KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Suara detak jam dinding yang seolah terus berkejar-kejaran kini sudah tak terasa lagi, namun suara tangis masih jelas terdengar dari kamar yang tepat berada di sebelah kamarku. Reina. Ya dia, yang sejak tadi malam terus menangis terisak-isak karena baru semalam ia mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal sebulan yang lalu. Ibunya sengaja tidak memberitahu berita duka itu kepadanya karena pada saat itu Reina sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas kuliah, ditambah lagi dengan putus hubungan dengan kekasihnya yang sudah hampir dua tahun ia jalani.

Entah seberapa dalam kesedihan yang sedang ia rasakan. Namun yang pasti aku juga dapat merasakan kesedihan itu. Segera aku melangkahkan kaki ke arah kamar Reina, meskipun berat untuk menahan tangis bila sedang melihatnya. Aku harus tetap terlihat tegar di hadapannya, agar aku dapat mengembalikan senyum yang terukir manis sebelumnya.

“Sudahlah Rei, berhentilah menangis. Waktu yang telah berlalu tak mungkin dapat hadir kembali,” sambil memeluk dirinya yang tidak sedikit pun kurasakan terdapat semangat dalam hatinya.

“Bagaimana aku bisa berhenti menangis?! Sedang Ibu, Kakak, dan mereka semua JAHAT!!! Mengapa mereka tak memberitahukan hal yang terpenting itu kepada aku!!!”

“Walau bagaimanapun mereka melakukannya semata-mata untuk kebaikan kamu? Sudahlah, pasti ayahmu di sana tidak akan tenang jika kamu terus menangisi kepergiannya.”

“Maafkan aku, Ayah. Ney, makasih ya, kamu sudah menjadi sahabat terbaik untukku, melebihi mantanku, Doni.”

“Kamu harus berjanji untuk tidak menangis lagi ya?”

“Yaph.” Sambil mengangguk ia kembali memelukku erat.

***

Sejak saat itu ia tidak lagi menangis, bahkan ia lain dari Reina yang aku kenal dulu. Reina begitu akrab denganku. Tiada hari yang kita lewatkan, tanpa canda tawa.
“Heiiii. Neyna???!!!”

Seperti terdengar suara dari dua orang yang sepertinya memanggil namaku dengan suara yang cukup menampar gendang telingaku.
“Tuh, benar kan, dia itu Neyna?”

“Iya benar. Mata lo tajam juga ye??”

Sekilas aku dan Reina mendengar pembicaraan dua orang pria yang berjalan mendekati kami.

“Siapa Ney?? Mengapa mereka mengenal namamu?”

“Entahlah…”

Aku tak melihat jelas wajah mereka, dan mereka terus mendekati kami.

“Hei Ney? Gimana nich kabar kamu sekarang. Duh sombong ya sekarang?”

“Fahrez…Yuda??” tuturku.
“Yuph, anda benar? Hee, gimana kabar kamu? Sudah lama juga kita gak ketemu.”

“Aku baik, kamu dan Yuda gimana? Baik?”

“Ya, seperti yang kamu lihat.”

“O iya, kenalin teman aku.”

“Reina.” Dengan suara lembut Reina sambil mengulurkan tangannya kepada Fahrez dan Yuda.

“Yuda.”

“Saya Fahrez.” Dengan senyum kecil Fahrez menyebutkan namanya.
“Eeem, maaf ya, aku dan Reina tidak bisa lama-lama.”

“Ya sudah, tapi nanti kita ketemu lagi?”

“Siiip deh, kalau gitu kami duluan yaaah.”

“Dadah Ney, Reina!!!!!”

Aku dan Reina kembali meneruskan perjalanan untuk pulang.

***

Akhirnya aku dan Rei sampai juga di tempat kos-kosan, setelah melewati panasnya matahari yang sungguh menyengat. Aku sungguh terkesima ketika melihat kembali seseorang yang sudah cukup lama tidak bertemu, dan kini kami kembali bertemu. Entah mengapa aku terus mengingat pertemuan kembali aku dengan Fahrez dan Yuda, terutama kepada Fahrez. Bagaimana aku dapat melupakan seseorang yang dulu pernah hadir dalam hatiku, semuanya seperti mimpi.
“Ppakkk!!!!”

Tersentak kaget dalam lamunanku ketika tiba-tiba Reina menepuk punggungku dari belakang.
“Haiiyoooo… lagi mikirin siapa nih. Ayo ngaku????”

“Kamu itu ya??? Emmmmm… aku gak mikirin siapa-siapa kok.”

“He..he…he… kamu bohong ya?

“Aku cuma sedang berpikir, kita sekarang sedang menyelesaikan skripsi. Nanti jika kita lulus… ”

“Amin!!!”

Ucapan Reina tiba-tiba sangat keras dengan nada suara yang cukup membuatku kaget.
“Dengar dulu dong, aku kan belum selesai bicara.”

“Iya, maaf ya Sahabatku.” Sambil tersenyum kecil seakan ia menyuruhku untuk kembali melanjutkan pembicaraan.
“Rei, jika nanti kita lulus, pastinya kita tidak akan tinggal bersama lagi di tempat kos ini, dan akankah kita bersama lagi setelah itu?”

Tak terasa air mata pun menetes dan terjatuh sedikit demi sedikit, walaupun awalnya aku hanya ingin menutupi perasaanku yang dulu terkubur kini hadir kembali dalam hatiku, namun tidak aku sangka, aku akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu kepada Reina.
“Neyna, sampai kapan pun kita akan tetap bersahabat, persahabatan kita tak akan hilang walaupun kita tak lagi bersama, namun akan aku usahakan dan terus mempercayai bahwa persahabatan akan membawa kita di dalam kebersamaan.”

“Jika Tuhan menciptakan seluruh yang ada di dunia ini dihargai dengan uang, dan segala sesuatu yang kita inginkan harus didapatkan dengan cara membelinya, mungkin aku tidak akan sanggup mendapatkan seorang sahabat yang paling berharga seperti kamu.”

“Neyna, persahabatan ini sungguh berarti untukku. Di kala aku tidak mendapatkan kebahagiaan dari mereka, kau datang dan mengubah kegelapan ini menjadi penuh warna. Terima kasih ya, tapi jika kamu sedang menghadapi masalah apapun, kamu harus janji untuk memberitahu aku, karena aku akan selalu ada untuk kamu.”

***

Hari kian berganti, disambut hangat oleh cerianya matahari yang siap menyinari hari-hariku bersama sahabat terdekatku. Kami pun berangkat ke kampus seperti biasa pada pagi ini. Begitu ceria penuh senyuman, seperti tak ada sesuatu apapun yang kami bicarakan semalam. Dan kami pun berangkat ke kampus penuh semangat, hingga letih pun tidak lagi terasa. Sesampainya di kampus aku dan Reina bertemu lagi dengan Fahrez dan Yuda, dan mereka pun menghampiri kami.

“He…he…he… akhirnya kita berjumpa lagi ya. Semakin cantik aja nih Reina.” Dengan suara yang sedikit menggoda, Fahrez merayu Reina.

“Ehem… ternyata kamu dari dulu gak pernah berubah ya,” sahutku sambil melirik sinis ke arah Fahrez.

Seperti biasa Yuda yang pendiam tak pernah berbicara sedikit pun jika tidak ada yang menurut dia penting untuk dibicarakan. Entah memang karena dia pendiam atau karena dia memang tak banyak berbicara.
“Sepertinya Yuda jarang bicara. Ada apa Yud ?” sapa Reina yang begitu lembut kepada Yuda.
“Gue… ya begini, gak ada apa-apa kok,” jawabnya dengan sikap yang tetap dingin.
Reina terdiam seperti merasa heran dengan sikap Yuda yang begitu dingin kepadanya. Karena di sisi lain sikap Fahrez yang super kocak, gokil, dan tiada hari tanpa tawa jika kita bersamanya ternyata Fahrez berteman dengan Yuda yang sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya. Mungkin itu sudah hukum alam, jika dalam persahabatan pasti kepribadian salah satunya ada yang berbeda, dikarenakan agar para sahabat bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lainnya.
“Ya sudahlah, daripada kita jadi diem kaya gini aja, hari ini kan cuaca panas, terus perut gue juga sudah memainkan gendangnya, Gimana kalo kita makan aja? Tenang, hari ini gue yang traktir. Mau kan Ney? And semuanya, mau kan?” ajak Fahrez.
“Go Ney, Rei. Jarang-jarang lho, Fahrez mau traktir kita,” kata Yuda.
“Ayo Rei, sekali-kali kita makan siang bersama mereka ?” ajakku kepada Rei.
Tanpa suara Rei mengiyakan ajakan Fahrez untuk makan siang. Dan kami berangkat bersama menuju kantin yang tepat berada di belakang kampus. Seperti biasa, tiada tawa jika kami sedang berkumpul bersama-sama sekalipun kami sedang makan namun tetap saja kekonyolan, kekocakan Fahrez terus menyelimuti kebersamaan kami.
Namun di balik kebersamaan kita, ada sesuatu yang lain kulihat pada Rei, seperti ada yang lain terlihat dalam matanya ketika ia sedang memperhatikan Fahrez. Seseorang yang bisa dibilang cukup tampan, secara style menarik, dan perilaku juga baik ditambah lagi kesehariannya yang selalu membuat orang yang berada di dekatnya tertawa, selalu ceria. Tapi jika itu benar terjadi, apa yang telah kupikirkan tentang Rei yang kini mulai menyukai Fahrez itu benar-benar terjadi. Lalu bagaimana dengan aku, bagaimana dengan perasaan aku yang sudah sejak lama aku endapkan sedalamnya hati ini. Biarlah waktu saja yang akan menjawab ini semua. Aku hanya bisa berharap kalau hal ini tidak benar-benar terjadi. Apa yang sekarang aku pikirkan hanya sekedar prasangka saja. Mudah-mudahan.

***

Setelah makan siang dan menyeleseaikan jam-jam pelajaran, aku dan Rei kembali pulang ke tempat kos-kosan kami.
“Begitu lelah ya Ney, tapi hari ini aku sangat senang,” tutur Rei sambil tersenyum dan mengambil bantal guling yang berada di kasur.

“ Senang?? Maksudnya gembira?”

“Ya, iyalah. Masa ya iya dong?”

“Memangnya ada apa?” tanyaku.

“Gak tahu kenapa, pokoknya hari ini aku seneng aja.”

“Ya sudahlah kalo kamu gak mau jawab. Kalo kamu seneng aku juga seneng.”

“Thank’s ya Ney, kamu emang sahabat yang paling aku sayang.”

“Sekarang tidur ya, karena besok kita akan berangkat ke kampus lebih awal. OK!”

“OK!! Aku masuk ke kamar ya. GOOD NIGHT.”

Reina pun menutup pintu kamarku dan beranjak untuk tidur di kamarnya. Entah mengapa malam ini mata ini begitu sulit untuk dipejamkan. Wajah Reina dan Fahrez terus menghantui khayalanku. Pertanyaan tentang mereka terus saja mengejar-ngejar pikiranku. Apalagi hari ini Reina terlihat sangat gembira, sesenang apapun dia tak pernah seperti ini seolah semua beban yang ada selama ini terlihat hilang begitu saja. Ia senang mungkin karena hari ini waktu kami lebih banyak dihabiskan bersama Fahrez dan Yuda.
Kenapa hatiku sakit ketika melihat Rei terus memperhatikan Fahrez, begitupun dengan Fahrez yang terus mendekati Rei. Mungkin karena hati ini tidak rela. Tapi Rei adalah sahabatku, tidak mungkin jika aku cemburu kepadanya yang sangat aku sayangi.

“DDDRET! DDDRET! DDDRET !!!”

Getaran handphone cukup membuyarkan lamunanku. Tidak seperti biasanya ada yang menghubungiku di larut malam seperti ini.

“Benar ini Neyna ?”

Tanya seorang pria yang entah siapa itu cukup membuatku berpikir sejenak untuk mencoba mengenal suara yang berasal tepat dari handphone yang sedang kugenggam dan didekatkan dengan daun telingaku.
“Maaf, ini siapa ya? Kenapa malam-malam menghubungi aku?” tanyaku penasaran.

“Emmmmmm…… aku……”

“Siapa? Kalo gak ada yang penting lebih baik aku akan putus telepon ini!”

“Tunggu dulu?? Masa lupa ci? He….he…”

Dalam hatiku terlintas seseorang yang sudah lama aku kenal setelah mendengar tawanya. Fahrez, mungkinkah dia yang menelponku kini, tidak akan mungkin, karena dia tidak tahu nomer handphoneku. Lalu siapa?

“Ka… mu…Fah…Rez…?” tanyaku pelan.
“Kok kamu tahu sih?”

Aliran darahku berdesir hebat saat aku yakin bahwa yang menelponku malam ini adalah benar Fahrez. Jantungku pun berdetak kencang bahkan lebih kencang dari biasanya.
“Ada apa… Rez?” tanyaku sedikit gugup namun aku coba untuk tetap tenang dan berbicara seperti biasanya meskipun sulit.
“Sebenarnya, aku telah menyimpan dan mengukir kata-kata ini sejak lama, namun waktu tak pernah mengijinkan aku untuk mengutarakan semuanya kepadamu…”

Suaranya tiba-tiba berhenti, entah apa yang ingin ia sampaikan kepadaku, yang pasti suaranya dan ucapannya membuat jantungku terus berdetak dan tak juga berhenti.
“Sebenarnya… aku cinta kamu,” lanjut Fahrez dengan ucapan yang diakhiri dengan kecepatan seperti detak jantungku saat ini.
“Tapi?”

“Aku cinta kamu dan aku ingin kamu menjadi milikku, menjadi seseorang yang selalu ada di samping aku. Aku juga ingin membuatmu bahagia karena aku. Apakah kamu mau menjadi kekasihku?”

“A… aku gak bisa. Aku gak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan. ”

“Kenapa? Aku tahu kamu juga mencintai aku kan. Jawab Ney!”

“Iya!!! Aku cinta kamu!! PUAS? Tapi aku gak bisa!”

“Kenapa gak bisa? Kamu gak boleh bohongin perasaan kamu.”

Terhenti sejenak, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku memang menyimpan rasa sejak dulu kepada Fahrez tapi aku tidak bisa egois, aku tidak boleh hanya mementingkan diri aku sendiri karena di sisi lain sepertnya Reina juga menyimpan rasa kepadanya.

“Ada orang lain yang lebih mencintai kamu dan dia lebih pantas memiliki kamu.”

“Aku tidak perduli karena aku mencintai kamu. Cobalah sedikit saja memahami perasaan kamu sendiri Ney.”

“ PPPRRRAAAANG!!!!! ”

Tersentak kaget ketika aku mendengar suara yang memecahkan kesunyian malam yang telah membuyarkan pembicaran aku dengan Fahrez. Sambil memegang handphone, aku langsung menuju tempat suara pecahan keramik itu berasal, dan terlihat seseorang berlari kencang sepertinya orang itu sambil menangis terisak-isak.
Setelah aku perhatikan ternyata yang memecahkan keramik dan berlari sambil menangis itu adalah Reina. Tanpa tersadari handphone yang aku pegang jatuh begitu saja. Aku sangat panik. Ternyata Reina mendengar pembicaraan aku dengan Fahrez sejak awal.
Apa yang telah aku perbuat, aku telah menyakitinya, aku telah membuatnya kembali meneteskan air mata .
“Reina, maaf ya, aku…”

“Kenapa kamu minta maaf?? Tidak ada yang salah dengan kamu,” sambil terisak-isak Reina bicara.

“Lalu mengapa kamu menangis? Kamu kecewa sama aku karena Fahrez…”

Belum selesai aku berbicara namun Reina memotong pembicaraanku.
“Ney, bukan karena itu aku menangis. Aku menangis karena aku takut kehilangan kamu. Kamu adalah satu-satunya sahabatku, hanya kamu yang sanggup membuatku tersenyum, membuatku bahagia, hanya kamu yang bisa membuatku melupakan semua sedihku, hanya kamu yang mampu menjadikan aku seseorang yang berharga dalam hidupmu. Aku gak mau kehilangan kamu.”

“Kenapa kamu berbicara seperti itu? Selama aku masih di sini, selama aku masih hidup aku akan selalu berada di sisi kamu. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri.”

“Tapi jika nanti kamu mempunyai kekasih, kamu pasti akan melupakan aku.”

“Reiiiina, kamu harus percaya, sekalipun aku mempunyai kekasih, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu berada di sisi kamu, sekalipun aku mati, aku akan terus ada untukmu melalui seseorang. Kamu harus percaya itu.”

“Kamu gak boleh bicara seperti itu!”

Dengan mata yang terus menitikan segelincir air yang tak juga henti, Reina pun memelukku dengan erat. Namun tak pernah aku duga sebelumnya kalau Reina akan takut sekali jika suatu hari nanti aku meninggalkannya dan melupakannya.
Entah seperti apa yang ia rasa, sehingga begitu berartinya aku di dalam hidupnya dan aku juga tidak tahu bahwa aku sudah menjadi bagian dari hidupnya yang sulit terpisahkan.

***

Pagi kini telah datang kembali membawa kesejukan hati yang sebelumnya telah dibanjiri oleh kesedihan, mencerahkan semua sisi hati meskipun kegalauan mengusik relung hati yang paling dalam. Bunga-bunga pun bermekaran seolah mereka mengajakku untuk tersenyum dan mengajakku untuk dapat melupakan masalah yang aku alami semalam, namun tetap saja aku sama sekali tidak dapat melupakan bagaimana Reina memeluk aku dengan eratnya, dan berbicara bahwa ia sangat takut jika nanti aku melupakannya bahkan ia tidak ingin jika aku mempunyai seorang kekasih. Sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya sehingga aku begitu berarti dalam hidupnya. Tapi seperti apapun ia menganggap aku, aku harus tetap berada di sisinya sekalipun aku nanti akan mati, aku akan terus ada untuknya meskipun melalui orang lain.

Tiba-tiba entah mengapa penglihatanku begitu gelap, embun pagi dan bunga-bunga juga tak lagi terlihat jelas, semua memudar.
“NEY!!!!!!!!!!!!”

Kulihat sekilas Reina berlari kencang dan memanggil namaku dengan keras. Pada saat itu aku sama sekali tak sadarkan diri, mataku sama sekali tak dapat aku buka. Meskipun mataku terpejam namun aku dapat mendengar suara tangis Reina dan suara orang-orang yang sepertinya berada di sekelilingku. Dan aku mendengar kalau ternyata nyawaku sudah tidak terselamatkan. Aku mati, aku telah mati.
Hari ini semua teman-teman berdatangan ke rumahku, karena jenazahku akan dibawa ke kampung halamanku dan dikebumikan di sana. Ayah, Ibu, Reina, Fahrez, Yuda, dan teman-teman kampus serta semua saudara-saudaraku telah berkumpul mereka menangisi kepergianku, namun yang paling menyesakkan hati ini jika aku melihat Reina yang begitu sesak nafasnya karena tangis yang tiada henti, terus merintih dan memanggil namaku.

Dan aku melihat Ibu menghampiri Reina dan memberikannya surat yang aku titipkan pada waktu malam hari sebelum aku meninggal. Karena pada waktu malam sebelum aku meninggal, aku sempat pulang ke rumah dan menitipkan surat yang telah aku buat yang aku tujukan untuk Reina.
“Reina, sebelum Neyna meninggalkan kita semua, malamnya ia sempat menitipkan surat ini untukmu.” Ibu dengan lembutnya berbicara sambil menitikan air mata.
“Surat apa ini Tante?”

“Baca saja, karena Tante juga tidak tau apa yang tertulis di dalamnya.”

“Ada apa Rei?” tanya Fahrez.
“Aku tidak tahu Rez, sebelum Neyna meninggalkan kita dia menitipkan ini.” Dengan begitu lemahnya Reina bicara sambil menyodorkan surat itu kepada Fahrez dan Yuda.
Jakarta, 03 Agustus 2008
Teruntuk sahabatku,
Reina.

Salam manis,
sebelum aku berbicara semua kepadamu, aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat menyayangimu. Kamu begitu berarti dalam hidupku, kamu sahabat yang tak pernah sekalipun melupakanku dalam keseharianmu. Semua kita lalui bersama, susah senang tiada yang kita lewati dengan kesendirian. Tangismu adalah tangisku, tawamu adalah tawaku. Jika kamu menangis pun aku juga tak dapat menahan air mataku, sampai tiba pada ketakutanmu jika suatu saat nanti aku akan melupakanmu, dan meninggalkanmu. Namun waktu kita di dunia tiada yang tahu, apakah hari ini, esok atau lusa, aku yang terlebih dahulu pergi dari dunia ini atau kamu, dan jika nanti aku pergi duluan, aku ingin kamu tetap tersenyum karena itu akan membuatku lebih tenang.

Emmmm… kamu masih ingat? Aku pernah berbicara kepadamu pada waktu malam hari, “Sekalipun nanti aku pergi dari dunia ini aku akan tetap setia menjadi sahabatmu dan akan selalu berada di sisi kamu namun melalui orang lain.” Masih ingat kan?

Sebenarnya sejak saat itu aku sudah mempersiapkan seseorang yang akan menggantikan aku untuk menjagamu, menggantikan aku sebagai sahabatmu, bahkan ia akan menjadi sahabat hidupmu yang paling setia. Aku hidup di dalam diri orang itu, jadi kamu gak usah sedih ya jika nanti aku pergi.

Kamu pasti kenal dengan Fahrez, dia yang akan menjagamu Rei. Jujur aku memang mencintai Fahrez, aku sangat mengenal kepribadiannya, karena itu aku yakin dia bisa menggantikan aku.

Sesungguhnya aku sudah mengatur awal pertemuan kita dengan Fahrez dan Yuda. Karena sudah lama aku mempunyai firasat kalau aku tidak akan bisa menjadi teman yang selalu setia berada di sisimu, menemani senang dan sedihmu dan sebelum aku pergi aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang yang bisa menggantikan posisi aku sebagai sahabatmu kelak nanti aku tiada. Dan kamu masih ingat pada waktu malam hari Fahrez menelponku dan berkata kalau ia mencintai aku? Sebenarnya pada malam itu Fahrez hanya belajar berbicara, karena takut salah mengungkapkan kata-kata, ia mencoba mengutarakan hatinya kepadaku terlebih dahulu sebelum ia berbicara langsung kepadamu. Fahrez mencintai kamu Rei.

Fahrez juga pernah berjanji kepadaku bahwa ia akan selalu setia menjaga kamu dan menemani kamu dan aku pun percaya kepadanya bahwa ia bisa lebih baik menjaga kamu daripada aku. Sekarang kamu tidak akan pernah merasakan sendirian lagi Rei, karena jika nanti atau esok aku telah tiada, Fahrez akan menggantikan aku berada di sisi kamu. Namun percayalah persahabatan kita akan tetap abadi walau kita berada dalam tempat yang berbeda.
Maaf, jika sebelumnya aku menutupi masalah ini kepadamu. Jujur, aku hanya ingin kamu bahagia, dan aku tak ingin ada lagi tetesan air mata yang keluar dari mata indahmu, Sahabatku.

4eFer FrIend…

Sahabatmu,
Neyna

7 Responses to “Aku Selalu Ada Untukmu di Dalam Dirinya”

  1. on 24 Nov 2008 at 14:02metarina

    Ada yg ganjal dr cerita ini…klo

  2. on 24 Nov 2008 at 14:06metarina

    Menurutku ada yg ganjal dr cerita ini…
    Kalo memang fahrez cuma latihan utk bilang cinta kpn Ney..
    Knp ada adegan NEy menolak cinta nya Fahrez??trus si Ney blg klo ada org yg lbh mencintai fahrez (dlm hal ini Reina) daripada dirinya….
    Jadi bingung nihh……????

  3. on 24 Nov 2008 at 14:06metarina

    Menurutku ada yg ganjal dr cerita ini…
    Kalo memang fahrez cuma latihan utk bilang cinta sama Ney..
    Knp ada adegan NEy menolak cinta nya Fahrez??trus si Ney blg klo ada org yg lbh mencintai fahrez (dlm hal ini Reina) daripada dirinya….
    Jadi bingung nihh……????

  4. on 01 Dec 2008 at 15:27afi

    not bad tapi emang bener agak ada yang ganjel

  5. on 04 Dec 2008 at 15:27via

    koq jadi bngung ya???
    aneh..
    tapi keren koq..
    mgkin kamu bisa lbih ngtur alur crtanya lagi aja, biar gampang di mengerti..
    semangat trus buat berkarya..

  6. on 08 Dec 2008 at 10:44assattari

    gua curiga ada “bla-bla” diantara mereka (reina-neyna) wkwkwkwkwkk…
    peace..

  7. on 10 Dec 2008 at 19:49aimnaniq

    hhmmmm…

    bagusss…

    aq suka ceritanya..
    heheheee…

    tapi si neyna mati gara2 kenaapaa ?? :D

    …gnayas hamkin…

Tinggalkan Komentar