernah pantas dicintai.
Aku mencintainya. Hanya sejauh itu aku berani mengakuinya.
Aku tahu dia tak akan mencintaiku, tetapi aku bertahan. Siapa tahu dia akan terketuk untuk menghadiahiku, sebagai kado ketetapan hatiku.
Kupikir aku tidak pernah mencintainya, tapi aku tak pernah bisa menghindar dari ketetapan Tuhan, nyatanya aku mencintainya, sangat.
Dongengku tentangnya telah separuh jalan, tersusun dengan begitu sempurna dalam alamku sendiri. Hanya aku yang mengerti. Dia tanpa cela. Benar-benar begitu indah. Karena ia memang tak bercela. Alam-pun tak akan berani mencelanya. Tak pernah ada debu yang berani menodainya.
Berulang kali kuganti namanya, berulang kali kuhapus namanya, hanya sebagai harapan bahwa aku tak akan lagi memandangnya. Hingga sampai pada hari itu, ketika aku memutuskan untuk setia padanya.