Wajah Kecil dalam Bingkai
November 18th, 2008 by yoogha
Menatap lekat wajah kecil yang terbingkai di dinding. Dalam hatiku bertanya.. “Apa yang kau pikirkan kala itu? Apa yang kau inginkan jika kamu sudah besar nanti? Apa cita-cita dan harapanmu?”
Wajah kecil itu termangu, diam dalam senyum kecilnya. Wajah dalam foto hitam putih yang kelihatan polos, belum merasakan beban kehidupan di pundaknya. Wajah kecil itu masih diam tak berkutik, sementara bayangan yang terpantul di kaca penutup framenya terpatri dalam gundah. Pantulan wajah yang makin menua sementara wajah kecil itu tetap mungil dalam bingkainya, tetap tersenyum manis di depan kamera yang merekamnya bertahun-tahun silam. Wajah yang kini menyisakan kemuraman, kehilangan senyum polosnya yang terpajang di dinding yang dingin. Mengingatkanmu kembali apa yang terjadi dulu teman kecilku, mengapa senyum manismu itu berubah kaku, mengapa berubah getir menahan kepahitan hidup.
Wajah kecil itu masih terdiam terpaku dalam senyuman manis.. Berganti menatapku lekat. Dia bertanya, “Mengapa kau berubah? Dulu kau selalu ceria sepertiku, dulu senyummu selalu tersungging di ujung bibirmu yang kini membeku. Kau selalu tertawa, memandang hidup seperti tiada beban derita. Kini derita itu kau panggul di pundakmu yang makin rapuh. Kenapa kau tak sepertiku lagi? Selalu tersenyum dalam keceriaan masa kecilku. Aku tak mengenal betapa kejam dunia fana ternyata. Apa kau mau bertukar tempat denganku?”
Aku pun balas menjawab, ”Aku mau. Aku ingin sepertimu wahai wajah kecil, kembali seperti yang dulu. Aku mau keceriaanku, canda tawaku.. Aku ingin terus bermain sepertimu tak mengenal waktu. Andai aku bisa memutar waktu agar bisa jadi seperti dirimu, aku merelakan apapun yang kumiliki asalkan aku bisa sepertimu.”
Harapanku tak berbalas, wajah kecil itu berubah murung. Senyum manisnya menahan pilu.
“Kenapa kini kau yang sedih, hai Wajah Kecil?” tanyaku penasaran.
“Aku tak mau sepertimu. Aku tak ingin kehilangan sisi kanak-kanak sepertimu. Aku tak mau duniaku sehitam duniamu. Lebih baik aku tetap disini, terpaku diam di dinding yang dingin ini, menatapmu, mengawasimu setiap saat. Biarkan aku menebarkan senyumku padamu, dari duniaku, agar kau pun bisa ikut tersenyum dari duniamu sendiri.”
Foto kecil, seandainya waktu yang telah berlalu bisa kuubah, agar apa yang terjadi padaku tak akan seburuk ini. Foto kecil, jangan pernah bersedih, tetaplah jadi foto kecil yang ceria yang tak membekaskan barut luka dan kerut di wajah mungilmu, dalam polos wajahmu yang selalu tersenyum. Aku tahu senyummu tulus. Senyum dari dunia kanak-kanakmu yang selalu dihiasi kebahagiaan. Foto kecil, suatu saat nanti, aku pun akan terbingkai dalam senyuman sepertimu. Aku akan bersanding tepat di sebelahmu. Biar kita berdua sama-sama menyaksikan diri kita yang makin renta dimakan zaman, yang makin kehilangan gairah akan kehidupan. Biarlah kita berdua tersenyum meski dia dalam kepahitan. Biarkan dia merasakan kebahagiaan yang kita berdua miliki. Biar tubuh tua itu ikut tersenyum seperti kita. Ketika dia meregang nyawanya, biar kita menceriakan akhir hayatnya sebelum tutup usia.