Bola-Bola Api di Atas Karang
November 4th, 2008 by Abd. Qodir al-Amin
“Jika kau melihat tanduk di kepalaku, segeralah sembunyi. Kau akan mati!”
Adakah yang peduli tentang seorang gadis yang selalu menunggui berlalunya senja di tepian pantai? Perempuan keropos yang hanya bisa duduk di atas kursi tua bertandu. Sungguh sore yang tak pernah indah. Meski debur ombak sebaris demi sebaris melipat pepasir menghiburmu. Burung camar dan kelelawar yang berlari ke cakrawala. Bukit-bukit adzan, karang-karang raksasa, gua-gua di sepanjang pesisir dan bola-bola api itu, tentunya
Kau tak perlu lagi takut ketika salah satu dari mereka memergoki sepasang matamu yang ikut berputar-putar, karena kemarin dan kemarin-kemarin sebelumnya, bola-bola api itu hanya menatap sebentar, kemudian tersenyum dengan gigi-gigi panjang yang muncul begitu saja, bola-bola api menari lagi. Berputar-putar meninggalkan ekor merah bara yang panjang.
Setan-setan menari dari atas bukit, batu-batu karang, dan gua-gua di sepanjang pesisir. Berlonjak-lonjak, berputar-putar, tertawa gegap gempita. Suaranya bergema memenjara angin laut, debur ombak dan butiran pepasir termenung di tepi pantai. Yang diselubungi pesakitan akan tenggelam dan luluh lantak! Dan dari kedua matamu, kau bisa melihat semuanya. Bola-bola api berkejaran merayakan satu upacara penyambutan. Serupa doa yang dinyalakan dari sumbu ke sumbu. Sesosok tubuh akan melayang dari atas karang. Ombak akan berubah menjadi mulut yang besar, menelan tubuh itu sebelum sempat berdebum dengan air.
***
Air mataku tak lagi serupa butiran hujan, dan badai musim ini bukanlah kutukan laut kepada karang. Kini yang keluar dari kedua mataku adalah serpihan bebatu tajam, matahari-matahari kecil yang mulai pendar, dan bola-bola api menyala dari kedua mataku.
“Mungkin aku akan membunuh lagi, sebelum ombak sempat pulang dari tepian.”
Bola-bola api itu! Percikannya menjilati tubuhku, meyepuh kulitku menjadi timah panas yang siap dilebur menjadi bubur dalam kubang neraka. Aku lah mahluk jadi-jadian itu. Kau dapat menemukan bola api pada kedua kelopak mataku, dan bara merah menyalak dari sekujur tubuhku.
Aku bisa melihat jelas, betapa bola-bola api itu memiliki sepasang tanduk yang runcing dan sepasang mata yang mengerikan. Hidung berantakan dengan kedua lubang besar hitam. Bibir darah dengan gigi-gigi panjang tak beraturan. Dari dalam mulutnya keluar jilatan api. Dan jika tertawa, matanya bukannya mengatup, tapi justeru melotot semakin besar.
Dua hari setelah pesta bola-bola api itu, pastikan! Orang-orang di semenanjung akan gaduh dan panik. “Ada mayat! Ada mayat!”
Jika matahari sudah berhasrat menenggelamkan karang, bukit-bukit adzan redup, aku duduk di tepian pantai. Mengerami senjakala bersama camar dan kelelawar. Menari. Gua-gua di sepanjang pesisir akan bisu, hanya bebunyi unyir-unyir memantul dari dinding gua, meremas angin, dan sebentar lagi aku akan melihat matahari-matahari kecil bekerjaran di atas bukit, bergerombol, melonjak-lonjak menuju karang. Ada seorang tua dengan pataka pada tubuhnya berdiri di sana. Dia lah pemilik setan-setan kecil itu. Bola-bola api yang berkerjaran itu.
Aku menyaksikan orang terjatuh dari karang itu. Ah, mungkin bukan terjatuh, melainkan sengaja jatuh. Mengapa ada peristiwa ini, dan kenapa harus aku yang terpilih menjadi saksinya. Aku bisa melihat orang yang menjelang kematian. Bukan mati karena usia tua, bukan pula karena sakit payah kepanjangan, bukan karena dibunuh, putus asa, kelaparan atau cekcok suami isteri. Bukan sama sekali karena itu mereka semua mati. Tapi, kerena mereka orang terpilih. Orang-orang yang terpilih mati menjadi bola-bola api.
Saat bukit-bukit adzan redup, karang akan tenggelam, dan di tepian itu aku duduk. Hendak memanggil kelelewar, berkejarlah mereka dengan kesedihan matahari. Pulanglah senja menjemput gelap, kepiluan ombak meraba pepasir. Buta. Dinding-dinding karang yang bisu di tinggalkan kelelawar. Segunduk cerita yang tak pula aku mengerti. Sama sekali sulit.
“Jika kau menjadi aku, mungkin kau memilih mati dari karang itu”
Dua belas tahun silam, ibuku meninggalkanku. Sebagai orang yang terpilih. Ayahku sendiri yang mengantarnya, dari atas karang. Mereka biarkan aku yang sama sekali tak mengerti, duduk di tepi pantai. Menatap mereka mendaki karang. Di atas karang itu, ibuku memeluk ayahku lama sekali, kemudian ibuku meloncat dari atas karang. Tubuhnya melayang bak peri turun dari langit. Sekujur tubuh ibuku berselimut selendang putih. Aku masih sempat melihat selendang itu tergerai sebelum di telan air yang tiba-tiba berubah menjadi mulut besar. Ayahku menangis, seperti menyesali apa yang terjadi, sesaat sebelum bola-bola api datang mengerumuninya, tetapi kemudian Ayahku tersenyum, tertawa gegap bersama bola-bola api. Gempita. Aku ketakutan tak mengerti. Yang dapat kuingat adalah kebencian yang begitu cepat, menjalar di tubuhku, kebencian yang tumbuh begitu saja untuk Ayahku. Sesuatu yang sakit teertanam di belahan dadaku. Semenjak itu, Ayahku tak pernah menemuiku. Aku hanya akan melihatnya saat senjakala, saat bola-bola api menari bersama setan-setan di atas bukit. Dengan pataka di tubuhnya, ayahku tak pernah turun dari karang itu.
“Ibuku telah menjadi satu dari bola-bola api itu!”
Aku masih tak mengerti. Di atas karang sana, Ayahku tinggal. Dan di sini aku di biarkan sendiri. Orang-orang semenanjung begitu peduli padaku, menghormatiku, tepatnya. Aku pun masih tak mengerti. Dengan kaki lumpuh tak berdaya ini, orang-orang menghormatiku. Dengan mata merah ini. Tak satu pun tak peduli padaku. Mulai dari memberiku makan, memandikanku, mengganti pakaianku sampai mengantar aku duduk di tepian jelang senjakala. Pulang tatkala laut jemput gelap. Mereka memanggilku Mas Ratu. Aku pun tak mengerti, kenapa namaku Mas Ratu.
Aku tak menyesal, jika aku tak dapat bermain dengan anak-anak seumuranku. Berlarian di pantai, berburu kerang, atau pula bermain getek di pepasir. Orang tua mereka selalu mengajarkan bagaimana memperlakukanku. Dan, percayalah! Belum pernah sekalipun mereka menggangguku, mambuatku menangis. Aku hanya duduk di tepian, pada tandu yang selalu setia di angkat orang-orang semenanjung. Kursi tua yang memberiku nama Mas Ratu ini. Cukuplah untukku memandang laut, meraba curam karang-karang itu, dan menemukan ibuku di sana.
Suatu sore, ada perempuan kecil yang tiba-tiba menangis di depanku. Pucatlah wajahnya, semakin pucat ketika kutanya. Tangisnya semakin meledak, meski rayu telah sepintar seorang ibu, atau nenek yang menenangkan cucu kesayanganya.
Lautku bergemuruh, saat gadis kecil itu tak jua beringsut dari tangisnya. Senja memerah di horizon. Awan berjajar seperti gumpalan darah tercecer. Kelelawar masih beradu cepat dengan camar. Kedua orang tua gadis kecil itu memeluk erat. Mereka semakin ketakutan. Anak kecil itu tak memberitahukan apa-apa kepadaku, begitu pun Bapak-Ibunya yang hanya menangis di depan kursi tuaku. Berlutut.
“Ampun, Mas Ratu. Ampun! Maafkan kenakalan anak kami. Ampun, Mas Ratu!”
“Anak kami masih terlalu kecil, mungkin tidak dapat menjadi pelayan Mas Ratu yang baik. Ampun, Mas Ratu!”
“Pulanglah kalian!”
Aku melihat ayahku di atas karang. Masih dengan pataka di tubuhnya. Untuk kali pertamanya, Ayahku menoleh padaku. Ia tersenyum. Sesaat kemudian, muncul gadis kecil di sampingnya. Ah, bukankah itu gadis yang menangis di depanku? Ayahku telah mengangkat gadis kecil itu. Menggendongnya. Sejak kapan gadis kecil itu bersama Ayahku, aku tak tahu. Tubuh gadis kecil itu telah di balut selendang putih. Ayahku meloncat bersama gadis kecil itu. Dan bah menyambut mereka dengan mulut besar. Bola-bola api menari, di atas karang.
Tak ada lagi anak-anak yang bermain di tepian. Orang-orang di semenanjung tak lagi peduli padaku. Mereka pergi entah kemana. Burung-burung camar telah pulang. Hanya beberapa kelelawar yang masih semangat berburu. Sepanjang pesisir lengang, gua-gua lenyap. Karang berubah menjadi raksasa hitam, hanya ombak yang masih bekerjaran. Aku masih di tepian, duduk di atas kursi tuaku. Bersama bola-bola api yang mengerumuniku. Aku akan mencari ibuku, menuju badai yang semalaman ini akan terus bergemuruh.
April-September, 2007
. aku gg ngerti crita .
. tlalu sulid buad dcerna n dmengerti .