KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Jalan setapak membelah ombak di pantai Sanur yang berdeburan, perempuan berambut ikal berjalan meninggalkan pantai dengan air mata membasahi gaun malam berwarna hitam yang tampak sangat indah dikenakan olehnya. Seorang laki-laki duduk di gasebo tepi pantai sambil menatap ombak yang berkejaran, menghadap berlawanan dari wanita yang tadi berbicara padanya. Laki-laki itu lebih menyedihkan lagi. Ia tetap terluka ketika dia harus bahagia.

Kembali terbayang segala kisah yang mereka alami. Waktu itu Dien masih menjalankan pendidikannya sebagai siswa pertukaran pelajar di Australia, selama hampir satu tahun Dien tinggal bersama sebuah keluarga yang menjadi homestaynya selama menempuh pendidikan di Australia. Dien tinggal di rumah keluarga Christensen, Mr. Crishtensen, Mrs. Crishtensen, dan Matt, anak laki-laki mereka. Matt berusia sebaya dengan Dien, itulah salah satu alasan mereka menjadi teman yang akrab. Pernah suatu kali ketika Matt jatuh sakit Dien dengan penuh perhatian merawat Matt seperti kakaknya sendiri. Ia menyuapi Matt dan meminumkan obat pada Matt, ia rela membolos dari kerja paruh waktunya di sebuah minimarket.

Sudah hampir satu tahun Dien menempuh pendidikan pertukaran pelajarannya, akhirnya tibalah graduating party yang menandakan bahwa Dien harus kembali ke
Indonesia dan ia harus meninggalkan keluarga Christensen. Di malam terakhir ia tinggal di Australia Matt ‘menculik’ Dien dari graduating party, ia mengajaknya ke taman di tengah kota, mereka duduk di dekat sebuah air mancur. Dien tak benar-benar paham yang akan dilakukan Matt, tidak biasanya ia melakukan hal seperti ini. Ya, tidak biasa, karena ini juga bukan malam yang biasa bagi mereka, pikir Dien.

Dien, you know what? Since you came to my life, I feel light of my life shine, and when you will leave my life, I feel I almost lost the shine. I don’t realize what feeling is it. But tonight I will make sure about my feeling.”

Matt membuat aku bingung apa sebenarnya yang ingin ia katakan.

Matt, I don’t know what you mean. But would you mind to tell me what do you want to say?

“Of course yes, Dien, I mean that I love you.”

“Matt, don’t be silly, you play with me? At least don’t do that tonight Matt. I love you as my brother here.”

Aku tak percaya walaupun aku sungguh berharap itu adalah benar.

“I don’t think that it’s a game. I don’t play with love. Love not created to be a game and we should not play with it.”

Perkataan Matt membuatku tak bisa lagi berkata-kata. Matt tak bersuara lagi. Kami berdua hanya diam memandangi bintang dan tiba-tiba air mancur yang berada di belakang kami memancarkan air ke sana kemari, air mancur itu membentuk hati kemudian lampu-lampu di sekelilingnya mulai menyala.

“Ahh, the water broke the ice block between us.”

Matt dengan tertawa lari menjauh dari air mancur.

“Wait for me, you took me here and you leave me alone Matt… Matt…” Aku berteriak-teriak.

“Ha…ha… ha, bye Dien, see you at home.”

“Matt, oh God. Matt, what the fuckin’ joke is it?”

Aku terus berlari melewati gang. Sial, umpatku dalam hati aku lupa di mana jalan pulang. Matt atau teman-teman yang lain tak pernah mengajakku ke daerah ini.

“Surprise… Come on let’s go home. Ahh, don’t cry Babe. It just a joke.”

Matt masih tertawa-tertawa keluar dari balik pohon Ek yang mulai gugur. Ia menggandeng tanganku kemudian menarikku untuk berlari. Hmmm benar-benar malam perpisahan yang indah, batinku.

Sesampainya di rumah aku langsung naik ke atas dan mengeringkan badan yang basah kuyup karena air mancur. Aku pun langsung tidur karena besok pagi tepat pukul tujuh waktu Australia aku harus ada di bandara dan bye Australia I have to go back to Indonesia, bye Matt actually I love you too but I am not so sure we can stand in long distance relationship. Biarkan semua ini berjalan apa adanya.

*****

Huhh… selalu delay, terpaksa menunggu hampir satu jam hingga akhirnya kita bisa terbang kembali ke Indonesia. Meninggalkan Mr. Dan Mrs. Crishtensen, meninggalkan teman-teman yang menjadi keluragaku selama hampir satu tahun. Angela, beautiful fat Australian girl; Padma siswa pertukaran pelajar asal India yang berwajah manis, Santi gadis Jawa tulen yang terdampar di Australia gara-gara ayahnya seorang konsulat di sana; dan Matt, pemuda yang baru kemarin malam menyatakan isi hatinya setelah sekian lama aku menunggunya untuk mengungkan hal itu, kemarin malam? Terlambat mungkin. However, I will missing them, pikirku yang diikuti dengana air mata yang tanpa terasa menetes ketika kaki ini menginjakkan kaki untuk pertama di pintu masuk pesawat.

Perjalanan udara ini begitu tak terasa karena aku selalu saja terlelap bagai ditimang-timang ketika berada dalam pesawat. Entah apa yang terjadi jika kapal ini mengalami kecelakaan sedangkan aku tertidur pulas. The real rest in peace, I think. Akhirnya sampai juga di bandara Soekarno Hatta, Indonesia. Yup, bangsa tercinta yang terasa begitu lama aku tinggalkan.

*****

Dua tahun sudah sejak perpisahanku dengan Matt dan teman-teman yang lain di Australia. Awalnya masih ada kontak denganku dan Matt, namun karena keisbukan masing-masing mungkin kami hampir lupa dengan persahabatan kami. Dari yang mulanya hampir setiap hari kami selalu bertemu di yahoo messenger, kemudian berkurang menjadi satu minggu sekali, kemudian berkurang lagi menjadi setiap aku punya senggang waktu dan kebetulan ia juga on line, hingga akhirnya aku lupa dengan kata sandi yahoo idku.

Setelah lama tak berkomunikasi Angela menelpon ke kantorku. Kaget. Darimana ia tahu nomor kantorku yang berada di Bali, ternyata ia mendapat nomor itu dari sebuah agen pariwisata di Australia, agen itu memberikan kartu namaku yang dicetak oleh kantor. Angela memberi kabar bahwa ia akan berlibur ke Bali bersama Matt. Mereka ingin bertemu dengan aku mungkin, dan kenapa mereka berdua? Mungkin hanya sebuah kebetulan saja mereka mempunyai waktu libur yang sama, tapi mengapa hanya berdua? Honeymoon? Ah pertanyaan-pertanyaan itu menyesaki pikirku. Dulu memang aku menyukai Matt dan pada malam saat Matt menyatakan cintanya aku terlalu bingung dan sedikit marah karena mengapa selama hampir dari satu tahun aku bersamanya dia baru mengatakan ketika aku akan pergi.

“Ok! Angela so you and Matt will be arrives at Ngurah Rai International Airport two days later. It means in Saturday.” Aku memastikan lagi apa yang telah tertulis di layar laptopku.

“Correct, Dien. See you two days later?”

Satu lagi pertanyaan dalam pikirku. Apakah aku masih menyukai Matt?

*****

Siang itu aku sendiri yang menjemput Matt dan Angela di bandara. What? Angela dia bukan seperti Angela yang dulu. Ahh… tubuh seseksi Sheryl Crow dia miliki sekarang. Matt, hatiku tiba-tiba berdegup dengan kencang ketika mataku beradu dengan matanya dan ia menyimpulkan senyuman yang semakin membuatku gugup.

“Ehh… Hey guys how are you?” Aku membuka percakapan

“We are great, Dien how about your life? Is it doing right?” Angela menjawab pertanyaanku dan menempelkan pipinya di pipiku.

You look no different Dien, still look gorgeous and wait there is a little different. Yeah, prettier than ever. And look mature”

“Stop kidding you still the same Matt, right. So I will give you a nice welcoming punch as you are my brother.”

“ Ha…ha…ha…” Kami tertawa bersama

“So, what are you doing now guys? I mean, did all of you get your own dreamjob? The best architect in Melbourne, and the most famous designer ever after.”

“Ha…ha…ha.. I am an architect now but not in Melbourne, I teach in our university.” Matt menjawab pertanyanku sambil meletakkan tasnya di bagasi

“For me it wasn’t the end of my life when I couldn’t be designer, coz I am a model now.” Angela sedikit tersenyum malu ketika mengatakan hal itu

“What? A model, ahh really big move Angela!” Aku menggoda

“Do you think I’ll be a bale fuckin’ bulled rice forever? No dear.” Angela berdiplomasi

“Ok! Ok! Which one we have to do? Go to the hotel or having lunch?” Aku menyudahi awal perdebatan dengan Angela.

“Lunch sound interesting.” Matt bersuara lagi setelah sibuk dengan barang bawaannya.

Kami pun berangkat menuju ke Discovery Shopping Mall di daerah Kuta. Setelah puas menyantap makan siang langsung menuju rumah. Sengaja hari ini mereka tidak aku tawari untuk berjalan-jalan dulu karena, jetlag, offcourse. Seharian kami gunakan untuk mengenang masa lalu dan saling menceritakan apa yang terjadi dalam hidup kami selama dua tahun sejak perpisahan kami.Seharian penuh bersama mereka rasanya sudah terjawab sedikit demi sedikit pertanyaan yang terus memenuhi pikiranku. Dari beberapa gelagat mereka aku bias menarik kesimpulan sementara bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan. Serasa kembali ke masa lalu dengan lorong waktu Doraemon selama semalaman kami pergi untuk beristirahat. Each person in each room exactly.

*****

Hari-hari berikutnya kami lalui dengan pergi ke tempat-tempat wisata hampir di seluruh
Bali. Berselancar di Kuta, pergi ke Batu Bulan, bermain bersama lumba-lumba di Lovina, hingga menonton tari kecak di Uluwatu sekalian dengan bergurau dengan kerajaan kera di Uluwatu, mungkin itulah kerajaan milik Subali dan Sugriwa yang diceritakan dalam Ramayana.

Sudah satu minggu mereka di Bali. Malam ini aku mengajak mereka pergi untuk dinner di restoran hotel tempatku bekerja di daerah Sanur. Tiba-tiba saat kami sedang makan malam Angela merasa tidak enak badan dan dia ingin istirahat. Matt mengajakku untuk berjalan-jalan di pantai, tidak enak sebenarnya saat Angela harus terbaring sendiri, aku dan Matt menikmati indahnya pantai Sanur. Tapi apapun yang melatarbelakangi ketidakenakanku pada Angela serasa hilang ketika kami berdua berjalan-jalan di pantai. Mungkinkah aku masih suka pada Matt atau aku memang tidak bisa mengingkari cinta. Hatiku semakin gundah

“Matt, can I ask you a question?” Aku bertanya sambil melepas highheels yang tak mungkin kupakai untuk berjalan-jalan di tepi pantai.

“Ya, there is lot of question in my mind too. Angela?” Semoga ia paham hanya dengan nama itu

“Angela? What do you mean?”

“I mean you and Angela.” Harusnya ia paham dengan pernyataanku kali ini.

“Ahh… We try to build up relationship, just try Dien” Dia sedikit ragu ketika mengucap kata relationship.

“Try? But how about have together vacation in Bali? It seems a honeymoon” Bukankah aku hanya mengatakan satu pertanyaan, namun mengapa pertanyaan yang lain muncul juga.

“You know what, since you came back to Indonesia, I felt lost a half of my soul. I try to forgetting you but I cant forget you even only the way you walk”

“But why didn’t you come to Indonesia after I came back and said that you were serious with me.” Aku benci ini aku tak mampu lagi menahan air mataku.

I was afraid you wouldn’t accept me, you said that you like me as your brother, and it hurted me”

“Sorry, I just felt you were late, you have a year before I left Australia, and you choosed the last time.” Aku berjalan ke sebuah gasebo di tepi pantai

“You mean, you have loved me?”

“I have in loved you? Are you kidding Matt? I love you…” Air mata ini semakin menetes deras.

“Are you still loving me Dien?”

“I think it’s not important anymore, you don’t love me now, and it will hurt Angela if you love me.” Aku mengusap air mataku

“Tlilitt… tlillitt,” ponsel Matt berdering.

“What happened Angela? What? Are you sure it’s positive?” Matt terlihat sangat kaget.

“Matt is she OK? What happened? Should we go back to the hotel now?”

“No, nothing.” Kemudian kami berdua hanya berdiri di gasebo diam menatap ombak yang menggambarkan kegundahan hati kami. Hanya terdengar samar-samar ombak yang berkejaran dan dua pemuda Jepang yang sedang mabuk dan berteriak-teriak tak jelas.

“I love you ever after Dien, but I cant be your love”

Aku membisu tak tahu apa yang harus kukatakan, aku memeluk Matt, mungkin itu  yang terbaik saat ini. Setelah diam lagi beberapa saat, Matt mengatakan sesuatu yang membuatku tak ingin memeluknya lagi bahkan hanya untuk melihat wajahnya.

“She is pregnant.” Sungguh sebuah pernyataan yang membuat hatiku begitu perih dan sempat terpikir untuk lari jauh darinya.

“Leave me alone and don’t ever come to me, leave my life starting from now, I suppose we had not recognize each other.”

Aku pun benar-benar berlari meninggalkannya. Sayup-sayup dari kejauhan Matt mengatakan sesuatu lebih tepatnya meneriakkan sesuatu.

“Dien, I will always love you even you hate me. Hate me as you can so that I will love you as big as your hatred and maybe bigger. Leave me as far as you can so that I love you as long as you far from me.”

Saat sampai di lobi hotel aku bertemu dengan Angela yang tampak sangat gembira dengan kehamilannya. Namun aku tak menghiraukannya. Aku terus saja berlari, lari, lari dan lari ke tempat di mana tidak akan terdengar lagi gemuruh hati yang saling berkejaran, di mana hanya ada aku tanpa perih, adakah tempat itu?

 

5 Responses to “Hate Me as I Love You”

  1. on 25 Nov 2008 at 01:12Ezty

    Uih……gila…..bagus banget,walapun agag2 bingung dg dialog,tp aq ngrti,bgus bngt,ttp dg sad ending,tp gag mematikan tokoh,dan sangat romantis bnget..gila…so…perfect…..sip2…trz berkarya!

  2. on 30 Nov 2008 at 01:03Danntii

    knp msti bgini c critanya??
    w kan agy ckit hatee??
    T. T
    mkin cedih dhee
    hehehe

  3. on 08 Dec 2008 at 10:35assattari

    wah…
    parah nih si matt nya…
    gua jadi keinget cowo yg ngaku2nya cinta mati ama gua, tapi sambil jadian ama cewe lain, dan gua tolak, dan abis itu putus ama cewenya, dan tetep gua tolak..
    babuk aja tuh si matt nya..
    kidding, hahaha..
    keren bgt,
    mengocok emosi saya..

  4. on 13 Dec 2008 at 16:10shasha

    Harusnya Matt gak perlu bilang just try

  5. on 23 Nov 2009 at 08:17rea

    Harusnya angela jangan hamil, sehingga matt bisa kembali dengan dean dan angela dengan berbesar hati membiarkan matt dan dien berbahagia,, kan bisa happy ending, hehehe (maaf agak maksa ^_^ )

Tinggalkan Komentar