Semangkuk Bubur Kentang
November 21st, 2008 by kaederie
Seira tahu hari ini akan jadi hari yang menyebalkan. Dia harus jadi panitia Hari Kartini di sekolahnya, SMA Nagari Khatulistiwa, dan acaranya dilaksanakan hari ini. Padahal dia tidak mau menjadi panitia. Itu semua gara-gara temannya, Meidi.
” Uh…. Kenapa sih, harus aku?” keluh Seira sambil baca buku di kelasnya, kelas 2-4. ”Meidi itu nyebelin!!!”
” Eh, ada ibu-ibu. Ibu-ibu dari mana, nih?” goda Joe Mi’un saat dia masuk ke kelas dan bertemu dengan Seira.
Hampir saja Joe terkena lemparan maut Seira. Fiuh. Kamus tebal Inggris-Indonesia itu dilempar dengan kecepatan 10 m/s dan hampir mengenai Joe. Untung saja kamus itu jatuh tepat di samping Joe. Joe mengambil kamus itu, lalu mengembalikannya kepada Seira.
“ Bahaya, tahu!” seru Joe.
“ Au ah, gelap!” balas Seira.
“ Kok mendung? Ada masalah?”
” Udah tahu kok, malah nanya?”
” Aku kan, cuma tanya.”
” Gara-gara Meidi, tuh! Dia suruh aku jadi panitia dan tadi pagi harus jaga stand gado-gado di kantin 8. Hasilnya, sekarang aku capek banget.”
” Kantin 8? Oh… Aku pikir kamu jaga di kantin 9. Kamu tahu nggak mitos di sana? Itu, tuh, di kantin 9.”
” Mitos apa?”
Joe terdiam sejenak. Seira semakin penasaran. Tiba-tiba, masuklah Meidi dan Rino, sahabat-sahabatnya, ke dalam kelas itu. Mereka tertawa melihat tampang Seira yang suram. Seira semakin muram saja.
“ Kenapa lihat-lihat?!” bentak Seira.
“ Ah, nggak, kok. Cuma lucu aja,” jawab Meidi. “ Eh, tahu, nggak kalau ada mitos di kantin 9? Tahu nggak?”
“ Udah tahu dari Joe!” jawab Seira ketus.
“ Yah, nenek sihir kita ngambek nih,” celetuk Rino.
Seira diam saja dan membiarkan teman-temannya’berkicau’ tanpa dirinya sampai puas. Tak terasa hari semakin sore. Seira pulang sendirian dan memikirkan mitos yang didengar dari teman-temannya itu. Dia menoleh ke belakang karena dia merasa ada yang mengikutinya. Tapi, orang itu tidak ada.
Apa hanya perasaanku saja ya? batinnya.
Dia berjalan lagi dan tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah mangkuk yang tergeletak di tengah jalan. Dari aromanya, sih, bubur kentang. Tapi, orang bego mana yang mau naruh tuh bubur di tengah jalan? pikir Seira.
Setelah didekati, aroma bubur kesukaan Seira itu berubah menjadi bau daging busuk yang menyengat dan Seira terpaksa menutup hidungnya dengan sapuntangannya. Ternyata, isi mangkuk itu adalah bubur daging mentah busuk bercampur darah yang sudah mengental! Seira kabur saja menjauhi mangkuk itu.
********
Seira menelepon Meidi, Rino, dan Joe untuk memberitahu apa yang dialaminya tadi sore. Dia sudah mengunci pintu dan jendela dan menutup tirai gordennya. Seira benar-benar ketakutan. Dia hanya tinggal berdua dengan kakaknya dan kakaknya sedang pergi ke luar kota. Itu artinya, dia benar-benar sendiri di rumahnya. Dia takut. Kontrakan hanya dihuni dua orang; dia dan kakaknya, terlebih kontrakannya juga menghadap sebuah pohon yang lumayan besar.
” Duh, ke mana ya, orang-orang menyebalkan itu?” tanyanya kepada diri sendiri dengan lagak orang tua. ” Bisa gawat kalau mereka nggak-”
Dok, dok, dok. Pintu diketuk dengan kerasnya, sehingga membuat jantung Seira nyaris copot.
Seira membuka pintu itu dengan takut-takut. Oh, ternyata teman-temannya sudah datang. Mereka lengkap dengan segala peralatannya. Mereka berencana untuk menyelidiki kebenaran mitos itu. Ya, mereka akan pergi ke sekolah mereka.
” Lho kok, cuma berdua? Rino mana?” tanya Seira keheranan sambil menunjuk ke dua orang tersebut.
” Tadi sama kita kok. Tapi, kok tiba-tiba menghilang, ya?” jawab Meidi polos.
” Sudahlah. Ayo, kita berangkat saja. Nggak usah peduli sama Rino,” ajak Joe sambil menggandeng Seira.
” Nanti dulu, aku mau kunci pintu ya.” Seira mengunci pintu kontrakannya, lalu pergi bersama kedua temannya.
********
Sesampainya di SMA Nagari Khatulistiwa, bulu kuduk Seira merinding seketika. Dia terus menggenggam tangan Meidi karena ketakutan. Joe berjalan di belakang Meidi dan Seira. Mereka terus berjalan mengendap-endap layaknya maling (tapi mereka sudah meminta izin ke Kepala Sekolah untuk menyelidiki mitos itu karena mereka adalah NaKha’s Spies ’Nagari Khatulistiwa Spies’ di sekolahnya).
Mereka mengendap-endap di sepanjang lorong kelas. Kelas demi kelas mereka lalui. Akhirnya, sampai juga di kantin. Mereka berjalan melewati kantin demi kantin. Stop! Mereka berhenti di kantin 5. Ya. Cukup jauh dari kantin 9. Meidi memberanikan diri untuk melangkah ke kantin itu disusul Seira.
Tap. Tap. Tap.
Sesampainya di sana, mereka melihat semangkuk bubur kentang yang masih panas lengkap dengan sendok di atas meja pemesanan makanan.
Seseorang pasti sengaja menaruh ini, pikir mereka.
Meidi nekat menyendok bubur itu dan berniat memakannya. Untung saja, dia dicegah Seira karena bubur itu berubah menjadi bubur daging mentah busuk.
Trang. Sendok itu terjatuh ke lantai. Wajah Meidi pucat pasi. Dia kaget sekaligus ngeri. Apa jadinya kalau dia memakan bubur itu?
” Sialan! Siapa orang gila yang nekat menaruh bubur gila ini!!” umpat Meidi.
Seira menoleh ke belakang, tak ada Joe. Dia menepuk pundak Meidi.
” Meidi, Joe nggak ada,” katanya.
” PEDULI AMAT!!” Meidi masih belum tenang juga.
” Meidi, ini serius,” kata Seira memelas, ” Joe nggak ada.”
Meidi menoleh. Astaga, Joe benar-benar tidak ada. Dia celingak-celinguk ke mana-mana. Tetap saja dia tidak ada.
”JOE!!!!” panggil Meidi. Tak ada jawaban. Joe sudah gila. Dia menghilang secara misterius dan membuat temannya khawatir.
” UMPH…..UMPH….”
Terdengar suara orang yang dibekap dari dalam kantin 9 itu.
” Eh, Meidi, sepertinya suara Rino. Ayo, kita buka pintu itu,” kata Seira.
Meidi membuka pintu yang terkunci itu dengan paksa. Ya, mau tak mau, harus mau.
BRAK!!! Pintu terbuka dengan sukses dan yang ada di dalamnya itu…. Hah?! Rino? Serta-merta, Seira dan Meidi menolongnya. Seira membuka bekapan Rino dan tali yang mengikat kedua kaki dan tangan Rino.
” Kenapa bisa ada di sini, Rino?” tanya Seira.
” Terserah kalian mau percaya atau tidak. Joe itu berbahaya buat kalian,” jawab Rino.
” Joe? Jangan mengada-ada, ya!” bentak Meidi karena sahabatnya dijelek-jelekkan oleh Rino. ” Tadi dia bersama kami.”
” Sebelum aku pergi ke kontrakan Seira, aku tak sengaja melihat Joe dari kejauhan. Aku sengaja menguntitnya karena dia terlihat aneh waktu itu. Aku menguntitnya sampai kantin 9. Waktu itu, dia sengaja meletakkan mangkuk itu di atas meja itu. Setelah itu, dia pergi ke belakang sekolah dan aku menguntitnya. Di sana, dia tak ada dan ada yang menggebukku dari belakang. Tahu-tahu, aku berada di sini.”
” Kau bilang belakang sekolah? Ayo, teman, kita pergi ke sana!” ajak Meidi kepada teman-temannya.
Mereka, terutama Meidi, bergegas ke belakang sekolah. Dan yang dikatakan Rino benar. Ada Joe di sana.
” Joe,” panggil Seira.
Joe menoleh. Mereka terkejut karena wajah Joe penuh luka. Joe mendekati mereka sambil mengacungkan sebilah sembilu ke arah mereka, lalu menghujamkan sembilu itu ke arah Seira. Untung ditangkis Meidi.
” Jangan lukai wanita, Joe!” larang Meidi.
” Jangan halangi aku, Meidi! Aku akan membunuh iblis ini! Dia yang telah membunuh keluargaku!” balas Joe.
Terjadilah pertengkaran yang menyebabkan tangan kanan Meidi terluka. Joe tak mau tahu. Dia terus mencoba membunuh Seira. Ambisinya itu menyebabkan nyawa kedua sahabatnya itu melayang.
” Meidi….. Rino…….”
Joe memanggil kedua temannya yang sudah terkapar berlumuran darah. Dia menguncang-guncangkan tubuh kedua temannya dan tidak ada reaksi. Tiba-tiba, jleb!
Sembilu tepat menancap di ulu hati Joe. Seira tak menyangka dia tega menancapkan sembilu itu ke ulu hati temannya. Seira terjatuh, lalu menangis. Dia menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
” Joe….. Meidi….. Rino…..,” tangisnya.
Dan Seira tidak tahu ada perubahan pada dirinya. Muncul taring, kuku panjang, dan rambut putih saat bulan purnama tiba.
********
wew, ga nyangka.
jadi ternyata si seira itu adalah werewolf ya?
apa kuntilanak?
werewolf sih menurut gue.
ya kan?
seru……
ceretanya buat orang penasaran….
tapi akhirnya tu dikit banget.
endingnya kurang puas,,,,
sperti cerita di kartun2… apa terinspirasi dari situ?
maksud akhirnya apa sich…
wah……wah……………
i like the short story
thanks
ceritanya bagus, tapi endingnya ga’ mbois blasss…. hmm…
serem tapi ada bagian yang gak enak banget waktu bacanya…(Pas buburnya berubah)
itu cuma ide yang terlintas sesaat kok…