Tukang Sate di Planet Mars
November 20th, 2008 by winsufmaulana
Valiuman gundah. Masalahnya terasa sangat berat sehingga berkali-kali ia membuang nafas yang terdengar berat dan tertekan. Dari tadi pekerjaannya hanya bolak balik di serambi kamar.
Valiuman memandangi semua perabot-perabot mewah dan mahal itu bergantian. Semua tertata dengan rapi diatur oleh dua pembantu yang sudah beberapa tahun ikut bekerja dengannya. Televisi plasma tiga puluh dua inc merk LG berwarna hitam, DVD player dan seperangkat home theater yang jika dinyalakan besar-besar nyaris seperti bioskop, menggema, memacu jantung untuk berdetak lebih cepat. Di langit utama kamar ini juga tergantung lampu dengan kristal-kristal bening nan menawan sebagai hiasannya. Kadang-kadang kristal-kristal itu bergemerincing saat angin menembus ruangan ini lewat jendela. Satu set sofa empuk dan art decoration yang turut memeriahkan ruangan ini, tidak kalah menarik. Namun semua ini terasa tiada artinya. Valiuman ingat lagi usianya yang hampir empat puluh tahun namun belum juga jodoh menghampirinya.
Empat puluh tahun. Angka itu seolah duduk manis di dekatnya dan berusaha mengingatkan Valiuman tentang semua yang telah ia raih selama ini.
Lihat, betapa aku telah sukses. Jabatan, apartemen mewah, mobil, beberapa tempat usaha dan… akh! Satu yang belum aku miliki dan aku sangat sayangkan.
Dulu, waktu usianya masih lima belas tahun saat duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas tiga, ia sempat berpikir bahwa di umur menjelang empat puluh adalah masa-masa paling membahagiakan. Hidup bersama istri dan beberapa orang anak yang menyayanginya.
Tapi ternyata itu semua hanya isapan jempol saja. Terbukti di usianya sekarang ia justru semakin dikecam kesepian mendalam. Kisah cintanya justru jatuh bangun. Jangankan berkunjung kerumah keluarga di kampung, shalat lima waktu pun tidak pernah dilakukannya. Waktunya hanya untuk kerja, meeting dan berbagai acara yang memenuhi jadwal-jadwal kesehariannya.
Valiuman melirik jam dinding. Pukul sebelas lima puluh menit. Tepat sepuluh menit lagi, usianya genap empat puluh tahun. Kemudian ia menatap langit malam yang lengang dan masih sama seperti malam-malam lalu yang setia menemaninya membaca buku atau sekedar menjelajah dunia maya. Lagi-lagi… katanya. Keheningan yang semakin menjadi-jadi setiap malam membuatnya merasa hampa dan kesepian. Sungguh tidak ada yang pantas aku rayakan diusiaku yang ke empat puluh ini, selain menekuri semua pecahan sedih dan kebosanan.
***
Sambil menunggu pukul dua belas tepat, Valiuman membuka lembar halaman pertama buku fiksi yang ia baru beli sore tadi di toko buku. Buku itu berjudul planet Mars. Entah apa yang menjadi motivasinya membeli buku itu. Buku yang berisi cerita fiksi yang dipegangnya sekarang adalah buku fiksi yang pertama kali ia beli, sebelumnya ia hanya membaca buku-buku biography dan bisnis. Sungguh di luar dugaan, dengan santai ia membawa buku itu ke kasir dan membayarnya. Mungkin karena covernya yang menarik.
Lembar kedua bergambar sebuah langit gelap yang hampir memenuhi seluruh halaman dengan sebuah bundaran besar. Dibawahnya ada tulisan, perhatikan sejenak! Valiuman menuruti dua kata itu.
Lingkaran itu menyerupai lorong waktu. Warnanya gelap. Sangat gelap! Hingga sempat terpikir olehnya berapa banyak tinta yang dihabiskan untuk mencetak gambar itu. Valiuman kembali berkonsentrasi.
Gambar itu tidak lebih seperti black hole atau lubang hitam dengan outer glow berwarna kuning keemasaan yang mendramatisir lubang tersebut ditengah hamparan semesta yang terang dihiasi bintang dan benda-benda asing lainnya. Bibir Valiuman menjebik. Ternyata ini hanya sebuah buku biasa. Misteri yang menyelubungi fenomena lubang hitam bagaimanapun juga hanya bisa dikaji dari jauh, lantaran kemampuan sains dan teknologi manusia masih belum mampu membawa mereka menghampiri lubang itu, pikirnya dangkal. Selama ini orang menganggap “hilangnya” sesuatu sebagai hal yang aneh, ya karena black hole mempunyai gaya tarik grafitasi sangat tinggi hingga dapat menarik materi yang berada dalam jangkauan kekuatan grafitasinya. Padahal sebenarnya yang lebih aneh adalah “bertahannya” sesuatu agar tidak lenyap. Hal ini menyebabkan banyak orang yang menjadikan black hole sebagai sesuatu yang dikultuskan dan disakralkan, yang dapat menjeruskan kearah materialisme. Ah sudahlah! Valiuman mengusir ingatannya tentang perdebatan-perdebatan black hole tempo hari di sebuah forum. Dalam hatinya terbesit rasa bangga karena bisa mematahkan argumen teman-temannya.
Ia menatap malas pada gambar bundaran hitam yang ada di hadapannya. Tiba-tiba tirai jendela berkelebat hebat. Valiuman tersentak karena daun jendelanya membentur dinding. Ia menggigil karena rasanya dingin sekali. Perasaannya jadi aneh, karena suasana ini terbalik seratus delapan puluh derajat, tidak seperti beberapa menit yang lalu. Lampu kristal itu bergoyang-goyang sehingga suaranya bergemerincing hebat. Semakin lama cahaya yang ditimbulkannya meredup.
Kenapa ini?! Tiupan angin semakin kencang saja sehingga Koran-koran dan buku-buku itu berterbangan. Angin puting beliung kah?! Valiuman masih memegangi kursi tempatnya duduk. Bisa-bisa ia ikut terhempas dengan barang-barang lain. Valiuman berpikir ini kiamat. Ya tuhan!! Pekiknya dalam hati.
Serta merta televisi plasma itu menyala. Tidak ada gambar, hanya suara berisik. Valiuman rasa itu karena antena televisi yang terganggu oleh angin. Tapi kenapa bisa menyala dengan sendirinya??!! Kemudian home theater, lalu dvd player yang menimbulkan suara tidak jelas. Valiuman merasakan meja di depannya bergerak-gerak. Ia yakin beberapa detik lagi ia akan terbang bersama semua ini. Angin terus bertiup kencang dan semakin kencang. keanehan luar biasa, ia menggamit telepon genggam dan kunci mobilnya. Ia pikir setidaknya jika gedung ini rubuh dan ia keluar menyelamatkan diri, ia masih punya nomor-nomor penting kerabat-kerabatnya.
Tidak sedikit pun ia dapat bergerak. Satu-satunya yang dapat ia lakukan hanya bertahan. Menopang kakinya dengan kaki meja jati berukuran besar yang juga mulai berderit-derit diterpa angin. Kepanikannya semakin menjadi-jadi. Belum lagi kekosongan hidup yang sepanjang tahun ini ia jalani, ia juga harus mengalami musibah yang mungkin merenggut nyawanya sebelum ia bisa merasakan manisnya surga dunia. Valiuman pasrah.
Beberapa menit berlalu. Jam dinding berdentang nyaring. Suaranya tidak kalah keras dengan angin ribut ini. susah payah ia melirik jam dinding, matanya memicing. Jam menunjukan pukul dua belas tepat tengah malam. Ini adalah hari ulang tahunnya yang paling buruk. Karena ulang tahunnya kali ini dirayakan dengan meriah oleh musibah ini.
Suara jam dinding belum berhenti juga. Valiuman semakin berusaha mempertahankan diri, tapi lama-kelamaan lututnya lemas beradu dengan kayu meja. Kemudian ia menatap gambar lubang hitam itu. Apa yang terjadi??!! Lubang itu bergerak-gerak. Pertama pelan tapi lama-kelamaan semakin kencang seperti pusaran mata air. Warna-warna kuning keemasannya pun bersinar terang dengan bintang-bintang yang bergerak. Apakah ini??!! Valiuman tambah terperanjat ketika ia merasa pijakannya ringan. Akh, tidak!!! Ia merasa sel-sel tubuhnya berhamburan dan pelan-pelan membentuk serpihan butiran-butiran kecil, melayang-layang, mulai dari ujung kaki, paha, pinggul menuju ke bahunya. Ia masih sempat melihat serpihan-serpihan itu melayang-layang beraturan seperti kerumunan tawon madu yang diganggu sarangnya. Serpihan-serpihan itu menuju lubang hitam dalam buku fiksi yang ia beli. Ia berteriak sekali lagi, namun teriakannya berakhir ketika mulutnya sendiri terpecah, ikut menjadi butiran.
Tubuh valiuman tersedot. Ia melewati sepanjang lorong panjang. Ia melesat cepat dengan putaran yang kecepatannya entah berapa kilometer perjam. Matanya tidak mampu terpejam ia seolah dipaksa untuk melihat apa yang ia alami sekarang. Dinding-dinding lorong itu gelap dengan cahaya-cahaya kecil yang mengitarinya. Lama-kelamaan tubuhnya tak terkendali mengikuti putaran lorong itu.
***
Dalam beberapa detik lamanya Valiuman terhempas menyusuri lorong menyeramkan itu. ia terjungkil balik diatas dataran yang permukaannya lebih halus. Valiuman benar-benar terkejut karena ia berada di tempat yang benar-benar asing. Tidak ada satu pun manusia, bangunan-bangunan atau mobil. Semua merah begitu juga gundukan-gundukan tanah di sepanjang jalan menuju bukit di seberang sana, jauh dan gelap dengan kabut-kabut yang merengsek, bergerak kedalam seolah tertelan. Sepertinya di balik bukit itu ada pembakaran manusia-manusia penuh dosa, dan langit-langit gelap itu adalah wakil jeritan mereka. Valiuman bergidik namun tidak sedikitpun nafasnya terasa sesak meskipun suhu dan tekanan udara disini rendah.
Ia berteriak sekuat tenaga dan berlari menyusuri tepi bukit. Tapi yang ditemukannya hanyalah hamparan dataran merah seperti waktu ia baru tiba di tempat ini. Oh tidak! Apakah aku sudah mati?! Jeritnya parau.
Valiuman lagi-lagi terperanjat ketika ia mendapati daerah yang dipijaknya terdiri dari beberapa mesa atau perbukitan. Aku berada di Mars! Ya, Mars. Berarti aku orang pertama! Ah ya lihat itu! Valiuman mendekati salah satu mesa yang berbentuk wajah manusia. Ini daerah Cydonia Mensae. Katanya lagi. Tiba-tiba ia ingat bahwa sebelum ia terjerembab kedalam gambar lubang dibuku itu ia meraih telepon genggam. Untung saja!
Ia mencoba mengaktifkan kamera di telepon genggamnya. Tapi yang ia dapat hanyalah sebuah gambar kosong dan gelap. “Ah, handphone kurang ajar! Disaat-saat genting seperti ini masih saja menyusahkan. Tak heran kalau aku ingin menggantimu dengan merk yang lebih mahal,” ketusnya sambil memijit keras keypad telepon genggamnya.
“Itu tidak akan pernah bisa berfungsi, Bung!” kata suara itu seraya meledek. Kemudian terkekeh.
Valiuman berbalik arah mencari sumber suara. “Aha, tukang sate, kamu kesini juga?!” tanya Valiuman.
Tukang sate itu masih asik mengipas-ngipas panggangan yang di atasnya terdapat beberapa tusuk sate, gumpalan-gumpalan asapnya bertebaran. Wajah lelaki itu tampak ceria meski mukanya berminyak dan kehitaman. Ia memakai topi yang orang sering pakai saat naik gunung. Dia memakai kemeja kotak-kotak yang tidak kalah lusuh dengan sandal jepitnya. Tukang sate ini selalu tertawa dengan nada menyindir. Valiuman kesal dibuatnya.
“Kamu tidak akan bisa memotret apapun!” katanya lagi. Kemudian dia mendendangkan sebuah lagu dengan santainya.
“Mengapa? Ini telepon genggam mahal, dengan system operasi windows mobile 5.0, CPU 400Mhz Intel Xscale, kamera 4MP plus touch screen dan sudah dilengkapi teknologi SIP VOIP, WI-FI 802.11 Kg. Aku yakin kau tidak akan mampu membelinya.”
“Hahaha.” Tukang sate itu terbahak-bahak sebelum ia melanjutkan ocehannya. “Ya, tapi tetap saja tidak bisa mengambil gambar. coba kamu pikir, apa telepon genggam kebanggaanmu bisa menghasilkan sate seenak ini? Perutmu lapar kan?!” tanyanya.
Valiuman merasa egonya terusik, tapi dalam hatinya bertanya darimana tukang sate itu tahu kalau saat ini ia benar-benar merasa lapar? Ia terdiam, merasa kalah. Matanya menatap ke ujung dataran yang tidak pernah akan bertepi.
“Kamu bangga ya ada disini? Kalau kamu pikir ini akan jadi duniamu dan akan membuatmu kaya, kau bisa tinggal di sini selamanya Bung” kata tukang sate lagi.
“Ah, tidak-tidak! Aku mau pulang!” muka Valiuman mulai pucat. Ia merasakan dataran yang dipijaknya keras, pucat dan kering. Dataran yang tidak pernah dijamah oleh manusia manapun. Tidak ada air, tidak ada makanan bahkan dengan komposisi udara yang sebagian besar karbondioksida.
Menyadari itu ia terbatuk-batuk.
Tukang sate itu bangkit dan berjalan setengah terbungkuk. Kemudian ia mendekatkan mukanya ke arah Valiuman lekat-lekat. Tawanya menggelegar. Sementara Valiuman tidak dapat lagi mundur ke belakang karena punggungnya beradu dengan bongkahan batu sebesar gajah. Ia menatap tajam-tajam wajah lelaki yang bernaungkan langit gelap dan merah kelam.
“Kamu pikir… apa yang kamu cari bisa membeli yang kamu mau ya? Mana telepon genggammu? Mana, mana!!!!” pinta lelaki itu setengah berteriak hingga gigi-giginya yang hitam tampak jelas terlihat. Mulutnya bau minta ampun.
“I, i, ini..!!!” valiuman jadi gugup, ia tergesa-gesa mengeluarkan telepon genggamnya dari saku celana. Kemudian lelaki itu meraihnya dengan cekatan dan membantingnya hingga hancur di atas bebatuan cadas. Valiuman berteriak. Ia mendorong si tukang sate dan berusaha mengumpulkan serpihan telepon genggam yang hancur berkeping-keping.
“Itu namanya dunia Bung…… tidak ada yang abadi….” kata lelaki itu dengan santai. Sementara Valiuman menangis, sakit perutnya karena lapar semakin menjadi-jadi.
“Nih makan!” perintah tukang sate. tiba-tiba, seperti anjing kelaparan Valiuman segera meraih pemberiannya dan memakan sate itu dengan lahap. Aneh, ia merasa sangat kenyang dengan hanya satu tusuk sate saja. Valiuman mengucapkan terima kasih dan tawa tukang sate itu menggelegar lagi.
“Kamu tahu bung? Sate itu aku bakar bertahun-tahun lamanya. Itu sate daging busuk!” katanya. Kontan Valiuman memuntahkan seluruh isi perutnya. Untuk kesekian kali si tukang sate membuatnya jengkel dan habis kesabaran. Tapi belum saja berkilah si tukang sate sudah mengucapkan kata-kata yang mengetuk pintu sadarnya.
“Berapa lama pun kau kejar dunia, tetap saja Bung, semua itu akan membinasakanmu, karena kau rakus dan congkak. Semua itu tidak bisa membeli kepuasan batiniahmu. Kau tahu betapa banyak yang rugi karenamu? Sedikit pun kau tidak berbagi, hingga Tuhan pun kau abaikan. Meski Dia tidak butuh sembahanmu, tapi kau tidak pernah adil. Kau serakah! Dan semua yang kau dapatkan tidak lebih seperti bangkai yang makan tadi.”
Valiuman terbatuk-batuk. Perutnya masih mual. Demikian kerasnya ia muntah hingga kerongkongannya kering.
“Aku mau minum, aku mau minum!” pekik Valiuman. Si tukang sate menyodorkan sebuah tempat air yang terbuat dari tanah liat berwarna merah kusam dan berlumut. Isinya hanya beberapa sendok air saja. Tapi Valiuman segera tersadar, jangan-jangan ini jebakan lelaki itu lagi. Ia tidak mau terulang untuk yang kesekian kali. Valiuman meneliti isi benda bulat dan usang itu. Melihat sikap Valiuman kembali si tukang sate terbahak-bahak sambil mengusap jenggotnya yang panjang.
“Hahahah…. kau curiga…. apa kamu takut mati?! Padahal air itu tidak akan menghabiskan nyawamu. Kamu memang pelit bahkan terhadap dirimu sendiri. Padahal air itu sama seperti halnya sedekah yang akan menyelamatkanmu dan membersihkan semua harta-hartamu hahahh…!!! Air itu sulit didapatkan di sini Bung.”
Valiuman semakin bingung, ia melemparkan benda itu dan seisinya. Ia berteriak seraya meremas-remas rambutnya dan jatuh ke tanah. Valiuman menangis sejadi-jadinya. Penyesalan besar karena telah membeli buku itu di toko buku mengutuk dirinya sendiri. Ia tidak mau berada di tempat ini dan kembali ke apartemennya. Tiba-tiba ia rindu pada Ibu dan keluarganya yang selama bertahun-tahun tidak pernah dikunjunginya sebentar pun sejak usianya menginjak sembilan belas tahun. Tepat ketika ia memutuskan diri untuk merantau mencari kekayaan dan jabatan setinggi-tingginya, hingga ia lupa bahwa semua hasil jerih payah yang ia dapatkan sebenarnya tidak lepas dari doa orang tua dan dukungan semua orang yang mencintainya. Ia terlena, sibuk dengan pekerjaan, berfoya-foya sehingga semua itu mengurung imannya sendiri. Dunianya menjadi gelap, segelap langit di planet ini. Kemanapun ia lari tidak akan pernah bertepi seperti apa yang ia kejar selama ini. Hatinya menjadi kering kerontang seperti batu yang menjadi tempat bersimpuhnya sekarang.
Valiuman berteriak-teriak saat batu-batu itu berubah menjadi mahluk aneh. Mahluk-mahluk itu bermata bulat dengan senyum setajam pisau. Ukuran kepalanya lebih besar dar itubuhnya. Otaknya berputar, menyentuh serambi-serambi ingatannya sewaktu ia membaca berita tentang ditemukannya sesosok mahluk hidup yang mirip manusia, yang duduk di atas batu. Sosok itu terekam dalam foto yang diambil wahana penjelajah Spirit di permukaan planet Mars tahun 2004 lalu.
Inikah mahluk itu, jelek dan menakutkan sekali!! Ia menyeringai. Tapi… mengapa jumlahnya jadi banyak??!!! Mahluk-mahluk itu mendekati Valiuman dengan kedua tangan dan kuku panjang terangkat, seolah ingin menguliti dirinya.
Valiuman semakin ketakutan. Dan si tukang sate masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Hahaha… mintalah pertolongan pada kekayaanmu kalau bisa. Hahahha…”
Valiuman berteriak lagi hingga kepalanya sakit dan pandangannya berputar-putar. ia merasakan lagi ujung kakinya ringan dan perlahan-lahan membentuk serpihan butiran-butiran kecil, berterbangan. Wajah-wajah alien yang mengerikan sekarang berada beberapa centimeter lagi dari tempatnya berdiri. Dan ketika tangan-tangan mereka terayun hendak mencakar disaat itulah wajahnya yang terasa ringan berubah menjadi serpihan butiran-butiran. Valiuman kembali tersedot kedalam lorong waktu. Keadaannya sama persis seperti waktu semula ia terjerembab.
***
Valiuman seolah dihempaskan. Ternyata ia masih duduk di depan meja kerja dengan buku fiksi yang dibelinya sore tadi. Tubuhnya berkeringat hingga punggungnya basah. Ia mendapati ruangan kamarnya tertata rapi, tidak sedikit pun berantakan seperti waktu angin itu menyerang dirinya.
Mimpikah aku??!! Aneh. Ia mengusap mukanya dan menangis. Kejadian ini membuatnya letih tidak karuan. Dan beberapa saat kemudian ia dikagetkan dengan bunyi telepon genggam yang berada dalam sakunya.
Ahk, ternyata telepon genggamku masih ada! Ia melihat layarnya, ternyata Ibu yang menelpon.
“Nak, kamu jadi pulang ndak? Ibu sudah kangen. Besok puasa pertama, masak kamu gak pulang-pulang sih?” Suara Ibu terdengar parau.
“Iya, iya Bu. Saya segera pulang sore ini juga. Ibu maafkan saya ya!”
Tergesa-gesa Valiuman mengambil kunci mobil dan jaket, tanpa banyak basa basi ia menghambur keluar apartement dan melaju menuju kampung halamannya.
5 September 2008
16.00 wib