KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Cinta Rumah Singgah

Genggam tanganku ini, genggam perihnya kehidupan
Apa yang kuberikan tak pernah jadi kehidupan
Semua yang kuinginkan menjauh dari kehidupan

Tempat kumelihat di balik awan
Aku melihat di balik hujan
Tempatku berdiam tempat bertahan
Aku terdiam di balik hujan…aa…a…

Sashi mengamati Bintang. Jari-jarinya lincah bermain pada senar gitar mengiringi lagu ‘Di Balik Awan’ Peterpan yang dinyanyikan Pandu. Pandu semakin kurus. Wajahnya tirus dan pucat meski masih terlihat tampan. Sepasang matanya yang biasa berkilau indah kini terlihat redup. Dia tak mempedulikan riuh suara dan tepukan kekaguman anak-anak di Rumah Singgah. Sepertinya dia menyanyikan lagu itu untuk dirinya sendiri.

“Wah, kalo gak liat langsung sih, kirain Ariel yang nyanyi,” ucap Iwan antusias.
“Iya. Mas Pandu oke banget deh,” Opi ikut berkomentar.
“Mas Bintang juga oke loh. Kalian bisa gak main gitar sebagus dia,” Vanya menengahi.

Bintang hanya tersenyum menanggapinya.
“Waah…T.O.P.B.G.T, Mbak.” Iwan dan Opi menunjukkan dua jempolnya diikuti temannya yang lain, membuat mereka tertawa.

Sore itu seperti biasa, Sashi, Pandu, Bintang, dan Vanya mengunjungi Rumah Singgah Semesta. Tempat yang kerap mereka datangi selama hampir tiga tahun. Tempat berkumpulnya anak-anak jalanan yang mengamen di lampu merah jalan raya. Anak-anak korban kemelaratan orang tua. Anak-anak tak berdosa, berusia belia tapi harus mencari nafkah dengan mengamen untuk makan sehari-hari dan membayar uang sekolahnya. Anak-anak yang membuat mereka kagum. ”Hidup itu Keras.” Dan ternyata hidup yang keras menjadikan anak-anak itu tegar. Walau keriangan tetap menjadi milik mereka.

Saat semburat jingga menebar di angkasa, mereka berhenti bernyanyi. Pandu menyematkan sebuah amplop ke tangan Pak Daljono, pemilik Rumah Singgah.

“Nggak usah, Pandu. Bapak masih punya.” Lelaki tua itu mencoba menolak.
“Oh, ini bukan cuma dari saya. Tapi juga dari teman yang lain.”
“Tak apa-apa, Pak. Ambil saja. Untuk adik-adik.” Bintang mencoba menyakinkan.
Lelaki tua itu tersenyum kikuk.

“Terima kasih ya. Kalian benar-benar berbudi.”
“Ah, Bapak bisa saja. Bapak jauh lebih berbudi karena menyediakan rumah ini untuk mereka.” Vanya memuji kedermawanan Pak Daljono.
“Kami permisi, Pak Dal.” Pandu menarik lembut tangan Sashi. “Permisi.”

“Iya. Hati-hati di jalan.” Lelaki tua itu tersenyum dan melambaikan tangan.

Langit kelabu dengan matahari senja yang tampak kasat mata seolah mengiringi perputaran roda-roda pulsan merah Pandu dan Kawasaki Ninja hitam Bintang. Mereka berpacu di jalan yang ramai. Di persimpangan jalan, Bintang memberi kode bahwa dia akan belok ke kiri. Vanya melambaikan tangannya pada Sashi. Dia terlihat bahagia, tanpa beban. Beda dengan Sashi. Melihat wajah Pandu yang semakin pucat adalah beban duka buatnya.

Pandu terus melaju dan senja semakin merah. Bentuk matahari yang bulat dan warnanya yang merah oranye mengingatkan Sashi pada telur mata sapi. Seperti juga rona wajah Pandu saat mengucapkan cintanya pertama kali, enam tahun lalu. Juga sesaat setelah mengecupnya, sampai malam kemarin. “Lantas, bagaimanakah rona wajahku?” Menyadari itu, bibirnya membentuk senyum, malu sendiri.

Pandu melihat dari kaca spion. “Ada apa, Sa?”
“Lihat!” Telunjuk Sashi mengarah pada matahari, menutupi gugup hati.

“Seperti kamu.”
“Aku? Nggak ah. Kamu bilang aku seperti bulan,” Sashi protes.
“Iya. Tapi sekarang matahari itu seperti kamu.”
“Nggak mau! Aku mau tetap seperti bulan!”
“Itu kan mataharinya sedang bagus, Sayang.”

“Iya. Dan itu buat kamu saja.” Senyumnya mengembang lagi.
“Hah!”
“Iya. Aku bulan dan kamu matahari,” ucapan Sashi membuat Pandu tertawa lepas.

Pandu menghentikan motornya di taman kompleks dekat rumah Sashi. Ia memandang langit yang memerah di ufuk barat. Desir angin senja menggoyangkan dahan-dahan dan ranting pepohonan. Lelaki itu termangu menatap daun-daun yang jatuh mengecup lembut rumput di sekitar taman. Atmosfer syahdu bagi benak dan jiwa manusia yang gelisah.

Sashi memperhatikan sikap diam Pandu. Mereka duduk bersila menghadap kolam teratai. Mata Pandu terpaku pada satu teratai biru yang tengah mekar di antara banyak teratai putih. Lantas sepotong ucapan jatuh di keheningan.

“Teratai biru itu langka dan usia keindahan teratai itu hanya sebulan lalu luruh. Tapi ia meninggalkan benang sarinya, untuk kemudian terus tumbuh mencipta teratai biru yang lain. That’s how’s life actually, Sashi. Keindahan itu hanya sesaat.”

“Bagiku tak ada keindahan yang sesaat bila kamu selalu ada di dekatku, Pandu.”
“Aku yakin, kamu telah mengenalku dengan baik. Kuharap kamu tak mencari-cari aku dalam kenanganmu esok.”
“Apa maksudmu? Sebulan ini sikap dan tutur katamu jadi aneh.”
“Mungkin besok tak ada lagi seorang Pandu dalam hari-harimu.”
“Kamu bercanda. Kamu akan selalu ada di hatiku.”
Pandu menatap lekat dan meraih jemarinya.

“Aku akan segera pergi Sashi.”
“Kamu mau meninggalkanku?” Sashi berusaha menata suaranya untuk tetap tenang.
Pandu menggeleng. Sesaat menarik nafas dalam.

“Aku membutuhkanmu ada di dekatku, Sashi. Tapi aku tak bisa egois meminta itu pada Tuhan.”

“I believe we will always be together, if you want to believe it.” Sashi menyentuh halus lengan Pandu.

Lelaki itu menatap tembus ke manik matanya, “Do you?
Sashi mengangguk dan menggenggam tangan Pandu, mencoba memberikan kepastian lewat senyuman.
“Aku tak punya pilihan, Sashi. Kamu akan menjalani hidupmu di sini dan aku akan melanjutkan hidup di tempat lain, yang entah apa.”
“Panduu…” Sashi mengguncang bahunya. Tak kuasa menahan suara yang keluar dengan ritme nafas yang tersengal.
“Kamu tahu kondisiku kan?” Suara Pandu tercekat di tenggorokan.

Sashi menyusuri wajahnya. Mencari kesungguhan dalam garis wajah yang bertahun dikenalnya. Untuk kesekian kalinya wajah itu terlihat tak bernyawa. Hanya garis-garis pias tertangkap di bola matanya. Sashi bergidik. Dia seperti melihat dirinya sendiri pada ruang dan waktu yang kerap dijelajahinya bersama Pandu. Hingga lelaki itu terkena Leukimia.

“Kenapa kita harus takut dengan perpisahan? Pada akhirnya esok kita akan berpisah juga. Aku sayang kamu, Sashi.” Pandu mengecup lembut keningnya.

Sashi tak kuasa mendengarnya dan memilih membenamkan kepalanya di rengkuhan Pandu. Meraka seperti disatukan oleh bahasa yang hanya mereka berdua yang mengerti.

***

Sejak pagi matahari tidak tampak dari balik mega yang berarak cepat. Seperti membentuk formasi sepasukan kuda putih dan bermetamorfosa menjadi awan kelabu yang menelan kuningnya matahari. Langit menghitam. Mengeluarkan gemuruh bertalu, bahkan tersedak mengeluarkan cahaya kilat. Petir pun menyambar, menukik di atas tiang-tiang pancang yang tinggi di seberang jalan rumah sakit. Sekejap langit hitam memuntahkan tangisnya. Titik-titik air membasuh bumi dengan derasnya.

Kamar putih beraroma obat itu membuat hati Sashi tergugu. Menatap kaku pada tubuh yang juga kaku. Tubuh lelaki terkasih, Pandu. Sashi ingin mengiringi perjalanan ruhnya, maka dibiarkan pikirannya menerawang ke langit lepas. Begitu kelabu, dalam rinai hujan yang deras. Alangkah jauh perjalanan menuju rumah Tuhan yang sesungguhnya. Angin hujan menghempas ruang hatinya yang beku. Hempasan yang menjatuhkan buliran air dari sudut matanya yang rapuh.

Kematian sudah menunaikan janji. Menghempaskan harapannya untuk kelangsungan hidup bersama Pandu yang terhenti sampai di situ. Pandu, cintanya yang terpenggal tepat di urat nadi. Inilah jawab dari gundah yang melanda jiwanya sejak sebulan lalu.

“Selamat jalan Pandu. Aku sayang kamu. Akan selalu sayang sama kamu,” bisik Sashi lirih di telinganya. Dia mengecup lembut kening lelaki terkasih itu untuk terakhir kali.

“Apa yang kau berikan telah menjadi kehidupan buat adik-adikmu, Pandu,” Pak Daljono pun berbisik lirih. Ia menyampaikan terima kasih pada orang tua Pandu akan segala kebaikannya pada anak-anak di Rumah Singgah.

“Mama bangga memiliki anak sepertimu, Pandu.” Sesaat setelah itu, ia merangkul Sashi.

Panel-panel hitam berdiri tegak, bertebaran di setiap penjuru ruangan utama rumah mewah itu. Satu panel di sudut ruangan tampak merenggut pandangan siapa pun sejak berdiri di pintu masuk. Dalam siluet hitam putih sebentuk wajah Pandu dengan senyum lembutnya menatap lurus ke depan. Mempesona. Namun sedih dan kehilangan tetap mewarnai hati siapa saja yang ditinggalkannya terutama Sashi. Ia merasa hampa dalam jagad raya semesta. Selaksa bumi lepas dari poros, Sashi serasa kehilangan arah lintasan orbit cinta kasihnya.

Adakah yang lebih harum dari bunga-bunga yang berseri pada pagi hari? Adakah yang lebih hangat dan manis dari sapa dan senyum yang berseri pada pagi hari? Sashi menggeleng lemah. Kendati begitu, ia menghirup aroma teh hijau dengan takjim dan menyeruputnya perlahan. Dirasakannya catechin teh menyebar di syaraf-syarafnya, mengaliri darah di sela-sela ototnya. Membuatnya merasakan sekitar 2.000 galon darah yang di pompa dari jantung mengaliri seluruh organ tubuhnya. Dari sela-sela lipatan otak hingga sela-sela pembuluh pada jari-jari kaki. Darah yang bersikulasi sempurna dalam metabolisme tubuhnya. Ia memang berusaha memulihkan kekuatan tubuhnya. Telah tiga purnama dilaluinya tanpa Pandu dan selama itu ia mencoba tegar.

Pagi beranjak siang ketika Sashi meninggalkan Rumah Singgah. Dia menuju tempat singgahnya yang baru yang membuat hatinya membiru. Seekor burung camar melayang melintasinya. Camar itu membumbung tinggi ke angkasa lalu menukik turun dan mendaratkan cakar-cakarnya di dahan sebatang pohon Kamboja yang tumbuh di sisi makam Pandu.

Just looked at the sky running my hands over my eyes
There’s a lot Pandu’s smile and my blushing heart
I do bring it with my self, where ever I go away
Coz you’re still my Sunshine after all

Sebentuk senyum hadir di wajah Sashi. Sepenggal puisi itu ditulisnya untuk Pandu. Ia memasukkan kertas kecil bertuliskan puisi ke dalam kotak kecil berwarna biru tua dan membelitkan pita merah muda di atasnya. Perlahan diletakkannya di dekat nisan dengan jiwa yang bergetar. Sashi rindu pada Pandu. Pada hari-hari kemarin, hari-hari penuh senyuman yang berpendar dari sudut hatinya yang ranum.

“Berikan aku koordinat sistem masa lalu dan masa kini dari sembarang sistem, maka aku akan mengatakan kepadamu masa depannya.”

Sashi tertegun. Ucapan itu mengingatkannya pada dalil Piere Simon Laplace, seorang Matematikawan Prancis yang hidup antara tahun 1749 sampai dengan 1827 Masehi. Dia menoleh ke asal suara, Bintang. Lelaki itu ikut duduk di sisi makam Pandu.

“Ekosistem tidak membutuhkan banyak sistem dalam evolusinya. Satu ordinat sistem dari masa laluku telah membentuk persenyawaan relationship antara kita. Just it.” Sashi menekankan kata terakhir dan menatap Bintang. Gabungan teori dasar Biologi dan pendapatnya sendiri, cukup membuat lelaki itu kikuk.

“Sashi, mengertilah. Aku menyayangimu, tulus. Aku juga ingin menjadi sepertinya.”

“Bisa-bisanya kamu bilang begitu padaku. Padahal kamu sudah jadi kekasih Vanya, sahabatku.” Sepasang mata Sashi menatap tajam pada manik mata Bintang.

“Aku jadi kekasihnya hanya untuk menyenangkan hatimu saja. Kamu kan yang minta aku jadian sama dia? Atau sama siapa saja yang pernah aku pacari kemudian aku tinggalkan. Karena dihatiku cuma kamu, Sashi!” suara Bintang meninggi. Dia menatap lekat sepasang mata Sashi yang kini tertunduk.

“Aku hanya menyerahkan sepenuhnya sistem dalam hidupku kepada matahari, dari masa ke masa. Tapi sayang, bintang raksasa itu berlalu begitu cepat. Membuatku kehilangan cahayanya yang kerap menerangiku dulu.”

Bintang tersenyum samar. Menyadari kepintaran sekaligus kebodohan wanita yang kini berdiri membelakanginya. Wanita yang menjadi kekasih dari sahabatnya yang telah tiada.

“Kau tahu, apa sebabnya? Karena dia bukan matahari yang sesungguhnya. Dia itu sama seperti kita, manusia biasa. Manusia yang rentan oleh usia juga oleh penyakit. Tak mengapa jika kau menyamakannya dengan matahari. Namun sejatinya si bintang raksasa, matahari di langit sana, sumber cahaya untuk bumi itu tetap bersinar setiap hari. Kau saja yang tak pernah mencoba menikmati sinarnya.”

Dalam diamnya Sashi mengakui kebenaran ucapan lelaki itu.

“Tapi..…” Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Bintang sudah berkata lagi;

“Bintang raksasa! Sumber cahaya! Sinar yang disepakati bernama ‘Matahari’ di langit adalah cahaya yang terang benderang sejak masa lalu. Perjalanan sekian ratus juta tahun cahaya agar ia bisa di lihat dengan mata telanjang di bumi. Itu pun hanya di waktu penghujung fajar dan menjelang senja, saat gas yang menyala di sekujur tubuhnya redup berwarna merah oranye. Beda sekali di waktu siang terik saat seluruh pijar gasnya berwarna kuning terang sangat menyilaukan mata, sehingga meski pun di pandang dari bumi yang jaraknya sangat jauh tetap saja taklah bisa di lihat dengan mata telanjang. Apakah Pandu-mu seperti itu? Kukira tidak. Kau dan seperti juga wanita lain, setiap saat bisa menikmati ketampanan wajahnya kan?”

Sashi menoleh jengkel. Bintang sudah bicara panjang lebar dan kemudian mengucapkan kalimat yang menohok seperti itu. Seperti mengejek dirinya. Bertahun ia menikmati keindahan hidup di bawah palungan Pandu yang dianggapnya sebagai matahari. Pandu yang sejak kanak hampir selalu di sisinya sampai menjadi wanita dewasa yang di kagumi banyak temannya. Kematiannya yang syahdu, sempat meluluh-lantakkan hidup Sashi karena ia tak siap kehilangan kasih sayang lelaki itu.

“Kamu tidak akan bicara seperti itu bila ada di posisiku,” Sashi membela diri.
“Aku jadi berpikir, itu mungkin esensi hidupmu. Mencari sinar, cahaya sebagai suluh. Karena kamu sebenarnya tidak percaya diri. Kamu tak berani menghadapi hidupmu sendiri. Masalahnya sekarang cuma; kamu berani atau tidak?!”

“Kamu tahu Bintang, aku bosan bercakap denganmu!” Sashi mengibaskan daun kering yang jatuh menerpa kepalanya. Kemudian melangkah, berlalu meninggalkan Bintang.

Bintang tersenyum getir lalu duduk di sisi makam Pandu. Ia membuka kotak biru dan membaca puisi yang ditulis Sashi.

“Kita mencintai wanita yang sama. Tapi wanita itu sangat mencintaimu, Pandu. Tapi kau telah pergi menembus langit dan bila ruhmu membias bersama cahaya matahari yang mengecup lembut setiap detik hidupnya, ijinkanlah aku untuk mengiringi langkahnya, sobat. Coz she’s my sunshine after all.”

Sepotong ranting jatuh di atas makam Pandu. Bintang menengadah ke kerimbunan daun Kamboja.

“Kau tahu Sashi, tak ada lagi jalan untuk kembali ke masa lalu. Tapi apapun yang terjadi dan kemana pun kau pergi, matahari akan selalu tersenyum kepadamu. Dan suatu hari kau akan mengerti bahwa ada seseorang lain yang akan memberimu cahaya cinta. Aku tak kan pernah lelah mendekatimu.” Ia pun berlalu meninggalkan makam Pandu di sudut nol kilometer TPU.

***

Malam menggelayut mimpi. Setitik cahaya menjelma di ujung langit. Misterius. Layaknya kunang-kunang yang mengerlipkan sinarnya. Lalu satu demi satu cahaya bertebaran di cakrawala.

“Vanya. Look! It’s our stars! Finally, it’s come to us for a mystery of life…..”

Sashi takjub menyaksikan keindahan semesta. Langit bersih tanpa awan namun berkilau cahaya. Ribuan bintang tampak tersenyum bahagia, menggantungkan pantai harapan. Pemandangan malam dari balkon rumah terasa lebih menyenangkan.

“Bintang?” Vanya bersungut kesal. “Dia hanya indah dilihat dari kejauhan. Ketika kau dekat dengannya, kau akan melihat seluruh partikelnya yang tak ubahnya seperti jerawat batu bernanah di kulit wajah. Menjijikkan. Sama menjijikannya dengan si Bintang.”

Hei…come on, Babe. Hanya karena kecewa pada lelaki itu, kamu jadi apatis. Sudah kubilang dia itu playboy. Dari dulu dia memang suka tebar pesona sama wanita.”

Vanya mengangkat bahu, tak peduli. Dia masuk ke ruangan dan kembali membungkus kado untuk anak-anak di Rumah Singgah. Dia memaku pandang matanya hanya pada hadiah-hadiah yang bertebaran dan menanti di bungkus. Sebulan ini dia berusaha melupakan Bintang dan kisah asmara yang terjalin antara mereka.

Sashi masih lekat menatap ke langit lepas. Pendaran cahaya gemintang membiaskan sebuah nuansa yang mengiringi kekaguman pada Sang Pencipta Kehidupan.

Yeah, actually it’s really a mystery for me,” ia melenguh pelan. “Seandainya Pandu masih hidup, mungkin Bintang tak kan pernah mengatakan isi hatinya padaku. Dan bagiku lebih baik tak mengetahuinya sama sekali. Karena sekeping hatiku serasa menginginkannya.”

Perlahan tubuhnya mengigil, serasa menggeliat jauh mengikuti hati yang masih begitu dekat dengan sang kekasih yang telah tiada. Kendati neuron-neuron otaknya membuka celah simpati pada sosok Bintang.

“Sa, kamu tahu, siapa wanita yang menarik minat Bintang hingga dia meninggalkanku?”
Pertanyaan Vanya membuat Sashi terkesiap.

“Oh, tentu saja tidak, Sahabatku. Kamu kan lebih dekat dengan dia. Aku jarang bertemu apalagi bercakap dengannya setelah Pandu nggak ada.”

Vanya menghampiri Sashi ke balkon.

“Ternyata aku jadi satu dari sekian banyak perempuan yang cintanya dikhianati oleh si bintang palsu itu.”

Sashi iba mendengarnya. Dia merangkul Vanya.

“Pandu pernah bilang padaku; Kenapa tak biarkan kehendak bebas melenting sempurna? Jangan berikan tumbukan di jalurnya. Sejatinya tumbukan itu akan melahirkan momentum. Dalam Fisika dirumuskan sebagai p = m x v. Jadi jika Cinta itu Momentum, maka Cinta sama dengan p = m x v.” Sashi tersenyum dan mengacak-acak rambut Vanya. Jadi bersabarlah. Karena Cinta = Vanya x Bintang.”

“Salah. Yang benar Cinta = Pandu x Sashi.” Vanya akhirnya tertawa. Dia tahu Sashi menghiburnya untuk menguatkan hatinya. Tapi Vanya tidak tahu pun menyadari bahwa Sashi-lah yang membuat Bintang memutuskan untuk meninggalkannya.

Malam menggelayut mimpi. Sirna. Sashi terkesiap melihat satu persatu bintang menarik dirinya ke dalam pelukan langit. Yang tersisa hanya bulan sepenggalah. Mengintip malu-malu. Perlahan, langit di ufuk timur memerah. Semburat biru kehijauan menghiasi cakrawala. Gerbang hari baru di mulai. Bibirnya membentuk senyum.

“Pandu, aku di sini. Merindukanmu. Seperti dulu. Seperti bulan itu yang mengintip malu pada matahari.”

Langit Minggu biru cerah berhias mega putih berarak, ketika Sashi dan Vanya melangkahkan kakinya ke Rumah Singgah Semesta. Anak-anak kecil yang bermain di halaman rumah itu seketika memekik, tertawa riang dan berlarian menyambut kedatangan mereka.

“Horreee….Mbak Sashi datang,” riuh suara anak-anak menyambutnya.
“Waah…bawa makanan juga. Asyiikkk!!” suara sebagian anak tambah ramai.
Sashi hanya menanggapinya dengan senyum dan melenggang masuk diiringi mereka.

Hening. Anak-anak menikmati brownies kukus, yang sebenarnya makanan kesukaan Pandu. Sashi merasakan kehangatan yang langka di antara mereka.

Dulu Pandu mungkin juga merasakan yang sama, maka dia sering mengajakku ke sini, pikirnya.

“Mbak Sashi, kemarin Mas Bintang ke sini,” Opi berkata sambil melap jari tangannya.
“Iya. Kita dibelikan ini dong.” Iwan menunjukkan kaos baru yang dipakainya.
“Oh ya? Ternyata Mas Bintang masih peduli pada kalian,” Vanya berkata riang.
“Iya. Kog sekarang jadi gak pernah barengan lagi. Kasihan kan Mas Bintang jadi gak punya teman, katanya,” ucapan Iwan membuat Vanya diam.

Sashi tersenyum, dia tahu Vanya masih berminat pada Bintang. Sejak perselisihannya di makam Pandu, Sashi menghindari Bintang. Dia hanya ingin menyendiri dan sesekali mengunjungi anak-anak di Rumah Singgah. Hal yang dulu sering dilakukannya bersama Pandu. Keinginan untuk memberi yang lebih baik pada anak-anak, membuatnya merasa bersaudara dengan penghuni Rumah Singgah Semesta, termasuk Pak Daljono. Rasa kasihnya pada anak-anak jalanan yang terlantar, menimbulkan cinta lain di hati Sashi. Dia sama sekali tak mempedulikan cinta Bintang. Sashi melihat Vanya yang asyik bercanda dengan anak-anak.

“Aku tak kan pernah mengkhianatimu, Vanya. Sekalipun sebenarnya Bintang memang telah menjadi ‘Bintang’ di hatiku.”

One Response to “Cinta Rumah Singgah”

  1. on 27 Mar 2009 at 11:42Abhie

    CukuP Keren…….

Tinggalkan Komentar