KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Wanita Moderen

Pondok bambu reyot di samping kali kecil yang biasanya lengang itu kini bergoyang-goyang diterpa derai tawa dua sosok manusia. Mereka adalah dua orang Pengendara Angin. Sebuah sebutan bagi klan yang bertugas menjaga keutuhan waktu. Mereka berkelana menembus waktu, ke masa lalu maupun ke masa depan, menjaga dan melindungi persimpangan-persimpangan waktu dari para Penerobos. Pondok reyot di pinggir hutan ini adalah tempat favorit klan mereka untuk bertemu atau sekedar tidur siang.

Dari kejauhan mereka tampak seperti manusia biasa. Perawakan maupun suara mereka juga seperti manusia kebanyakan. Yang terasa sedikit janggal mungkin hanyalah mantel kulit gelap mereka yang memanjang hingga ke atas tanah. Tapi apabila melihatnya dari dekat dan benar-benar mau berkonsentrasi , kita pasti akan sangat terkejut karena kulit mereka yang putih itu sebenarnya sedikit transparan. Bahkan terlihat desir-desir darah yang mengalir di dalam urat-urat nadi mereka. Tapi itu sangat sulit terjadi karena kewaspadaan mereka begitu tingginya hingga hampir-hampir tidak mungkin kita dapat melihat mereka dari dekat kecuali kalau memang mereka mau bercakap-cakap dengan kita. Sewaktu kita seperti melihat adanya sekelebatan bayangan, mungkin pada saat itu kita sedang melihat distorsi waktu yang mereka buat sewaktu menghilang dari pandangan kita.

“Dari mana saja engkau berkelana? Wahai Aeval, sahabat kecilku yang riang,” Pengendara Angin yang lebih tua bertanya sambil menyodorkan cangkir kayu berisi cairan kecoklatan.

Setelah Aeval menggenggam cangkir kayu itu, kemudian cairan dalam cangkir itu perlahan-lahan naik dan meloncat masuk dalam mulut Aeval dengan sendirinya. Kemudian dia berkata, “Oh, wahai Abatwa, kita sudah tidak bertemu kira kira 2 muir (1 muir ± 50 tahun perhitungan manusia). Baru-baru ini saya ditugaskan di daerah Jepara. Disana saya bertemu dengan seorang wanita yang sungguh luar biasa bernama Kartini.”

“Sudah sangat lama saya tidak berbincang-bincang dengan Kartini. Dulu saya sering menghabiskan sore bersamanya dan berbagai isi kepala kami berdua.”

“Sungguh wanita yang hebat. Bergemuruh, kalau mungkin bisa saya gambarkan di pertemuan kami itu.”

“Apakah itu kali pertamamu berjumpa dengan dia, Aeval?”

“Anda benar wahai Abatwa si pemegang bintang kebijaksanaan. Dari seribu wanita yang pernah kutemui dialah yang berbicara dengan gegap gempita. Seperti gunung api yang bergetar oleh aliran magma yang mendidih. Belum pernah kutemui seorang wanita yang selalu bertanya tentang wanita lain,” dengan tersenyum Aeval membuat beberapa tetes cairan itu kembali melayang ke mulutnya.

“Yah, banyak wanita seringkali menjadikan dirinya sebagai pusat dari alam semesta. Tapi tidak dia. Kartini ini lebih sering memikirkan nasib sesamanya daripada dirinya sendiri.”

“Wahai Abatwa, anda benar. Dalam percakapan kami itu hampir tidak henti-hentinya dia menanyakan tentang nasib saudari-saudarinya di masa mendatang.”

“Apa yang kalian bicarakan? Ayo ceritakanlah padaku sekarang. Mungkin ini akan membuat ingatanku tentangnya semakin jelas dalam benakku yang lelah ini Aeval.”

* * * * *

“Wahai Tuan Pengendara Waktu, pastilah Tuan sudah pernah menghisap udara di masa depan. Ceritakanlah padaku apa yang terjadi dengan kaum wanita di masa depan dan apakah mereka sudah berdiri sejajar dengan para pria?” Kartini bertanya pada Aeval dengan suara yang bersemangat.

“Kobaran semangat anda sudah menyalakan lokomotif yang bernama “emansipasi” melaju kencang tanpa ada yang bisa menghalangi.”

“Emansipasi? Apakah itu wahai tuan pengelana waktu?” Kartini kembali menghujani Aeval dengan pertanyaan.

“Itu adalah sebutan wanita moderen tentang persamaan hak antara pria dan wanita.”

“Wanita modern?”

“Ya itu adalah salah satu sebutan mereka atas diri mereka sendiri. Berbangga dan berbahagialah wahai engkau Kartini. Berkat usahamulah wanita masa depan bisa bersekolah, bekerja, bahkan menjadi pemimpin di bumi ini.”

“Begitukah? Oh pasti terasa indah di masa itu. Pastilah semua wanita berbahagia. Coba ceritakan padaku apa yang terjadi dengan kaum pria?”

“Di jaman itu persamaan hak dan kedudukan sudah begitu berakar sehingga sulit untuk membedakan yang mana pria dan yang mana wanita. Rambut dan pakaian yang mereka gunakanpun hampir sama. Bahkan hampir sama terbukanya dengan kaum pria.”

“Terbuka? Apa yang tuan maksudkan dengan terbuka?”

“Seperti para pria, para wanita di jaman itu banyak yang memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya. Pundaknya, punggungnya, lengannya, dadanya, betisnya, bahkan paha mereka pun sudah biasa mereka pertontonkan.”

“Paha? Betis? Bagaimana paha dan betis mereka bisa kelihatan dengan jarik (sejenis sarung untuk wanita) yang mereka pakai?”

“Pada jaman itu hanya wanita-wanita desa yang tetap pakai jarik. Wanita-wanita di kota-kota besar sudah terbiasa memakai rok mini atau hot pants sekalipun.”

“Rok mini? Hot pants? Pakaian seperti apa itu?”

“Itu adalah sejenis jarik atau celana yang dipotong sangat pendek sehingga paha dan betis wanita bisa terlihat?”

“Lalu apakah mereka juga masih memakai kebaya?”

“Oh mereka masih memakainya wahai mutiara wanita. Meskipun hanya pada saat-saat tertentu saja. Misalnya untuk mengenang semua jasa-jasa anda. Kebaya-kebaya wanita masa depan juga bermacam-macam. Ada yang lengan panjang, pendek, berwarna-warni, ataupun yang tipis dan tembus pandang juga ada.”

“Tembus pandang? Maksud anda mereka memakai kebaya yang bisa memperlihatkan tubuh mereka?” dengan sedikit gusar Kartini bertanya pada Aeval.

“Tebakan anda benar. Kadang-kadang mereka memakai kebaya yang hanya setipis kulit ari sehingga tidak mampu menyembunyikan tubuh wanita yang memakainya.”

“Aduh aduh aduh. Apa mereka tidak merasa malu? Apa mereka tidak takut kalo terjadi apa-apa?” Kartini bertanya dengan suara gemetar.

“Bahkan mereka bangga dengan hal itu. Mereka berjalan-jalan di pasar-pasar dan di jalan-jalan dengan pakaian seperti itu.”

“Oh tidak. Lalu apa hal ini tidak menimbulkan reaksi dari kaum pria?”

“Para pria di jaman itu tidak bisa berbuat apa-apa. Jikalau mereka memandang bagian-bagian yang terbuka itu, dengan semerta-merta para wanita bisa memenjarakan mereka atau menempeleng mereka dengan alasan pelecehan seksual.”

“Oh Tuhanku, selamatkanlah aku dari hal-hal seperti itu.” Kartini bergumam sambil menengadah memandang pucuk gapura batu.

“Sebaliknya, mereka menganggap andalah yang membuat diri mereka seperti itu.”

“Oh tidak. Tidak. Tuhan lindungilah saya dari segala dosa-dosa yang tidak saya perbuat. Saya tidak pernah mengajarkan hal-hal seperti itu Tuan. Sama sekali tidak terbersit dari mimpi terburuk saya jikalau hal ini bisa terjadi di masa mendatang,” dengan suara yang parau Kartini meneruskan kata-katanya, “Tuan, saya merasa tidak sanggup lagi meneruskan perbincangan ini. Saya hanya ingin bertanya untuk yang terakhir kalinya sebelum saya mempersilahkan Tuan pergi.”

“Saya persilahkan anda mengajukan pertanyaan itu,” dengan halus Aeval menjawab.

Setelah menarik nafas dan menguatkan hatinya Kartini kembali bertanya, “Mengapa hal seperti ini dibiarkan saja oleh para pria di masa itu Tuan? Mengapa mereka tidak melindungi kaum wanita dari hal-hal seperti itu?” Kartini mengalihkan pandangan dari Aeval untuk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

“Wahai Kartini yang mulia, para pria pada masa itu hanya bisa pasrah saja menerima nasib mereka. Dengan bersenjatakan emansipasi, mereka membungkam mulut dan membelenggu kaki kaum pria. Pada jaman itu semakin banyak bayi-bayi yang tidak disusui ibunya dan unen-unen (lagu berisi petuah) tidak lagi bergema dalam rumah-rumah beton mereka,” setelah menjawab pertanyaan Kartini itu Aeval segera berdesir menghilang tanpa mengucapkan salam.

Kartini diam mematung memandang Panji yang sedang memandikan ayam jagonya. Ia berkali-kali menghela nafas panjang untuk memadamkan benaknya yang bergolak dan berkobar.

Tinggalkan Komentar