Abu-Abu Merah
November 13th, 2008 by bara
Turun dari angkot bau bensin, Darsih melenggangkan langkahnya hingga di ujung komplek. Ia melirik sekilas pohon pisang di tengah jalan yang ditanam warga kompleks sebagai wujud protes. Sejak keluar dari kantornya ia tak henti-hentinya meringis hingga mulutnya kaku. “Kurang dua bulan lagi dan kami bisa pindah dari rumah bobrok warisan penjajah itu,” gumamnya – mulutnya makin bertambah kaku lagi seperti sedang mengulum gips dokter gigi tua di ujung gang.
Sore ini entah kenapa ujung kompleks yang biasanya hanya dihuni para tukang ojek yang motornya berkaok-kaok seperti burung gagak itu menjadi ramai sekali. Mulai dari nenek-nenek peot hingga pedagang es puter numplek blek jadi satu. “Apakah Agustusan dimajukan menjadi Maretan ya,” katanya pelan. “Kok tumben komplek yang biasanya kayak kuburan jadi kayak pasar malem gini.”
“Anu Mas, ko tumben ya ramai?” tanya Darsih pada seorang pemuda berkumis lebat ala Pak Raden.
“Lho, Mbak ini ga tau ya? Di komplek sini tu sedang ada kebakaran lho,” jawab si mas sambil memonyongkan mulutnya.
“Wah ko tumben ya Mas, kalo banjir sih ya sudah jadi langganan. Lha ini ko tumben-tumbennya ada kebakaran segala, Memang kenapa kok sampe kebakaran segala mas?” tanya Darsih.
”Waduh saya juga baru tau kok kalo ada kebakaran di sini Mbak. Tapi kata para tukang ojek itu, kebakarannya karena ada yang nyolong listrik terus kongslet Mbak,” mas berkumis lebat itu monyong lagi.
“Di komplek sebelah mana kebakarannya Mas?” tanya Darsih lagi.
“Lha ini mau ke sana Mbak, tapi sih katanya tukang ojek itu kebakarannya di kompleks H Mbak,” mas kumisan itu tambah monyong lagi.
Kalimat terakhir yang masuk ke telinga Darsih itu menggelapkan matanya. Semua aktifitas otaknya berhenti seketika. Keheningan mengamuk di dalam benaknya. Berat nafasnya mencengkeram kuat Darsih. Seperti dalam lumpur hisap, kesadaran Darsih menggapai mencari cahaya.
“Duh Gusti Pangeran,” Darsih menjerit setelah kesadarannya kembali.
Adrenalin menerbangkan kedua kakinya kearah komplek H dimana rumah tuanya menggeletak. Darsih berlari berserabutan. Matanya mengabur. Kabur oleh air mata yang membuncah keluar dari kedua mata coklatnya. Kabur oleh seribu bayangan gelap dan mengerikan yang meronta-ronta dalam kepalanya. Darsih terus berlari berserabutan. Tanpa menyadari orang-orang yang menatap dan menunjuk dirinya. Tanpa menyadari sepatu hak tinggi hitam kesayangannya terlempar masuk parit.
Udara blok H sore itu begitu mencekat. Penuh terisi oleh panas dari rumah-rumah yang dilalap api. Di tambah lagi begitu banyak manusia-manusia penuh keringat yang berkerumun. Darsih yang biasanya penuh sopan-santun menerjang kerumunan para penonton. Suara-suara protes dari orang-orang yang ditabraknya atau makian dari orang-orang yang kakinya terinjak tidak digubrisnya. Tiga unit mobil pemadam kebakaran berhenti di pojok komplek H dimana deretan rumah-rumah tua berada. Suara sirene yang meraung-raung dan jerit orang-orang yang berteriak seakan makin menyemangati sang api untuk rakus melahap benda apa saja yang bisa diraihnya. Rumah-rumah tua itu semuanya berderak serempak. Berpuluh-puluh orang berlarian dan berteriak. Saling bertabrakan seperti domba-domba aduan. Tangisan, suara bising sirene, jeritan minta tolong, bahkan makian bergemuruh, beradu keras dengan gemuruh api. Puluhan pria tergopoh-gopoh mengoper ember-ember air. Tampak para pemadam kebakaran dengan muka masam membantu mengarahkan aliran ember-ember itu. Ketiga mobil pemadam merah itu diam seperti pria impoten yang muram tak berdaya ketika hidran di komplek itu macet.
Darsih melolong parau melihat rumah tuanya dimakan api. Seorang pria separuh baya memegang tangannya.”Sudahlah nak Darsih. Ikhlaslah nak,” pria yang penuh keringat dan jelaga itu berkata pelan.
Seperti orang gila Darsih tidak menghiraukan sekelilingnya. Matanya tetap melotot menatap kobaran api yang semakin membesar memakan rumahnya.
“Nyebut Nak Darsih, ikhlas Nak Darsih, eling Nak, eling.” Pria itu kembali berkata dengan suara lebih keras lagi.
Tubuh Darsih meregang, matanya menghitam, kemudian ia meronta melepaskan pegangan laki-laki itu, berlari dan melompat menerobos api.
Berada dalam api yang menyala bukanlah tempat dimana manusia diciptakan. Begitupun Darsih yang hanyalah buruh pabrik linting rokok merek lokal. Dia bukanlah nabi yang bisa menundukkan api lewat bibirnya. Deru api yang berkobar-kobar berkoar mengisi telinganya. Bau hangus rambut hitam panjangnya menghantam nostrilnya. Darsih mengisi paru-parunya dengan karbondioksida dan abu lalu berteriak sekuat tenaganya memanggil nama ibu dan anaknya.
Manusia adalah sesuatu yang istimewa. Keanehan dalam keajaiban. Darsih berdiri di ruang tamunya yang memekik dilalap api. Dia bukanlah Resi Hanoman yang sakti yang menari diatas api bagaikan ikan lele dalam kali. Dia juga bukan David Copperfield yang masih tetap mengulum senyum dalam kobaran api yang bersuhu ribuan derajat Celcius. Semua bagian tubuhnya merah meradang menahan panas yang memanggang. Tapi sekeping hati dalam dadanya dingin membeku seperti batu.
Saat berdiri di ruang tamu rumahnya, sang waktu seakan membuangnya ke dunia lain. Balok-balok kayu yang terbakar, dan genteng-genteng yang berjatuhan turun berlambat-lambat. Warna-warna merah dan biru yang menusuk matanya kini menjadi abu-abu seperti film-film bisu Charlie Chaplin. Lintasan ingatan-ingatan tentang ibunya yang tua dan anaknya yang masih kecil berseliweran, berhamburan, dan bertubrukan di dalam benaknya. Seperti serombongan semut yang liangnya kebanjiran. Suara-suara rumahnya yang terbakarpun kini tidak terdengar lagi. Yang ada hanya kesunyian yang ratusan kali lebih mengerikan daripada mendengar suara api yang mengunyah semua kenangan yang memadati rumah tuanya.
Di kamar paling belakang, ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan menggeliat karena tubuh rentanya mulai meleleh. Hangatnya pelukan ibunya kini merayap menyapu panas di tubuh Darsih. Ibunya telah menumpahkan bersungai-sungai darah dan air mata untuk membasuh dirinya. Ibunya adalah tiara yang bertengger di kepalanya. Seperti halnya helm para penambang emas yang menyala untuk menerangi hidup mereka. Ibunya adalah pondok tempat ia berteduh dari badai yang mengamuk merusak jiwa dan raganya. Ibunya adalah ajimat kehidupannya. Darsih akan berjuang mematahkan tulang diseluruh tubuhnya agar dapat membuat mulut keriput ibunya tersenyum. Kini Darsih berdiri, terbakar, dan bergemetaran meradang mendengar ibunya memekik-mekik dirajam api.
Di kamar lantai dua anak gadisnya yang baru saja masuk SD melolong memanggil namanya. Seluruh sel-sel ditubuhnya bergolak. Api yang membalutnya tidak mampu melelehkan dadanya yang sedingin kematian. Anaknya adalah separuh jiwanya. Paruh kehidupan yang dinaungi dengan peluh dan perih. Tambatan harapan dan kebanggaannya. Air bening yang membasuh semua kepenatan dan keputus-asaan yang kerap bertamu setelah suaminya meninggal lima tahun yang lalu. Suaranya yang berdering merdu adalah lonceng yang berdenting menyemangati kehidupannya. Suara anaknya yang sehalus kapas dihembus angin musim semi kini tinggal sayup-sayup ditelan api.
Apapun bentuk kehidupan yang ada di dunia ini harus melakukan satu hal. Satu hal yang menjadi dasar dari semua dasar kehidupan. Memilih. Hidup manusia adalah keping-keping pilihan yang berserakan di lantai takdir. Detik demi detik akan dihabiskan untuk memilih kepingan mana yang lebih bersinar dan lebih sesuai mengisi bingkai hidup yang tak seberapa lebar. Bahkan sampai detik penghujungpun manusia dengan tangannya yang gemetar terjulur meraih kepingan yang terakhirnya. Begitu pun Darsih. Ia tak punya waktu dan daya hidup untuk menyelamatkan kedua cahaya dalam kehidupannya. Ia harus memilih. Dan sayup-sayup jerit anak dan ibunya melesat, menerobos api yang menderu, menerpa kedua telinganya. Seperti Adam dan Hawa di depan pohon Khuldi. Darsih, buruh linting rokok itu harus memilih.
Secepat kilat ia berlari menuju kamar belakang. Kamar dimana ibunya yang sedang sakit berada. Ia berteriak-teriak memanggil-manggil nama ibunya. Gagang pintu merah membara melepuhkan telapak tangannya. Pintu itu tak mau terbuka. Sayup-sayup disela deru api Darsih mendengar suara ibunya merintih, “Ibu . . . ikhlas . . . Sih . . . Anakmu.” Dengan hati hancur Darsih berbalik, melesat ke lantai dua. Dia telah memilih.
Darsih berhenti menatap anak tangga yang berkobar-kobar. Saat itulah jerit melengking anaknya membelah api.
“Ibu datang Nak!’ Darsih berteriak seperti mencoba memadamkan api dengan suaranya. Seperti sufi-sufi India, Darsih berlari di atas bara. Sesampainya di lantai atas, dengan suara yang bergemuruh tangga di belakangnya rubuh.
“Minggir dari pintu Nak,” kata Darsih sebelum ia berlari menghunjamkan bahunya mendobrak pintu kamar anaknya. Pintu kayu itu rubuh dengan mudahnya. Darsih memeluk anaknya dan berlari meloncat menerjang jendela.
Ketenangan menyambutnya sesaat begitu tubuhnya menyentuh tanah. Tak dirasakan lagi panas yang membakar tubuhnya atau sakit yang menusuk kedua kakinya. Tak terdengar pula jerit orang-orang disekitarnya. Yang terdengar hanya tangisan anaknya memanggil-manggil namanya. Belum pernah ia merasakan kebahagiaan sebesar saat itu, merasakan keagungan daya hidup anaknya dalam pelukannya. Darsih tersenyum memandang muka anaknya yang hitam berjelaga. Tangannya terulur membelai rambut anaknya yang keriting terbakar. Sekarang ia dapat memejamkan mata dan merelakan kegelapan membawanya pergi.
Hikz,, kegelapan itu merenggutmu meninggalkan knangan yg bgitu kuat dlm hati anakmu.. Tentang seorang ibu yg rela menghempaskan jiwa demi mempertahankan cinta kpadanya.. Owh darsih…
salut banget…seorang ibu yang rela nyawa hilang demi keselamatn sang anak..aku jadi inget anakku nih…lagi apa ya dia di rumah..bentar lagi mamah pulang ya sayang….