Dalam Angan Abrey (Bagian 2)
November 11th, 2008 by TIA CTQ
Dua tahun kemudian…………
Lila telah menjadi seorang wanita yang cantik. Dari dulu juga begitu, namun Lila yang sekarang adalah Lila yang dewasa. Lila menjemput Abrey di bandara. Dia sudah tak sabar ingin bertemu Abrey. Abrey, selama di Jepang selalu menelponnya tiap akhir pekan. Abrey tak pernah sekalipun tak membalas email-nya. Hati Lila berbunga-bunga akan bertemu dengan Abrey setelah dua tahun berpisah.
“Lil, kamu kenapa sih?” goda ibu Abrey tanpa tahu kalau antara Abrey dan Lila terdapat hubungan spesial. Lila hanya tersenyum.
Ibu Abrey menduga ada yang tidak beres dengan senyuman Lila, beliau pun merentetinya dengan pertanyaan-pertanyaan pancingan agar Lila mau mengaku, namun, nihil, Lila telah tahu tujuan ibu Abrey. Sebelum hubungan yang sempat tertunda dua tahun ini diresmikan oleh mereka berdua, Lila tak mau memberitahu siapa pun, meskipun beliau ibu Abrey sendiri. Lila mengedarkan pandangannya pada para penumpang yang mencari keluarga mereka. Dilihatnya belum ada tanda batang hidung Abrey. Lila mendengus kesal sampai terdengar di telinga ibu Abrey. Ibu Abrey hanya tersenyum. Beliau telah mencium ada harum-harum cinta antara Abrey dan tetangga sebelah rumah. Senyuman ibu Abrey merekah saat kedua matanya menangkap sosok pria tampan dalam balutan jins Levi’s dan kaus oblong Adidas, lrngkap dengan topi softball yang dibelikan Lila sehari sebelum keberangkatannya.
Abrey tersenyum melihat lambaian tangan ibunya. Di samping ibunya, tentu saja si cantik Lila. Kakinya melangkah menghampiri mereka kemudian memeluk ibunya.
“Mami, Mami makin cantik deh!”
“Kamu juga makin ganteng saja. Juga lebih dewasa”. Ibu Abrey segera melepas pelukannya untuk memberikan Lila kesempatan menyapa Abrey.
Tak tahu apa yang harus dilakukan, Lila malah bungkam, hingga Abrey mencium pipi kirinya. “Ciuman yang tertunda dua tahun lamanya”. Abrey melihat pipi Lili bersemu merah. “Kamu makin cantik”. Pipi Lila membelalak lebar, namun kemudian kembali tersipu tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Oh iya Brey, mana kekasihmu? Katanya akan dikenalkan pada Mami?” seru ibu Abrey menyela.
Abrey mengedipkan sebelah matanya ke arah Lila, semakin membuat Lila lemas. Kemudian Abrey menarik lengan Lila mendekat. “Mi, kenalkan kekasih Abrey. Lila Amelia. Nanti malam, kita akan melamarnya. Itu pun……”. Abrey berhenti sejenak. “Itu pun kalau Lila setuju”.
“Benar?”, ibu Abrey tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mendengar berita mengejutkan itu. “Lila, apa itu benar? Oh, betapa bahagianya Mami”.
Lila hanya bisa tersenyum sebelum kecupan ibu Abrey mendarat di kedua pipinya. “Oh, Lila. Terima kasih. Mami selama ini memang ingin kamu jadi menantu di rumah kami. Bayangkan saja, Abrey dan Lila menjadi sepasang kekasih. Mami tak bisa lagi mengucapkan apa pun selain terima kasih. Kamu memang wanita yang tepat untuk Abrey.”
***
Sehari semenjak kepulangannya dari Jepang, Abrey menghabiskan waktu bersama Lila sepulang dari kantor. Lila mengenakan gaun panjang berwarna merah maroon yang kontras dengan warna kulitnya, sementara Abrey setelan jas hitam. Abrey mengajak Lila ke sebuah restoran tempat papinya melamar maminya dulu. Rambut Lila yang panjang dibiarkan tergerai dipunggung tanpa diberi asesoris satu pun. Walau begitu, Lila tetap saja Lila, cantik. Abrey mengajaknya mengobrol tentang promosi jabatannya, juga rencananya membeli rumah dua blok dari rumah mereka yang sekarang. Abrey kemudian meraih tangan kanan Lila dan melamarnya.
“Lila, aku sudah dua tahun menunggu ini, maukah kau menjadi istriku?” tanyanya sambil menatap sendu mata Lila.
Sayang, lamaran itu menjadi kacau saat seorang pelayan menumpahkan secangkir kopi ke gaun Lila. Buru-buru Lila mencoba mengambil tisu mencoba mengeringkan gaunnya, menolak bantuan dari Abrey, sebelum wajah Dion dengan jelas menyunggingkan senyum kemenangan.
“Di… Dion?” ucap Lila melongo. Tak pernah ada yang menyangka Dionlah pelayan yang menumpahkan kopi ke gaunnya untuk merusak acara lamaran itu.
“Hai Lila, lama tak jumpa!” sapanya penuh kemantapan.
Lila kembali teringat kejadian saat Dion memutuskannya gara-gara wanita lain dari kelas sebelah. Dion mencari-cari alasan untuk memutuskannya. Alasannya tak masuk akal, Dion berdalih Lila tidak menyayanginya lagi, Lila lebih sayang pada Abrey tetangganya. Memang iya, tapi, mana mungkin Dion tahu kalau Lila mencintai Abrey. Semuanya mulai terlihat jelas dua hari kemudian, Lila menangkap basah Dion sedang kencan dengan wanita itu.
“Benar kan, seperti yang kuduga waktu itu. Kau mencintai Abrey, kau tak pernah menyukaiku. Bahkan saat aku membalasmu dengan menggandeng wanita lain, sepertinya tidak berpengaruh apa-apa bagimu, karena di hatimu tak pernah ada aku Lil.”
Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan Dion dipecat, Abrey memutuskan untuk mengajak Lila meninggalkan tempat itu. Namun Lila tak beranjak juga dari tempat duduknya. Pandangannya lurus tajam memandang Dion.
“Hmm, Dion. Kau picik sekali sengaja menumpahkan kopi ke gaunku. Kau ingin tahu yang sebenarnya?” Lila beralih memandang Abrey. “Abrey, sepertinya ini malam yang tepat untuk kita. Dion bisa menjadi saksi pertunangan kita malam ini. Bagaimana menurutmu? Kupikir lebih baik kita ulangi saja adegan tadi, saat kau melamarku, aku belum menjawabnya kan?”
Abrey menangkap nada sinis dari nada Lila. “Lila, sudahlah, kita cari tempat lain saja. Jangan buat keributan di sini.”
“Tidak, ini tempat yang kau inginkan untuk melamarku kan?”
Muka Dion merah padam menahan api cemburu. Memang, Dion masih menyukai Lila. Wanita yang menjadi kekasihnya setelah Lila itu hanyalah karangan belaka. Wanita itu sepupunya. Dion hanya ingin Lila menyayanginya, hanya menyayanginya, tidak membaginya dengan pria lain.
“Lila sudahlah,” buru-buru Abery menarik lengan Lila untuk meninggalkan tempat itu. Dan Dion menatap kepergian mereka dengan hati miris.
***
Di dalam mobil Lila tak banyak bicara. Pikirannya masih teringat kejadian tadi saat Dion sengaja menumpahkan kopi ke gaunnya. Dion, pria yang dulu membuatnya menangis.
“Lil, maaf ya. Aku tak tahu kalau akan seperti ini jadinya. Mulanya aku berniat melamarmu di sana, tapi yang terjadi malah……….. kau bertemu Dion, pria yang membuatmu menangis itu.”
“Huh, sudahlah.” Lila mendengus kesal. “Jangan sebut-sebut lagi nama itu. Aku muak mendengarnya.”
Tiba-tiba Abrey menepikan mobilnya di sebuah lapangan bola. “Keluar yuk. Bintangnya indah. Kau suka bintang kan?”
Lila memandang ke luar jendela. Benar, taburan bintang di langit menuntunnya untuk membuka pintu dan duduk bersama Abrey di atas mobil.
“Bukankah itu Perseus?” tunjuk Lila pada konstlelasi Perseus di langit dan sudah melupakan pertemuannya tadi dengan Dion.
Abrey menutupkan jasnya ke punggung Lila agar Lila tidak kedinginan. “Iya. Lihat, itu Vega, yang itu Lyra,” tunjuk Abrey tak ingin kalah sebelum keduanya bertengkar kecil dan akhirnya menertawakan tingkah mereka yang kekanak-kanakan.
“Hahaha… bukankah kau sok tahu tadi menunjuk Lyra dan Vega?” cerca Lila.
“Hahaha….. iya, aku belum pernah tahu bentuk mereka. Aku hanya sok. Aku cuma ingin melihatmu ceria lagi.”
Lila menatap dalam-dalam mata Abrey yang indahnya bagai batu safir. “Brey…..”.
“Ya?”
“Aku mau kau melamarku lagi, di sini, sekarang juga.”
“Baiklah.” Abrey mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. Sambil mengeluarkan isinya, Abrey mengatakan, “Lila, maukah kau menikah denganku?”
Lila menjawab malu sambil melihat di jari manisnya kini telah melingkar sebuah cincin. “Iya, aku bersedia.”
“Kalau begitu, kau mau dong langsung menikah setelah kau lulus nanti?”
“Kalau yang itu, aku tak bersedia.”
“Dasar Lila……..,” seru Abrey sambil menggelitikinya hingga Lila menyerah.
“Baiklah baiklah, Abrey hentikan.”
Abrey menghentikan gelitikannya. “Dan kalau kita sudah punya anak nanti, kita beri nama siapa kalau laki-laki?”
Dengan mantap Lila menjawab, “Dion Bimantoro.”
“Tidaaaaaaak!!!”
Abrey terbangun dari tidurnya. Rupanya semuanya yang terlihat begitu nyata itu hanya mimpi. Pria tua di sebelah kursinya menatapnya heran lalu tertidur lagi. Abrey melihat arloji, lima belas menit lagi dia mendarat. Begitu besar harapan Abrey untuk bertemu kembali dengan Lila hingga terbawa ke alam mimpi. Ibunya mengatakan Lila akan ikut menjemputnya.
Tiga puluh menit kemudian Abrey melihat ibunya berdiri bersama seorang wanita cantik. Dilangkahkanlah kakinya menuju kedua wanita beda generasi itu.
“Abrey, kamu sudah pulang Nak. Kamu makin tampan saja.”
Sambil mencium pipi ibunya, Abrey menjawab, “Terima kasih Mamiku tersayang”.
“Lalu, mana wanita yang akan kamu kenalkan pada Mami. Mami tak melihatmu bersama seorang wanita.”
“Mami melihatnya kok.” Abrey mengedipkan sebelah matanya ke arah Lila sembari meraih lengannya.
“Mi, kenalkan kekasih Abrey. Lila Amelia. Nanti malam, kita akan melamarnya. Itu pun……”. Abrey berhenti sejenak. “Itu pun kalau Lila setuju.”
Ibu Lila menoleh ke arah Lila seraya meminta penjelasan. Lila hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Hmm, sampai di rumah nanti, sepertinya ada dua orang yang akan bercerita banyak tentang apa yang terjadi dua tahun ini kepada Mami. Iya kan, Lil, Brey?”
“Mami, sudahlah. Ayo kita pulang. Abrey sudah lapar nih.”
Ketiga orang itu tak tahu kalau Dion memandang sedih keakraban dan kehangatan ketiganya dari arah jam lima.
TAMAT
hahahahahaa….
what a very sweet long distance relationship..
kasian si dionnya..
tapi gapapa..
abrey nya kayaknya lebeh mantep haha..