KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sebuah Cinta untuk Mutiara

Salma mengusap peluh yang jatuh berulang kali di dahinya dengan selendang, sambil sesekali mengibaskan tangannya di atas tempayan, tempatnya meletakkan bermacam-macam gorengan, mengusir serangga-serangga berkaki kotor yang hendak menghinggapi dagangannya. Siang ini entah kenapa, Salma merasa kurang enak badan, keringat dinginnya terus saja mengucur. Namun Salma tahu, dia harus terus bertahan, setidaknya sampai semua laku terjual. Semua ini dilakukannya hanya untuk sang buah hati yang tercinta, Mutiara.

Sore itu hujan deras, ketika Salma memutuskan untuk pulang, karena pasar mulai sepi dan beberapa kios sudah mulai tutup. Dengan langkah gontai Salma masuk ke dalam gubuknya yang hanya berukuran 3×3 m2, yang di tempatinya berdua dengan Mutiara, anaknya yang kini berusia enam tahun. Salma tersenyum dengan bibir membirunya yang bergetar kedinginan ketika dilihatnya Mutiara meringkuk di tempat tidurnya,

Mungkin dia kecapean, setelah seharian bantu-bantu di rumah Ibu Lestari, batin Salma dalam hati.

***

Mutiara, nama yang cukup singkat namun indah, sengaja diberikan Salma pada anaknya yang lahir pada saat bulan purnama berkilau bak mutiara. Seorang anak yang mungkin tak pernah dikehendaki kelahirannya, seorang anak hasil perkosaan kakak kandungnya, yang kini entah di mana rimbanya. Ya, itulah sebabnya, kenapa Mutiara dilahirkan tak sempurna, bola matanya benar-benar menyerupai sebutir mutiara- putih, buta- dan sebuah jantung tak sempurna, yang sewaktu-waktu bisa berhenti berdetak. Semua itu membuat Salma semakin menyayanginya. Rasa cinta dan kasihnya pada Mutiara, tak kan lekang oleh apapun.

Di balik fisiknya yang rentan itu, Mutiara anak yang kuat, meskipun usianya masih enam tahun, dia bukan anak yang manja, dan dia bukan anak yang suka mengeluh apalagi menangis. Dari bayi, Salma selalu menitipkan Mutiara kepada Bu Lestari, tetangganya, selama dia mengais rejeki di pasar, hingga kini. Dan karena kebaikan hati Bu Lestarilah, Mutiara bisa terus membantu ibunya mendapatkan sesuap nasi, meskipun kini dia mempunyai tugas, sebuah tugas ringan yang mulia, menjadi teman main Dewi, anak dari Bu Lestari.

***

Salma meletakkan bungkusan makanan yang sempat dibelinya dari pasar, di atas piring. Makanan itu tidak banyak, hanya cukup untuk satu orang saja, dan itu akan diberikannya untuk Mutiara. Sedangkan untuknya, Salma hanya memakan sisa dagangan yang sudah digorengnya sejak tadi pagi, meskipun dia tahu itu akan menambah parah penyakit yang sekarang tengah menghinggapinya.

Tak lama kemudian, pintu gubuknya diketuk oleh seseorang. Salma membukanya, terlihat Ibu Lestari datang dengan membawa sebuah kardus kecil.

“Sore, Bu Salma. Hmm, ini lho, saya mau antar nasi bungkus untuk Mutiara, soalnya tadi Mutiara nggak dateng ke rumah,” kata Bu Lestari sedikit mengejutkannya. “Saya permisi dulu, Bu, mari,” pamit bu Lestari sambil menyerahkan kardus kecil itu pada Salma.

“Terima kasih, Bu,” kata Salma.

Setelah Bu Lestari pergi, Salma bergegas menghampiri anaknya. Disentuhnya tubuh mungil itu lembut, namun tak ada jawaban. Salma mulai panik, dibaliknya Mutiara yang meringkuk membelakanginya, namun tak juga berkutik. Tubuhnya pucat dan dingin, sedangkan matanya yang memang tak pernah bisa ditutupnya rapat, memperlihatkan biji mutiara yang kini berubah menjadi kusam. Dengan hati hancur, Salma memeluk anaknya seerat mungkin, airmatanya mengalir dengan sangat deras, hingga dari bibir keringnya terdengar rintihan yang memilukan, tangisnya memecahkan keheningan gubuk  yang nyaris rubuh. Tubuhnya bergetar hebat, menyiratkan penyesalan yang teramat dalam.

***

Semalam sebelum tidur, saat Salma mendekap Mutiara, tak banyak cerita yang disampaikan buah hatinya itu seperti biasanya ketika menjelang tidur. Tak ada canda tawa cerianya, tak ada cerita tentang kenakalan Dewi yang dua tahun di bawahnya. Mutiara hanya diam sambil terus memeluk erat tubuhnya, sangat erat.

Andai saja Salma tahu, itu saat yang terakhir bersama Mutiara, dia tak akan pergi seharian ini. Salma menyesal tak menenangkan tubuh kecil anaknya di saat melawan sakit ketika jantungnya teremas keras meregang nyawa, menyesal tak dapat menemani di penghujung penggalan nafasnya.

Maafkan ibumu, Mutiara…
tak pernah bisa memberimu apa-apa
hanya sebuah cinta
yang tak bisa kau nikmati sampai tua…
Tapi ketahuilah, Mutiara…
cinta ibu tak pernah mati

***

Salma bersenandung kecil sambil memangku tubuh mungil Mutiara dan membuainya dengan lembut.

Nina bobo…oh nina bobo…. kalau tidak bobo…digigit nyamuk…  

5 Responses to “Sebuah Cinta untuk Mutiara”

  1. on 01 Dec 2008 at 11:06sekar

    Cinta seorang ibu sepanjang jalan tak pernah putus dan tak akan pernah mati..
    cinta ibulah yang bisa mengantar anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan menjadi ahli surga..
    cerita yang bagus… keep writing.. salam

  2. on 03 Dec 2008 at 16:37yadi

    terkutuk lah pria yang telah menelantarkan titipan Illahi kepadanya, semoga ini hanya khyalan semata, suatu cerita yang sangat memiluhkan dan menyayat hati, A good story, I like it

  3. on 03 Dec 2008 at 18:55dhiz

    bagus ce..
    tp pndek amat…

  4. on 04 Dec 2008 at 08:46turtle

    gue jadi kangen nyokap…mama…i love u

  5. on 26 Mar 2009 at 13:16Abhie

    I LoVe YoU mOM!!

Tinggalkan Komentar