KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Takut Tak Bisa Melihatmu Lagi

Aku masuk ke kamarku, kamar yang sudah kutempati bersama mas Evan, suamiku, selama tiga tahun. Kamar yang menyimpan berjuta kenangan indah selama aku menjadi istrinya. Kulihat Mas Evan tengah meringkuk di tempat tidur, aku tersenyum. Akhir-akhir ini Mas Evan memang selalu tidur lebih awal dari aku, karena aku masih harus menyelesaikan tulisanku yang akan segera aku terbitkan.

Kuhampiri Mas Evan, kutatap wajahnya lembut. Aku mengerutkan alisku, sedikit heran, wajah Mas Evan tak sesegar biasanya, wajahnya pucat, kelopak matanya menghitam dan terlihat sangat kurus.

Apa dia kecapekan kerja ya? pikirku. Lalu kucium lembut keningnya. Mas Evan terbangun lalu mengerjapkan matanya.

Sesaat mas Evan terdiam membisu, lalu mas Evan merengkuhku dalam pelukannya, sangat erat, lebih erat dari biasanya, bahkan sedikit menyakitkan kurasa.

“Ini udah terlalu malam, Mas. Besok kamu kan harus ngantor, jangan sampai kecapekan,” kataku. Lalu aku pun berbaring di sampingnya. Mas Evan terus menatapku.

“Kenapa sih kok ngeliatin aku sampai segitunya?” tanyaku sedikit heran.

“Aku takut kalo besok aku nggak bisa lihat kamu lagi,” katanya sambil membelai wajahku.

“Kamu ngomong apa sih, Mas,” kataku. Lalu kulihat mata cekung mas Evan mulai berkaca-kaca sambil terus mengelusku. Aku merasa bingung, ada apa dengannya?

“Kamu kenapa, Mas? Kamu nggak kenapa-napa kan ?”

Terus terang mas Evan membuatku cemas dan takut. Jangan-jangan Mas Evan sakit parah? Tapi dia nggak mau membicarakannya padaku.

“Ada apa, Mas? Jujur aja sama aku!” tanyaku cemas. Namun Mas Evan tak menjawabku, melainkan menangis. Kupeluk erat tubuh suamiku,  memberinya kekuatan.

“Aku mencintai kamu, Mel, jangan pergi ya, tetaplah di sini bersama aku, temani aku.” Mas Evan tak melepaskan pelukannya.

“Aku juga mencintai kamu, Mas, tapi kamu sakit apa? Jangan buat aku takut, Mas! Kamu sakit apa?!?” tanyaku setengah berteriak. Namun mas Evan masih tak menjawabnya, melainkan terus menangis. Tubuhnya sampai gemetar dan nafasnya tersengal-sengal.

“Aku akan telepon dokter!” kataku panik.

“Jangan pergi, Mel. Jangan pergi !” katanya sambil berusaha meraihku saat aku beranjak, dan keluar kamar menuju ke meja di mana teleponku diletakkan.

Telepon dokter dini hari seperti ini ternyata tak mudah, setelah beberapa kali mencoba, akhirnya aku menyerah. Huh, keterlaluan sekali sih, masa jam segini udah nggak ada rumah sakit yang bisa dihubungi, kesalku dalam hati. Lalu aku kembali ke kamar, kulihat mama mertuaku ada di sana memeluk Mas Evan. Aku semakin panik, jangan-jangan Mas Evan tengah sekarat. Namun sebelum aku mendekat,

“Sudahlah, Van, kamu harus bisa merelakan Amel pergi, jangan seperti ini terus, Mama nggak mau kamu jadi sakit, Mama nggak mau ada apa-apa sama kamu,” kata mama mertuaku membuatku bingung.

“Tapi Amel masih ada disini, Ma, baru saja dia kupeluk, aku masih bisa cium aroma wanginya. Aku juga masih bisa belai rambut halusnya, pipinya, bibirnya juga masih bisa kusentuh,” kata Mas Evan lirih namun jelas kudengar.

“Kalo kamu masih seperti ini terus, Mama terpaksa membawa kamu ke rumah sakit jiwa. Van, maafin Mama ya,” bisik mama mertuaku sambil mengelus rambut Mas Evan.

Aku tak percaya mendengar semua itu. Aku tak percaya.

Tiba-tiba saja kudengar suara tangis bayi dari kamar sebelah, kamar yang pernah aku dan Mas Evan rencanakan untuk dijadikan kamar bagi buah hati kami.

“Gara-gara dia, aku jadi kehilangan Amel,” kata Mas Evan penuh kebencian.

“Jangan salahkan dia, Van, dia nggak pernah minta untuk dilahirkan, dan dia nggak pernah berharap kehilangan ibunya karena melahirkannya.”

Seiring dengan waktu yang berjalan, aku merasa tubuhku menjadi ringan, melayang. Tak pernah kusangka, aku telah pergi meninggalkan Mas Evan yang kucintai dan bayiku yang tak pernah kususui untuk selamanya.

13 Responses to “Takut Tak Bisa Melihatmu Lagi”

  1. on 20 Nov 2008 at 01:08veronica

    setelah ku baca cerpen ini, awalnya aku pikir suami dari amel yang akan meninggal karena memiliki penyakit parah. Tapi menarik, alur ceritanya tidak mudah di tebak dan sangat sedih.

  2. on 21 Nov 2008 at 15:46nbel

    taekkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

  3. on 23 Nov 2008 at 00:06anrose19

    ceritanya unik,tapi bagus…

  4. on 23 Nov 2008 at 00:07anrose19

    bagussss

  5. on 23 Nov 2008 at 00:07anrose19

    bagus

  6. on 23 Nov 2008 at 06:38Onik

    Untuk Sdr. nbel

    Maaf nih, mohon kalo komentar yang sopan dong, meskipun cerpen saya ini tidak sesuai dengan selera anda.

    Untuk Moderator KolomKita

    Tolong pihak moderator KolomKita, untuk menghapus komentar di atas, karena saya rasa kata-katanya sangatlah tidak sopan, terima kasih.

  7. on 25 Nov 2008 at 00:54Ezty

    Alurnya sip..tapi sayang,harusnya gag selalu sad ending kan?semoga lebih sip dalam berkarya

  8. on 25 Nov 2008 at 16:43pinto

    wah ketipu

  9. on 26 Nov 2008 at 08:13indah

    gooood……goood…..aq salut dengan cerpen kamu aq juga pingin pintar buat cerpen at puisi tp nggak bisa2.

  10. on 27 Nov 2008 at 11:32sweety

    sebuah cerpen yang sangat mengerti alur cerita, tapi ini lebih cocok di jadiin sekenario loh….pasti jadi film nya bagus banget dech….cerita nya terlihat seperti sekenario film layar lebar :)

    nice story :)

    ditunggu cerita selanjutnya

  11. on 28 Nov 2008 at 15:21Oed

    Fuihh…. Bagus banget! Imajinasinya sgt smpurna! Slm knl buat yg nukangi ni cerpen. Bagi2 ilmunya

  12. on 28 Nov 2008 at 17:32adeline

    Cerpen atau apa ya ?????? kependekan untuk sebuah cerpen … cerpen super pendek kali ….. and gak ada yang special tuh . .. malah rasanya terlalu kayak soap opera …. Sorry! I don’t like it.

  13. on 10 Jan 2009 at 15:49Aurea Clemencia

    It’s very nice story. Temanqu, ceritramu sgt berarti bgqu soalx ini merupakan pelajaran bgqu n bg s’muax. Thanx, Salam Kenal.
    Buat Kak Onik, makasih banget atas ceritrax. Gw tertarik banget!!!!! Rasanya aq hx bermimpi……kalo org yg aq cintai t’lah meninggalkan kita. S’moga tetap sukses ya Kak Onik!!!!!!!!

Tinggalkan Komentar