KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Aku Pergi Dulu

“Donna hentikan semua ini…!” Aku menjerit sekuat tenagaku.

Donna terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku kasihan lalu aku diam saja tak ingin melukainya.

Donna putri seorang konglomerat, cantik, anggun dan ramah. Tak ada kekurangan padanya. Segala yang diminta selalu dikabulkan orangtuanya. Apapun tersedia.

Dia minta rumah di dekat kampus, diberi. Minta mobil agar bisa lebih cepat ke kampus dan bisa hangout dengan temannya, diberi. Minta pembantu menemaninya, diberi. Apapun itu diberi.

Sejak dia kuliah, langsung diberi rumah dan dia selalu mengadakan party kapan saja dia mau. Pastinya party identik dengan alkohol. Saat ini memang dia tak menyentuh narkoba, ya untung sekali.

“Hei kalian yang diatas!” Dia yang di bawah mulai menjerit, kami semua menoleh.

“Aku ga kuat lagi. Sakit rasanya. Panas…perih…!” Dia menangis, merintih.

Kasihan dia.

“Wahai perut, engkau baru dua tahun ini merasakan sakit. Sedang kami yang di atas sejak dia SMP sudah menderita, tau!”

Otak mewakili perasaan kami yang selalu bersedih dan tersiksa. Aku tahu sedihnya Perut. Dia harus berjuang mengolah alkohol, zat kimia yang bila bercampur dengan asam lambung akan panas dan meletup-letup maka saat mengenai dinding usus akan terasa perih. Padahal Perut hanya bertugas mengolah makanan agar halus lalu menyebarkan vitaminnya melalui darah. Kasihan dia.

“Uh…Uh…Uh…” Terdengar isak dari bawah sana. Semua anggota melihat ke bawah dan bertanya-tanya ada apa gerangan.

Anus menangis sejadi-jadinya. Ternyata inilah klimaks dari kehidupan Donna, selama dua tahun ini. Tapi kurasa Donna takkan bersedih, dia akan anggap itu biasa karena kami yang berada di atas terutama Mulut sudah beberapa kali mengeluarkan darah dan dia tak menggubris itu.

“Loh! Katanya mau mengurangi rokok!” Terdengar oleh Telinga seorang bapak paruh baya berbicara pada Donna.

“Ya Om, ini saja sudah dikurangi jadi setengah bungkus,” elaknya dan masih tetap mengisap rokok itu.

Bagaimana mau mengurangi yang dibawa satu bungkus, kalau kurang jelas dihabisin rokok yang sebungkus.

“Sejak kapan sudah merokok?” tanya om yang bertemu dengan Donna di seminar kesehatan ini. Mereka sedang rest sehingga Donna punya kesempatan untuk merokok.

“Ya, jauh banget Om. Mungkin SMP Om.”

“Boleh tahu kenapa?”

“Masalah pribadi gitu Om.”

“Oh…!”

Om itu tak melanjutkan pertanyaannya karena terlihat dari gelagat Donna yang enggan bercerita dan terus saja menghisap rokok itu.

Meski papinya seorang pengusaha yang luar biasa sukses tapi kesuksesan tidak didapat dalam hubungan keluarga. Donna sering melihat kedua orangtuanya beradu mulut dan papinya yang seharusnya jadi pelindung keluarga justru menampar, memukul Mami sampai tersungkur. Hal ini selalu terjadi di depan matanya.

Dia sayang pada Mami dan berupaya membelanya, pernah pula dia memarahi Papi. Akhirnya terjadi juga perceraian.

Donna sering menceritakan masalahnya pada teman-teman sekolahnya tapi tak satupun yang memberi jalan keluar. Perceraian terjadi dan hak asuh anak jatuh pada Papi atas Abang, Adik dan dirinya. Donna merasa hidup ini sudah tak benar. Dia berusaha menghibur diri dengan merokok sembunyi-sembunyi. Lagipula Papi juga perokok berat, begitulah batin Donna membela dirinya sendiri.

Sudah tujuh tahun dia bergelut dengan masalah yang dia pikir selesai dengan merokok. Meski dia pernah belajar tentang bahaya rokok di SMU tapi itu hanya angin lalu baginya.

Aku masih ingat cerita ibu guru Biologi Donna yang selalu diceritakan Otak pada kami saat Donna tertidur lelap. Untung otak tetap terjaga menemani kami.

“Bagaimana cara kita menyadarkan Donna?” Otak mulai bertanya dan kami, Tenggorokan, Kerongkongan, Mulut, Mata, Telinga, aku, si Paru-paru, Perut, dan yang lainnya hanya diam.

“Meski Donna menghisap rokok putih tapi itu sama berbahayanya dengan rokok filter dan cerutu. Ada 4000 zat kimia yang terkandung didalamnya. Beberapa di antaranya Nikotin, Tar, dan Karbonmonoksida.” Otak menjelaskan semua yang pernah tersimpan di memorinya.

Dari kami semua hanya dia yang terpintar dan kami semua tunduk padanya. Apapun yang diperintahnya akan kami lakukan.

“Nikotin dalam asap rokok cuma butuh 10 detik untuk masuk ke rumahku, otak Donna. Nikotin juga meresap melalui kulit meski tak dinyalakan hanya dipegang, dihirup dan diendus, Nikotin sudah masuk.”

“Aku memang senang beberapa saat karena Nikotin merangsang pelepasan Dopamine, zat yang ada di dalamku yang membangkitkan perasaan senang dan tenang. Selesai merokok, Dopamine berkurang drastis dan aku merasa ketagihan maka kuperintahkan Mulut untuk merokok lagi. Memang ini juga salahku,” sesalnya.

“Berkali-kali aku sudah bilang padanya, “singkirkan rokokmu”. Tapi tak pernah didengar. Mungkin karena zat-zat itu sudah mendarah daging sehingga aku diabaikan.”

“Sebenarnya salah satu yang membuat zat dopamine meningkat adalah oksigen yang banyak. Hirup udara panjang, hembuskan perlahan. Aku akan lebih tenang dan bisa berpikir jernih.”

“Berarti bisa dengan olahraga ya!” Aku mulai beri pendapat.

“Ya, itu yang paling efektf. Olahraga dapat meningkatkan dayamu, Paru-paru, untuk menghirup udara bahkan meningkatkan kekebalan tubuh.”

“Ada juga alternatif lain, misalnya kunyah permen mint atau jahe. Saat menghirup udara akan terasa lebih plong. Ada lagi yang lain dengan makan coklat. Dia otomatis merangsang pelepasan zat-zat kimia dalam tubuh salah satunya Dopamine.”

“Itu kan jadi masalah baru buatku.” Mulut tak setuju.

“Iya aku juga.” Gigi ikut serta.

“Kan sudah kubilang itu hanya alternatif. Yang paling murah dan mudah, hirup udara di sekitar pohon hijau, bunga atau rumput juga boleh.”

“Bagaimana kalau setiap kita lihat tumbuhan dan tanaman kita minta Hidung untuk menghirup udara pasti lebih segar. Setuju?”

“SETUJU…”

Kesepakatan yang baik tapi bagaimana mau dilakukan, yang punya tubuh kan Donna bahkan Otak kalah kuat.

Dasar Donna, di manapun kapanpun dia masih saja menghisap rokok. Di taman kampusnya yang hijau ini, rokok tak henti mengepul.

“Duh…pandanganku sudah ga jelas nih!” Mata mulai berkedip-kedip agar air mata tetap keluar melembabkan karena asap-asap itu selalu menggelayut di depannya.

“Tolong aku! Sorry ya Paru, aku cuma sedikit bisa menghirup oksigen dari taman ini untukmu.” Hidung, rekan sejawatkupun mulai berkeluh.

“Uhuk…Uhuk…” Si Mulut mulai terbatuk-batuk kecil akibat dorongan lendir dari tenggorokan yang ingin segera keluar karena disesaki asap.

Sebenarnya yang paling parah hidupnya adalah aku. Meski aku diam tapi sesekali aku juga marah dengan keadaan ini. Itulah saat Donna mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku kasihan melihat rumahku. Lumbung-lumbung udara yang biasa disebut bronchiolus berbentuk bulatan-bulatan kecil yang selalu berkembang sesuai umur Donna, sepertiganya sudah menghitam begitu juga bronkusnya. Kiri-kanan, atas-bawah bahkan beberapa batang bronkus sudah menghitam. Apakah yang dapat kulakukan, rumahku sudah kotor saat aku sudah tak tahan aku akan menjerit, ya menjerit. Aku tak perduli mau Donna mati sekali pun, biarlah.

Alkohol dan rokok tak pernah berkurang dikonsumsinya dan bahkan sekarang rokok menjadi makanan wajib baginya, 2 bungkus sehari dan akohol adalah minuman wajib selesai merokok dan makan apapun.

Sebenarnya aku tak ingin mengungkit diskriminasi anggota tubuh tapi kalau sudah begini, rasanya aku ingin sekali keluar dari sekat tulang dada lalu berdiri didepannya dan berkata,

“Kau tak punya mata tak apa, masih ada kaki dan insting. Kau tak punya telinga masih punya mulut untuk bersuara dan tangan untuk belajar braile. Kau tak punya hidung tak apa, dokter masih bisa operasi kamu untuk lubang pernafasan. Atau sekalian tak punya apapun yang ada di luar ini, tak apa, papimu punya banyak uang, dia bisa membeli semua itu. Aku, paru-paru mau dibeli di mana? Otak mau dibeli di mana? Jantung? Apa kau mau jantungmu diganti jadi jantung babi? Sadarlah!”

Aku ingin sekali menguncang tubuhnya agar jiwanya tersadar. Ingin sekali.

“Hei lihat…Donna mau merokok lagi.”

Mata mengumumkan apa yang dilihatnya, kami semua bersiap-siap menghadapi serangan meski tak jarang tetap saja kalah.

“Tunggu, tunggu…, kertas pembungkus batangan rokok dibuka lalu dibuang sebagian.”

“Baguslah, berarti dia hanya merokok setengah.”

“Ga! Dia ambil tembakau yang ada di bungkusan lain. Hampir sama bentuknya, aku tak begitu bisa membedakannya.”

“Ya sama aja!” Kami mengeluh.

“Trus digulung. Siap-siap ya 1…2…3… Rokok menyala!”

Kami mencoba bertahan tapi kok rasanya sedikit lain ya. Bau asap ini beda, dia membuatku terlena, Otak juga mulai bergumam tak jelas, Mata juga mulai terpesona dengan asap-asap itu. Ada apa ini?

“Don…! Bagi dong ganjanya!” Seorang cowok, temannya, berteriak dan kami tersentak.

“GANJA…?” Ampun…! Dia sudah mulai mencoba salah satu jenis narkoba itu. Apalagi yang akan dicobanya? Apa yang kurang dari dirinya? Semua sudah tersedia kenapa harus merusak diri dan membunuh kami pelan-pelan.

Kalau diingat-ingat kami tak pernah buat salah padanya, kami selalu lakukan tugas dengan baik. Aku tak pernah berhenti mengolah oksigen untuknya agar tetap hidup dan menyalurkan ke otak, jantung dan darah. Bahkan saat dia tidur aku bekerja terus.

Otak tak pernah berhenti berpikir. Satu hari dia bisa punya pikiran macam-macam, kira-kira 60.000 yang datang silih berganti dan dia selalu sharing dengan kami. Jantung tak pernah berhenti berdetak selalu mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Perut tak pernah berhenti mengolah, saat mulut tak memasukkan apapun dia mengolah sisa makanan yang masih ada di lambung.

Lalu apa yang membuatnya ingin membunuh kami?

Kalau mau mati, bunuh diri saja sekalian kami tidak tersiksa dengan semua ini. Tapi sebenarnya aku sangat berharap dia berubah hilangkan atau minimal kurangi kebiasaan itu.

“Teman-teman sepertinya kita bertambah lemah.” Otak membuka pembicaraan serius.

“Baiklah kita habiskan hari kita dengan bercerita. Ceritakan apa yang terjadi pada kalian agar kita dapat mengambil solusi bersama-sama.”

“Aku sudah dijudge dokter terkena kanker paru-paru. Lihatlah rumahku sudah usang. Meski aku berusaha terus agar Donna tetap hidup tapi tak sebaik yang dulu.”

Aku menceritakan tentang diriku yang sebulan yang lalu divonis kanker oleh dokter, seluruh isi tubuh ini tahu kabar itu.

“Aku sudah kecoklatan bahkan rapuh dan sedikit goyang, tidak kokoh lagi terkadang aku merasa nyeri bila makan.” Gigi pun menceritakan keadaannya.

“Ada bintik merah di mataku dan itu sangat mengganggu membuat pandanganku semakin kabur.” Mata punya masalah juga.

“Aku sudah tak bisa membedakan mana oksigen atau asap. Maaf bila zat-zat yang tak diinginkan masuk ya!”

“Lihat dindingku menipis dan mungkin tak berapa lama lagi akan bocor bagaimana ini? Jelas berbahaya kalau asam lambung bercampur dengan daging dan darah.” Hidung dan Usus bergantian mencurahkan segala masalahnya.

“Hei…! Kalian kenapa hanya mengingat diri sendiri?” Kami tersentak.

Kenapa ada yang berteriak begitu kerasnya.

“Lihat ini, ada embrio di sini tapi masih sangat muda.”

“APA…” Kami tersentak.

Rahim mengatakan dia sudah diisi janin. Ada apa ini, kami tak pernah tahu.

“Sejak kapan?” tanya Otak.

Sampai otak juga tak tahu hal ini, ternyata ada yang menghalangi informasi sampai ke sana.

“Baru sebulan umurnya. Jadi dia belum bisa bicara.”

“Kasihan anak ini, harus menghirup asap dan meminum alkohol. Ah…aku juga tak tahu bapaknya siapa?”

“APA…?” Lagi-lagi kami terkejut.

Donna punya anak di rahimnya dan Rahim tak tahu siapa yang menabur benih. Jelas rahim tidak tahu kalau Donna tak tahu dan Otak juga tak tahu.

“Bagaimana ini Otak, apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.

“Kita hanya bisa menunggu sampai anak itu lahir. Aku sudah tak bisa berpikir banyak. Neuron-neuronku banyak yang melemah dan melepaskan diri dari ikatannya jadi terkadang sulit untuk mencari solusi.” Ternyata Otak juga tak berfungsi dengan baik akhir-akhir ini.

Bulan sudah berganti, terus dan terus. Mata selalu memberitahukan sudah bulan keberapa si bayi dalam kandungan Donna karena mata selalu melihat kalender dan menghitungnya.

Sejak dua bulan lalu dia bisa berkomunikasi dengan kami karena semua sudah terbentuk dalam dirinya saat dia 6 bulan.

“Aku tak mau lahir!”

Kami terkejut, kok dia bicara begitu.

“Aku sudah tersiksa didalam sini dengan asap rokok dan alkohol yang diminum Ibu. Lagi pula dia tak pernah menanyakan kabarku. Dia tak pernah mengajakku bicara. Dia tak sayang aku.”

“Oh Adik kecil. Kamu sebentar lagi akan lahir, kamu anak yang cantik bahkan lebih cantik dari ibumu.”

“Karena itulah, bisa-bisa aku melakukan hal yang lebih tidak baik seperti ibuku lakukan dan kalau aku lahir…”

Bayi perempuan yang mungil dan cantik itu menghentikan ucapannya.

“Aku tak punya Bapak!” Sedikit menjerit.

Ya memang menyakitkan, dapat kurasakan perih itu.

“Lagi pula paru-paruku sudah tercemar. Kehitaman di sebagian tempat. Kalian tahu aku juga buta.”

“Apa? Buta?”

“Ya, aku tak pernah tahu bentuk kalian yang selalu mengajakku bicara tapi aku senang punya teman di sini. Lalu untuk apa aku lahir?”

Memang saat ini kami sudah memasuki tahap kehancuran dan bayi ini terlalu muda dengan kehancurannya. Apalah yang dapat kami lakukan. Hanya bisa mengajaknya ngobrol dan menenangkannya sesekali.

Sepertinya Donna akan bersalin. Terasa dia memaksaku untuk bekerja keras memasukkan oksigen lebih banyak. Si adik kecil juga diupayakan untuk keluar, tapi dia enggan.

Otak juga tak dapat berpikir, dia panik entah apa yang bergelayut dalam otaknya. Jantung juga memompa darah lebih dari yang seharusnya. Padahal kami sudah rentan, dia memaksa kami untuk bekerja lebih. Jelas kami tak sanggup.

“Wahai teman-teman. Lihat kita sudah kehabisan darah. Di luar sana darah sudah membanjir sedang si adik kecil tak juga mau keluar. Dia juga kekurangan darah. Sedang kita sudah tak sanggup membantu Donna.”

“Siapa yang masih kuat?” Otak bertanya.

“Aku tak sanggup lagi…!” Jantung bicara.

“Aku juga,” jawabku.

“Kami semua tak kuat!”

Semua menyerah, termasuk si Adik kecil.

“Baiklah, Jantung kau pergi terakhir. Adik kecil kamu bersamaan pergi bersama Jantung. Aku akan menenangkan diriku ke gelombang delta agar Donna lebih tenang dan merasa sedang tidur dalam mimpi. Paru-paru kau boleh pergi lebih dulu setelah Donna merasa tenang. Yang lain pergi bersamaan denganku sedetik setelah Jantung pergi. OK!”Otak memberi instruksi pada kami.

Maafkan kami Donna, bukan kami tak ingin menolongmu tapi kami juga tak berdaya. Anakmu saja tak ingin dilahirkan lalu apa yang dapat kami lakukan. Daripada kau dan kami meneruskan ini sedang hasilnya sama saja, kami juga tersiksa dengan usaha kami.

Donna aku pergi dulu. Mimpilah yang indah, di surga nanti kita akan bertemu…

============

Tubuh itu lemas tak berdaya didampingi seorang dukun yang membantu persalinannya. Tak ada sanak saudara yang mengelilingi, hanya darah yang menggenangi tubuhnya.

Dia pasrah dalam lelah, seolah tubuh itu berkata,

“Aku pergi dulu…”

4 Responses to “Aku Pergi Dulu”

  1. on 14 Nov 2008 at 18:29Roy Manu Leveran

    Lumayan tapi terlalu banyak dialognya …
    Tapi ttp keren koq…
    Salam kenal

    Laju Terus

    - R M L

  2. on 15 Nov 2008 at 10:02nha

    ga bagus bgt ceritanya,,,

    mles bgt bacanya,,,,

  3. on 19 Nov 2008 at 12:33dony SN

    cerita bagus..
    bahkan bagus kalo dsampaikan saat acara-acara kesehatan..
    jadi biar tiap orang tahu& menyadari sepenuhny akan bahaya merokok,alkohol, narkoba,bahkan seks bebas..
    tetap semangat bwt penulisny..
    chaaayooo..

  4. on 08 Dec 2008 at 11:12assattari

    ahahahhaha..
    gua jadi keinget karya animasi anak DKV tentang anak cewe SMU yang ngerokok di kamar mandi dan ketiduran terus mimpi si rokok itu..
    ceritanya mirip ama yang ini, tapi itu semua mimpi..

    keren juga, tapi kayaknya bahasan rumit2nya kurangin dikit biar lebih ringan bacanya, soalnya kata gua yang kaya gini harusnya bacaan yang ringan..

Tinggalkan Komentar