Catatan untuk Si Kembar Kelak
November 16th, 2008 by eno rusnadi
Tak ada hal yang bisa aku berikan kelak kepada si Kembar selain catatan kecil ini. Hanya beberapa baris kata yang sempat keluar dan membuncah dari perasaan yang mengendap sekian lama. Perasaan sayang, haru dan mengusik hati setelah sekian lama berada di sampingnya. Juga sekaligus berharap semoga kelak mereka tumbuh dewasa menjadi anak yang baik.
Mereka, saat ini menjadi bocah nan lucu dan cerdas. Mereka sesungguhnya juga tak mengerti dan tahu apa yang tengah terjadi dalam kehidupannya. Tapi masa lalu yang dialaminya itu kadang membuatku marah. Setelah di saat mereka akan lahir ke dunia ini, lelaki yang jelas-jelas ayah kandungnya itu pergi begitu saja tanpa alasan. Padahal di saat yang sama, perempuan yang menjadi istrinya itu terengah-engah di meja operasi kala menahan sakit untuk melahirkan bayi kembarnya. Tapi dia campakkan mereka itu layaknya sampah. Dia hempaskan istri dan anak-anaknya ke lubang gelap kehidupan.
“Ah, lelaki bangsat!”
Namun semua itu sudah berlalu. Saatnya aku, kami semua, mengambil alih tanggungjawab untuk senantiasa menjaga dan membesarkannya memenuhi semua yang menjadi kebutuhan mereka.
Aku teringat. Waktu dilahirkan ke dunia itu keduanya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Proses melahirkannya pun melalui operasi cesar. Malah setelah lahir, salah satunya sempat pula satu minggu masuk ruang isolasi untuk di-inkubasi. Kata dokter yang menanganinya, ada cairan di paru-paru tubuhnya, serta gangguan di sekitar bagian sisi kepalanya. Entah gangguan apa, aku lupa. Kita semua hanya pasrah ketika mendengar keterangan dokter waktu itu. Dan, bayi kecil ini dirawat secara khusus di ruang tersebut. Tapi doa tak henti dipanjatkan untuk keselamatannya. Sementara bayi yang satunya tampak sehat. Itu jelas terlihat karena seringkali menangis. Untuk hal ini sederhana sekali kami semua menilai soal kesehatan si bayi dari tangisnya saja.
Seingatku pula tak kurang waktu satu tahun itu dipergunakan khusus untuk merawat “Si Menel” ini hingga sehat benar. Untuknya, tak terbayang repotnya kami bolak-balik ke rumah sakit hanya untuk memastikan dia benar-benar tak mengalami kekurangan, baik secara fisik maupun mental. Tapi kemudian puji syukur, seiring waktu berjalan, akhirnya keduanya tumbuh sehat, cerdas dan anteng. Setidaknya itu yang bisa aku lihat di usianya yang kini jelang tiga tahun.
Si kembar, begitu kira-kira kami, tetangga dan banyak orang menyebutnya. Seringkali nama sesungguhnya dari mereka itu tak terpanggil. Hanya kadangkala tetangga atau siapapun ketika melihatnya akan bertanya-tanya. Yang ini siapa namanya, dan yang itu? Sambil mereka menunjuk ke arah bocah ini. Sementara kedua bocah ini pun kian hari semakin terlihat sama. Tidak hanya mirip tapi benar-benar sebelas dua belas. Ini berlaku untuk semua hal. Ya jasmaninya maupun keterkaitan emosi mereka. Kala yang satu sakit, maka setelah dia sembuh, kembarannya itu menyusul pula sakit untuk penyakit yang sama. Ya panas, pilek atau sariawan. Di usianya itu pula, si kembar tampak lincah dan sering bertanya. Apalagi sekadar meniru tingkah polah siapapun yang bisa dilihat dan didengar. Entah itu dari percakapan orang yang didengarnya maupun tontonan acara di televisi.
Untuk itu, sebagai paman, aku tak bisa lain kecuali hanya berharap agar keduanya tumbuh dengan alami. Tiap hari tanpa kecuali kedekatanku dan si kembar ini makin sulit dipisahkan. Aku seperti layaknya ayah bagi mereka. Betapa tidak. Pagi hari selepas shubuh, keduanya sudah ada di sisi pembaringan tempat aku tergolek di alas kasur busa hanya sekedar untuk membangunkan. Untuk membangunkan itu pun butuh perjuangan. Mereka harus naiki anak tangga di mana aku istirahat di lantai atas. Di sini ketika membangunkan itu seperti biasanya hanya tangan yang disentuh, tak lebih.
“Om, bangun Om, udah subuh,” kata mereka.
Begitu juga ketika aku akan pergi dan pulang dari kerja. Mereka punya kebersamaan untuk membawa tas yang biasa aku pakai. Kiranya berat untuk ukuran mereka hingga disempatkan untuk diangkat bersama-sama.
“Kamu pegang talinya De, aku tasnya ya,” ujar kakaknya memastikan kepada “Si Menel” adiknya itu.
Kala celoteh itu terdengar aku hanya tersenyum geli.
Sempat pula suatu ketika si kembar ini mencoba membawa tas kerja dari kamarku di lantai atas. Mereka terlihat mantap dan kompak untuk berbagi tugas yang “maha berat” ini. Pasalnya mereka harus turun tangga untuk tugasnya itu. Padahal aku sudah melarangnya. Tapi apa mau dikata mereka tetap saja keukeuh dengan kehendaknya. Lalu ditapakilah anak tangga itu satu demi satu secara perlahan. Keduanya pun senantiasa menolak jika ingin dibantu ketika aku melihatnya dalam kesulitan untuk melangkah. Tapi dasarnya itu kemauan mereka sehingga terasa sulit juga. Aku hanya memperhatikan dari jarak dekat sambil berjaga-jaga kalau-kalau oleng atau terpeleset.
Anak tangga lalu dituruni setapak demi setapak lewat kaki yang mungil dan bersih itu. Sesekali juga ocehan ringan keluar dari mulut mereka bergantian. Ya soal berat tasnya, soal hati-hati melangkah, soal isi tas, dan es cream.
“Ya es cream!”.
Es cream, paling tidak sekarang ini jadi keinginan mewah mereka. Tidak rutin aku menghadiahi keduanya barang mewah tersebut. Hanya satu bulan sekali. Es cream ukuran sedang merk Campina. Ukuran ini biasanya tiga hari sudah habis. Selepas itu keduanya seperti tahu untuk tidak merengek meminta lagi jika habis es creamnya. Tak ada rengekan atau kerewelan mereka untuk meminta sesuatu yang mustahil untuk dibeli. Apalagi untuk dibelikan barang mainan yang mahal seperti anak tetangga lainnya. Tidak. Si kembar tidak berlaku seperti kebanyakan anak-anak seusia lainnya.
Jika mereka melihat mainan baru yang dipunyai anak-anak tetangga seusianya, aku perhatikan mereka hanya memuji bentuk mainan itu sambil sesekali menyentuhnya.
“Bagus ya bonekanya, bagus, udah dikasih makan belum anaknya,” kata mereka bersamaan.
“Udah barusan, ini mau bobo,” jawab Aini anak tetangga yang usianya genap empat tahun itu.
Lalu, si kembar pun mengambil boneka yang dipunyainya itu. Boneka kembar juga. Yang itu-itu juga. Tapi aneh mereka tak bosan. Mereka pun akhirnya asyik bermain.
Kalau diperhatikan lagi, ketika asyik bermain dengan anak tetangga, ini tak berlangsung lama. Paling kuat setengah jam mereka bermain. Alasannya kata si kembar, si Aini mah nakal, si Bilkis mah masih kecil, si Dian mah rewel, dan seterusnya, khas bocah. Lalu keduanya hanya bermain berdua.
Memang jika dicermati keduanya itu punya sedikit waktu untuk bermain dengan anak seusianya. Mereka hanya menghabiskan waktu di rumah berdua saja. Seperti tak butuh teman lain tampaknya. Dan, teman buat mereka kiranya mesti punya kesamaan kemauan. Soalnya kalau salah satu dari si kembar ini bertengkar dengan anak lain, maka yang satunya pun turut marah. Jadi yang dimarahi pun merasa dikeroyok, akhirnya pulang. Begitulah dari apa yang aku alami.
Dari semua itu amat banyak yang bisa dilihat dan dirasakan atas tingkah polah bocah seusia si kembar. Jika dihitung-hitung akan tak terhitung pula jumlahnya bocah yang lahir ke dunia ini berjenis kembar. Bisa kembar yang tergolong identik atau bukan. Bisa jumlahnya puluhan, ratusan bahkan jutaan barangkali orang kembar memenuhi populasi umat manusia. Namun begitu bagi kita semua tentu akan terasa menyejukkan hati jikalau bocah-bocah kembar sempat mewarnai hari-hari kita. Lihat saja, jika sorot matanya bertatapan dengan mata kita seperti kilatan sinar yang terang bercahaya. Jika telapak tangannya disentuh seperti kapas yang halus dan lembut. Jika mendengar saling berbicara di antara mereka seperti bunyi nyanyian yang tak bernada. Tapi jika menangis bisa jadi tak seperti apa-apa. Malah keras dan memilukan hati.
Itulah anak-anak. Semua terlihat bersih, polos dan apa adanya. Tinggal sekarang ini bagaimana orang-orang terdekatnya itu mengisi kebeningan hati mereka dengan informasi yang baik dan benar. Memberikan anak-anak itu kasih yang tulus berasal dari hati yang tulus pula. Mengajari anak-anak dengan bahasa yang anak-anak pahami. Mendidik anak-anak sesuai dengan apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan mereka. Dan, sejatinya harus bisa mencurahkan semua kasih sayang dari lubuk hati yang terdalam bagi anak-anak itu tanpa pamrih.
Dan aku, paman kalian berdoa.
“Semoga Tuhan Seru Sekalian Alam senantiasa melindungi keponakanku ini.”
aku juga punya keponakan kembar, identik juga (buat orang lain). perempuan. lucu, sekarang umurnya sama kayak cerita ini, tiga tahun.
ihihihihi…
iya, anak kembar seusia segitu lagi lucu2nya, thx ya atas komentarnya
kami adalah anak kembar yang indentik
kita sekarang duduk di kelas 2 SMA
kalau menurut kami berdua menjadi anak kembar itu asyik
buat kami saudara kembar kita bisa menjadi sahabat,temen curhat,musuh pokoknya banyak lah
kalau ada yang sakit pasti yang satunya ikut sakit
kita suka artikelnya =)