Bukan Karena Mereka Aku Marah
November 18th, 2008 by kekasih_hujan
“Hilang?” tanyaku terbelalak.
Derry mengangguk. “Semuanya diambil, tanpa sisa!”
Aku tercengang. Sialan! Berani sekali mereka mencuri sembako milik Derry yang ditaruh di bagasi, padahal bagasinya sudah dikunci.
“Tuh sembako punya bokap gue. Ya…biasa, tiap sore gue ngambil di grosir bokap gue, tapi cuma hari kemarin yang hilang, sebelumnya nggak pernah kayak gini!” Derry melanjutkan ceritanya.
“Trus kamu nggak coba mencarinya, siapa tahu masih di sekitar situ,” tanyaku.
“Gimana mau mencari, gue aja nggak tahu seluruh daerah situ, yang gue tahu cuma jalan ke grosir punya bokap gue. Gue juga udah nanya, tapi nggak ada jawaban! Percuma! Lagian bokap gue nggak tahu!”
Aku dan Derry diam beberapa saat, terhanyut dalam pikiran masing-masing, entahlah tak tahu apa yang dipikirkan Derry saat ini.
“Tapi Tan, yang gue nggak terima mobil baru gue dicongkel, lecet dan pastinya biaya perbaikan jauh lebih mahal daripada harga sembako itu!” Derry membuka percakapan lagi, mungkin ini yang dari tadi dipikirkan Derry.
“Sialan!! Kita harus menuntut ganti rugi! Tak tahu terima kasih banget sih tuh pencuri!” Aku semakin geram.
“Menuntut ganti rugi? Caranya? Sembako aja mereka harus nyuri, apalagi harus mengganti mobil gue yang lecet?” Derry bingung. Aku garuk-garuk kepala membenarkan pernyataan Derry, ini tidak mungkin terjadi.
“Gimana kalau nuntutnya pakai cara lain?” Aku seperti mendapat pencerahan yang membuka jalan lain menuju ke neraka.
“Emang kita mau nuntut pakai apa?”
“Sini deh!” Derry mendekat kemudian aku membisikkan sesuatu.
“Wah… emang elo sobat gue yang paling TOP!” Mata Derry berbinar, ideku selalu jenius. Aku hanya bisa mengangkat alis tanda berbangga hati.
* * *
Mataku sulit terpejam, aku hanya bisa membolak-balikkan tubuhku di atas kasur. Bukan karena lapar, tapi otak dan hatiku seakan terbakar matahari, panas! Aku tak terima jika Derry sahabatku sejak SMP diperlakukan seperti itu, jiwa mudaku meronta-ronta, tak suka dengan kesewenang-wenangan. Punya nyali juga mereka, mencuri sembako milik bokapnya Derry yang selalu baik kepadaku. Berani juga mereka, merusakkan mobil Derry yang suka mentraktir aku makan, mengajak aku nongkrong di kafe mahal, nginep di villa bokapnya dan kemewahan-kemewahan yang tak pernah aku rasakan. Aku masih memikirkan bagaimana cara membuat perhitungan dengan pencuri-pencuri sialan itu.
Aku duduk di tepi tempat tidurku, mataku menyapu seluruh kamarku, kali saja ada benda-benda keramat yang bisa membalas sakit hati Derry. Mataku tertuju pada kotak hitam yang terduduk manis di atas almari tuaku, aku mengambilnya perlahan dan membukanya, sebilah pisau yang bagiannya berkilauan tertempa lampu kamarku. Aku membelainya, ini cara tepat untuk membalas pencuri sialan itu. Ini sudah cukup untuk menakut-nakuti mereka, agar tak berani mencuri milik Derry lagi.
Aku mencoba mengayunkan, wuizz…, mirip pembunuh bayaran yang ada di film-film. Aku semakin mantap dengan rencanaku ini. Pulang sekolah aku berencana untuk menjalankan rencana awalku, yaitu pengintaian.
* * *
“Gila elo Tan! Apa nggak ada cara lain untuk membalasnya?” Rika cewek alim yang tak suka keributan menceramahiku. Aku hanya bisa tersenyum dan menggeleng mantap.
“Wah…hebat elo Tan! Bisa jadi jagoan! Siapa tahu dengan elo melakukan ini, elo bisa masuk koran dan tivi, terkenal deh! Tanpa harus ikut casting pencarian bakat!” Romi yang master narsis mengomporiku. Aku menepuk dadaku tanda bangga yang luar biasa.
“Udah Sob! Jangan buat nakut-nakutin doang! Kalo bisa langsung hajar! Biar kapok mereka, kalo dibiarin makin belagu aja!” Siska, cewek tapi pikirannya seperti cowok terus memberiku semangat.
“Udahlah, Tan! Kayaknya nggak ada gunanya deh elo ngelakuin ini. Toh sembako milik bokapnya Derry udah hilang kan?” Resti cewek imut mengusap lembut punggungku, mungkin dia ingin menggagalkan rencanaku. Oh No…! tidak ada yang bisa membuatku mundur! Kemarahanku sudah mencapai ubun-ubun.
Kulihat Derry tersenyum bangga melihatku, sepertinya dia menggantungkan seluruh harapannya padaku. Aku harus bisa mengemban amanah yang sudah diberikan padaku.
“Tan, apa elo yakin? Elo sendirian aja ke sananya? Gimana kalo komplotan mereka banyak banget?” Derry mulai gelisah, aku hanya tersenyum kecut.
“Jangan panggil gue TITAN kalo nggak bisa bikin mereka kapok! Jangankan banyak banget! Amat sangat banyak sekali aja gue sanggup menghadapi!” kataku menyombongkan diri. Eits… ini bukan sombong deh kayaknya, karena aku pernah juara I karate nasional! Nggak perlu diragukan lagi kan?
“Ya udah sob, good luck aja yah!” Semua menyalamiku. Ya… entahlah apa arti salaman itu bagiku.
* * *
Aku berjalan menuju TKP sembako milik bokapnya Derry dicuri. Hari ini hanya melakukan pengintaian saja untuk melihat situasi dan kondisi. Kulihat ada penjual es rumput laut di samping TKP. Aku segera menuju ke sana, kupikir ini adalah tempat paling strategis untuk mengintai.
Setelah memesan satu porsi, aku memilih tempat duduk paling pojok supaya bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas.
“Gimana kemarin? Dapat banyak nggak?” terdengar suara orang berbincang-bincang serius.
Aku mulai memasang telinga, untung saja letak mereka tidak jauh dariku sehingga aku bisa mendengarkan dengan jelas.
“Ya… lumayan lah! Bisa buat nambah ngepulin dapur!” Orang berbadan subur menjawabnya dengan kepulan asap rokok yang terus menerus menutupi wajah kusutnya.
“Sama, kemarin berasnya kukasihkan Wito lima kilo, kasihan dia udah sebulan lebih hanya bisa makan singkong!” Orang yang berbadan sangat kurus ikut-ikutan menghisap batang nikotin, kasihan mungkin badanya habis tersedot nikotin.
“Kemarin anak dan bini gue juga seneng banget! Tepung dan minyaknya langsung dibuat pisang goreng, untuk dijual di pasar. Udah tiga minggu bini gue nggak jualan pisang goreng lagi, gara-gara harga tepung di juragan Khon harganya selangit!”
“Gulanya yang sepuluh kilo gue bagi-bagiin ke tetangga gue, sekiloan! Seneng banget kayaknya mereka! Trus sisanya gue jual ke desa sebelah. Uangnya gue bayarkan sekolah si Udin, kasihan dia udah tiga bulan nunggak gara-gara gue nggak bisa cari duit buat sekolahnya!”
“Bolehlah, sekali-sekali kita ngerjain anak juragan Khon, toh dia juga sering ngerjain kita!”
Juragan Khon? Bukankah itu nama dari bokapnya Derry? Berarti sejak tadi mereka sedang membicarakan Derry. Aku semakin menajamkan telingaku.
“Sebenarnya bukan anaknya! Tapi juragan Khon! Dia pengen ambil untungnya sendiri, semua sembako hanya dia yang bisa jual tapi harganya mencekik!”
“Emang edan tuh orang! Nggak ngerti kesulitan rakyat miskin!” Orang berbadan subur menyeruput es rumput laut yang dipesannya tadi.
“Eh… denger-denger dia mau memperlebar tokonya?”
“Oh… iya… bener banget! Tapi lahan mana yang dia mau pake?”
“Sepertinya ya…lahan jualan kita!”
“Edan… Bener-bener edan! Kalo emang bener gitu! Kita harus lapor demo besar-besaran! Biar tahu rasa dia! Hidup kok seenak udelnya sendiri!!!” Terlihat jelas kemarahan yang terpendam sangat dalam di hati kedua orang tersebut. Namun tersimpan kasih sayang yang luar biasa dalam mata tajam kedua orang tersebut.
Aku tersentak, kaget, kecewa, marah, entahlah apa yang aku rasakan saat ini. Semua teraduk menjadi satu. Tiba-tiba saja semangat ingin menakut-nakuti mereka dengan pisau di tanganku menciut dan musnah. Ada perasaan bersalah yang mendalam, ada perasaan senasib dan sepenanggungan dengan mereka.
Mereka mengingatkanku pada Kakek yang berjuang mati-matian menghidupi aku, ibuku, dan adikku. Maklum, karena Bapakku harus pergi untuk selamanya saat aku masih berumur lima tahun. Teringat peristiwa dua tahun silam, dimana satu-satunya kios milik Kakek harus digusur Pemda karena alasan akan ada perlebaran jalan, eh…malah tak tahunya untuk perlebaran pabrik gula milik juragan Dirga Satriyanegara.
Saat itu, Kakek hanya pasrah, tak berani menolak setiap permintaan sang penguasa meskipun sangat merugikan diri sendiri. Teringat juga bagaimana perjuangan Ibu setelah kios Kakek digusur Pemda, Ibu harus rela ngutang sana-sini hanya untuk modal berjualan makanan di samping rumah, karena uang ganti rugi yang diberikan benar-benar tak sepadan dengan harga yang semestinya. Kini aku bersiap untuk pulang dan melupakan semuanya, tak peduli dengan apa perkataan teman-temanku besok.
“Tit…tit…tit…”
Ada sms masuk, aku membukanya dengan tangan bergetar, teringat jika HP yang berbunyi ini adalah pemberian dari Derry. Tiba-tiba saja keinginan untuk mengembalikan HP yang kubawa ini muncul dengan sangat kuat, karena aku semakin muak dengan semua ini, dengan semua yang aku lakukan.
Gimana Tan pengintaian elo? Berhasil nggak? Sudah ada rencana untuk besok?
SMS dari Derry, aku hanya bisa menarik napas panjang, andai saja Derry tahu apa alasan mereka untuk mencuri.
Semuanya sudah aku lupakan! Tak ada rencana untuk besok.
Aku membalas SMS dari Derry dan berharap dia bisa mengerti.
“Tit….tit…tit…”
SMS dari Derry kembali masuk di handphoneku.
Lho Kenapa? Padahal aku sudah menyiapkan pesta makan besar untuk kemenangan kita!
Sudah kuduga pasti Derry akan bertanya seperti ini, dan aku sudah menyiapkan balasannya.
Karena bukan karena mereka aku marah.
keren… baguss… tapi kirang panjangg!!hehe…
you got talent!! keep it up!!
Hmm.. lumayanlahhhh… ^.^
kok pnjg amt y?yg agk pndk ad g’?
huaaa bagus ! syg endingny nggantung T.T