Langit Senja
November 11th, 2008 by Fauzan Masri. Z
Lafal nama yang Maha Sempurna berkumandang di senja itu, pancaran cahaya merah di ufuk barat perlahan-lahan surut merambat mundur hingga tenggelam bersamaan dengan gema suara azan, menyapa nyaring pada telinga-telinga tuli dalam jiwa rapuh yang seakan mati saat sedang bernafas.
Mungkin saja langit masih asik bermesraan dengan bumi hingga diabaikannya jiwa-jiwa yang rapuh itu, jika tidak pastilah sudah diusir semua yang berlindung di bawah tujuh lapisanNya itu…
Dulu kamu datang membawa sajadah, dengan sandal jepit berbaju gamis kusam berdiri di lorong masjid ini. Sesekali tengah hari kamu datang, namun tak pernah tidak datang ketika subuh dan magrib. Dudukmu paling lama, paling lama di sini ketika senja hingga bintang bertaburan di langit malam, hingga melewati satu lagi kumandangan azan isa.
Masjid inilah yang membuat lusuh kain sarungmu, masjid inilah yang melumat habis malam panjangmu, di masjid ini juga kamu pernah tertawa, kamu pernah menangis. Pernah sekali kamu menangis di samping mimbar. Ketika itu si Nurul anakmu sakit parah, karena kanker ganas yang dideritanya. Namun merintih hatimu ketika itu mendapati secarik kertas penolakkan atas ketidakmampuanmu mencukupi biaya rumah sakit. Berlinang airmatamu dalam doa penuh harap.
Bertambah doamu di sini pada waktu sepertiga malam, ketika orang-orang tengah lelap dalam tidurnya, dan udara malam terasa amatlah dinginnya. Kamu berdoa untuk anakmu begitu selesai menunaikan shalat tahajud. Satu, dua, hingga banyak permintaan yang kamu ajukan, hingga duduk bersamamu seorang musyafir. Dia datang sedari sore menumpang berteduh di masjid ini. Kamu usik tidurnya dengan ratapan tangismu sambil tersedu-sedu berdoa meminta padaNya agar disembuhkan si Nurul dan ditambahkan serta dilebihkan rezeki untukmu.
Kamu tidak menyangka bukan! Seketika itu juga permintaanmu diberikan lewat musyafir yang datang ke negeri ini, yang saat itu duduk dan bertatap salam di sampingmu. Sejatinya dia adalah sukarelawan untuk beberapa bencana di negeri ini, namun karena jarak yang terlalu jauh dia beristirahat sejenak di sini.
Tersentuh nuraninya mendengar ceritamu, sehingga disempatkannya menyambangi rumahmu dan melihat si Nurul. Subuh itu juga si Nurul di bawa lagi ke rumah sakit dan meminta rujukan ke rumah sakit yang lebih memadai peralatannya, tentunya dengan biaya yang jauh dari dugaan hingga kemampuanmu.
Dengan iklas musyafir itu berkata padamu agar kamu tidak usah memikirkan biaya rumah sakit karena dia yang akan menanggung seluruhnya sampai kamu sekeluarga kembali pulang, tentunya ketika itu dengan harapan si Nurul sudah sembuh.
Beberapa minggu berikutnya kamu sudah kembali berada di sini bersama keluargamu yang sehat-sehat. Namun tidak hanya itu yang kamu peroleh, sejumlah uang untuk modal membuka lahan perkebunan karet sudah berada dalam kopermu, ditambah lagi penyertaan para ahli perkebunan yang siap bekerjasama denganmu.
Tidak disangka, kamu memang pekerja yang gigih berusaha, tak kenal siang ataupun malam, hujan ataupun badai yang menghadang jalanmu hingga sampai jualah niatmu ingin menjadi orang yang serba berkecukupan di dunia ini. Langkah kakimu tak seperti dulu lagi yang hanya terbatas sejalan kampung, dari rumah ke masjid yang jaraknya tidak lebih dari sekilo meter. Tapi sekarang? Jika kamu mau puncak langit pun bisa kamu sambangi.
Dulu begitu bernafsunya dirimu ingin menunaikan rukun islam yang ke-lima. Namun karena ketidak mampuan biaya, keinginan itu hanyalah sebatas angan-angan dalam benakmu, tapi sekarang? Langit Mekah pun hanya kamu langkahi tanpa kamu singgahi.
Masihkah kamu ingat denganku? Bagian manakah dari masa lalumu yang sudah kamu lupakan? Apakah Aku? Masjid ini? Atau…! Tuhanmu?
Aku yang sering merayap di lorong masjid ini, yang dulu pernah tergelincir menimpa kopiah lusuh di kepalamu, hingga terbanting jatuh ke dalam saluran air dan kamu tolong aku dengan menjulurkan sandal jepitmu. Terima kasihku dalam doa untukmu saat itu, agar diwujudkan oleh Yang Maha Pengasih dan Penyayang segala keinginan dan harapanmu.
Namun sekarang tingkahmu sudah berlainan dengan harapanku ketika dulu aku berdoa untukmu. Suara azan yang memanggil sepertinya sudah melengking di telingamu, hingga sepertinya perlu kamu larang agar tidak ada orang yang datang ke masjid ini, agar tidak ada lagi gema suara azan di sini.
Ketika ada isu bencana yang akan menimpa negeri ini, matamu tak lengah dari pemberitaan setiap media hingga kamu abaikan waktu sholatmu. Telingamu tuli, hatimu mati dalam kecemasan yang sangat menyesak di dadamu. Takut jika bencana itu menimpa harta dan lahan usahamu, cemas jika semuanya hilang darimu! Ternyata semua kecemasan dan ketakutan itu telah menjadikan cambuk tersohor agar kamu semakin giat bekerja dan berusaha hingga kamu abaikan si Pemilik langit dan bumi ini.
Sadarlah aku bahwa sungguh maha sempurna segala ciptaan dan segala keputusanNya. Aku sangat bersyukur terlahir sebagai seekor cicak. Tidak perlulah aku meminta sayap sekalipun mangsaku nyamuk yang bisa terbang, karena sudah tertulis dari hari aku lahir, setiap rezeki yang akan ku terima, setiap nikmat yang akan ku peroleh. Sedangkan kamu? Tak cukup imanmu menerima nikmat dariNya, hingga kamu minta ditambahkan. Setidaknya kamu berpikir terlebih dulu, jika berdoa meminta nikmat ataupun rezeki agar ditambah atau dilebihkan, bertanyalah dulu pada dirimu sendiri, apakah imanmu sudah cukup kuat untuk menerimanya?
Jika Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang berkehendak pastilah sudah dibukanya tabir tujuh lapisan langit itu, hingga kamu terombang-ambing tanpa arah. Apa lagi yang perlu kamu cemaskan jika sudah seperti itu? Apa lagi yang perlu kamu takutkan?
Lafal nama yang Maha Sempurna berkumandang di senja ini, pancaran cahaya merah di ufuk barat perlahan-lahan surut merambat mundur hingga tenggelam bersamaan dengan gema suara azan, menyapa nyaring pada telinga-telinga tuli dalam jiwa rapuh yang seakan mati saat sedang bernafas.
Mungkin saja langit masih asyik bermesraan dengan bumi hingga diabaikannya jiwa-jiwa yang rapuh itu, jika tidak pastilah sudah diusir semua yang berlindung di bawah tujuh lapisanNya itu.
Senja ini kamu tak datang seperti senja kemaren, mungkin juga senja berikutnya. Berapa kali senja lagi kamu akan seperti itu? Aku pun berdecak dan berdecik di dinding ini sambil melahap nyamuk. Jika tak terhalang dinding, pastilah sudah aku gelengkan kepalaku mengingatmu yang tak datang di senja ini.
wah bgus banget mas tulisannya…..
salam kenal _^_^_….
bagus banget….ngebuka hatiku yang lagi terombang-ambing karena logika ku tak dapat berjalan seirama dengan wahyu Tuhan…