KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Gelombang Radio

Cahaya bulan menerangi halaman belakang dan beranda sebuah rumah yang berada di tengah-tengah kerumunan rumah. Seorang pemuda keluar dari kamarnya sambil menenteng sebuah radio. Ia kemudian meletakkan radio di meja dan duduk di kursi yang tersedia di beranda. Dari sakunya keluar sepasang earphone yang ia pasang ke kuping dan plug-in ke radio tersebut. Tak lama kemudian ia sibuk memutar tombol radio untuk mencari frekuensi yang dicari.

Pemuda yang berusia tanggung ini masuk mencari dalam gelombang FM. Ia mendapati banyak sekali stasiun radio yang menyajikan lagu-lagu terkini. Ia bimbang untuk memilih salah satu dari stasiun radio tersebut karena ia sudah sering mendengar apa yang mereka setel. Lagunya itu-itu terus, yang selalu disetel oleh tetangganya keras-keras dan mengganggu ia belajar, yang dinyanyikan anak-anak kecil seingat mereka tanpa mengerti makna dari lirik lagu tersebut, dan yang selalu disenandungkan oleh teman-temannya diiringi petikan gitar, kapan saja suka-suka. Selain itu ia juga merasa bosan karena tren lagu-lagu baru cenderung bertempo santai, melodi monoton tidak ada yang tampil beda dan isi liriknya selalu tentang komplikasi cinta.

Jarinya menyentuh tombol radio untuk berpindah ke gelombang MW. Stasiun Radio MW tinggal sedikit, pikirnya. Sudah banyak yang berpindah ke FM karena di telinga orang-orang suaranya lebih enak didengar dan stereo. Ia mendapati beberapa stasiun yang menyajikan lagu-lagu nostalgia, Wayang Live dan tembang-tembang Jawa.

Selera orangtua… mungkin kalau aku sudah tua baru bisa menikmati acara-acara ini. Ia tersenyum, mungkin, karena beranda tempat ia berada jauh dari penerangan lampu listrik dan cahaya bulan hanya remang-remang.

Akhirnya, setelah beberapa saat mendengarkan sebuah lagu Koes Plus, ia mengalihkan tangkapan radionya ke gelombang SW. Hal ini sangat jarang ia lakukan kecuali kalau saat ia sangat-sangat bosan. Ia menemukan stasiun radio berbahasa Mandarin.

Acara berita, terasa dari gaya pengucapan kata penyiar yang tegas dan bakukah? Mana kutahu, aku kan tak bisa bahasa Mandarin, dan aku bukan bibi tetangga sebelah yang baru pulang dari kerjaannya jadi TKW di Taiwan.

Ia alihkan frekuensi dan mendapati stasiun radio berbahasa India yang memutar sebuah lagu. Ia berpikir tentang India dan menghasilkan dua hal yang ia tahu sangat ‘India’, lagu-lagu dangdut dan film India. Ia berusaha mengingat-ingat judul film-film India yang pernah ia tonton. Akan tetapi tak terlintas satu pun karena selain memakai bahasa India, judul-judul itu terdengar lucu tak berarti di telinganya, sehingga tidak membekas dalam ingatan. Lagipula ia tak suka film India karena isinya yang selalu sepertiga percintaan, sepertiga perkelahian dan sepertiga tarian.

Merasa percuma dan tidak suka, ia berpindah ke frekuensi lain. Beberapa stasiun ia lewati karena terasa asing ditelinga. Tentu saja, kan stasiun radio asing.

Ia akhirnya sampai di stasiun radion berbahasa Inggris. Perkataan-perkataan yang masuk ke telinga langsung diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh otaknya dan dicerna apa artinya. Dengan menduga-duga, kurang lebih yang ia dengarkan adalah diskusi antara penyiar dengan seorang pengamat mengenai kondisi peperangan di suatu negara di Afrika.

Pikirannya langsung melayang ke guru bahasa inggrisnya di sekolah. Orangnya berkulit tidak putih, tapi juga tidak sehitam hitamnya orang Afrika, pendek, angin-anginan, dan katanya sih pernah sekolah di Australia. Gurauannya selalu itu-itu saja dan yang paling sering diulang adalah tentang pasien Indonesia di rumah sakit Australia. Si pasien disuntik oleh nona perawat di pantatnya dan karena kesakitan langsung menjerit, ”Saaaaakiiiiit!” yang langsung membuat nona perawat memerah wajahnya. Sang nona lalu dengan dengan tegas berkata, ”Don’t order me such a pervert things, I won’t suck it!” lalu melangkah pergi meninggalkan si pasien yang bengong sembari mengelus-elus pantatnya.

Pertama kali memang lucu, tapi kalau hampir tiap minggu waktu pelajaran bahasa Inggris? Manusia memang aneh, selalu mengulang-ulang sesuatu tanpa ia sadari dan membuat orang lain terganggu, bahasa inggrisnya apa ya? Ah! ‘Annoyed’. Si pemuda senyum-senyum lalu tertawa karena merasa hebat bisa mengingat kata itu.

Di rumah sebelah, bibi yang baru pulang dari Taiwan memanggil suaminya yang tengah mengagumi dan memandangi TV 21 inch barunya untuk mendekat ke jendela rumah.

”Eh, Pak, sini-sini!”

”Ada apa sih Bu?”

”Tuh, lihat Si Dul anak Pak Karim ketawa sendirian!” kata si bibi sambil menunjuk ke luar jendela ke tempat si pemuda berada.

”Mana? Oh benar-benar, di tempat yang remang-remang lagi.”

”Dasar sinting.”

5 Responses to “Gelombang Radio”

  1. on 04 Nov 2008 at 20:25add_dickgoena

    Waw, cerpen yang cukup unik. Tu gila beneran? Ato cuma pendapat orang? Kalo gila beneran, kok bisa bahasa inggris? Cukup membuat orang bertanya - tanya! Tapi, tetap istimewa!

  2. on 06 Nov 2008 at 15:23bidha

    waaadduhh itu cerpen apa cerpen siii gak jelas banget

  3. on 07 Nov 2008 at 18:49Cloudya

    Cerpen yg biasa
    aneh, agk bngung mksdny

  4. on 17 Nov 2008 at 11:37astri

    ehehhe…gue tau maksudnya kok..
    cuma emang kurang di penjabaran aja, ubr…
    tetep berkarya!

  5. on 17 Nov 2008 at 16:37riiriss *

    . ceritana kug gantung gto sii ?
    . jd kraza gg pnting bgd ..

Tinggalkan Komentar