KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Si Pirang Loncat!

Aku sedang memandangi kampusku dari balkon lantai 6 gedung pusat kampus. Tanganku berpegangan di batangan besi pengaman yang setinggi dada. Anginnya cukup kencang hari ini.

Seorang gadis berjalan mendekatiku. Sangat cantik dan pantas dengan rambut panjang dicat pirang. Kuperkirakan ia mahasiswi angkatan dibawahku. Hm, mungkin 1 atau 2 tahun kebawah. Ia mendekati diriku sambil senyum. Aku penasaran. Rasanya aku belum pernah mengenal gadis ini.

”Temannya Hartono jangkung kan?”

”Eh, benar. Kok tahu?” tanyaku dengan bingung.

Kalau banyak orang kenal si Harto Jangkung sih biasa, soalnya dia memang pusat perhatian dan ngetop dimana-mana. Tapi aku kan tidak seperti si Hartono, dan lagi, cuma teman seangkatan biasa yang tidak terlalu karib-karib amat.

Si gadis tertawa ringan.

”Kamu persis seperti yang digambarkan oleh Hartono. Dia sering cerita tentang teman-temannya lho.”

”Masa? Cuma sekali lihat?” kataku dengan tidak percaya.

”Katanya sih, Feri selalu memakai pakaian yang polos. Kalau putih ya putih polos, kalau biru ya biru polos. Lalu yang rencananya daftar ulang sama dia ke gedung pusat hari ini, kata anak-anak namanya Feri. Kamu kan?”

”Hm, ya”. Napasku melambat. Cantik sekali gadis ini.

”Siapa ya?” tanyaku penasaran. Pacarnya Hartonokah?

Si Gadis berdiri di sampingku dan memandang jauh ke depan. Wajahnya sedikit muram. Tangannya menggenggam erat besi pengaman.

”Pacarnya.”

”Oh”. Sialan si Hartono.

Kami terdiam dan menikmati hembusan angin. Ia memejamkan mata sementara rambutnya yang pirang bergerak-gerak ringan. Ia kemudian menoleh kearahku.

”Mana Harto?”

”Katanya sih sedang sakit jadi yang ke sini cuma aku. Dasar, yang ngajak malah yang tidak datang.”

”Begitu.”

”Lho, kamu nggak tahu? Dia tidak bilang ke kamu kalau sedang sakit?”

”Tidak.”

”Oh.”

Sialan kau Harto! Akhir-akhir ini bocah itu semakin nggak beres saja. Nggak pernah ke kampus, nggak pernah ada di kosnya, HP nya nggak pernah hidup, ada saja kepentingan mendadak waktu diajak kumpul bareng. Dan sekarang, kasihan si cantik kan, sampai mencarimu ke sini. Si cantik?

”Aduh, lupa nanya sejak tadi! Kamu kan sudah tahu siapa aku.” Aku memasang muka serius dan menyorongkan tangan kanan ke depan. “Kenalkan, Feri.”

Si cantik menyambut tanganku. ”Lucy, el u se ye,” katanya, seperti guru TK mengajari muridnya. Aku tak tahan untuk tersenyum. Lucy juga tersenyum. Pasti Lucy sering merasa kesal karena namanya salah eja tulis.

Seorang mahasiswi keluar dari ruang administrasi. Waktunya daftar nih.

”Wah, Lus, sori ya, sudah saatnya aku ke sana.”

Lucy mengangguk. Aku lalu berjalan menuju ke ruang administrasi.

”Fer!”

Aku membalikkan tubuhku. Lucy kini bersandar di besi pengaman. Kedua tangannya bersembunyi di belakang badan.

”Kalau ketemu Harto, bilang ya kalau kutunggu di sana.”

”Di sana? Di mana?”

”Harto nanti tahu kok. Kamu juga akan tahu,” jawabnya sambil tersenyum manis memikat.

”Oke kalau begitu,” jawabku spontan tanpa berpikir lebih jauh. Sekarang cepat mengurus daftar ulang, masih banyak kegiatan hari ini yang menungguku.

Aku kembali menuju ke ruang administrasi dan mengetuk pintunya. Ibu petugas mempersilahkan aku masuk. Ketika akan duduk di depannya, terdengar jeritan histeris seorang cewek dari luar ruangan. Aku segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ibu pengurus administrasi juga begitu.

Di luar ruangan banyak orang yang berkerumun di balkon tempatku ngobrol sama Lucy tadi. Aku segera menyeruak kesana dengan rasa ingin tahu. Apa yang kulihat merupakan fakta yang menyedihkan. Jauh di bawah balkon, di trotoar, sesosok tubuh terkapar. Rambutnya yang tadi pirang kini sudah tidak pirang lagi. Cewek yang tadi menjerit segera dimintai keterangan oleh yang lain. Dengan terbata-bata ia menceritakan apa yang ia lihat. Ceritanya pendek.

Si pirang loncat, jatuh dan mati.

10 Responses to “Si Pirang Loncat!”

  1. on 21 Nov 2008 at 15:37astri

    walah, sebenernya idenya bagus. cuma penyampaiannya kurang nge-flow ya. sayang…
    do your best!

  2. on 27 Nov 2008 at 11:12sweety

    ending cerita nya kurang jelas , kalau pun ingin melanjutkan cerita selanjut nya atau ada bagian kedua, semestinya ga sepperti itu kata2 nya….dicerita ini ga tau siapa yang jatuh dan siapa yang di mintai keterangan…..

  3. on 27 Nov 2008 at 16:30vini

    wah…. cerpennya sangat bagus very very good dech. aku ingi ceritanya lebih baik dan enak dibaca jadi kan aku suka membacanya . ini suka sudah bagus aku beri nilai 87. udah dulu yach…… dachh………………………………………

  4. on 27 Nov 2008 at 16:39vini

    ehmmm aku suka kok cerpennya sangat menarik dan bagus, sampai- sampai aku membaca salah satu cerpennya sampai terharu.Aku ingin tau siapa yang membuat cerpen itu,aku ingin jadi pembuat novel/cerpen seperti dia.Aku beri nilai 87

  5. on 28 Nov 2008 at 13:54krist

    ya yang mati pasti si gadis cantiklah…klo ngasih koment pahami dulu makna di balik sebuah cerita apalagi sebuah cerpen, yang merupakan cerita fiksi. masak yang mati kucing…!! ini sdikit jawaban buat sweety. ..meski bukan aku yng nulis cerpen ini tp pertanyaan anda bikin saya gerah dan merusak suasana. thank’s

  6. on 28 Nov 2008 at 13:55Oed

    Cerpen ga jelas…

  7. on 29 Nov 2008 at 11:54afi

    bagus cuma harap agak diteliti ya bahasanya

  8. on 29 Nov 2008 at 23:28bidha

    kurang mengena banget’s gak jelas masalah yang di bawa sang tokoh dalam cerita

  9. on 09 Dec 2008 at 15:52memey

    cerita apa jenk???

  10. on 15 Dec 2008 at 10:51Blink_Zhee

    Hlh, bkin gw pnsrn ja..

    Lgyn g jls bgt sh cew th bnh dri jg gra” ap? Msa crpn crtax cm kyk gni?!

Tinggalkan Komentar