KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

What is love?

Kalau dibilang aku jelek, ya nggak jelek amat. Kalau mau bilang aku ayu, ya nggak teramat ayu. Bodoh juga tidak, bahkan temanku selalu bilang aku pandai bahkan mungkin bisa dibilang terlalu pandai sehingga aku sering menggunakan kepandaianku untuk mengalahkan lawan bicaraku. Tapi memang aneh, rasanya paras dan tubuhku plus keenceran otakku bisa buat modal digodain cowok, toh nyatanya sampai ke detik ini menginjak usia rawan ( usia yang sudah bisa dibilang perawan kasep!! ); usia 30 an; belum juga aku kesandung cinta apalagi sampai terjatuh dalamnya. Seringkali aku bertanya pada diriku sendiri, “Cinta itu apa sih..?” Kalau boleh aku bilang jujur, kata cinta sepertinya sudah tak terdefinisi dalam otakku. Lho aneh kan?

Terlalu seringnya aku menjadi “tong sampah” bagi teman-teman, rekan-rekan yang lagi jatuh cinta, lagi kesengsem, lagi gila cinta, lagi broken heart bahkan mereka yang mengalami episode cinta pentagon ( cinta bercabang-cabang) menjadikan aku wanita yang semakin sulit untuk mengartikan cinta itu. Terkadang ada tersirat pemikiran yang seharusnya tak boleh kupikirkan, bahwa dunia ini bersikap tak adil padaku!! Satu pemikiran yang seakan menyalahkan Tuhan, astaghfirulloh!!!! Tidak, aku tak boleh terus berpikir seperti itu karena dunia dan segala isinya kan milik Tuhan. Yaaa, kalau yang Di Atas belum kun fayakun, apa aku harus maksa dan demo?

“Nduk, manusia itu sudah punya jatah rejeki sendiri-sendiri. Jodoh, rejeki dan mati semua sudah ada yang ngatur.”

“Jadi kita nggak usah berusaha dong Mbah? Kita nunggu jatah rejeki, kita nunggu jodoh kita sekaligus kita nunggu kapan ajal menjemput kita.”

“Kamu itu Nduk, kalau dinasehati orang tua selalu meweli! Nduk, kalau ada orang yang bersikap dan berpemikiran seperti yang kamu pikir itu bukan patrape manungso, iku arane wayang yang jalan hidupnya diatur dalang.”

Kulihat wajah damai mbah putriku. Jemarinya begitu cekatan mengoles kapur di atas selembar daun sirih.Diletakkan di atasnya secuil gambir dan mengunyahnya. Mmmm yummy!

“Lho Mbah, bukankah dunia ini panggung sandiwara? Kita manusia adalah pelakonnya dan Tuhan adalah penulis skenario merangkap sutradaranya, jadi apa bedanya dengan wayang dan dalang?” Penyakit membebelku mulai kambuh bila sudah berbicara dengan mbah putriku.

“Walah….. walah, cucuku ini, bodho kok dirabuk to, Nduk! Ya jelas beda to. Wayang itu kan benda mati, lha manusia itu kan jelas makhluk yang sempurna karena dikaruniai akal. Lha dengan akal itulah manusia diwajibkan berusaha untuk meraih jatah rejeki yang sudah digariskan, berusaha menemukan orang yang cocok dan bisa dijadikan pendamping meskipun kita tahu semua adalah rahasia Sang Pencipta. Seberapa besar rejeki yang bakal kita dapat, siapa dan kapan jodoh kita datang, bagaimana jalan kematian kita, kita manusia tidak ada yang tahu Nduk. Tapi kita tetap harus berusaha. Ojo kok gur nunggu aja.”

Aku terdiam, walau sebenarnya banyak yang ingin kuutarakan pada mbah putriku terutama sekali tentang cinta. Satu pertanyaan yang seringkali kutanyakan pada beliau. Kutelan kembali rasa ingin bertanyaku karena kutahu jawaban pasti dari beliau tak pernah berubah.

“Cinta itu hanya sebuah istilah Nduk. Yang terpenting adalah apa yang kau rasakan, bagaimana caramu menghayati rasa itu secara utuh tidak dengan separuh hati. Ingat itu Nduk. Rasa suka, sayang, cinta dan entah apalagi istilah yang lain itu hanyalah sebuah sebutan, yang penting itu di sini.” Itulah penuturan mbah putriku sambil menunjuk ke dada

Sungguh, sampai di usiaku yang sudah kepala tiga aku belum bisa memahami apa yang dituturkan Mbah Putri. Begitu sulit mencernanya bahkan semakin hari semakin ku tak tahu apa arti cinta, terlalu sulit aku mengartikannya. Hinggalah aku sampai ke titik kesimpulanku sendiri bahwa cinta itu sebenarnya satu zat yang ada namun tak wujud, hanya bisa dirasa tanpa bisa disentuh dan dilihat. Aku yakin cinta itu ada dalam jiwaku dan aku yakin, aku belum mati rasa. Lha nyatanya aku masih suka makan bakso, aku masih sayang si Manis, kucingku, dan aku masih cinta anak-anak. Jadi benar kan aku belum mati rasa?

oooOooo

“Jangan terlalu pilih-pilih, takutnya nanti justru dapat yang bongkeng!” Kalimat itu bukan hanya sekali kudengar. Memilih itu hal yang wajar! Karena pilihan kita adalah penentu jalan ke depan kita. Sebenarnya aku bukannya jenis wanita yang selektif banget tentang cowok, tapi aku adalah tipe wanita yang suka mempertimbangkan segala sesuatu termasuk cowok pilihan. Itulah sebabnya banyak cowok yang antri akhirnya menjauh karena terlalu lama aku menimbang.

Sing kok gadhang-gadhang kuwi priyo koyo ngopo to, Nduk?” Suatu ketika mbah putriku bertanya dengan logat jawanya yang khas. Satu todongan yang menyadarkan diriku, mengingatkan diriku bahwa aku sudah berumur.

Duh Gusti…nyuwun pangapuro!” Betapa cuek diriku selama ini, aku tak pernah memikirkan akan kegelisahan orang-orang yang mencintaiku. Pertanyaan tersebut bukti bahwa mbah putriku mulai resah dengan diriku, pasti kedua orang tuaku juga sama resahnya dengan beliau, jadi selama ini diam mereka hanya ingin menjaga perasaanku?

Seandainya pertanyaan itu keluar dari si Sumi sahabatku, pasti akan kujawab dengan santai, “Pria idamanku ya agak-agak mirip suamimu lah!”
Dan kalau saja si Suto yang bertanya, pasti jawabanku, “Ya seperti kamu lah!” Tapi kini yang bertanya mbah putriku, haruskah aku menjawabnya dengan gurauan? Harus kujawab apa? Karena selama ini tak ada satu titik terang pria bagaimana yang jadi idamanku. Haruskah seperti suami si Sumi, lelaki yang tunduk patuh di bawah telunjuk istri? Atau seperti si Suto yang membangun sangkar emas buat kedua istrinya dan membatasai ruang gerak mereka? Walah kok malah bingung aku!

“Mbah, lelaki yang bagaimana yang baik dijadikan suami?” Dalam kebingunganku, pertanyaan yang mungkin dianggap nyeleneh oleh Mbah Putri akhirnya terucap juga dengan satu harapan beliau bisa memberi masukan. Dasar pancen gebleg tenan aku!!!

“Nduk, yang menurut baik bagi orang lain belum tentu baik buat yang lainnya, bener to? Kalau Mbah bilang, Bandi kae ganteng opo yo podho karo panyawangmu? Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan yang berbeda di mata yang lain. Bebojoan itu Nduk, bukan hanya menyatukan dua kesamaan yang terpenting juga bagaimana suami istri bisa menyatukan perbedaan mereka menjadi satu rasa yang bisa dinikmati bersama. Seandainya pahit, haruslah menjadi obat bagi mereka tanpa harus mencari penyebab mengapa pahit. Seandainya manis, maka janganlah sampai memabukkan. Lelaki yang baik menurut Simbah, dia mau menerima bukan hanya kebaikan calon istrinya tapi juga segala keburukannya. Dia juga harus bisa dijadikan imam, dia juga harus bisa dijadikan panutan anak dan istri, dia bisa jadi tameng buat keselamatan isi keluarga. Memang sulit Nduk, untuk mencari yang sempurna tapi kalau antara suami dan istri bisa saling mendukung, ada rasa saling menghargai, saling menutup dan mengisi, Mbah yakin lambat namun pasti kekurangan dan ketidak sempurnaan yang ada bisa disamarkan.”

oooOooo

“Sudah berapa lama kamu menikah Nduk?” Kupijit perlahan pundak Mbah Putri, nafasnya agak berat.

“Lebih dua tahun Mbah”

Ya, lebih dua tahun kujalani hidupku sebagai wanita yang berstatus istri. Lelaki itu telah menjadikan aku wanita yang paling sempurna, dua tahun. Aahhh, begitu cepat waktu berjalan dan selama itu belum pernah aku merasa terpaksa dan tertekan menjadi istrinya meski pernikahan kami bukan kehendak kami berdua. Keikhlasannya menerimaku sebagai istri pemberian orang tua merubah ketakutan dan kecemasanku menjadi keselesaan batin dan jiwaku.

“Nduk, boleh Mbah tanya padamu? Sudahkah kau temukan arti cinta itu, Nduk?” Aku tersenyum sambil duduk di depan si mbahku, kupegang tangan keriputnya.

“Mbah, cinta itu hanya sebuah istilah. Saya sudah tak tertarik untuk mencari tahu makna cinta itu Mbah. Meski Mas Ab tak pernah mengucapkan kata I LOVE YOU tapi saya bisa merasakan betapa besar cintanya, semua ada di sini Mbah.” Kutarik lengan Mbah Putri dan kuletakkan di dadaku.

“Sikap dan tindak lakunya itu lebih penting dari ucapannya Mbah.” Kurebahkan kepalaku di pangkuan mbah putriku, tangannya mengusap lembut rambutku. Terasa damai!!

“Mbah bisa melihat cinta itu di matanya, Nduk! Sama seperti waktu Mbah melihat cinta di mata Mbah Kakungmu dulu. Mbah juga bisa merasakan gelora dan kobaran api cinta di wajahmu, dalam senyum ikhlasmu.”

3 Responses to “What is love?”

  1. on 13 Nov 2008 at 13:34Hari

    Ceritanya menarik….namun ada perubahan cerita yg cukup panjang tidak ada pemberitahuan. seingga pembaca bingung. sebenarnya siapa aja yg j lakon dalam crita tersebut???

  2. on 13 Nov 2008 at 13:34Hari

    ceritanya g jelas siapa aja lakonnya

  3. on 08 Dec 2008 at 11:18assattari

    huahua…
    bagus…

    pertunangan tidak selama nya jelek..

Tinggalkan Komentar