KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Eutanasia Cinta

Laki-laki berkemeja biru tua itu meninggalkan aku dalam kebekuan yang seolah abadi. Dia sesungguhnya sangat berarti untuk saat ini. Tapi, dia memilih pergi, menyisakan kau dan amplop putih yang gemuk berisi. Kini aku kembali sendiri.

Ini memang harus terjadi. Sejak lama aku tahu ini pasti terjadi. Aku memang sudah demikian biasa rasakan sepi yang begini, rasakan ramai yang begitu. Namun, hal itu tiada juga mendewasakan aku. Aku tetap merana ketika dia hilang atau berubah sikap dengan tiada alasan.

Tapi, bila harus ada kepergian, mengapa perlu pertemuan? Bila akhirnya aku dibenci, mengapa di awal aku dipuji? Mengapa?! Siapa yang berani mengacungkan tangan untuk menjawabnya?! Ah, siapa sudi? Siapa pula yang peduli? Tak ada yang mengerti. Oh, sungguh segala rayuan yang indah di awal hanya akan melenakanku, memanjakanku, hingga suatu ketika bila tiba masa malang. Aku yang lemah jadi tak berdaya, seketika aku bisa mati oleh eutanasia cinta.

Dan kadang hatiku bertanya: mengapa sekarang aku belum mati? Padahal aku sudah merasa runtuh. Mungkin, memang Cupid hanya punya satu busur yang anak-anaknya adalah panah cinta dan bukan eutanasia.

Laki-laki berkemeja biru tua itu berhenti sejenak sebelum dibukanya pintu mobil hitamnya. Dia menoleh ke arahku seolah begitu berat meninggalkan aku. Dan nyata aku melihat matanya yang basah masih menyiratkan cinta mendalam untukku dan juga seribu resah yang terlalu sukar untuk kueja. Suasana mengharu biru, dan aku berharap dia kembali, tapi…

“Ti, aku pergi dulu ya!” Kalimat paraunya begitu tak indah di telingaku. Aku tak punya jawaban. Aku cuma Kinanti. Wanita lemah. Setiap pedih menusuk, aku adalah diam. Setiap hatiku terluka, aku adalah bisu. Aku tahu dia menantiku untuk berkata iya dan berharap aku berdoa untuk perjalanannya. Tapi, sungguh aku tak bisa.

Laki-laki berkemeja biru tua itu memasuki mobilnya. Dari kaca spion mobilnya, aku tahu dia sempat menatapku dengan pandangan penuh kesedihan. Mungkin dia kasihan. Mungkin dia cemas memikirkan aku. Memikirkan kamu. Kupikir, dia akan turun lagi dari mobil. Membatalkan keputusannya, menghampiriku dan menyeka air mataku. Tapi, tidak. Dia terus berlalu. Mungkin dia merasa amplop putih yang ditinggalkannya dapat menutupi kesedihanku. Aku kecewa.

* * *

Dengan langkah gontai, aku membawamu ke kamar. Aku menatap lekat-lekat bayanganku di depan cermin. Aku mematut-matut diri dengan dandananku yang terkesan biasa. Aku cuma berdaster dengan perut membuncit. Rambutku panjang sebahu dan tampak awut-awutan. Kulitku kini kusam dan badanku gembrot. Aku memang tak menarik lagi.

Akh, kamu menggeliat. Mungkin merasa bersalah. Aku jadi ingat, kemarin, saat Pram masih di sini, ketika kau menggeliat begini, aku langsung menggelanyut di pundaknya yang kokoh. Dan ia dengan penuh kasih, begitu mesra menciumimu, menciumiku. Tapi, kini dia tak ada di sini. Mungkin, dia sadar, betapa jeleknya aku. Betapa gembrotnya aku.

Kudengar kau berbisik: Mama tidak jelek. Sama sekali tidak! Ucapanmu  membuatku menatap bayanganku di cermin lebih lekat.

Sayangku, Cintaku, aku memang sudah tak menarik lagi. Lihatlah! Aku hanya berdaster lusuh. Sedangkan di bilik hati yang lain, Pram menyimpan seorang bidadari. Wajar dia lebih memilihnya.

Biar saja dia pergi. Aku akan tetap disini bersama Mama. Bisikmu sambil mengalirkan kehangatan lewat sedikit gerakan yang sangat berarti.

Tapi, Nak, aku benar-benar kesepian tanpanya. Sepi yang teramat sangat. Aku benar-benar menderita.

Kau membuat gerakan yang lebih kuat hingga membuatku sempat meringis. Lalu bisikmu: Ma, apa aku tak cukup berharga sebagai kenangan dari Pram untuk mengobati sepimu?

Kamu? Aku berpikir sesaat. Lucu! Mana Kamu? Kamu di mana? Kamu masih aku!!! Dan di sini aku sendiri. Meski rumah pemberian Pram ini tak begitu besar, tapi  aku merasa menjadi penghuni istana kosong. Kamu tahu bagaimana rasanya? Sakit. Merana. Seolah aku hidup tanpa kehidupan.

Kamu diam. Aku jadi merasa bersalah. Sayang, aku minta maaf bila kadang membuatmu merasa cemburu pada ayahmu sendiri. Tapi sebenarnya aku juga sangat sayang padamu. Meski aku belum bisa melihatmu dengan benar-benar melihat. Belum bisa mendengarmu dengan benar-benar mendengar. Belum bisa menyentuhmu dengan benar-benar sentuhan. Aku cuma bisa merasaimu. Kamu pasti paham betapa aku mencintai Pram. Kuharap Kamu mengerti. Kamu tentu sudah tahu kisahku dengan Pram, bukan?

Kamu diam, tak bergerak, mungkin kau paham aku sedang dilanda kesedihan. Terima kasih atas pengertianmu, Sayang.

Tiba-tiba terdengar suara mobil yang membuatku tersadar dari lamunan. Kupikir itu Pram.  Ya, pasti Pram. Sudah kuduga dia tak akan sanggup jauh dariku. Apalagi disini ada kamu. Senyum penuh harap mengembang di bibirku yang terasa kerontang. Segera kuhapus sisa-sisa air mata yang membuat wajahku lembab. Aku bergegas turun. Tapi, sejenak pandanganku membentur sebuah buku biru milik Pram. Mungkin, dia kembali hanya untuk mengambil buku yang tertinggal itu. Suara ketukan di pintu membuatku setengah berlari membuka pintu itu.

“Assalamu’alaikum.”

Bukan Pram! Sosok yang kerap kulihat fotonya di dompet Pram itu mengucap salam begitu pintu kubuka. Wanita berjilbab di depanku membuatku sedikit kaget. Mataku terbelalak refleks. Dia melirik perutku sekilas.

“Wa’alaikum salam,” jawabku perlahan.

Kupersilakan dia masuk dan duduk. Kusuguhi secangkir teh hangat dan sepiring brownies. Sekedar basa-basi. Sebenarnya aku ragu apakah ia sudi menyentuh hidanganku. Aku duduk di hadapannya. Rasa malu dan tak enak membuatku menunduk saja dari tadi. Hening. Aku tak berani mulai bicara. Jelek-jelek begini, aku masih tahu diri. Bahkan, bila dia menamparku pun, aku akan diam saja. Aku memang wanita yang pantas dia labrak, ia caci maki, dan ia pukuli.

Namanya Retno. Aku memanggilnya Mbak. Usianya lima tahun di atasku. Dia mengenal Pram dua tahun yang lalu ketika Pram meninggalkan Yogyakarta dan meninggalkan aku, kekasihnya sejak SMA. Saat itu Pram pamit padaku hendak ke Jakarta memenuhi panggilan kerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit ternama di ibu kota. Aku melepas belahan jiwaku dengan berat hati karena saat itu kami baru bertemu kembali setelah selama empat tahun Pram menempuh pendidikan di kota Bandung.

Pram menjadi dokter di rumah sakit tempat Mbak Retno bekerja sebagai dokter kandungan. Mbak Retno telah banyak membantu Pram di kota itu. Dalam surat-suratnya padaku, Pram banyak bercerita tentang Mbak Retno, wanita baik yang menyediakan tempat tinggal untuk Pram dan mengasihi Pram layaknya seorang adik. Aku bahagia mendengarnya karena aku lega di sana Pram ada yang menjaga. Tapi, di saat itu juga aku sedang dilanda kegelisahan yang luar biasa karena Romo yang awalnya menyetujui hubunganku dengan Pram mulai tak sabar karena Pram tak kunjung datang melamarku.

“Ti, mau jadi apa kamu kalau tetap bertahan menunggu bocah tak jelas itu? Apa kamu mau jadi perawan tua?” Demikian Romo selalu berkata. Perkataan yng menyakitkan hatiku tapi kadang membuatku sadar bahwa yang dibilang Romo ada benarnya.

Lima bulan setelah Pram merantau ke Jakarta. Aku dikawin paksa oleh orang yag dipilih Romo. Saat itu aku pasrah dan manut saja. Aku pun sadar beban Romo yang hampir tiap hari mendengar gunjingan tetangga tentang diriku yang tak kunjung menikah. Di hari akad nikahku, Pram baru menerima kabar tentang  pernikahanku. Tak ada lagi waktu untuknya membatalkan keputusan Romo. Pram melabuhkan nestapanya pada Mbak Retno di hari yang sama ketika air mataku membasahi ranjang pengantin. Aku tahu saat itu Pram sangat kecewa. Dan aku menjelma jadi pengkhianat cinta.

“Kinanti?” Suara lembut Mbak Retno memecah lamunanku.

“Ti, Pram ada?” Mbak Retno bertanya tanpa beban. Jelas dia tak tahu segala hal yang terjadi pagi ini.

“Mbak, hari ini dia memutuskan pergi untuk kembali pada Mbak Retno. Dia tak akan kembali kesini lagi, Mbak,” jawabku penuh sesak namun kucoba untuk kuat. Pram adalah suami Mbak Retno yang sah, dia milik Mbak Retno. Aku tak punya hak untuk merasa sedih kehilangan dia.

“Tidak, Ti. Aku tahu Pram tak akan kembali untukku. Meski aku istri pertamanya, tapi aku sadar cinta Pram hanya untuk kamu. Aku menikah dengan Pram saat ia begitu kalut dilanda sedih dan kecewa akibat pernikahanmu. Pram tak pernah benar-benar mencintaiku. Setiap malam, saat kami bersama,  yang dibicarakannya hanya kamu, Ti. Tapi, aku tak pernah merasa cemburu karena aku tulus menyayangi Pram. Bahkan, ketika dia memutuskan menikah siri denganmu. Aku mendukungnya sepenuh hati.” Mbak Retno menghela nafas panjang usai bicara panjang lebar.  Senyum tulusnya sampai di mataku. Jemarinya menggenggam tanganku penuh kehangatan seolah berusaha meyakinkan aku bahwa dia menyayangiku. Aku mendadak merasa terlindungi oleh wanita manis berjilbab yang sudah kuganggu rumah tangganya.

“Mbak, Mbak Retno tidak marah?” Pertanyaan polos keluar begitu saja di sela perasaan hangat yang mengalir dari genggaman Mbak Retno. Aku tersipu karena pertanyaanku sendiri.

“Sungguh, aku ikhlas. Aku yang kadang merasa tak enak, karena pernikahanku dengan Pram adalah penghalang bersatunya kembali cinta kalian. Ya, andai saja aku tahu pernikahanmu dengan orang pilihan orang tuamu itu hanya akan bertahan sebentar, tentu aku tak akan menerima pinangan Pram.”

“Tapi, sepertinya sekarang Pram menyesal telah menikah denganku, Mbak, sama seperti saya yang menyesal telah mengganggu rumah tangga Mbak Retno. “

“Jangan bicara seperti itu, Ti! Pram masih sangat menyayangimu. Aku tahu itu.” Mbak Retno berujar penuh keyakinan.

“Tapi, hari ini dia benar-benar pergi meninggalkan aku, Mbak. Dia mengemasi semua barang-barangnya. Dia sudah pamit, Mbak. Dia menceraikan aku justru di saat-saat kelahiran anak kami telah dekat.”

Mbak Retno melirik perutku sekilas. Di matanya ada bulir bening yang tulus. Aku tak sanggup menahan air mata yang sejak tadi tertahan. Entah mengapa, perasaan segan pada Mbak Retno kini lenyap. Aku nyaman saja mencurahkan perasaanku padanya meski yang aku bicarakan adalah suaminya.

“Kamu yakin Pram pergi untuk kembali padaku?” Pertanyaan Mbak Retno tiba-tiba membuatku tercenung.

Pram memang tidak pernah mengemukakan alasan kepergiannya hari ini padaku. Pram juga tidak bilang bahwa dia ingin menceraikan aku dan hidup berdua dengan Mbak Retno. Tapi, aku sendiri yang menyimpulkan bahwa Pram ingin menghentikan poligami ini. Pram mungkin telah lelah tinggal bergilir di rumah Mbak Retno dan rumah ini. Capek pindah-pindah dan mau menetap di satu hati. Ya,  mungkin begitu. Pram telah memilih dan aku tak menyalahkan pilihannya. Mbak Retno memang pilihan yang tepat.

“Ti, apa menurut kamu sungguh begitu?” Mbak Retno mengulang pertanyaannya, membangunkanku dari termenung.

“Aku rasa iya, Mbak. Meski Pram tidak bilang. Tapi, dia sudah menentukan pilihan untuk meninggalkan saya, Mbak.” Aku bicara perlahan. Mengucapkannya membuatku tak bertenaga. Aku berusaha ikhlas, tapi aku tahu aku tak akan pernah bisa seikhlas Mbak Retno.

“Dan meninggalkan aku juga, Ti,” ujar Mbak Retno. Ada kecemasan yang aku tangkap dari wajahnya. Aku tak tahu mengapa Mbak Retno terlihat begitu gusar. Dari dalam tas hitam yang dibawanya, ia mengeluarkan sebuah ponsel lalu menekan tombol beberapa kali dengan sedikit tergesa. Dia pindah duduk ke sampingku. Lalu berkata, “Ti, ini pesan terakhir dari Pram yang dia kirim tadi malam. Coba kamu baca!”Mbak Retno menyodorkan ponsel itu dengan kecemasan yang kian nyata.

Kubaca pesan singkat itu perlahan, “Retno, terima kasih atas segala pengorbananmu. Aku rasa kita tak akan bertemu lagi. Maaf aku tak sempat membahagiakanmu.” Hatiku seketika sesak, tapi aku berusaha melanjutkannya. “Se…lamat tinggal. Hah, apa maksud Pram, Mbak?!” Aku mendadak kalut.

“Tenang, Ti, ingat kandunganmu!” Mbak Retno mengelus-elus punggungku. “Itulah, Ti, alasan aku datang ke sini. Aku ingin minta penjelasan dari Pram. Tapi…”

“Mbak, lalu Pram pergi kemana?” Hatiku gusar tak tertahan.

“Tenang, Ti!” Mbak Retno berusaha menenangkan aku. Jelas sekali dia sangat khawatir denagn kandunganku. Seiring dengan resahku, kamu menendang berkali-kali, tapi kutahan sakitku.

“ Ti, apa Pram tidak meninggalkan pesan apa-apa?” tanya Mbak Retno kemudian. Mendadak aku teringat sesuatu.

“Oh, ada, ada satu milik Pram yang tertinggal, Mbak. Sebuah buku catatan yang selama ini tak pernah berani kubuka. Tertinggal di kamar, Mbak.

“Bisa tolong kamu ambilkan, Ti!” Mbak Retno memercikkan sedikit harapan dari matanya.

“Baik, tunggu, Mbak.” Aku bergegas ke kamar.

Ponsel Mbak Retno berbunyi ketika aku ke kamar, kudengar sayup-sayup pembicaraannya. Kuharap itu dari Pram.

“Halo, Kris. “

“Ya, sebentar lagi. Oh ya, hari ini, Pram ke rumah sakit ga?”

“Oh. Apa? Mirip Pram? Di mana? Di TV? Jangan sembarangan ah! Apa? Ya Allah. Saluran berapa? Ya, terima kasih!”

Klik…

Kudengar Mbak Retno menutup teleponnya. Aku bergegas menuju ruang tamu sambil membawa buku biru milik Pram. Aneh, kulihat Mbak Retno sangat panik meraih remote TV di atas bufet dan menyalakan TV. Ada apa ya?

Jasad pria yang ditemukan di sungai itu segera dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Diduga pria itu adalah korban pembunuhan dan korban diperkirakan tewas satu jam yang lalu. Dari kartu identitas korban diketahui korban bernama Pramono dan berprofesi sebagai seorang dokter. Hingga kini polisi masih melakukan pengejaran terhadap pelaku dengan bantuan beberapa saksi mata. Dan polisi tengah berusaha menghubungi keluarga korban.

Klik…

Mbak retno mematikan TV itu.

Aku mendadak limbung, duniaku seketika runtuh. Dalam keremangan aku masih sempat mendengar Mbak Retno menjerit keras ketika melihatku jatuh, semua hitam dan aku tak sanggup menahan beban itu.

* * *

“Pram, kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?”

“Sudah dong, Sayang. Kalau anak kita perempuan boleh nggak aku kasih nama Retno? Boleh ya! Aku merasa sangat berhutang budi pada Retno.”

“Iya, iya, jelas boleh, aku juga suka nama itu, mudah-mudahan anak kita bisa punya hati semulia Mbak Retno ya. Nah, kalau anak kita laki-laki gimana?”

“Eemm,  siapa ya, yang jelas jangan nama mantan suami kamu, aku gak akan setuju.”

Aku tertawa mendengar ucapan Pram. Kami tertawa bersama, dia memelukku mesra, memeluk Kamu juga. Dunia seolah milik kami berdua. Oh, bertiga denganmu, Nak. Aku sangat bahagia.

*****

“Ti, kamu sudah siuman? Bertahan ya, Ti, sebentar lagi proses persalinannya, air ketubannya sudah pecah, kalau kamu masih lemas, di-caesar saja ya?” Mbak Retno membelai rambutku dengan lembut.

“Tidak, Mbak, aku mau persalinan normal saja.”

“Apa kamu kuat?”

“Insya Allah, Mbak.” Mbak Retno tersenyum mendengar jawabanku.

“Suster, siapkan semuanya!” Mbak Retno memberi perintah. Dan aku melihat semua serba bergegas, aku menahan rasa amat nyeri.

Aku rasa seolah Kamu mengigit-gigit dan merobek-robek perutku. Sayang, tenanglah, Nak! Jadilah anak baik. Jangan nakal ya! Sebentar lagi kamu akan tiba di dunia, sabarlah! Jangan menyakitiku seperti itu!

Kamu tak menjawab, dan aku makin merasa kesakitan. Mbak Retno siap bertugas, kulihat beberapa suster membantunya, mereka berpakaian putih, dan aku berada di kamar yang serba putih, semua putih, dan aku sempat melihat seorang lagi. Dia berkemeja biru tua. Dia Pram.

Kemari, Pram, genggam tanganku! Ringankan sakit ini!

* * *

Aku lemah, dan merasakan pedih yang amat sangat di sepanjang liangku. Nyeri tak tertahan tapi aku lega setelah mendengar tangismu, Sayang. Mbak Retno yang pertama menimangmu. Sakitku ini sakit bahagia. Karena aku tidak kehilangan Pram. Dia datang ke sini untukku. Benar kata Mbak Retno, Pram sangat mencintaiku.

“Dok, pasien sangat kritis. Dia kehilangan banyak darah.”

“Ya. Sus, bawa bayi ini ke ruang inkubator, dia masih sangat lemah karena lahir prematur.”

“Baik, Dok.”

“Ti, bertahan ya!” Mbak Retno membisikkan kata-kata di telingaku. Dia dan asistennya bekerja terlalu keras untukku. Padahal, sakit itu sudah lenyap karena aku bersama Pram. Pram terus menggenggam tanganku.

“Dok, detak jantungnya berhenti.”

“Ambil alat pemacu detak jantung, cepat!!!”

“Ini, Dok!”

Mbak Retno berusaha berkali-kali. Tapi, semua sudah berakhir, dan segalanya berakhir bahagia. Aku dan Pram keluar dari ruang itu menemuimu. Kami mengecup keningmu dengan sedalam-dalam cinta kami padamu, Nak. Kuharap kamu kelak akan bahagia bersama Mak Retno. Kami akan selalu menjagamu, Sayang.

Kulihat kau menangis, tapi, aku tak bisa menggendongmu, apalagi menyusuimu, Nak. Maafkan aku ya. Tapi, aku yakin Mbak Retno akan merawatmu dengan baik.

* * *

“Pramana, jangan main diluar, kan lagi hujan!”

“Cuma di teras kok, Ma.”

Mbak Retno membuka buku biru itu untuk kesekian kalinya.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Ancaman itu terus menghantuiku, Oh, Kinanti, andai saja kamu tahu, keluargamu tak akan segan-segan memisahkan kita bagaimanapun caranya. Sejak awal pernikahan ini tanpa restu, aku tahu. Ti. Mencintaimu adalah menusuk jantungku dengan sebilah pisau, menyayangimu adalah membunuh diriku, maka, daripada aku mati  di sisimu, lebih baik aku pergi. Aku tak mau dibunuh di depan mata perempuan yang paling kukasihi.  Aku tak mau  kamu menangis di atas jasadku. Ti, jaga anak kita, kalau dia perempuan beri dia nama Retno, karena selain dirimu, di hatiku ada Retno, dia bidadari yang mengisi bilik lain di hatiku Kuharap kamu tak cemburu, Sayang, karena cintaku padamu tak akan berkurang. Dan bila dia laki-laki, kuharap kamu ikhlas menamakannya Pramana, supaya dia terus ingat nama ayahnya yang tak akan sempat menimangnya.

Hujan kian deras dalam suasana siang yang kelabu itu. Menandingi air yang turun dari langit, Mbak Retno menangis. Aku menatapnya. Dan aku tak pernah cemburu.

 

SELESAI

8 Responses to “Eutanasia Cinta”

  1. on 21 Nov 2008 at 13:49Fauzan Masri. Z

    Ada Purwokerto ada pula Purwakarta, nampaknya ada Pramono ada juga Pramana. Berarti Purwakarta punya bapak Purwokerto…he…he.., nice ur story, apik tenan, punya irama yang bisa dilantunkan dalam hati pembacanya.

  2. on 24 Nov 2008 at 02:27retno

    sedih ya…..
    karena di situ retno juga mengalami kesedihan….
    seandainya aku menjadi retno di cerita itu, ga mungkin aku bisa seikhlas itu…..
    lebih baik aku satu atau tidak sama sekali….
    tapi ceritanya sangat menarik!
    alurnya pun tak terkesan terlalu cepat, mengalir…. (hanya opini pribadi)

  3. on 27 Nov 2008 at 16:56muth3

    wuz….gak nyangka….kadang cinta, takdir, jodoh…tak pernah kita tahu dimana kan berujung. hiks…sedih sih..tp bagus bgt….

  4. on 29 Nov 2008 at 10:49Rayana

    Hai, all…. makasih ya udah mau baca cerita aku. Aku butuh komentar, krikit dan saran kalian untuk kemajuan cerita aku selanjutnya. Thanks yaa…

  5. on 03 Jan 2009 at 13:37shafina

    hem…nice…

  6. on 07 Jan 2009 at 00:01Dymatrix_Riau.

    Waahh…..keren abizz..!!ketulusan kasih syang…

  7. on 11 Mar 2009 at 14:01shifa

    Ich… wow… keren n T O P B G T dech poko’e. Q sgt terkesan membacax, tapi nggk nyangka jg c terkadang jodoh N takdir it nggk ada y tau kapan ia dtg atau kapn ia kn pergi m’ninggalkan qt seorg. so, qt hrus m’hrgaix. Apa yang telah qt dptkan, jgn pernahlah m’nyia2knx. Salam kenal ajha dech bwt kamu yang udah m’expresikan kryamu. Good Luck yach atas smw kegiatan2 yang km lakukan.

  8. on 31 Mar 2009 at 14:47Selvi

    wahhhh,, baguzzzz banget,,,,

Tinggalkan Komentar