Mencari Cinta Sejati
November 18th, 2008 by Onik
Kupatutkan diriku di cermin,
“Hm sudah cukup keren,” pikirku, meskipun banyak yang bilang aku culun. Sekali lagi kuambil sisir untuk sedikit merapikan rambut kriboku yang unik. Aku tersenyum menampakkan gigi berkawatku yang menurutku keren abis.
“Sebenarnya apa sih yang kurang dari diriku? Kenapa nggak ada gadis yang mau sama aku?!?” tanyaku heran. Tapi tetaplah semangat, aku akan terus berusaha, pantang menyerah, apalagi mengingat usiaku sekarang, sudah menginjak 30 tahun,
“Aku nggak mau jadi jejaka tua yang keren. Hehehe,” kataku.
Aku sudah hunting gadis sejak usiaku 16 tahun, itu artinya udah sekitar sekitar 99 gadis yang menolak aku. Macam-macam aja pendapat mereka, contohnya,
“Ih kamu kepedean banget, ngaca dooong?!?”
“Kamu norak banget sih?!?”
“Jangan becanda dong?!?”
“Kamu pikir aku ini cewek apaan?!?”
“Sembarangan kamu ya!!!”
“Kacamata kamu kurang tebal tuh.”
“Aku nggak bisa bayangin kalo ciuman sama gigi tongos kawatan kamu!!!”
“Idih, amit-amit!!!”
dan lain sebagainya.
Kutarik nafasku panjang, berharap kali ini aku akan diterima.
Ayudia, adalah gadis ke-100 yang aku dekati. Dia satu-satunya gadis yang bisa mengerti aku, selain itu dia lembut, paling lembut kurasa. Dia baik, paling baik juga, dan menurutku cukup cantik meskipun tubuhnya agak rata, tapi setidaknya serasilah dengan badanku yang kerempeng.
“Jarang lho ada cowok yang kayak kamu,” kata Ayudia beberapa saat yang lalu.
“Maksud kamu, jeleknya?” Ayudia tertawa.
“Ya nggaklah, kamu itu nggak jelek kok. Kamu itu unik, sama uniknya dengan kepribadian kamu, kamu itu baik, tulus, jujur dan selalu percaya diri. Aku seneng banget bisa temenan sama kamu.”
Oh my God, akhirnya ada juga gadis yang mau menerimaku apa adanya, dan sekarang adalah saatku untuk menembaknya.
Dengan mantap aku mengayuh sepeda bututku ke rumah Ayudia.
“Ayudia, aku dataaaang!” teriakku bahagia di sepanjang perjalanan.
Kusandarkan sepedaku di pagar rumah sederhana itu. Aku tetap masuk meskipun agak bingung.
“Kok tumben ada banyak orang disini? Ada acara apa ya? Tapi kenapa semua orang memakai pakaian hitam? Siapa yang meninggal?” batinku.
“Permisi Om, Ayudia ada?” tanyaku sambil berbisik pada papa Ayudia yang duduk bersama beberapa temannya di halaman depan.
“Ada di dalam,” kata si Om dengan nada datar.
Aku pun masuk, kucari Ayudia di antara orang-orang yang ada di sana, tapi nggak ada, di mana ya? Aku pun mulai panik.
“Maaf Mbak, tahu nggak Ayudia di mana?” tanyaku pada salah satu orang yang duduk disitu. Orang itu menuding ke ruang sebelah, aku pun menuju kesana. Kudengar lamat-lamat suara tangis.
Dengan jantung berdebar akupun masuk ke dalam. Bisa kulihat jelas ada sebuah peti mati yang masih terbuka disana,
“Jangan-jangan mama Ayudia meninggal? Kasihan dia.”
Trus mana Ayudia?
Mataku tertuju pada sesosok wanita berkerudung putih yang menangis sesenggukkan.
Itu pasti Ayudia, lalu aku mendekatinya.
“Tabahlah Yu, relakanlah beliau di sana, supaya beliau bisa pergi dengan tenang.” Dia mengangguk, namun masih saja menangis.
Kulingkarkan tanganku dibahunya, membiarkan Ayudia menangis di dadaku. Aku pun larut dalam kesedihannya.
“Mas Ajun,” tiba-tiba saja Dewi, adik Ayudia yang paling kecil menarik lengan kemejaku. Aku menoleh.
“Mbak Ayudia udah meninggal, Mas,” katanya lalu kembali menangis.
Meninggal?!? Lalu siapa yang aku peluk ini??? Aku melepaskan pelukanku lalu kuintip sedikit wajah dibalik kerudung itu.
Ya Tuhan, ternyata mama Ayudia!!! Aku pun pingsan seketika.
Nasib, nasib. Ayudia adalah satu-satunya gadis yang bisa menerimaku apa adanya, kini sudah tiada, batinku setelah sadar.
“Ini ada surat dari Mbak Ayudia buat Mas Ajun,” kata Dewi sambil menyerahkan sepucuk surat untukku.
Aku membukanya.
Buat Mas Ajun,
maaf ya Mas, selama ini aku nggak pernah bilang kalo aku sakit tumor otak. Aku nggak mau membuat Mas Ajun merasa kasihan sama aku lalu memperlakukan aku dengan aneh. Saat Mas baca surat ini, mungkin aku sudah pergi.
Mas Ajun tetap kuat ya, tetap jadi diri Mas Ajun yang aku kenal. Mas Ajun yang percaya diri, tulus, baik hati, dan jujur. Tetap optimis cari pasangan hidup yang terbaik ya Mas. Aku sayang mas Ajun.
Ayudia.
Airmataku mengalir. “Aku nggak akan pernah berubah untuk kamu, Yu.”
Aku akan tetap jadi Ajun yang baik dan keren.
Bagus niy cerpen’y..Hhe
crpenya bgs bgt ñè,bsa bwt aq terharu. . . .oe coy. . .¿?
tabahkan hatimu nak…….
akhirnya kok gitu…berjuang lagi donk…semangath!!
lucu, nice,good, better, best aduch apalagi yach….pokonya bagusssssss
lucuuu tapi bkin terharu
sumpeh,…. Querent!!!!
T’haru!!
HIkz..hikz..hikz T_T
cerPen_na bguZ Tch … pi kuLang pAnjanG !!!
paNjangIn g! dhe…… b!aR tAmbaH ceLu ..!
oTreE.
sorry ya, bukannya terharu, gw malah ketawa ngakak abis baca ini.
Tapi ………
Bagus kok.
Tau nggak, gw udah baca banyak cerpen tp baca yang ini bikin gw geli sendiri
Very Good n Very Nice Story!!!!! Thankx