KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Teruntuk Saga di Periode Jingga

Suatu malam yang sangat hangat dengan warna langit keunguan dan bulan terlihat lebih besar dari biasanya bagaikan memantau kami yang hampir tenggelam dalam suasana. Kali ini, Saga berbicara dengan nada yang amat sangat pelan, seakan-akan bulan benar-benar sedang mendengarkan percakapan kami. Saat itu, memang sepertinya hampir semua orang di Blok B Kompleks Cemara Hijau ini sudah tertidur lelap menanti hadirnya esok hari yang akan memaksa mereka dengan rutinitas yang sudah menggaji mereka.

Dengan hati-hati, Saga memulai kalimatnya, “Ada sesuatu yang harus kamu ketahui, Asha. Dan, jujur saja, ini tidak mudah memulai menceritakan semuanya dari awal kepadamu.”

Aku memandang wajah Saga dengan tatapan hampa sambil berharap dia akan mengeluarkan dua atau tiga kalimat lagi dari mulutnya. Terlalu lama, aku mencoba mengurangi kegugupannya dengan mulai angkat bicara.

“Entah mengapa, sejak dua bulan lalu, aku sudah mengira suatu hari kamu akan mengeluarkan kalimat ini dan mulai mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Silakan Saga, mulailah katakan misteri apa yang selama ini kamu sembunyikan.”

Sedikit keringat mulai menetes dari dahi Saga, petanda gugup yang sedang melandanya. Aku benar-benar tidak habis pikir mengapa baru hari ini Saga mulai mengatakan semuanya. Setidaknya, hari ini rasa penasaran yang selama ini menghantui pikiranku bisa terbayar dengan penjelasannya. Hopefully!

“Ok, aku akan mengatakan semuanya, Sha! Dan, aku harap apa pun yang akan aku ceritakan ini tidak akan mengubah keyakinanmu atas apa yang sudah kita bangun selama ini.”

Astaga, aku tidak pernah mendapatkan Saga dengan ekspresi dan nada seserius ini. Ada apa sebenarnya? Sambil menunggu penjelasan dari Saga, entah mengapa sesuatu di kedalaman sana, di bagian dada sebelah kiri, berpacu lebih cepat dari menit-menit sebelumnya. Yang sampai di detik berikutnya, dia benar-benar belum berhenti. Mungkin kalimat yang akan keluar dari mulut Saga mampu membuatnya berpacu normal kembali, atau lebih kencang?

“Aku rasa ada sesuatu yang istimewa pada diriku, Sha! Dan, aku belum bisa mengontrolnya…” Saga memulai kalimatnya terbata-bata. Dia membuatku semakin bertanya-tanya. Di lain sisi, aku benar-benar terpekik melihat Saga yang mendadak narsis dengan kalimatnya barusan. Dengan menelan sedikit ludah, aku terdiam karena ingin mendengarkan kelanjutan kalimat yang akan keluar dari mulut Saga.

“Apa maksudmu?” tanyaku sambil menatap langsung matanya.

“Aku akan menjelaskan semuanya padamu, tapi entah kamu akan percaya atau tidak, semua akan kukembalikan lagi padamu. Baiklah, aku akan mulai. Ada sebuah koneksi yang cukup aneh antara tubuhku dan cahaya lampu, jenis lampu apa pun. Mulai dari lampu di jalan raya, lampu pada neon box, bahkan lampu mobil.”

“Koneksi seperti apa?” kembali tanyaku penasaran.

“Entah ada daya apa pada tubuhku yang memiliki koneksi yang sangat peka dengan kadar cahaya yang dipancarkan lampu. Kamu ingat kejadian minggu lalu, ketika serentak lampu yang ada pada koridor lantai dua Mall Pondok Indah I mendadak mati saat kita sedang berjalan menyelusuri koridor itu dan lampu kembali menyala ketika kita telah melewatinya? Dan, saat itu, kamu sempat bilang sambil tertawa dengan nada bercanda kalau kita memiliki aura gelap sehingga lampu tersebut mati karena kita. Semua itu ternyata bukanlah suatu kebetulan, hal seperti itu terjadi padaku sering kali.”

“Iya, aku ingat kejadian itu. Dannn…, kemarin ketika lampu sorot di halaman ini mati, apakah itu juga ada hubungannya? Padahal, lampu itu baru diganti 2 minggu lalu.”

“Tepat pada saat lampu itu mati, aku sudah menyadarinya, Asha…kalau itu dikarenakanku.”

Saga mengenggam tanganku sangat erat seakan-akan dia mengkhawatirkan aku, takut-takut aku tidak menyangka dan tidak juga mempercayai semua ceritanya. Saga tidak pernah tahu kalau sudah lama aku merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada dirinya, walau aku belum tahu apa itu. Dan, ternyata persepsiku benar, Saga memang tidak biasa, dia memang istimewa.

Untuk memastikan lagi apa yang sebenar-benarnya reaksi dari seorang Saga dengan cahaya lampu , aku kembali bertanya dan meminta Saga cerita lebih banyak lagi soal hal ini.

“Lalu, hal-hal apa lagi yang sudah terjadi padamu dengan lampu? Ceritakan padaku.”

“Ada banyak sekali, Sha. Beberapa kali kejadian terjadi saat aku sedang bersamamu, seperti kejadian di mal dan di halaman itu. Malam kemarin, ketika aku sedang di perjalanan sepulang kerja, lampu billboard yang terletak di Jalan Asia Afrika serentak mati ketika aku melewatinya.”

“Apakah kejadiannya selalu dengan lampu yang mati, Ga?”

“Tidak juga, Sha. Kamu pasti masih ingat  beberapa hari yang lalu lampu depan sebelah kanan mobilku mendadak menyala setelah mati karena rusak lebih dari seminggu. Kamu selalu mengingatkanku untuk segera mengganti lampu tersebut karena kamu tidak mau aku kena tilang polisi dengan mengendarai mobil tanpa lampu sebelah di malam hari. Karena load kerjaanku yang padat sekali sepanjang dua minggu ini, aku tidak pernah sempat ke bengkel untuk mengganti lampunya.”

“Sampai sekarang lampunya masih bisa nyala?”

“Sayangnya tidak, Sha. Sesampai di rumah setelah kejadian lampu mobil yang mendadak menyala itu, aku coba mematikan mesin mobil dan menyalakannya kembali untuk meyakinkan kalau lampunya benar-benar bisa menyala. Tetapi, ternyata lampunya tetap mati. Lagian, memang sudah rusak dan harus segera diganti.”

“Kira-kira, mengapa reaksi itu muncul ya, Ga? Karena kejadiannya hanya di waktu-waktu tertentu saja. Bukan di mana ada kamu dan lampu, di situ pula efek koneksinya terjadi.”

“Aku sudah menyadari hal ini lebih dari tiga bulan lamanya. Sebenarnya, aku belum sepenuhnya tahu akan apa yang memicu koneksi tersebut, tapi kalau menurut pengamatanku selama ini, koneksi itu akan terjadi ketika kadar emosiku sedang tidak stabil atau meninggi. Kadar emosi di sini bukan saja karena emosi ketika marah atau kesal, melainkan segala bentuk emosi yang tidak stabil atau tidak dalam kadar sewajarnya. Misalnya, dalam keadaan terlalu senang atau sedih, bahkan sedang dalam keadaan capek.”

Saga menatap wajahku dengan tatapan sedikit bingung, mungkin dia bertanya-tanya dalam hati mengapa aku tidak terkejut sebagaimana yang telah dia kira sebelumnya. Saga mengira aku akan sangat terkejut setelah mendengar ceritanya dan bahkan mungkin mencurigai Saga karena mulai gila dan mengada-ngada. Aku tahu benar Saga, dia bukan tipikal lelaki yang mampu mengarang cerita atau mengada-ada akan sesuatu. Saga cukup jujur pada dirinya sendiri, apalagi terhadap orang lain.

Saga sangat senang menjadi dirinya sendiri dan cenderung menolak segala sesuatu yang sifatnya tidak pasti. Dia anak terakhir dari 3 bersaudara dan anak pria satu-satunya di rumahnya, si bontot kesayangan keluarga. Tanpa hal-hal tak biasa yang terjadi padanya ini, Saga memang sudah menjadi lelaki yang istimewa, setidaknya bagi keluarganya dan tentu bagiku.

Aku membalas tatapannya dan tersenyum padanya. Ada sebuah kelegaan di wajah Saga setelah melihat senyum di wajahku. Tetapi, matanya memancarkan sebuah kebingungan baru dan ada rasa besar untuk melempar tanya padaku. Sebelum Saga melempar tanyanya, aku sudah terlebih dahulu mengeluarkan beberapa kata dari mulutku yang kuharap bisa menjawab pertanyaan yang baru saja ingin dia lontarkan kepadaku.

“Mengapa kamu harus begitu khawatir kalau-kalau aku tidak mempercayaimu? Mengapa kamu harus mengira aku akan bersikap beda padamu setelah mengetahui ada sesuatu yang tidak biasa terjadi padamu? Mengapa kamu tidak pernah mengira kalau aku selalu bisa menerimamu apa adanya?”

“Aku hanya tidak ingin kamu menganggapku orang yang aneh, Sha!”

“Kamu memang tidak biasa, tapi kamu bukan orang aneh. Justru kamu adalah orang yang mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dan, sesungguhnya, aku sudah mengira keistimewaan ini sejak lama. Entah mengapa aku selalu melihatmu sebagai sosok yang tidak biasa dan istimewa, walau aku belum benar-benar tahu apa dan di mana letak ketidakbiasaan itu,” ujarku sambil menggenggam tangan Saga di malam yang semakin sunyi itu.

***

Selang satu tahun kemudian.

AKU membakar semua puisi yang Saga berikan untukku sampai hangus gosong menjadi serpihan-serpihan abu pada tong sampah di belakang halaman rumah. Aku yakin tindakanku ini dapat mengurangi kendalaku untuk benar-benar melupakan laki-laki itu. Saat ini, hanya itu yang sanggup kulakukan untuk mengembalikan keadaanku seperti sedia kala, seperti saran ibuku waktu aku mintai nasihat.

Tak lama setelahnya, cuaca mendadak tidak bersahabat dan pukul 16.00 ini terlihat sangat gelap bagai malam. Anginnya sangat kencang, membawa benda-benda ringan beterbangan ke sana ke mari, dan tak lupa menjemput abu dari puisi pemberian Saga yang baru kubakar tadi terbang bersama dashyatnya angin. Aku mulai tidak menyukai suasananya dan kututup semua pintu dan jendela, lalu masuk ke dalam rumah. Sambil menarik napas, entah mengapa badan terasa sangat mudah terkulai lemas hanya karena penggalan memori yang sepintas mampir ke alam pikirku.

Maafkan aku, Saga. Semua kisah harus kita akhiri secepat ini tanpa ada sisa waktu untuk saling mengucap kata pisah. Aku harap kau tidak menaruh amarah di sini. Lelaki itu toh tidak kalah menarik darimu. Aku bukan sedang bersama laki-laki kelas rendah yang tidak mengerti keadaanku, maka seharusnya kamu mulai bisa bersyukur karenanya.

Tenanglah, Saga. Ini semua tidak akan sulit. Kau akan dengan mudah melupakanku dan bisa dipastikan aku akan jauh lebih mudah melupakanmu karena ada laki-laki lain yang akan menjadi suamiku. Lembar baru ini tidak akan berbeda seperti apa yang sudah lewat sebelumnya, seperti yang lalu. Kau akan mudah kulupakan secepat aku berkeputusan untuk mengambil risiko dengan mencintaimu sesaat setelah kita bertemu.

Sadarkah kau Saga, jembatan penyeberangan ini sepertinya semakin lama semakin kropos dan sepertinya pondasinya sudah tak sanggup lagi menopangnya? Aku ingat saat aku berjalan di jembatan ini sambil gelisah dan berjalan secepat mungkin. Aku berharap kau tidak sedang menungguku terlalu lama di bawah sana. Aku yakin kau masih ingat persis saat-saat itu. Aku juga heran, mengapa saat gedung-gedung di tiap-tiap sisi Jalan Sudirman ini kian menjulang tinggi ber-arsitektur modern dan dinamis, justru jembatan penyebrangan sebagai sarana utama pejalan kaki di kawasan ini sudah sangat bobrok dan miskin perhatian pemerintah untuk perbaikannya. Kau selalu merasa tidak nyaman karena bekerja di kawasan ini, yang bagimu adalah kawasan tinggi tenggang rasa. Kawasan di mana realita kapitalis sangat terasa dari celah-celah gedung bahkan di sepanjang trotoar. Dimana kaum miskin berusaha segenap cara mereka agar para pekerja dari gedung-gedung itu terenyuh untuk memberikan sumbangan receh pada mereka. Dan, banyak para pekerja merasa kalau kaum miskin itu hanya merusak pemandangan kawasan yang mereka junjung, bahkan mengganggu kenyamanan mereka. Berkat cerita serupa yang terjadi disana, kau enggan menjadi salah satu pekerja di kawasan Sudirman itu.

Malam mulai menjemput matahari dan cahayanya dengan perlahan dan teratur seperti biasanya. Sepertinya cuaca kembali bersahabat dan hujan tidak jadi mampir, hanya mengirimkan anginnya untuk menjemput abu-abu kesedihanku tadi. Jam di dinding menunjukan pukul 6 kurang belasan menit, sudah dekat maghrib. Sudah hampir jam 7 di Bali saat ini. Dan, aku mulai membayangkan sedang apa kira-kira kau saat ini. Aku memandang langit lewat jendela kamarku, warnanya orange kemerah-merahan, persis namamu, Langit Merah Saga. Sampai detik ini, aku masih mengagumi Ibu-mu karena pemberian nama yang dia berikan untukmu. Nama yang dia berikan dengan alasan simpel namun sangat kuat dan berkarakter. Alasannya hanya karena saat kau dilahirkan, langit sedang berwarna kemerah-merahan. Seperti namamu-lah aku memandang ibumu, simpel, sederhana, namun kuat dan bijaksana. Sebenarnya, tidak terlalu beda denganmu. Hanya saja kau berada diantaranya, itu mengapa aku menjulukimu si Jingga.

Sejak enam bulan lalu, dengan memandang langit pada pukul seginilah caraku mengenangmu. Mungkin lebih tepatnya, mencoba mencari sesuatu yang sangat aku rindu ketika di lain sisi ada sesuatu yang meyakiniku untuk tidak kembali lagi ke situ. Setiap hari pukul 6 kurang belasan itu, ada yang aku harapkan dengan memandang langit. Pada saat tertentu, seringkali aku berharap langit benar-benar bisa melukiskan wajahmu untukku. Aku pun menyadari kalau aku mengkhayal terlalu berlebihan, dan ritual memandang langit sudah tidak lagi sesering sebelumnya.

Ah, sudahlah, langit sudah mulai memudarkan merahnya. Ibu mungkin sedang mencariku untuk membantunya menjahit payet pada kebaya-kebaya buatannya. Lagi pula, semua orang sepertinya sudah mulai sibuk kembali dengan kegiatannya masing-masing, dan masih banyak urusan yang harus aku selesaikan selain hanya memikirkanmu, Saga. Kau pun ternyata benar-benar menghilang, entah ditelan rutinitas atau konsistensi untuk menghindar. Aku salut dengan pendirianmu, cukup kuat ternyata. Itu bagus, teruskan saja. Karena pasti kamu sudah meyakininya lebih dari seribu kali sebelum ambil langkah untuk menghilang. Aku yakini itu. Aku tahu kau selalu benci kalimat selamat tinggal, tapi memang hanya itu yang harus aku sampaikan, entah untuk selamanya atau tidak.

***

APAKAH kau pernah menyadari apa yang sedang aku hadapi, Saga? Aku harus memendam ribuan rahasia lalu kukemas dengan baik dan kukubur sedalam-dalamnya sebelum aku melangkah ke pelaminan nanti. Aku rasa aku sudah harus mulai belajar berhenti memikirkanmu karena aku tak mau membebani suamiku dengan jutaan rahasia itu. Semua rahasia dari segala hal yang pernah terjadi di antara kita adalah benar-benar hanya kita yang tahu. Tidak akan pernah ada yang tahu jika salah satu dari kita tak mengumbarnya, kepada siapapun. Setinggi apapun kemungkinan rahasia ini naik ke permukaan yang memungkinkan orang-orang sekitar menarik kesimpulan-kesimpulan sendiri, berjanjilah kau akan terus bertahan disana dengan tidak mengatakannya kepada siapapun.

Kau tahu betul siapa laki-laki itu, ‘kan? Ia adalah lelaki yang sangat cerdas dengan pemikiran-pemikirannya yang tak biasa. Setidaknya itu yang kulihat melalui apa yang sudah ia kerjakan selama ini di belakang atau di depanku. O iya, dia juga lelaki yang selalu jujur terhadap dirinya sendiri, apalagi terhadap orang lain. Itu yang sangat kusuka darinya. Kau selalu tahu, aku peganut kejujuran tingkat tinggi. Dan, itu juga yang selalu aku minta darimu. Entahlah, sejak dulu aku selalu menganggap kejujuran adalah segalanya, itu yang selalu Ayahku ingatkan sedari aku kecil. Itu juga sebabnya aku bisa merasa nyaman berada di dekatnya. Persis rasa nyaman yang aku dapatkan ketika sedang bersama Ayah, sebelum ia meninggalkanku selama-lamanya 5 bulan lalu. Ternyata Ayah tahu betul letak kenyamanan yang aku cari dari seorang pasangan. Ternyata pilihan Ayah tidak salah. Dan, aku mulai berpikir, tidak semua perjodohan itu buruk adanya.

Keadaan berubah sejak ia hadir dalam kehidupanku. Ayah yang mengenalkannya padaku beberapa minggu setelah kau minta izin untuk menyendiri di kota entah berantah itu. Ia bekerja untuk ayah dengan mengatur business development pada usaha event organizer yang baru ayah rintis. Ayah sangat suka padanya, lebih-lebih pada ide dan strategi bisnis yang ia lontarkan untuk kemajuan usaha Ayah. Kata Ayah, ia lelaki yang memiliki tanggung jawab penuh akan pekerjaannya, dan dijamin akan seperti itu dalam membina rumah tangganya kelak. Berkat itu Ayah mengatur pertemuan singkatku dengannya. Keinginan Ayah sederhana, dia hanya ingin melihatku bahagia dari keterpurukanku setelah kepergianmu.

Sejak perkenalan itu, hubungan kami semakin baik dan kecocokan datang tak terkira segitu cepatnya. Ia memang tidak memberikan percikan maha dahsyat yang pernah kuterima darimu. Namun, semuanya terbayar dengan sikapnya yang sangat menghormatiku dan selalu menganggapku sebagai pendamping jiwanya kelak. Ia mengajariku banyak hal, segala hal yang tidak kuterima darimu. Lalu kesedihan kembali datang, di saat kami sedang gencar-gencarnya menunjukan kisah cinta kami kepada Ayah, mendadak Ayah jatuh  sakit dan Yang Maha Kuasa meminta Ayah pulang kembali ke sisi-Nya. Sebelum kepergiannya, Ayah berpesan agar kami segera melangsungkan pernikahan dan bersama merintis usaha yang baru saja Ayah mulai itu.

Apakah pernah kau bertanya-tanya mengapa aku menceritakan ini semua padamu, Saga? Jelas, aku belum sempat menceritakannya, tentu karena aku belum lagi berjumpa denganmu. Aku hanya sedang merangkai bait demi bait dari kalimat yang akan kusampaikan padamu ketika harus menjelaskan tentang pernikahan ini kepadamu kelak. Tetapi, aku sudah meyakini hati ini, untuk menjelaskan semuanya sebelum aku menikah. Aku hanya tidak ingin kau menemuiku dengan realita aku sudah menjadi istri orang lain.

Kau tahu mengapa ayahku ingin sekali menjodohkannya denganku? Ia tidak ingin aku terjerat dalam perjalanan spiritualisme yang sedang kau jalankan. Kau pun tahu betul seperti apa ayahku, kan? Ia selalu khawatir dengan semua kepercayaanmu yang mungkin mampu mengkontaminasi kepercayaanku yang selama ini Ayah ajarkan. Bagi Ayah, agar hidup senantiasa berhasil dunia dan akhirat, kita hanya harus menjalankan semua syariat agama. Dan, sudah ditetapkan aku dan Ayah selalu berusaha patuh betul dengan syariat agama Islam. Dengan seperti ini, memiliki iman dengan menjalankan syariat agama saja, bagiku sudah cukup untuk menuju jalan kepada-Nya. Ayah juga pernah bilang padaku, kalau kau hanya mempersulit jalan hidupmu saja, bermain-main di atas filsafat, menjunjung sufi yang satu dan pindah ke sufi yang lain, semua tanpa kejelasan hasil. Sambil tertawa kecil Ayah juga pernah bilang kalau kau sedang terjerat dalam lembar ilmu-ilmu filsafat yang sudah kau anut selama ini.

Kecurigaanmu selama ini tentang sikap Ayah yang dingin padamu sesungguhnya benar adanya. Dulu, setiap kali kau bertanya padaku mengapa sikap ayahku tidak pernah ramah padamu, aku selalu menenangkanmu dengan meyakinkan kalau itu semua hanya perasaanmu saja. Saga, perasaanmu memang mengatakan yang sebenar-benarnya terjadi saat itu, aku saja yang berbohong padamu. Ayah memang tidak terlalu menyukaimu, itu sejak kau menepis pendapat Ayah tentang pencarian Tuhan. Saat itu, kau memang benar-benar keterlaluan, kau memaksa semua orang untuk mempercayai apa yang kau percaya. Dan, di waktu yang tak tepat, sayang sekali orang yang kau adu argumennya adalah ayahku. Seharusnya waktu itu kau sanggup meredam geloramu, hanya dengan mengingat kau sedang berbicara dengan Ayah dari wanita yang ingin sekali kau jadikan istri, sederhana, kan? Tetapi sudahlah, nasi memang sudah mencair menjadi bubur.

Aku harap kau ingat dengan perjanjian kita saat kau beranjak pergi waktu itu, yaitu bahwa jika memang jiwa kita berjodoh, kita akan hidup bersama sampai memilih jiwa mana yang terlebih dahulu berada di sisi-Nya. Anggap saja Tuhan memilih jiwa lain sebagai jodohku. Anggap saja lelaki pilihan ayahku adalah jodohku yang sebenarnya. Aku sudah berpikir bahwa aku akan benar-benar melupakanmu. Aku rasa ini bukanlah perpisahan yang bersifat sementara, karena aku akan segera berucap selamat tinggal untuk selama-lamanya.

***

KALIMAT selamat tinggal belum benar-benar terucap untuk Saga karena aku memang belum sempat bertemu dengannya. Dia berada di suatu tempat di Bali sana yang kutahu guna mempelajari Dharma dari Hinduisme, sementara aku masih diam di sini, di suatu tempat urban di Jakarta ini. Aku harus mengatur jadwalku, lalu pergi dengan cepat ke Bali untuk menemui Saga. Saat hari itu tiba, aku tak akan lama, mungkin hanya memakan waktu sehari saja.  Dan, pada waktunya nanti, aku akan menjelaskan semuanya padamu dengan kalimat tersusun rapih agar semua tidak terlalu menyakitkan untukmu, Saga.

4 Responses to “Teruntuk Saga di Periode Jingga”

  1. on 30 Nov 2008 at 19:09Daglog

    Bagus….
    Bagus….
    Dan Bagus…..

  2. on 01 Dec 2008 at 00:30imogene

    trima kasihh yah! :)

  3. on 01 Dec 2008 at 17:46Tya Shetya

    KeRRen..
    Elegan..
    Apik…
    Top abis deh..

  4. on 01 Dec 2008 at 21:08imogene

    wahh senangnya, makasih yah!

    mampir2 k blog saya yah.

Tinggalkan Komentar