Hawa dinginnya subuh langsung menusuk ke tulangku saat Bu’e membuka jendela kamarku dan kedua saudara laki-lakiku. Kamar kami sangatlah kecil, hanya berisi kasur kapuk yang lusuh dan sebuah meja reyot yang kaki-kaki mejanya sudah mau patah, namun kami lebih baik di kamar ini daripada di ruang tengah, di situ dinginnya tidak ketulungan.
“Bangun toh Nak, udah gede masih ngebluk, ambil wudhu dan solat shubuh, habis itu bantu Tuti nimba air,” kata Bu’e sambil mengguncang tubuhku dan abang-abangku.
Namun kami bertiga tidak bergeming, tetap melanjutkan mimpi.
Namaku Ikang, umurku 14 tahun. Aku tinggal di Kampung Bali, Krui, Lampung. Walaupun begitu kami bukanlah orang Bali dan bukan juga orang Lampung. Kami asli orang Jawa. Orangtuaku ditransmigrasikan ke Lampung saat kami belum lahir, jadi kami lahir dan besar di Lampung.
“Lho lho lho belum bangun juga toh Nak, Bu’e sirem ntar baru tahu rasa!”
Begitu kami mendengar akan disiram, kami langsung cepat-cepat bangun, berlari ke sumur dan mengambil wudhu. Bu’e itu kalau menyiram kami itu tidak tanggung-tanggung, satu ember besar berisi air yang sangat dingin akan membasahi tubuh kami bila kami tidak bangun untuk solat shubuh.
Gun, abangku yang paling besar menjadi imam sholat. Selain paling tua, bacaan Al-qurannya juga yang paling bagus di antara aku dan Edwin, kakakku yang kedua. Namun yang paling bagus bacaan Al-qurannya adalah adikku yang paling kecil, Tuti. Dia memang dimasukkan ke madrasah oleh Bu’e, tidak seperti kami bertiga yang hanya sekolah di sekolah negeri biasa.
Setelah kami bertiga selesai solat, kami membantu Tuti menimba air di sumur belakang untuk mengisi bak air rumah kami. Rupanya Tuti sudah bangun dari tadi. Memang Tutilah yang paling rajin di antara kami berempat, maklumlah kan perempuan. Belum selesai kami menimba tiba-tiba Bu’e memanggil.
“Ikaaaaaaaaaaang!”
“Dalem”
“Bantu itu bapakmu memberi makan sapi, sana buruan.”
Aku segera berlari menuju halaman belakang, ke tempat kandang sapi berada. Bapak itu orangnya pendiam, tidak seperti Bu’e yang cerewetnya minta ampun. Bapak itu tipe orang Jawa yang pasrah dan nrimo. Jadi memang kami semua jarang berkomunikasi dengan Bapak, kecuali si Tuti. Dari kecil dia yang paling disayang sama Bapak.
Aku segera mengambil rumput yang terletak di sebelah kandang sapi dan memberikannya pada sapi-sapi itu. Ya ampun, kenapa sapi-sapi ini bau sekali sih, pikirku.
“Lik, coba kamu bawa sapi itu ke sungai sana, sudah dua minggu Bapak tidak membawa ke sungai.”
Pantas saja bau.
Sapi-sapi itu kegirangan kubawa ke sungai. Mungkin sudah kegatelan makanya kegirangan. Rumahku terletak di daerah pesisir selatan, dekat dengan laut yang indah-indah. Selain itu rumahku dekat dengan sungai Way Jegrek. Way Jegrek sudah ramai sedari tadi. Ibu-ibu yang mencuci baju, anak-anak yang mandi, dan bapak-bapak yang mencuci motornya. Kubawa sapi-sapi itu ke bagian yang agak sepi, kasian mereka kalau terkena bau dan kotoran si sapi ini.
Kukira di sana kosong, ternyata ada seorang gadis yang sedang mencuci baju. Namanya Westny lengkapnya Ni Made Westny, dia tetanggaku. Di depan rumahnya ada pura besar yang berwarna-warni. Westny dan keluarganya adalah penganut agama hindu. Keluarga mereka berasal dari Bali. Karena di daerahku banyak yang beragama Hindu, makanya dinamakan Kampung Bali.
Westny seumuran denganku. Ia juga bersekolah di SMP yang sama di SMPN Pesisir Selatan, sekelas pula. Ya ampun, Westny adalah gadis yang sangat cantik. Mukanya begitu indah dipandang. Mata besarnya, hidung mancungnya, bibirnya yang murah senyum. Oh… indahnya. Selain cantik, dia juga anak yang cerdas, paling cerdas di kelasku. Sudah lama aku suka mencuri-curi pandang ke arahnya.
Saat melihatku Westny tersenyum, aaah…. kakiku lemas rasanya. Aku membalas senyumannya dengan cengiran kepadanya dan aku yakin mukaku sangat jelek waktu itu, gigiku juga ada yang ompong di depan pula, ah…. memalukan. Westny melanjutkan pekerjaannya dan aku mencoba mengalihkan perhatianku pada sapi-sapi bau ini.
Kubiarkan sapi itu merasakan dinginnya air, kugosok kulitnya dengan sikat baju Bu’e yang bulu sikatnya sudah buluk. Sambil menggosok sapi, aku mencuri-curi pandang ke Westny, dan memperhatikannya. Cantik nian Westny.
Westny sudah selesai mencuci baju, kukira dia akan pulang ternyata dia malah menghampiriku.
“Ikang, aku bantuin ya nyuci sapinya.”
“I.. iya terserah kamu.”
Westny menghampiri sapi yang sudah kugosok dan membilasnya dengan air sungai. Keranjang cuciannya ditinggalkan di pinggir sungai dekatku. Namun Westny salah besar menaruh cuciannya di pinggir sungai, karena tiba-tiba sapiku menyenggolnya dan cuciannya terbawa arus.
“Ya ampun!” teriakku.
“Kenapa Kang?” jawab Westny.
Aku menunjuk ke keranjang cuciannya yang terbawa arus.
“Aaaaaah, cucianku!” pekik Westny.
Kami berdua mengejar cucian itu. Kutinggalkan sapi-sapiku yang sedang asyik mandi. Agak susah berlari di sungai, sehingga keranjang cucian Westny sudah agak jauh dari kami berdua. Kami terus mengejar dan mengejar keranjang cucian itu. Sampai akhirnya kami berhasil dan hep! Kami berdua berhasil mengambilnya, namun pakaian kami basah kuyup karena terjatuh.
“Maaf ya Westny, sapiku tidak sengaja menyenggolnya.”
“Hahaha, gapapa kok Kang.”
Namun aku tetap merasa bersalah padanya. Karena melihat mukaku yang kelihatan sedih, Westny menoba menghiburku dengan menyipratkan air kepadaku. Aku membalasnya, dan akhirnya kami kelelahan karena bermain air. Kuhampiri sapiku.
“Pulang yuk,” ajak Westny.
“Ayuk, aku capek.”
Kami berjalan berdua. Salah, berempat bersama kedua sapi-sapiku. Kami mengambil jalan melewati pinggir pantai. Lagi-lagi Westny menjahiliku. Ia menendang air laut, sehingga cipratannya mengenai tubuhku. Kubalas lagi Westny, akhirnya kami malah bermain air bukannya pulang. Habis itu kami bermain pasir dan membuat candi dari pasir. Kulihat matahari sudah mulai terik, aku ajaklah Westny pulang.
Sesampainya di depan rumah Westny, aku menyapa ibunya Westny, Bu Indah. Ia menawariku minum dan kue, namun aku mulai kedinginan karena basah kuyup sehingga aku menolaknya dan segera pulang. Saat aku sampai gerbang Westny memanggilku.
“Ikaang, makasih ya.”
Aku hanya tersenyum membalasnya, dan melanjutkan perjalanan pulang. Saat di jalan, aku masih memikirkan kejadian indah tadi bersama Westny. Aaaah…. ingin aku mengulangnya. Aku tersenyum-senyum sendiri, sampai aku bertemu teman sekelasku dan sebangkuku, Fadhil.
“Ngapi kau senyum-senyum sendiri begitu Kang?” sapa Fadhil dengan logat lampungnya.
Aku melompat kaget karena tiba-tiba disapa oleh Fadhil. Fadhil pun tergelak melihat aku melompat karena kaget.
“Ah kamu toh Dhil, ngagetin aja, hehe….”
Sampai di belokan dekat rumahku, Fadhil berpisah. Ia ingin ke pasar membantu ibunya berjualan di toko kelontong.
Belum aku memasuki pintu, Bu’e sudah berkacak pinggang.
“Ikang, ngapa toh lama sekali itu mandiin sapinya Nak?”
“Itu Bu’e, aku main dulu sama Westny.”
“Ya ngga apa-apa kalo kamu main sama Westny, tapi itu lho bapakmu nungguin.”
Sambil menggiring sapi-sapi itu aku menuju halaman belakang untuk memasukan sapi itu ke kandangnya. Saat sedang memasukan sapi, abangku-Edwin-ke pasar untuk membeli benang buat Bu’e. Edwin mengeluarkan sepeda keranjang milik Bu’e. Aku duduk di boncengan dan Edwin yang membawa sepeda itu.
Sampai di pasar, kami langsung menuju toko kelontong milik orangtua Fadhil. Langsung aku berlari untuk menyapa Fadhil, namun yang aku lihat hanyalah sesuatu yang menyakitkan. Fadhil sedang mengobrol berduaan dengan Westny. Hancur rasanya hatiku melihatnya. Fadhil kan tahu aku menyukai Westny. Teganya dia!
Dengan muka tidak bersalah Fadhil menyapaku.
“Eh Ikang.”
Aku membuang muka dan tidak membalas sapaan Fadhil. Ingin aku menjotos perutnya saat ini juga. Tapi kutahan, sebab ini kan toko kelontong orangtuanya Fadhil, bisa-bisa aku tidak boleh lagi belanja di tokonya.
“Eh, ada Ikang.”
Si Westny pakai ikut-ikutan menyapa pula. Tak kubalas juga sapaan si Westny itu. Sial, sial, sial, pikirku. Ingin aku segera pergi dari toko ini, tapi Edwin lama sekali belum selesai-selesai padahal hanya membeli benang.
“Kamu kenapa Kang?” tanya Westny.
“Ngga,” jawabku sekenanya.
“Kang, ayo pulang,” ajak si Edwin.
Aku mengikutinya keluar toko kelontong yang menyebalkan ini. Hari yang sungguh sial!
“Lama sekali sih kau Win?”
“Aku mengobrol dulu dengan si Nurul, haha, cantik nian Nurul itu.”
“Kau enak, aku pengen muntah, huh!”
Aku menaiki boncengan dan Edwin membawanya seperti tadi. Semilir angin dan bau laut membuatku merasa lebih baik, namun perasaan dikhianati itu tetap menusuk-nusuk hatiku yang rapuh ini. Kenapa cinta awalnya begitu indah namun kelamaan membuat kita terjatuh dan sakit?
Setelah kejadian tadi, aku menjadi tidak bergairah untuk mengerjakan sesuatu. Kerjaanku hanya tidur-tiduran di kasur kapuk yang lusuh ditemani dengan suara genjotan mesin jahit Bu’e. Makan pun rasanya tidak berselera, padahal yang dihidangkan adalah Gulai Taboh dengan lalapan yang sangat lezat. Saat melihat makanan tersebut, air liurku menetes, tapi saat dimakan terasa seperti pasir. Air putih terasa seperti duri yang menusuk tenggorokan. Sebegitu kuatkah rasa cinta yang ditanamkan Westny?
Bue, bapak, Tuti, dan abang-abangku bingung melihat perubahanku.
“Bang Ikang, Abang kenapa gelisah sih, Bang?” tanya Tuti saat aku sedang tidur-tiduran di kamar.
Kuceritakan semuanya, mulai dari saat aku bertemu di sungai, sampai saat aku melihatnya sedang berduaan dengan Fadhil. Menceritakan semuanya membuat hatiku terasa ngilu. Tuti yang masih SMP kelas 1 itu hanya mengangguk-ngangguk saja. Aku tidak tahu apakah dia mengerti atau tidak. Biarlah, yang penting aku sudah berbagi perasaan yang membuatku gundah gulana ini.
“Bang, mungkin Abang sudah berburuk sangka pada Westny dan Bang Fadhil. Mana mungkin Bang Fadhil mengkhianati Abang yang sudah menjadi sahabatnya sejak belajar di TPA umur 3 tahun.”
“Mungkin saja dia juga menyukai Westny kan? Siapa sih yang tidak menyukai gadis secantik Westny itu?”
“Lebih baik Abang berbicara dulu dengan baik baik dengan Bang Fadhil. Tidak mau kan Bang, persahabatan Abang retak gara-gara hanya masalah sepele. Rasulullah bersabda tidak baik bermusuhan lebih dari tiga hari, lagipula Bang lebih baik minta maaf duluan walaupun bukan kita yang salah.”
Pintar sekali si Tuti ini, inilah salah satu hasil pendidikan madrasah milik Kiai Luthfi.
Kuambil sepeda keranjang milik Bu’e, kugenjot kuat-kuat menuju pasar, menuju toko kelontong ‘Simpang Lima’ milik orangtua Fadhil. Ku berlari masuk dan benar ada Fadhil di situ. Kuhampiri dia dengan tersenyum.
“Dhil, maafkan aku ya atas sikapku tadi.”
Kuceritakan apa yang mebuatku gundah selama ini. Fadhil mengangguk-ngangguk sambil menahan tawa.
“Ah kamu Kang, kamu kan sudah tau bahwa aku ini naksir Zahara, anaknya Kiai Luthfi, lagipula dia ke sini…,” kata-kata Fadhil yang tiba-tiba terdiam.
“Kenapa Dhil?”
“Maaf aku tidak bisa memberitahumu, yang ini rahasia Westny yang diamanahkan padaku.”
Fadhil memang dari dulu pandai menjaga rahasia orang. Setelah meminta maaf sekali lagi, aku bergegas menuju rumah Westny untuk meminta maaf padanya, namun Westny tidak ada di rumah. Ya sudah, besok sajalah di sekolah. Aku tidak sabar menunggu besok. Aku tidak sabar ke sekolah.
Di sekolah, aku langsung menemui Westny dan meminta maaf padanya.
“Ah ngga apa-apa Kang. Oh iya, aku ingin bicara padamu nanti saat pulang sekolah, di pantai Walur, bisa tidak?”
“Ah, bisa, bisa,” jawabku.
Selama pelajaran pikiranku terkonsentrasi pada Westny. Melihatku aneh, Fadhil tidak tinggal diam.
“Heh Ikang, ngapi lagi kamu Kang?”
“Westny mengajakku bertemu di pantai Walur nanti sepulang sekolah Dhil, bisa kau percaya itu?”
Fadhil hanya tersenyum dan kembali melanjutkan mencatat pelajaran matematika. Ikang tetap tidak bisa terlepas dari khayalannya bersama Westny, amboooooi.
Akhirnya bel sekolah yang ditunggu-tunggu pun berdering. Ah akhirnyaaa. Aku berlari menuju pantai Walur, dan ternyata ia sudah menungguku di batu tempat kami biasanya bertemu.
“Ikaaaaaaaaaang!”
Aku berlari menghampiri Westny.
“Hh..hh..mau ngomong apaan West?”
Westny diam sejenak.
“Gini kang, sebenernya dari dulu…”
“Kenapa West?”
“Aku…ng..suka kamu.”
“Hah?”
Westny langsung berlari. Kabur. Aku yang terkaget-kaget, ditinggalnya pergi. Aku hanya bisa berdiri terpaku disana, tak percaya dengan yang aku dengar. Tiba-tiba Fadhil mendatangiku. Ternyata ia mendengar apa yang dikatakan Westny padaku.
“Hahaha, selamat ya Kang.”
“Apa sih kamu Dhil, aku masih ndak percaya dengan apa yang diucapkannya.”
“Sebenernya pas waktu dia ngobrol sama aku, dia cerita semuanya.”
“Hah? Kok kamu ndak bilang sih?”
“Kan aku bilang rahasia.”
Aku diam. Fadhil diam.
“Terus gimana dong Dhil?”
“Ya gimana, aku gak taulah, terserah kamu gimana.”
Aku dan Fadhil berjalan berdua menuju rumah kami. Pada saat kami melewati rumah Westny, aku berhenti sejenak.
“Tunggu disini ya Dhil.”
“Mau ngapain kamu Kang?”
Tidak kuhiraukan perkataan Fadhil. Kuketuk pintu rumah Westny dan keluarlah Westny, hampir dia menutup kembali pintunya, namun kucegah.
“Westny.”
“Kenapa Kang?”
“Ngg..yang tadi itu kamu serius West?”
“I..iya.”
Diam.
Aku katakan semua, aku katakan aku suka dia juga dari dulu, dari saat pertama kali bertemu. Dia kaget, namun raut mukanya berubah. Bukannya senang tapi dia malah sedih. Mukanya berubah menjadi murung.
“Kamu kenapa West?”
“Aku…aku…besok aku pergi ke Jakarta, ibuku menyuruhku pindah untuk melanjutkan SMA di sana bersama bibiku dan abangku yang sudah duluan ke sana.”
“Hah? Kamu mau pergi?”
Westny, masuk ke rumahnya dengan air mata terburai-burai. Ya ampun aku shok untuk yang kedua kalinya. Masa Westny mau pergi? Secepat itukah? Kenapa dia tidak menyatakannya dari dulu? Berjuta pertanyaan muncul di benakku. Fadhil yang sedari tadi menunggu bingung melihatku. Tapi dia segera mengerti. Dia sudah tahu dari sebelum Westny menyatakan perasaannya padaku.
“Sudahlah Kang, suatu hari nanti kau akan ke Jakarta untuk bertemu Westny, percaya padaku Kang.”
Esoknya Westny ke sekolah untuk mengucapkan perpisahan, ia menyalami murid-murid satu persatu kecuali aku. Dia memelukku. Aku hanya bisa diam. Bisnya berangkat pukul 11 nanti, aku tak sanggup mengantarkannya ke halte bus di Pesisir Tengah. Aku hanya sanggup menangis dan berteriak sejadi-jadinya.
Hanya satu mimpiku, suatu saat nanti aku harus ke Jakarta! Aku harus menemukan Westny.
ini karya sapa yah klo boleh tau?bagus cerita nya
ni cerita asli ga??
tmen gw namanya ni made westny nih…jgn2..hehehehe