KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Gadis

Tak pernah ku merasakan perasaan ini, hampa… kosong dan sakit… rasanya jika kuingat hari dimana aku telah di tinggal pergi sang kekasih yang sangat kusayangi. Aku telah kehilangan tujuan hidupku, dan aku tidak tahu lagi arah kemana kaki ini harus melangkah.


3 September

Pagi yang cerah, aku melangkah dengan santai di koridor kampus biru. Aku kuliah di salah satu universitas negeri di indonesia mengambil jurusan teknik informatika. Pagi ini aku ada kuliah pemrograman web, matakuliah tentang bagaimana cara untuk merancang dan membangun suatu web site. Aku sangat menyukai matakuliah ini karena aku juga menyalurkan hobiku yaitu desain grafis, hasil karyaku emang tak seindah Monalisa, dan tidak sehebat Leonardo Da Vinci, namun hasil karyaku pernah digunakan pada salah satu website pemerintahan di Indonesia.

Setelah perkuliahan selesai aku selalu jajan di kantin dekat kampus, jajanan di sini memang tidak mewah tapi cukup enak dan pas untuk kantong anak kos-kosan. Salah seorang temanku bercerita tentang “Gadis”. Gadis adalah seorang wanita yang enerjik, periang dan selalu ceria di kelasku, namun sudah hampir tiga bulan Gadis menghilang dari perkuliahan. Kabar burung hari ini yang beredar di teman sekelasku yaitu Gadis masuk kuliah lagi. Tentu saja ini berita yang sangat menghebohkan teman sekelasku karena Gadis termasuk anak yang rajin masuk kuliah walaupun ada hujan dan badai menghadangnya untuk datang. Pernah hujan turun sangat lebat sekali alhasil yang masuk kuliah hanya aku, Gadis dan beberapa teman sekelas yang kebetulan memang kost dekat kampus. Dan tentu saja aku orang yang sangat senang dengan kehadirannya di kelas karena Gadis mantan kekasihku yang hingga hari ini masih kusayangi. Tidak ada yang mengetahui kegembiraanku ini karena telah tertutupi dengan sikapku yang dingin di kelas.

4 September

Entah kenapa aku merasa hari ini begitu cerah dan indah. Pagi-pagi aku sudah pergi ke kampus untuk bertemu lagi dengan gadis yang telah menghilang selama 3 bulan ini tanpa kabar dan berita. Ketika aku masuk ruang perkuliahan aku terkejut karena ada sesosok wanita sedang duduk di bangku tempat aku sering duduk. Semakin kuperhatikan wajah wanita ini semakin ku merasa senang, karena wajah inilah yang selalu kurindukan, tentu saja inilah Gadis. Senang sekali rasanya melihat dia kembali, walaupun aku tetap dengan sikap dinginku untuk menyapanya.

“Apa kabar Dis? Kemana aja! Akhir –akhir ini banyak tugas dari dosen nih!”

Masih tampak senyumnya yang manis. “Baik, aku… lagi liburan,” jawabnya dengan ragu.

Dalam benakku penuh dengan pertanyaan, seperti ada yang disembunyikan oleh Gadis, tapi aku tak mau bertanya lebih jauh, toh aku sudah sangat gembira bertemu lagi dengannya.

11 September

Sudah seminggu ini aku berkomunikasi dengan Gadis melalui ponsel, hari demi hari terasa menjadi lebih berwarna, tak dapat kuungkapkan dengan kata kata. Jika pernah menonton film India rasanya ingin sekali aku berlari lari berputar-putar mengelilingi kebun bunga yang sedang bermekaran, karena begitu indahnya hari-hari yang kulalui.

Pukul 4 sore ini aku ada janji dengan Gadis di kafetaria, hanya sebuah pertemuan antar teman yang sudah lama tidak bercerita. Jam sudah menunjukkan pukul 04.52, Gadis belum juga datang di cafe yang sudah kami tentukan, sudah hampir 1 jam aku menunggu dan sudah 3 jenis minuman yang ku pesan. Pukul 05.20 akhirnya gadis datang, tampak senyum diwajah cerianya yang membuat rasa kesalku menuggu lama dan kembung karena sudah menghabiskan 3 minuman hilang begitu saja.

“Maaf ya, tadi aku mampir ke rumah Mira dulu, jadi lupa waktu.”

Mira adalah sahabat terdekat yang sangat mengerti Gadis dan hanya Miralah yang mengetahui kondisi dan karakter gadis. Hampir seluruh cerita kehidupan gadis diketahui oleh Mira.

“Aku juga baru datang kok.” Jawaban yang konyol yang pernah kukatakan karena di mejaku tampak 3 gelas minuman yang kosong, sambil membalas senyuman Gadis.

Setelah memesan minuman yang ke-empat, kami pun bercerita banyak hal dari masalah pribadi, politik, hukum dan HAM sampai gorengan di kantin kampus. Cukup panjang kami bercerita sore ini, senyum dan tawa tampak di wajah Gadis yang telah lama tak kujumpai.

“Kamu satu-satunya pria terbaik yang pernah kutemui.”

Kontan saja aku kaget kalimat yang tak ada penghubung dari pembicaraan tadi, aku keheranan apa maksud dari perkataanya, pikiranku langsung di penuhi beribu tanda tanya dan tanda seru. Aku hanya terdiam dan tersenyum bingung.

Tak lama gadis mengungkapkan perasaanya padaku, dan sore ini menjadi hari bersatunya kembali dua hati yang telah terpisah.

17 September

Seminggu sudah kami jadian, kami selalu melakukan bersama, dari belanja mie ke warung, sampai beres-beres kamar kos-kosanku yang sudah seperti kapal perang Amerika dibom oleh Jepang di Pearl Harbour. Hari ini merupakan hari spesial karena Gadis sedang berulang tahun hari ini. Akhirnya dengan sedikit sentuhan wanita kamar kosanku yang seperti rumah tua yang tak terurus, disulap menjadi kamar hotel bintang 1.

Malam ini kami berencana membuat candle night, walaupun hanya ada menu mie telor dua porsi yang sudah kami masak berdua, dan sebuah lilin sebesar lengan yang biasa kupakai jika listrik mati. Aku telah menyiapkan sebuah kue tart coklat kecil yang telah kubeli sore tadi untuk kejutan ulang tahun Gadis hari ini.

Lampu-lampu telah dimatikan hanya terdapat sebuah lilin yang berdiri di kelilingi dengan 2 mangkok mie telor. Aku berdiri dengan alasan mau ke WC untuk mengambil kue tart yang telah di pasangi lilin-lilin kecil. Sambil berjalan perlahan aku mendekati Gadis yang telah menunggu aku untuk makan malam kami ini. Gadis terkejut aku membawa kue tart yang telah di pasangi lilin lilin kecil yang telah menyala, Gadis tersenyum keheranan melihat aku membawa kue tart mini ini. Sebelum meniup lilin kecil ini Gadis mengucapkan permohonannya.

“Terima kasih ya, ini candle night termanis dan terunik yang pernah kutemui.”

Aku hanya tersenyum kecil tanda sukses telah memberikan kejutan untuk Gadis.

18,19,20 September

Tidak seperti biasanya Gadis tidak bisa dihubungi. SMS dan teleponku tak satu pun ada yang dijawab, aku berpikir mungkin gadis kehabisan pulsa. Esok harinya aku mencoba lagi menghubungi Gadis tapi tetap saja tak ada respon. Sampai 3 hari berturut-turut aku mulai tak tahan tanda tanya dan tanda seru sudah tak terbendung lagi di kepalaku ini. Apakah Gadis menghilang lagi, tanpa meninggalkan pesan kepadaku? Atau handphone Gadis yang telah hilang?.

21 September

Gadis selalu datang dan pergi sesuka hati, akhirnya hari ini aku bertemu Gadis di rumah Mira. Aku melihat ada yang aneh saat ku melihat wajah Gadis, tak tampak di wajahnya senyum ceria yang selalu di tebarkan olehnya. Kini Gadis tampak murung seolah ada batu seberat 100 ton sedang dipikulnya sendiri. Mira memberi isyarat kepadaku agar tidak bertanya keadaan Gadis saat ini, aku langsung menyetujuinya. Dan aku langsung pergi ke kampus karena sudah telat.

Siangnya Mira datang menemuiku menceritakan masalah yang telah menimpa Gadis saat ini. Mira seorang sahabat yang sangat menyimpan rapat rahasia sahabatnya, entah kenapa hari ini Mira menceritakan semua tentang Gadis dan masalah yang menimpanya saat ini. Aku terkejut dengan masalah besar yang telah terjadi dalam 3 hari kemarin.

“Gadis hampir diperkosa mantan pacarnya, si Doni, dan kemarin orang tua Gadis meninggalkan Gadis.” Mira bercerita sampai berlinang air mata karena tak tahan menyimpan sendiri masalah Gadis yang sangat berat.

Kontan aku kaget syok mendengar masalah kekasihku yang periang, namun sangat pintar menyimpan masalahnya sendiri.

Aku dan Mira langsung menuju rumah Mira dengan mobil VW kodok yang sedang dipacu dengan kecepatan kuda berjalan 50km/jam.

Sesampainya kami di rumah Mira, Gadis tidak ada di rumah, aku mulai khawatir dengan kondisi ini. Aku langsung berlari keluar mencari Gadis dengan kondisi rumah Mira yang sangat jauh jaraknya antar rumah ke rumah berikutnya. Di kanan kiri jalan masih banyak semak-semak dan pohon-pohon nangka yang berjejer. Dan langit tampak merah saga menandakan sebentar lagi malam akan datang. Akhirnya aku menemukan Gadis yang sedang berdiri di pinggir jembatan yang sudah lama tidak dilewati orang, memang tempat yang tepat untuk orang-orang yang sedang putus asa. Aku melihat keputusasaan pada wajah Gadis, wajah yang tak memiliki lagi semangat hidup. Aku berjalan perlahan mendekati Gadis agar tidak mengejutkannya. Setelah sangat dekat aku langsung memegang tangan Gadis. Gadis telah tahu kedatanganku.

“Aku…. hampir diperkosa Doni, dan kemarin aku telah ditinggal pergi orang tuaku.“

Aku terdiam, entah perasaan apa ini aku merasa sedih, sakit hati dan bercampur was-was.

“Semua pasti ada jalan keluarnya Dis, jangan seperti ini. Aku dan Mira masih ada untukmu Dis.”

Tampak senyum kecil tersungging di bibirnya. Aku memegang erat tangan Gadis dan tidak akan kulepaskan. Setelah beberapa saat aku menasehati Gadis, akhirnya Gadis bersedia ikut untuk pulang. Namun jembatan tempat kami berdiri sudah tak mampu lagi menahan beban tubuh kami berdua, alhasil kami berdua terjatuh ke bawah.

Aku masih memenggang erat tangan Gadis, dan tanganku yang satunya lagi memegang kayu yang masih melintang menahan kami berdua yang sedang bergelantungan. Aku melihat Gadis yang tampak wajah senyum pasrah seolah sudah dekat dengan ajal. Aku bertekad tak ingin berakhir disini, aku berusaha untuk menarik Gadis ke atas. Namun jembatan ini memang sudah tua dan kayu tempat aku bergelantungan akhirnya ambruk juga, kami berdua terjatuh di kali yang di penuhi dengan batu-batu sebesar kepalan tangan.

Tak lama aku sadar langit hampir berubah menjadi gelap, masih tampak sinar matahari berwarna putih menerangi kami berdua. Aku mendekati Gadis yang telah terbaring pingsan setelah kejadian tadi, luka-luka sudah penuh menempel di tubuh kami. Aku mencoba menyadarkannya, tampak senyum dan kesakitan di wajahnya.

“Ikhlaskan aku ya.”

“Jangan bicara yang macam-macam dulu, kamu harus kuat. Kita pasti keluar dari sini.”

Gadis kembali tersenyum dan perlahan menutup matanya.

“Dis…. Gadis…. Bangun Dis……. Gadis… Bangun…”

Berkali kali kucuba tak juga tampak tanda-tanda akan sadar, kudengar detak jantungnya berdetak semakin melemah. Aku langsung menggendong Gadis dengan seluruh tenagaku yang masih tersisa untuk keluar dari kali tempat kami terjatuh untuk mencari bantuan. Aku dan gadis langsung dilarikan ke rumah sakit menggunakan mobil Mira yang sejak sore tadi juga mencari Gadis. Setelah sampai Gadis langsung dilarikan ke ruang UGD.

Tubuhku telah dipenuhi dengan plester dan perban mirip tentara telah kalah berperang. Aku duduk di samping ranjang Gadis sambil memegang erat tangannya. Tampak banyak sekali peralatan di ruangan ini, dari kantong darah, infus, dan pengontrol detak jantung.

22 September

Semalaman Gadis mengigau, ‘ikhlaskan aku’, ‘maaf’, membuat aku tak bisa memejamkan mata kalau-kalau Gadis bangun meminta minum. Pagi ini aku masih memperhatikan kondisi Gadis yang tak tampak tanda-tanda akan sadar. Malam ini Mira ingin menggantikan aku menjaga Gadis, tapi aku menolaknya. Kami berdua menjaga Gadis malam ini.

Aku masih duduk menunggu di samping Gadis dengan memegang tangan Gadis. Mata ini sudah tak tahan untuk membuka, aku pun tertidur di samping Gadis. Tak lama Gadis telah sadar dan duduk di ranjang sambil membangunkan aku. Gadis memandangku dengan senyumnya yang manis.

“Kamu pria terbaik yang pernah kutemui. Tolong ikhlaskan aku dan jangan bersedih.”

Gadis kembali tersenyum tapi kali ini senyuman termanis yang pernah kulihat dari wajah Gadis selama ini.

Aku terbangun dan ternyata yang tadi itu hanyalah mimpi. Setelah itu aku tak lagi ingin tidur, aku menunggu Gadis sampai benar-benar sadarkan diri dan tersenyum kepadaku

23 September

Tampak Mira masih terjaga sambil membaca novel, aku izin untuk sholat subuh. Setelah sholat subuh aku merenungkan kalimat yang dikatakan gadis saat kami terjatuh dan di dalam mimpiku tadi malam, “ikhlaskan aku ya….” Kalimat yang selalu dikatakan Gadis. Perlahan kucoba melakukannya, pertama aku mencoba menerima kecelakaan yang telah menimpa kami, dan tidak menyalahkan waktu, yang tidak akan pernah bisa diulang kejadiannya. Kedua aku mencoba untuk menerima takdir yang telah terjadi dan yang akan terjadi.

Terdengar suara orang-orang berlarian di koridor depan mushola rumah sakit. Kulihat dokter dan beberapa suster berlarian seolah telah terjadi sesuatu yang gawat. Aku mengikuti dari belakang sambil kembali ke kamar Gadis. Aku mulai cemas saat dokter berbelok melewati koridor yang menuju ruangan Gadis dirawat. Aku langsung berlari menuju kamar Gadis. Kakiku langsung terpaku di depan pintu kamar Gadis dirawat. Mira menangis sambil memeluk suster, aku melihat dokter sedang menyelimuti Gadis sampai menutui mukanya. Tampak garis lurus dengan suara desingan yang melengking menyakitkan hati dan telinga yang mendengarnya. Syok, sedih dan sakit hati bercampur semuanya menjadi satu membuat aku tak dapat mengerti perasaan yang saat ini aku alami, hanya hampa kosong dan hening yang terasa dalam hati, namun mata ini tidak berhenti mengeluarkan air mata.

BUMI TERUS BERPUTAR

 CERITA KEHIDUPAN TERUS BERJALAN

ADA YANG DATANG DAN ADA YANG PERGI

 ADA PERTEMUAN DAN ADA PERPISAHAN

 ADA SUKA DAN DUKA

 ADA BENCI DAN TAWA

 ITU SEMUA ADALAH CERITA KEHIDUPAN

 YANG PASTI AKAN KITA LEWATI

 DUNIA HANYALAH KEHIDUPAN YANG SEMENTARA.

9 Responses to “Gadis”

  1. on 18 Nov 2008 at 19:13blueheart

    berhenti berharap dan menunggu datangnya gelap.

  2. on 19 Nov 2008 at 16:43asih

    Kenapa semua cerpen yang aku baca berakhir sad ending????

  3. on 21 Nov 2008 at 05:09Rio

    Eaa niy..Sedih.. Ttp smangat bikin cèrpen..

  4. on 24 Nov 2008 at 02:22dhuwie

    Cerpen yaN9 bikiN aiR mata w kLuar…
    T.O.P.B.G.D

  5. on 25 Nov 2008 at 00:33Ezty

    Penyesalan tak akan ada akhir,gadis…akan pergi dengan senyum,(tolong buat cerpen yang happy ending donk,kasihan tokohnya)

  6. on 25 Nov 2008 at 16:56pinto

    Dah lama air mata ini nggak menetes……………..

  7. on 25 Nov 2008 at 19:39Boy

    Hhmmmmmmph….

    Cerpen yg happy ending lebih enak dibaca…

  8. on 25 Nov 2008 at 23:36DARMA

    crpñ qm bsa bwt aìr mt q hmpr klüar lo. . . .krèn. . . .Bsk bwt crpñ yg hppy endng dnx. . .

  9. on 01 Dec 2008 at 15:15afi

    hmm bagus seh tapi apa gak sebaiknya komedi romantik

Tinggalkan Komentar