KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Bunda, Maafkan Nanda

Suasana di asrama siang ini sangat sepi. Padahal tadi pagi masih ada tawa disini, masih banyak teman-temanku, sedangkan sekarang cuma ada aku di asrama ini. Aku benar-benar merasa kesepian, aku tak tahu harus berbuat apa, aku ingin bercerita tapi pada siapa ? Di sini cuma ada aku dan dipan-dipan kosong yang ditinggalkan penghuninya. Karena tidak tahu apa yang harus kuperbuat akhirnya kuputuskan untuk menulis saja di pustaka sekolah. Walaupun libur begini perpustakaan tetap buka.

Malam tak lagi indah

 

Bintang tak lagi berkerlip

 

Bintang sudah kabur

 

Saat aku sudah berdebu

Ah.. susah. Sudah berkali-kali kurangkai kata dan kutuliskan, tapi lagi-lagi tombol delete kupencet. Kubiarkan panel mouse bergerak-gerak sendiri, aku sedang berusaha melukiskan kegalauan yang hadir di hatiku. Ku ingin dunia tahu tentang kisah gundahku, ku ingin punya tempat tuk berbagi, ku ingin ada kunang-kunang yang bisa sedikit terangi malam agar ku bisa melihat siluet kerlipan bintang, agar ku bisa berbangga hati pada air yang lain bahwa bintangku masih tersenyum bangga walaupun aku sudah berdebu.

“Wow… ada yang berdebu neh.”

Aku menoleh, dan tersenyum lemas. Rasanya bibir ini tak mau ditarik walau hanya untuk tersenyum simpul. Hafidz berdiri saja di depanku. Tak enak dengan Hafidz langsung saja kututup file yang sedang terbuka. Sempat dilihatnya kata-kata yang belum sempat kuhapus, ‘saat ku beranjak dewasa,ada cinta yang kabur…’

“Eh Hafidz, ngapain ke sini?” tanyaku pada Hafidz yang baru datang. Dia adik kelasku. Seorang hafidz, sama seperti namanya.

Hafidz hanya tersenyum dan menatapku selayang tapi penuh arti.

“Gak pulang?” sambungku.

“Gak Kak. Pengen ngerasaain libur di asrama. Kakak sendiri gak pulang?” tanyanya.

Hanya gelengan yang kuberikan untuk menjawab pertanyaannya, aku lagi malas bicara. Kalau saja aku tidak segan dengan Hafidz mungkin sudah kuhardik, karena mengganggu konsentrasiku.

“Eh Kak, kalau mau nulis kenapa di perpus!” ucapnya sambil membuka folder yang baru saja kututup. Kubiarkan dia membuka kembali folder-folderku,  ada banyak file di sana. Dia membaca satu per satu file-fileku.

“Lagi ada masalah Kak?” tanyanya sambil membaca puisi-puisiku. Aku hanya mengangguk. Aku tak tahu Hafidz melihatku mengangguk atau tidak. Terserah pikirku. Sebenarnya saat ini aku tak ingin diganggu, aku ingin sendiri, bermain dengan khayalan indah tentang kemesraan di rumah. Sayang, saat aku beranjak remaja aku mulai menyadari bahwa orang tuaku adalah orang yang punya jam terbang tinggi.

Aku kembali sibuk dengan pikiranku. Saat ini aku ingin pulang. Rindu rasanya untuk kembali ke kampung halaman, setelah dua tahun aku berusaha bertahan, membetahkan diri tinggal jauh dari orang tua.

Tak kupungkiri memang, saat ini aku sangat merindukan orang tuaku. Aku ingin dipeluk Bunda, aku ingin seperti teman-temanku yang sering dikunjungi oleh orang tua mereka. Memang alasanku dulu berangkat ke pondok ini agar bisa jauh dari orang tuaku yang selalu sibuk dengan urusan mereka, sehingga aku tak punya waktu lagi untuk berbagi kisah bersamanya, yang selalu menyalahkanku atas semua perbuatanku.

“Kak…!”

Hafidz mengejutkanku lagi. Dia menarik ujung jilbabku. Mungkin sudah dari tadi dia memanggilku. Kulihat komputer sudah dimatikannya.

Aku meringis sambil memperbaiki jilbabku.

“Ada apa Fidz?” tanyaku. Agak keras memang, mungkin gema suaraku terdengar ke seluruh ruangan pustaka ini.

“Sssst… suara Kakak keras banget! Ntar bikin hantu sekolah pada bangun lagi Kak.”

Aku pun tersenyum mendengar guyonannya. Anak ini paling pintar membuatku tersenyum lagi. Ia sudah tahu banyak tentangku. Walaupun masih ada beberapa hal yang masih kututupi darinya.

“Kak kenapa gak pulang ?” tanyanya lagi.

“Kakak lagi malas, Fidz.”

“Malas kenapa Kak? Andai rumahku dekat,  aku pasti pulang Kak!”

“O ya… ”

“Kakak gak kangen sama orang tua ya, Kak?”

“Kangen seh, tapi Kakak malas ketemu mereka.”

“Kakak tuh kenapa sih, emang Kakak lagi ada masalah sama orang tua? Gak kan Kak?”

“Iya Fidz, Kak benci pulang.”

“Kenapa Kak?”

“Rumah bagi Kakak adalah neraka. Ada Abang yang selalu bikin masalah, ada Ayah dan Bunda yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai mereka tidak ada waktu buat Kakak. Saat kami bertemu hanya kemarahan yang Kak dapatkan karena perbuatan Kak tak sejalan dengan pikiran mereka.”

“Sampai segitunya Kak? Aku rasa gak deh Kak, perasaan Kakak aja kali.”

“Ya… begitulah.”

“Kak, aku yakin orang tua Kakak sangat sayang sama Kakak.”

“Yah, buktinya mereka tak punya waktu untuk Kakak, Fidz. Kakak merasa kehilangan mereka sejak Kakak masuk MTsN.”

“Kak, Hafidz tahu pasti kecewa banget kurang perhatian dari orang tua, tapi hal yang pertama kali yang harus Kak ingat, Kakak masih punya orang tua. Bagaimana dengan orang-orang yang dah gak punya orang tua lagi Kak,  sehingga mereka tak punya tempat untuk berbagi kisah mereka dengan orang tua.”

“Tapi Fidz, walaupun Kak punya orang tua, mereka gak pernah mau mendengarkan keinginan Kak, mereka selalu saja memaksakan kehendak mereka. Kakak benci, Fidz.”

“Hafidz rasa tidak begitu Kak. Hafidz yakin sebagai anak satu-satunya, ortu Kakak memaksa Kakak untuk bisa menjadi yang terbaik.”

“Apa iya begitu, tapi kenapa harus dipaksa?”

“Kak, Hafidz tahu itu berat, tapi kenapa Kakak tidak mencoba untuk berbagi dan sharing dengan mereka? ”

“Berat Fidz, Kakak masih trauma.”

“Kak, coba buka hati dan mata Kakak. Sayangi mereka. Coba Kakak turuti kemauan mereka. Kan gak ada orang yang menunjukkan anaknya ke jalan yang salah, Kak. ”

“Yah, Kakak tidak mampu, Fidz.”

“Berarti Kakak masih dendam pada ortu Kakak dong.”

“Entahlah Fidz.”

“Kalau Kakak gak pulang, kakak ada gak nelpon orang tua Kakak?”

“Belum, Fidz”

“Coba deh Kakak telpon !”

“Malas, Fidz!”

“Kak, bagaimana keadaan bisa berubah sedangkan Kakak sendiri tidak berusaha untuk memperbaikinya. Kak, Hafidz minta Kakak pulang ya. Hafidz yakin orang tua Kakak saat ini sangat rindu pada Kakak.”

“Benarkah itu, Fidz?”

“Ya Kak, andai semua tak lebih baik, Kakak cepat aja ke sini, atau hubungi Hafidz. Hafidz akan tetap bantu Kakak.”

Thank’s adikku, Kakak akan memikirkannya dulu.”

**********

   ”Alya, kamu kapan pulang? bunda sudah kangen sama kamu!”

Suara bunda ditelpon terdengar merajuk. Aku terdiam sejenak membayangkan wajah bunda yang sudah dua tahun terakhir ini kutinggalkan, sejak aku memutuskan masuk pondok ini, sebuah keputusan yang berat memang. Tapi dari pada aku harus tinggal dirumah, kurasa dipondok lebih baik.

Lalu perlahan-lahan kenangan-kenangan bersama keluargaku dirumah mengambang dipelupuk mataku. Terbayang bagaimana kesibukan rumah kami setiap hari, Dulu, saat aku masih sekolah dasar aku masih bisa ikut dengan Bunda dan Ayah kemana saja mereka pergi, Karena masih memungkinkan, tapi saat aku mulai masuk MTsN itu tak mungkin lagi. Aku sudah malu selalu berada disamping bunda. Tapi aku merasa ada yang hilang. Bahkan saat pulang sekolah sekalipun

” Al, nanti siang Bunda sama ayah ada rapat di kantor DIKNAS ” kata bunda waktu itu. ” Al, nanti siang bunda ga’ ada dirumah ada acara dirumah buk Narti. ” kata bunda diwaktu yang lain. Dan berbagai pesan-pesan lainnya. Dan itu terjadi hampir setiap hari.

Padahal aku ingin bercerita pada bunda tentang pelajaranku, teman-teman baruku di MTsN, aku ingin bertanya tentang pelajaran-pelajaran yang tidak kumengerti. Tapi sekarang tak ada lagi waktu bunda untuk itu. Kami hanya berjumpa dimalam hari saat ayah dan bunda baru pulang dari urusan mereka yang tidak kuketahui. Sama-sama kita ketahui hal yang paling dibutuhkan oleh remaja dimasa pancaroba adalah  kasih sayang, arahan, waktu untuk bersama, waktu untuk berbagi cerita, sepele memang, tapi kedua orang tuaku terlalu sibuk dan mengganggap itu sepepe,

Dulu aku juga menganggap itu semua sepele, jika kedua orang tua tidak perhatian padaku, “ya udah, kenapa tidak mecari perhatian yang lain saja” pikirku waktu itu. dan akupun mencari pelarian keluar rumah, akibatnya aku jadi anak yang nakal, aku suka keluar rumah, suka main diCafe, suka telfon-telfonan, suka mentraktir teman-teman. Karena apa ?, karena tak ada cinta dirumahku, setiap kesalahan yang kuperbuat akan selalu dijawab dengan kemarahan oleh kedua orang tuaku, dan nanti semua akan kembali lagi, akupun menjadi anak yang masa bodoh, aku merasa rumahku adalah neraka, tak ada kasih sayang, dan selanjutnya tingkahkupun semakin mejadi-jadi, nilai semakin merosot, perangai semakin tak terkendali.

Fikiran kedua orang tuakupun tak pernah sejalan denganku, karena kita tidak pernah berbagi, berbicara bersama, kedua orang tuaku selalu menjadikan sesuatu sebagai syarat untuk berubah, dan aku rasa itu bukan syarat, tapi itu ancaman. akhirnya aku menjadi orang yang tidak berprinsip, selalu salah, selalu dimarahi, padahal hati kecilku juga tak ingin berbuat salah. Aku juga ingin jadi anak yang berhasil, aku juga ingin jadi anak yang berbakti, aku juga ingin kedua orang tuaku berbahagia.

Dan begitulah kenyataan hidupku, Semakin hari Bunda dan ayah juga semakin sibuk walaupun aku terlihat cuek tapi sebenarnya hati ini sangat teriris, aku terlihat santai dan tak terusik, tapi itu hanya diluar semuanya mengganggu pikiranku. Aku bosan dicuekin, aku bosan selalu dimarahi, aku ingin kehidupan dineraka ini berakhir, aku ingin jauh dari orang tua dan aku ingin hidup bersama teman-teman. Yang bisa mengerti aku apa adanya. Dan Sebagai pelarian aku ingin sekolah jauh dari rumah, aku ingin tinggal disana, ditempat yang jauh dari orang tua, jauh dari teman-teman yang selama ini mengenal ku. Dan akhirnya kuputuskan memilih pondok ini.

” al, kamu kenapa diam ?” panggilan bunda ditelpon membuatku terkejut dari lamunanku.

” eh iya bunda ” jawabku tergagap.

” kamu maukan pulang ramadhan kali ini ? ” Tanya bunda lagi

” bunda, maaf ya. Ramadhan ini Alya agak sibuk, Alya dapat tugas turun kelapangan dan Alya juga mau focus buat ngafal disini bunda, kan bentar lagi mau ujian.” Kataku sesaat kemudian.

Bunda hanya diam, aku tak tau apa arti kebisuan bunda, entah apa yang ada dipikiran Bunda, mungkin bunda benar-benar ingin bertemu denganku. Sejujurnya aku juga ingin dan rindu bertemu dengan bunda, tapi aku tidak siap untuk itu.

” Al, pulanglah, bunda benar-benar ingin bertemu denganmu.”

” tapi… ”

” tapi apa Al? ” Aku terdiam, aku bimbang, haruskah aku pulang, atau tetap di asrama, bagaimanapun juga aku tak mau dibilang sebagai anak durhaka, aku juga ingin sungkeman dengan orang tuaku. Tapi, akankah semua keadaan sudah berubah? Akankah aku harus kesepian dan tinggal sendiri dirumah.

” bunda, maafkan Alya ya, Alya benar-benar ga’ bisa pulang ” putusku akhirnya, aku benar-benar belum siap untuk pulang, aku tidak yakin nanti akan bisa menemukan kasih sayang kedua orang tuaku dirumah.

” ya udah terserah kamulah, rajin-rajin belajar ya nak. Bunda kangen kamu”

hanya itu kalimat terakhir bunda, sebelum akhirnya beliau mengucapkan salam dan menutup telepon. ada nada kecewa disuaranya, tapi apa boleh buat, aku benar-benar tak bisa. Hatiku masih galau.

Malam telah merangkak ke titik nadir, ketika kurasakan mataku belum juga bisa terpejam, aku masih teringat pembicaraan dengan bunda ditelepon tadi. Suara bunda terdengan sangat mengharap, dan penuh nada kecewa, terbayang dipelupuk mataku wajah lelahnya.

**********

“Fidz, Kakak mau pulang kampung secepatnya.” Kukabarkan pada Hafidz keputusanku, sebuah keputusan yang sangat berat kupilih.

“Jadi pulang neh, Kak? Katanya mau jadi penghuni setia asrama kayak tahun lalu!” katanya menggodaku

“Gak jadi deh, Fidz. Kakak mau pulang, kakak benar-benar kangen dengan Bunda,” jawabku sambil tersenyum simpul. Pulang saat ini adalah hal yang terpenting dalam hidupku. Betapa tidak. Tak pernah dalam tertulis dalam memori hidupku Bunda mengatakan rindu padaku, dan hari ini bunda memintaku pulang, dengan alasan dia rindu padaku.

” Yah, jadi Hafidz gak punya teman ngobrol dong!”

” Ya udah, kamu puas-puasin aja cerita sore ini.”

“Gak deh, met bersenang-senang, Kak. Ntar cerita ke Hafidz lagi ya, Kak. Moga semuanya menjadi lebih baik, Kakakku.”

“Ya deh, Fidz. Miss you, Adikku.”

Itu pembicaraanku dengan Hafidz sebelum pulang ke kampung. Walau masih ada galau dan kesangsian di hatiku, aku akan mencoba merubah segalanya. Dan kembali ke pondok ini dengan keadaan yang lebih baik yaitu cinta Ayah Bunda.

 

**********

kerlip bintang sudah kabur

 

tapi ku yakin ia masih tetap berkerlip untukku

 

dan akupun percaya kunang-kunang

 

akan membantuku melihat kerlip bintang

Malam terlihat gelap, tak ada rembulan di langit, dan tak satu bintang pun yang berkerlip manja, tapi ku yakin itu hanya tertutup kabut. Aku tertegun setelah sekian lama tak melihatnya. Ada sesuatu yang bergemuruh di dadaku saat duduk di samping Bunda. Tubuhnya yang semakin kurus, kelopak matanya yang semakin menghitam dan sebagian rambutnya yang mulai memutih. Semua terlihat asing di mataku.

Sejak kedatanganku tadi pagi, kulihat Bunda begitu senangnya. Ia sangat bahagia, seiris senyum tergambar di muka keriputnya. Aku merasa Bunda sangat berbeda. Sepertinya ia sudah jarang keluar rumah, terlihat dari wajahnya yang semakin pucat, mungkin kurang terkena cahaya matahari, dan matanya yang menghitam .

Kata Ayah, Buda sekarang menderita Diabetes Militus. Bunda sangat menderita, apalagi semenjak Abang memutuskan untuk berhenti kuliah dan memilih tinggal di rumah.

“Al, Bunda minta maaf ya. Bunda tidak mengerti kenapa kamu begitu berubah semenjak meningkat remaja? Apakah ini semua terjadi karena Bunda terlalu sibuk dengan urusan-urusan Bunda?”

Aku terdiam. Kulihat mata bening Bunda mengerjap. Ada air mata yang terjatuh, ia berusaha menahan air matanya.

“Bunda…,” ujarku dengan nafas sesak. Langsung saja kupeluk erat badan Bunda. Rasanya sangat kecil, kurasa hanya kulit yang tinggal sebagai pembalut tulang Bunda, tak ada lagi daging di sana.

“Bunda, sudahlah, semua sudah terjadi”" ungkapku kemudian. “Tak ada yang perlu disesali. Maafkan Alya, Bunda, yang selalu egois meminta Bunda memenuhi semua permintaan Alya. Sekarang baru Alya sadari bahwa tindakan Alya salah.”

“Al, Bunda hanya ingin menjadikan kamu seorang yang mahir dalam ilmu dunia dan akhirat. Bunda ingin kamu bisa pintar Al, dan kamu bisa menjadi contoh tauladan.”

Keheningan merebak sejenak dan air mata Bunda semakin meleleh.

“Bunda, maafkan Alya. Dulu Alya pikir, Ibunda selalu memarahi Alya karena Bunda benci Alya. Tapi hari ini Alya sadar, Bunda melakukan semua ini demi masa depan Alya. Makasih, Bunda.”

“Al, saat ini cuma kamu harapan Bunda. Abangmu telah gagal, sekarang ia sudah berhenti kuliah. Ia hanya menghabiskan hari dengan rokok, TV, dan motornya. Bunda tak ingin itu terjadi padamu, Al. Bunda sadar, abangmu berbuat begitu karena terlalu kami manja dan sekarang kami ingin merubah semuanya untukmu. Akankah Bunda terlambat, Sayang, jika Bunda ingin selalu berada di sisimu.”

Keheningan tercipta di antara kami. Rasanya aku tak percaya mendengar kata-kata Bunda. Tarikan nafas Bunda sudah bercampur dengan isak tangis, juga suara nafasku yang semakin sesak.

“Al, Bunda sayang kamu. Dua tahun kamu di pondok, Bunda merasa kehilangan satu sosok yang sangat Bunda cintai.”

“Tapi kenapa Bunda tak pernah menelponku?” sesalku kemudian.

“Bukan Bunda tak pernah ingat padamu, hanya saja Bunda tak ingin mengusikmu, dan Bunda tak ingin kau tahu tentang kesusahan Bunda. Bunda ingin kau serius untuk belajar, Al.”

“Al, Bunda harap kamu mau menghabiskan hari-hari bersama Bunda sebelum Bunda pergi. Dan satu pesan Bunda, berusahalah mengajak abangmu, mungkin Bunda tak lama lagi menemani kalian.”

 **********

Tanah pekuburan yang masih merah terlihat basah. Hujan baru saja reda, bersama dengan selesainya pemakaman Bunda. Langit masih menyisakan mendung, seperti mendung yang masih tersisa di hatiku.

Hari ini telah kembali lagi satu orang yang sanagt kucintai ke hadapan Rabbi. Sayang di tahun-tahun terakhir kehidupannya, aku membuat jarak dengannya.

“Bunda, maafkan aku,” ucapku lirih. Aku tak akan membuatmu kecewa lagi dan menanggung ribuan beban. Aku yakin, malam ini aku akan kembali melihat kerlip bintang. Dan andai esok jika kerlip bintang menjadi kabur, aku yakin akan ada kunang-kunang yang membantu terangi jalanku menuju muara terindah.

Ujung Gantink, 071207

 

Kutulis cerita ini untuk bintangku

 

Yang cahayanya tertutup kabut

 

Tapi kuyakin ia tetap berkerlip

 

Dan untuk

 

Kunang-kunang yang bantu terangi jalanku

4 Responses to “Bunda, Maafkan Nanda”

  1. on 15 Nov 2008 at 15:52LoveNdream

    Qm anak mTSN padang panjang bkan??
    Crtnya khas tsanawiyah bgt,,bhsnya jg khas..

  2. on 15 Nov 2008 at 18:37izpo

    qt berdua hmpir sma.
    qmu khlgn bunda,dan aku kehilangan ayah..
    ttp semangat yh!!!

  3. on 24 Nov 2008 at 12:47Yoana

    Apa yang diberikan Allah pada makhluk-Nya merupakan sebuah anugrah yang tersembunyi…
    Tetap semangat…..I lyk ur story….made spirit on ma lyf…
    =]

  4. on 23 Nov 2009 at 10:57radhiyatul fajri

    http://www.kolomkita.com/2008/11/13/bunda-maafkan-nanda/#comment-5961

    hmm… bkan koq,,,
    emg tsnawiyah…
    byt not it…
    ne cm sekedar cerita pengobat rindu….

Tinggalkan Komentar