Kenapa harus hujan?
Kalimat itulah yang selalu menggaung di hati saya setiap rinai-rinai air itu mulai menghujam bumi. Entah kenapa saya begitu yakin bahwa hujan selalu menjadi pertanda buruk untuk saya. Bukan karena saya benci hujan, mungkin hujan yang enggan bersahabat dengan saya.
Saya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, sudah pukul 08.15. Sementara batang hidungnya belum juga terlihat. Kalau sudah terlalu lama seperti ini, hormon dopamin saya pasti bekerja ekstra dan membuat diri saya lebih cemas, belum lagi ditambah dinginnya cuaca yang seolah ikut mematikan impuls syaraf peraba milik saya yang selalu sensitif terhadap dingin. Namun ia belum juga tampak. Saya benar-benar khawatir apakah ia lupa, sengaja, atau kembali meletakkan saya menjadi urutan terakhir pada skala prioritasnya seperti yang lalu-lalu.
Saya masih menunggu sambil menggerutu dibawah naungan payung yang semakin lama entah mengapa semakin terasa berat, mungkin seberat beban di hati saya. Sandal saya semakin lama kian coklat dan licin karena air yang menggenang di sekitar kaki saya. Ditambah lagi dengan coklatnya tanah yang memercik di celana saya, maka lengkaplah penderitaan saya yang menunggu seorang pria berkacamata yang kelewat sibuk. Entah sibuk dengan apa, saya pun tidak pernah tahu terlalu detil.
“Ia sudah kembali kan?”
Suara Nurul kembali terngiang di telinga saya. Nurul benar, pria itu memang telah kembali dari negara impiannya satu minggu yang lalu. Tapi entah mengapa tidak satu pesan singkat pun yang muncul ke handphone saya dari nomornya, yang seharusnya memberikan kabar bahwa ia telah kembali. Karena hal itulah saya pun tak pernah berharap bahwa ia akan menelpon saya. Hingga sebuah pertanyaan ringan menyeruak dari hati kecil saya. Apakah pria itu telah melupakan saya?
Kamu mau oleh-oleh? Tunggu saja sampai saya kembali. Saya adalah oleh-oleh terbaik!
Saya kembali mengingat kata-kata yang tertuang dalam email yang pernah dikirimnya saat ia masih disana. Setiap saya mengingat kata-kata tersebut, bibir saya pasti mengulum senyum sama seperti sekarang. Mungkin kalimat tersebut hanya kalimat candaan, tapi bagi saya itu sangat berarti. Kalimat itu menandakan bahwa ia memiliki perasaan yang sama seperti saya. Ah, saya jadi ingat raut humoris itu. Rambutnya yang semi keriting menguatkan kesan jenaka, frame kacamatanya yang hitam dan tebal mengokohkan kepintarannya, juga senyumannya yang meskipun riang tetap menimbulkan kesan misterius. Semuanya terlihat sempurna kecuali satu hal. Entah mengapa setiap menatap matanya saya melihat hujan dan menyatakan berita kekalahan.
Kenapa?
Lagi, kata itu menggaung di hati saya. Saya juga tak tahu mengapa pagi ini saya selalu saja mengeluh. Apa karena hujan? Sekali lagi, saya bukan perempuan pembenci hujan akut. Saya selalu merasa hujan tidaklah berjodoh dengan saya. Seperti matanyakah yang tak berjodoh dengan mata saya?
“Sudah jam sembilan.” Suara bass itu menyadarkan saya bahwa saya tidak sendirian. Pria itu berada terus di dekat saja. Jaraknya hanya sekitar empat sampai lima langkah. Ia berdiri kokoh dengan payungnya sendiri sejak kami tiba disini pukul 07.00 pagi, seolah ia tak mau mengusik saya.
Ah, sudah habiskah waktunya? Entah mengapa kalimat itu hanya bergema di hati saya saja, tak mampu saya keluarkan.
“Ia belum datang juga kan?” lanjutnya setengah mengejek yang hanya sanggup saya balas anggukan lemah.
“Kamu mau menunggu sampai kapan? Kamu dan dirinya hanya bergeming di tempa masing-masing. Tak ada yang mau berlari dan mengejar! Untuk apalagi kamu menunggunya?”
“Ia sibuk.” Balas saya kecut
Pria itu tersenyum sinis. “Itu hanya alasanmu. Cara yang ampuh untuk menutupi kekecewaan di hatimu.” Ia menarik nafas panjang kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. “Ini hujan. Aku cukup tahu bahwa kamu tak pernah tertarik dengan hujan apalagi bermain-main dengan hujan. Berhentilah menunggunya.”
“Tapi saya rela bermain hujan selama apa pun untuk menunggunya.”
“Sayangnya pengorbananmu terlambat. Kamu ingat aku yang menghubunginya dan memberi batas waktu hanya sampai jam sembilan pagi ini. Kalau ia tak datang artinya ia melepaskanmu. Sudah dua jam kita berdiri disini, suaranya pun tak menggaung kemari!”
Saya tak menanggapi kalimatnya. Saya hanya bisa terdiam, saya masih yakin ia akan datang. Ia hanya terlambat.
“Cepat masuk ke mobil. Kita harus ada di rumah setengah jam lagi. Ingat pesta pertunangan kita akan dimulai jam sebelas!”
Sekali lagi saya melirik jam yang masih melingkar di pergelangan tangan saya. Pukul 09.15. Ah, rupanya saya benar-benar kalah. Ia tak datang. Padahal hari ini hujan, harusnya saya tahu bahwa hujan selalu membawa kabar buruk untuk saya.
seperti lagu nya pinkan ” kekasih yang tak dianggap
” sedih, kesal,emosi, kecewa itu yang pasti dirasakan saat menuggu orang yang kita harapkan dia akan datang, tapi ternyata dengan alasan yang belum jelas sebabnya akhirnya terpaksa menuggu dengan segala penuh pengorbanan, tetapi orang yang kita tunggu ternyata tak menyadari pengorbanan itu, seharus nya judul nya menunggu yang menyebalkan, bukan karna hujan, itu menurut Q
i Luphh raainn veryy muchh
hehehhee
tnangg jjaa … ujan bukan selamany membwa kabar buruk^^
uthe”