KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Cinta untuk Hera

Aku tertegun, diam di bawah pohon Akasia. Di sampingku, Hera, wajahnya begitu sayu. Aku belum pernah melihatnya wajahnya sesedih ini. Yang aku tau, Hera memang sangat dingin dan jarang tersenyum, namun, pemandangan sesedih ini, baru kali ini kulihat di parasnya yang cantik.

Dua bulan yang lalu, gadis berambut panjang dengan warna hitam kemerahan itu, hadir di kelasku. Kudengar, dia sering berpindah-pindah. Awalnya, aku selalu bertengkar dengan gadis wajah besi itu. Kami sangat berbeda jauh. Aku selalu seenaknya sendiri dan asal bicara, sedangkan Hera bicaranya ketus, terkadang berhati-hati di saat tertentu. Namun, tanpa kami sadari, kami justru malah kompak. Mungkin karena di beberapa kesempatan, kami sering bersama. Kami satu kelas, sama-sama masuk club mading dan majalah sekolah, rumah kami berdekatan. Mungkin, yang membuat kami sangat dekat, karena aku sangat mengenal baik pemilik rumah yang dia tumpangi. Rumah itu, adalah panti asuhan. Tapi aku sadar, aku sama sekali tak tahu tentang masa lalunya, maupun tentang dirinya. Hingga 2 jam yang lalu, tak sengaja, aku mendapat kenyataan, semenjak Hera kehilangan orang tuanya, dia memikul luka mendalam di hatinya. Aku mengetahui, setelah selama 3 hari dia tak masuk sekolah dan tak sengaja, aku melihatnya memasuki rumah, dengan wajah lesu. Mengetahui aku memerhatikannya, Hera tersentak. Tas kertas yang dipegangnya jatuh dan kulihat, sebuah baju serba hitam terlipat rapi di dalamnya. Ternyata, Hera selama 3 hari, pergi keluar kota untuk ziarah ke makam orang tuanya. Dan dengan usaha keras dan memaksa, akhirnya aku tahu semuanya tentang kehidupannya yang membentuk emosinya yang dingin.

“Alex,” Panggil Hera pelan, membuatku tersentak. Namun aku hanya diam. Satu istilah, mendadak membekas di hatiku, Puteri yang Terbuang.

Hera sebenarnya dulu adalah seorang anak tunggal seorang konglomerat. Dan tadi, Hera mengaku, dia dulu adalah gadis yang sangat congkak hingga membuat orang di sekitarnya sesak nafas. Dia selalu berlagak dalam lindungan kekuasaan ayahnya yang dia pikir, merawatnya selama 13 tahun lamanya dengan kasih sayang. Menindas, sudah merupakan makanan sehari-hari baginya.

Sampai akhirnya, di suatu malam, saat sekeluarga menginap di sebuah villa di gunung. Tanpa sengaja, Hera menguping pembicaraan Ayahnya dan seorang laki-laki.

“Hera semakin dewasa, bukannya sudah saatnya dia dijual padaku?”

“Sabarlah dulu. Bila waktunya sudah tiba, dia pasti akan kuserahkan padamu.”

“Tapi kapan? Kau jangan lupakan perjanjian kita 10 tahun yang lalu saat membunuh orang tua gadis itu,  kita telah sepakat, 10 tahun lagi, Hera yang kau culik, akan kau jual padaku.”

Hera tersentak kaget saat mendengar pembicaraan itu. Dia nyaris tak percaya. Ibunya hanya bisa berkali-kali menghela nafas panjang. Hera kabur, namun diketahui oleh salah seorang komplotan Ayahnya. Hera terus berlari menyusuri hutan. Dia lolos setelah berlari berpuluh-puluh kilometer dan bersembunyi di tengah hutan. Keesokan harinya, setelah Hera lolos, Ayah dan Ibunya tewas dibunuh dan teman ayahnya tadi menjadi buron hingga kini.

Hera mulai tak percaya pada siapapun lagi.  3 tahun semenjak kasus itu, Hera masih rajin ziarah ke makan orang tua angkatnya di Bogor. Walau bukan berarti, sakit hati Hera atas perlakuan ayahnya yang ternyata mengadopsinya untuk dijual, belum juga sembuh. Rahasia ini, baru aku yang pegang. Aku iba, melihat Hera yang menatapku dengan pandangan berkaca-kaca. Seakan-akan ada siratan kata, “Kumohon, jangan benci aku!”

Aku hanya bisa memeluknya dengan penuh kasih sayang. Aku tahu, kini, hanya aku yang bisa menjadi penopangnya. Apapun yang terjadi, aku tetap menyayangi gadis ini. Puteri yang Terbuang, kini telah tertutup dan hatinya mati. Namun aku yakin, dia masih membiarkanku masuk ke dalam sanubarinya. Aku hanya bisa berkata, “Hera, kamu telah menjadi lebih baik. Hanya tinggal membuatmu tersenyum sedikit lagi.” Dan aku rasakan, sepertinya Hera tersenyum lebar di pelukku, walau aku tidak melihatnya.

7 Responses to “Cinta untuk Hera”

  1. on 04 Nov 2008 at 17:48Hartanto

    Wah, baguz bgt ceritanya Kak..!
    Terus b’karya yaCh

  2. on 05 Nov 2008 at 12:11muhammad isa

    salam kenal…
    cerpen ini jadi referensi bagi ku untuk memperdalam penulisan cerpen..trksh ya..

  3. on 07 Nov 2008 at 08:29Eri F.S

    Wuaaaah…. thanx yach atas commentnya ^_^V

  4. on 11 Nov 2008 at 23:00bunga

    cerpennya sangat tdk bermutu,tdk mengandung unsur sastra…………

  5. on 28 Nov 2008 at 22:58Eri F.S

    Wah, maaph saja. Eri kan emang buka orang sastra. Cuma anak SMU yg mencoba menyusun kata-kata. Kalo berharap yang berhubungan dengan kiasan dan semacamnya, nunggu Eri jadi profesional plus sentimentil dulu, dech! =D

  6. on 08 Dec 2008 at 18:34assattari

    bisanya ngehina orang aja nih si bunga
    gua suka koq..
    minimal masih usaha. ngebikin cerpen itu g mudah kan?
    kalo mau bikin yang lebih bagus,
    jangan ngehina doang

    buat eri, berusaha yak!
    semangat!

  7. on 12 Dec 2008 at 19:44Eri F.S

    wkwkwkw…. makasih atas semangatnya, kk =3 Ini cerpen Eri bikin emang setelah udah lama Eri nggak bikin cerita. Makanya nggak ekrasa sentimentilnya. Ditambah lagi, Eri nggak terbiasa bikin yang settingnya Indo

    *kebiasaan bikin nophel settingnya jepang mulu* =D

Tinggalkan Komentar