Kiran, Si Gadis Panti
November 3rd, 2008 by sweet magician
Aku menutup diaryku. Jam dua belas malam tepat. Tepat hari ulang tahunku yang ke 16. Merayakannya sendiri untuk yang ke 16 kalinya. Tanpa kue ulang tahun untuk yang ke 16 kalinya. Tidak mendapat ucapan dari orang tua untuk yang ke 16 kalinya. Hanya ibu kepala pantilah yang tidak pernah absen memberikan ucapan selamat kepadaku. Ya, aku memang berbeda dengan remaja lainnya. Remaja yang bisa menjalani masa-masa remajanya dengan bahagia. Aku hanyalah seorang remaja yang dipelihara oleh sebuah panti asuhan di kotaku. Di sanalah aku tumbuh dan mengenal dunia. Belajar berbicara dan berjalan. Mengerjakan setiap tugas sekolah yang diberikan guruku.
Aku membalikkan badanku tidur telentang. Diaryku kupeluk di dadaku.
“Kenapa sih harus ada ulang tahun,” gumamku kesal.
Setiap orang selalu menganggap hari dimana umurnya bertambah adalah hari yang bahagia. Tapi tidak bagiku. Hari ulang tahun hanyalah hari yang sangat menyebalkan buatku karena dihari ulang tahun itulah aku selalu menyesali sikap orang tuaku yang tega membuangku begitu saja. Hari ulang tahunku selalu mengingatkanku pada orang tuaku.
Menurutku hidupku ini gak ada gunanya. Hidup anak-anak yang tidak diakui orang tuanya tidak ada gunanya. Semua yang seorang anak lakukankan sebenarnya cuma untuk kebahagiaan orang tuanya. Sekolah, selesai dengan nilai bagus, masuk universitas yang top, tamat dengan nilai tinggi, dapet kerja yang bagus, punya cowok yang baik dan terpelajar, dan akhirnya membina rumah tangga yang bahagia. Buat apa semuanya kalau bukan untuk membuat orang tua kita bangga. Lalu, yang selama ini aku lakukan itu untuk siapa. Untuk diriku sendiri? Rasanya gak deh. Aku bahkan gak suka dengan diri aku sendiri.
“Kiran……….” Aku membuka mataku dan langsung tersentak.
“Iya, ntar aku bangun.” Aku mengucek mataku, beranjak dari tempat tidurku dan membukakan pintu.
“Waduh. Kok baru bangun. Teman-teman kamu yang lain sedang membersihkan halaman di depan.” Ibu kepala panti berdiri berkacak pinggang di depanku.
“Maaf, Bu. Aku tadi malam tidurnya kemalaman.”
Bu kepala panti menggelengkan kepalanya.
“Anak gadis mbok jangan keseringan tidur malam-malam. Mentang-mentang libur. Ya sudah. Kamu cepat mandi sudah itu langsung ke halaman bantu teman-teman kamu.”
Aku menganggukkan kepalaku dan membalikkan badan.
“Oh iya, Kiran…”
Aku menghentikan langkahku Ibu kepala mendekati lalu memelukku.
“Selamat ulang tahun ya.” Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Nah….” Ibu kepala melepaskan pelukkannya dariku. “Cepat mandi sana.” Aku memandangnya dan segera berlari ke kamar mandi.
Aku menghela nafasku berat. Aku melihat sekelilingku. Semua anak tampak bahagia membersihkan halaman panti ini. Mereka bersenda gurau satu sama lain. Aneh… padahal saat ini aku yang sedang berulang tahun. Kok malah mereka yang merasakan kebahagiaan. Sedangkan aku, duduk sendirian di tanah sambil mencabuti rumput.
Aku memang tidak mempunyai teman di sini. Bukan karena mereka sombong atau tidak mau berteman denganku. Beberapa kali mereka mencoba untuk mengajakku ngobrol tapi aku tetap tidak bisa dekat dengan mereka. Aku memang tidak banyak bicara makanya mereka lebih memilih membiarkan aku sendirian. Demikian juga di sekolahku. Rasanya di dunia ini aku hanya sendirian deh.
“Kiran….” Aku mendongakkan kepalaku. Ibu kepala berdiri di hadapanku. Di antara semua penghuni dunia ini hanya ibu kepala asramalah yang tidak pernah bosan untuk mengajakku berbicara. Mungkin karena itu lama-kelamaan aku mulai merasa dekat dengannya.
“Kenapa kamu tidak bergabung dengan mereka?” tanya Bu Kepala kemudian.
Aku hanya diam memandang Ibu Kepala. Ibu Kepala tersenyum. Dia menarik tanganku dan mengajakku duduk di kursi.
“Kamu sudah besar Kiran. Udah 16 tahun. Gak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Semakin kita dewasa maka kita akan semakin memerlukan orang lain.”
“Buat apa manusia membutuhkan orang lain kalo ternyata orang yang mereka butuhkan tidak ada di dekat mereka,” jawabku kasar.
Ibu Kepala nampaknya mengerti apa maksud perkataanku.
“Tidak hanya orang tua yang kita butuhkan di dunia ini. Kita juga butuh sahabat, orang yang mengerti kita, bahkan pacar. Kamu juga pasti begitu,” jelas Ibu Kepala lagi.
Aku menggelengkan kepalaku. “Aku gak mau ditinggalin lagi.”
“Kiran…….”
“Bu, sudahlah. Ibu sendirikan yang bilang kalo aku sudah besar. Biar aku sendiri yang membuat keputusan dalam hidupku,” suaraku meninggi.
Ibu Kepala nampak terkejut dengan reaksiku. Aku langsung menyadarinya dan emosiku kembali mereda.
“Maaf, Bu. Aku gak bermaksud bicara keras sama Ibu. Selama ini hanya Ibu yang ada di dekat aku. Hanya Ibu yang tidak pernah bosan mendekati aku walaupun aku tidak banyak bicara. Aku bukannya tidak ingin punya teman yang bisa mengerti aku. Tapi setiap aku mengatakan kalo aku tinggal di panti asuhan mereka langsung pergi meninggalkan aku. Dalam sekejap temanku yang banyak langsung hilang semuanya.”
Ibu Kepala Asrama tersenyum.
“Tidak semua orang seperti itu, Kiran. Cobalah buka hati kamu untuk dunia ini. Lupakanlah rasa benci kamu kepada orang tua kamu. Karena itu hanya akan menyiksa kamu.”
Aku tersenyum kecut.
“Ya aku tau. Terima kasih atas sarannya, Bu.” Aku meninggalkan Ibu Kepala Asrama begitu saja dan kembali melanjutkan pekerjaanku.
Tidak mudah menghilangkan perasaan benci ini. Kalo bisa sudah dari dulu aku lakukan. Setidaknya aku bisa tidur dengan tenang kalo rasa benci itu kuhapuskan. Walaupun Ibu Kepala sangat peduli padaku dia tetap tidak akan mengetahui bagaimana perasaanku yang sesungguhnya. Dia tidak akan bisa merasakannya, tidak akan ada seorang pun yang bisa merasakannya.
Aku berlari menuju ruang makan.
“Maaf aku telat,” gumamku ketika melihat semua anak panti yang lain sudah berkumpul di ruang makan. Semua orang memandangku. Selalu begitu. Padahal aku sama seperti mereka, sama-sama ditinggal orang tua. Jadi kenapa aku selalu menjadi objek yang selalu diperhatikan.
Aku memperbaiki posisi tas sekolahku. Aku menduduki kursi yang memang sudah ditentukan sebagai tempat dudukku setiap makan. Aku menyendok nasi gorengku dan makan dalam diam. Anak-anak yang lain nampak sedang asik berbicara dengan teman-temannya yang lain. Ibu Kepala pun nampaknya sedang asik berbicara dengan Yanti, salah satu penghuni panti ini. Hanya akulah yang sendiri.
Aku langsung berlari keluar kelas setelah bel tanda jam sekolah berakhir berbunyi. Rasanya aku pengen cepat-cepat keluar dari sini. Sekolah adalah tempat yang sangat tidak aku sukai. Bukan karena aku tidak suka belajar. Aku suka belajar. Tapi, disini kesendirianku benar-benar terasa dan rasanya dadaku selalu saja sesak setiap merasakan kesendirian itu.
Aku berjalan di sepanjang trotoar. Cukup jauh memang jarak dari sekolah ke halte bis. Sebenarnya aku bisa si naik angkot. Tapi, untuk menghemat uang aku lebih memilih jalan kaki. Namanya juga anak panti, apapun terbatas. Lain halnya kalo aku punya orang tua.
Aku menghentikan langkahku ketika melihat ada anak kecil yang terjatuh karena diserempet motor. Tidak ada yang menolongnya. Mungkin karena tidak parah. Aku langsung berlari ke arahnya. Walaupun begini aku tetap suka menolong.
“Kamu gak apa-apa?” tanyaku pada anak kecil itu.
Anak itu mendongakkan kepalanya.
“Nggak, Kak. Cuma lecet aja,” jawabnya.
Aku berjongkok di sebelahnya. Aku memegang tangannya yang luka.
“Darahnya banyak juga ya,” gumamku.
Aku mengeluarkan saputangan dari dalam tasku dan menutupi lukanya.
“Aku gak pandai mengobati. Setidaknya sampai kamu mengobati luka kamu, saputangan ini bisa menghentikan darahnya.”
Anak itu menerima saputangan dariku dan tersenyum.
“Dari sekian banyak orang yang lewat hanya Kakak yang menolong aku. Makasih ya, Kak.” Anak itu beranjak dari duduknya. Membersihkan celananya dan pergi meninggalkan aku.
Aku hanya mengangkat bahuku dan melanjutkan langkahku menuju halte.
***
Aku terdiam ketika melihat gadis itu menolong anak kecil yang bahkan tidak dikenalnya itu. Tidak kusangka ternyata dia gadis yang baik hati. Walaupun di sekolah dia nampaknya tidak peduli dengan siapa-siapa. Aku tersenyum sendiri.
“Gimana sih caranya buat dekatin lu???” gumamku kemudian.
Aku masih memperhatikan gadis itu dari dalam mobilku. Dia memberikan saputangannya kepada anak itu. Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya.
Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku bisa suka padanya. Padahal dia kuper banget di sekolah. Mungkin itu bermula ketika aku melihatnya memberikan makanannya kepada anak kucing di belakang gedung sekolah. Gara-gara itu niatku untuk bolos sekolah langsung hilang seketika. Sejak itu aku selalu mengikutinya setelah pulang sekolah. Tidak kusangka ternyata dia tinggal di panti asuhan. Dia memang gadis yang unik.
Aku langsung menghidupkan mesin mobilku ketika dia kembali berjalan. Kali ini aku memutuskan untuk menawarkan tumpangan kepadanya. Mungkin ini bisa menjadi permulaan yang bagus buat bisa lebih dekat dengannya.
“Hi…….” Aku membuka kaca mobilku. Dan menyapa gadis itu. “Kiran kan???” tanyaku basa-basi.
Gadis itu menghentikan langkahnya. Dia memandangku bingung. Aku tersenyum.
“Gue Raka. Teman sekelas lu,” jawabku. Masa sih dia gak kenal aku.
Gadis itu tetap diam.
“Mau pulang ya? Yuk gue anter,” tawarku.
Kiran langsung menggelengkan kepalanya.
“Kenapa? Ayolah….. untung-untung menghemat ongkos.”
Kiran nampak berpikir sejenak. Nampakanya dia setuju dengan tawaranku karena dia langsung membuka pintu mobilku dan duduk di sampingku. Kuperhatikan dia dari sudut mataku. Ternyata Kiran lebih manis kalo dilihat dari dekat.
“Aku tinggal di panti asuhan Bunda Kasih. Kamu tau?????”
Aku kaget. Gak kusangka dia langsung menyebutkan tempat tinggalnya. Biasanya si cewek suka malu memberitahu tempat tinggalnya kalo mereka tinggal di panti asuhan. Tapi, kenapa gadis ini malah santai saja.
“Hei, kamu dengar ga sih? Atau jangan-jangan kamu gak tau.”
Gadis itu memandangku tajam. Aku terkesiap.
“Ya….. Ya.. aku tahu.”
Jelas dong aku tahu. Sudah hampir seminggu ini dia jadi bahan untitan aku.
***
Aku membuka pintu kamarku dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Semua anak panti langsung memandangiku ketika mengetahui kalo aku diantar pulang dengan mobil mewah. Ibu Kepala juga nampak kaget. Aku hanya mengangkat bahuku ketika Ibu Kepala memandangiku dan langsung pergi ke kamarku setelah mengucapkan terima kasih kepada cowok itu.
Aku tahu dia Raka. Aku hafal semua nama teman sekelasku. Tapi yang tidak aku tahu, kenapa tiba-tiba dia menawarkan tumpangan kepadaku. Seingatku aku tidak pernah bertegur sapa dengannya.
Sebenarnya, tawarannya itu pengen aku tolak. Tapi mengingat menghemat ongkos seperti yang dikatakannya, rasanya sayang banget menolak.
“Yah…. yang penting aku selamat sampai rumah tanpa kurang sedikitpun,” gumamku.
***
Aku termangu di dalam kamarku. Aku teringat cerita ibu kepala panti tempat Kiran tinggal. Aku sempat sebal karena dia meninggalkan aku begitu saja setelah mengucapkan terima kasih tanpa menawarkan aku untuk singgah. Padahal aku sangat ingin mengobrol dengannya.
Tidak kusangka ternyata kisah hidup gadis itu begitu menyedihkan. Hal itulah yang menyebabkan dia tidak bisa membuka dirinya dengan orang lain. Tapi, menurutku satu masalah tidak bisa kita jadikan patokan untuk membenci kehidupan. Walau bagaimanapun hidup itu tetap indah dan harus dinikmati.
Pokoknya aku harus usaha agar bisa yah… paling tidak menjadi temannya.
***
“Kiran……….” Aku menghentikan langkahku ketika ada yang memanggil namaku. Aku memandang Raka berlari mendekatiku.
“Jalan lu cepat ya,” katanya sambil terengah-engah.
“Kenapa?” tanyaku. Aku memang paling tidak suka diganggu.
“Nggak. Gue Cuma mau ngajak lu pulang bareng lagi nanti,” jawabnya.
Aku diam dan langsung melanjutkan langkahku menuju kelas. Sekolah memang masih sepi. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa bangun terlalu pagi. Tahu begini aku lebih memilih memperlambat keberangkatanku ke sekolah daripada harus bertemu cowok ini lagi.
“Kiran….” Raka menarik tanganku. Aku langsung melepaskannya dengan kasar.
“Aku gak tau mau kamu apa. Tapi yang jelas aku gak butuh lagi tumpangan kamu,” jawabku tegas.
“Kiran, lu gak bisa dong menjadikan ditinggal orang tua lu sebagai alasan buat menjauhi semua orang.”
Aku menghentikan langkahku dan memandang Raka.
“Darimana kamu tahu?” tanyaku.
Raka nampak menyadari kesalahan omongannya.
“Eh… itu…..itu………”
“Cepat jawab!!!!” desakku.
“Kemaren gue sempat cerita-cerita sama ibu kepala panti lu,” jawab Raka.
Aku menarik nafasku berat.
“Kamu tidak punya hak buat ikut campur dalam masalah aku. Jangan sok jadi pahlawan deh.”
Raka mengernyitkan dahinya.
“Siapa yang mau sok jadi pahlawan. Gue cuma mau berteman dengan lu aja.”
“Kenapa?????!!!” tanyaku dengan suara keras. “Karena kamu kasihan sama aku. Karena kamu kasihan aku tinggal di panti asuhan dan mengetahui cerita hidup aku secara komplit,” lanjutku lagi.
Raka nampak terkejut.
“Gue gak bilang kaya gitu.”
”Sudahlah….. aku gak butuh teman.”
Aku pergi meninggalkan Raka begitu saja.
***
Tidakku sangka kalimat itu yang keluar dari mulut Kiran. Jujur, tuduhannya itu menyakiti hati aku. Padahal aku tulus ingin berteman dengannya. Bukan karena kasihan tapi karena dia baik hati. Itu aja.
Aku langsung menarik tangan Kiran begitu saja.
“Eh, apa-apaan ini????!!!” teriak Kiran.
“Udah…. lu ikut aja.”
“Tapi, sekolah,” lanjutnya lagi.
“Lu benci sekolah kan.”
“Siapa bilang????”
Aku diam. Nampaknya gadis itu langsung menyadari siapa yang telah mengatakan semuanya kepadaku. Yah… siapa lagi kalo bukan ibu kepala pantinya.
“Hari ini kita bolos aja dulu. Kita bersenang-senang.”
“Aku gak butuh bersenang-senang,” jawabnya kesal.
Aku mendorong Kiran masuk ke mobil.
“Gue mau meperlihatkan betapa indahnya dunia ini tanpa harus dicemari oleh kisah menyedihkan lu.”
Kiran terdiam. Mungkin dia lagi mencerna apa maksud perkataanku. Aku membawa Kiran berkeliling. Banyak hal yang ingin aku tunjukkan kepadanya.
“Kiran, coba lu lihat wanita yang sedang duduk di trotoar itu.”
Kiran memandang ke arah wanita itu.
“Lu masih beruntung setidaknya orang tua lu menitipkan lu di panti asuhan, bukan di jalanan. Kalo di jalanan bisa dipastikan begitulah jadinya lu, gelandangan. Lu gak bakalan bisa merasakan nikmatnya sekolah seperti sekarang.”
Kiran hanya diam. Matanya terpaku ke arah wanita itu. Aku kembali menjalankan mobilku.
“Nah… coba lu lihat disana.”
Kali ini Kiran mengarahkan matanya ke anak-anak sekolah yang sedang merokok di pinggir jalan.
“Buat apa lu punya orang tua kalo ternyata orang tua lu malah gak bisa menjaga lu dan hanya membuat lu menjadi seperti mereka. Hanya sampah. Itu berarti orang tua lu punya alasan untuk menitipkan lu di panti asuhan setidaknya lu gak jadi kaya merekakan. Walaupun lu benci sekolah tapi lu tetap pergi ke sekolah. Lu tidak pernah bolos kan????”
Kiran lansung menggelengkan kepalanya.
“Bagus,” jawabku, “ini juga pertama kali gue bolos sekolah,” lanjutku lagi.
Aku memandang Kiran. Nampaknya gadis itu menyadari sesuatu.
“Ayo, masih banyak yang pengen gue perlihatkan pada lu.”
Aku kembali menjalankan mobilku.
****
Raka terus menunjuk sesuatu sepanjang jalan. Dan aku pun selalu terpaku pada ucapannya. Semuanya mengena di hatiku. Aku merasa seperti anak bodoh yang sedang diajari bagaimana sebenarnya dunia itu, kehidupan itu, dan sebagainya. Dan semua ucapannya itu terngiang-ngiang ditelingaku bahkan sampai malam harinya.
Aku mengetuk pelan pintu kamar ibu kepala asramaku. Ini pertama kalinya aku pergi ke kamar wanita itu.
“Kiran???!!!” Ibu Kepala tampak sangat terkejut ketika mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
“Oh ya???!!!” Ibu Kepala nampak lebih terkejut. “Ya sudah ayo masuk.”
Aku masuk ke dalam kamarnya dan duduk di atas tempat tidurnya.
“Tadi aku bolos sekolah.” Aku langsung ke pokok bahasan. “Raka mengajakku berkeliling. Awalnya aku tidak mau tapi dia memaksaku. Ibu nampaknya sudah menceritakan semua kisahku kepada Raka. Dia bahkan tahu kalo aku benci sekolah.”
Ibu kepala tersenyum.
“Lalu dia mengajak kamu kemana?” tanyanya.
Kali ini aku yang terkejut. Aku kira Ibu Kepala akan memarahiku karena sudah bolos sekolah.
“Banyak hal yang sudah dia tunjukkan kepadaku. Tidak aku sangka ternyata lebih banyak orang yang hidupnya lebih menderita daripada aku.” Aku diam. Ibu Kepala pun nampaknya tidak berniat untuk memotong ceritaku.
“Dia memperlihatkan walaupun hidup aku ini begitu menyedihkan tapi masih banyak terselip kebahagiaan di sana. Masih banyak keberuntungan yang berpihak sama aku. Aku tidak seperti gelandangan yang terbengkalai dijalanan dan aku gak seperti anak-anak nakal yang hanya menghabiskan uang orang tuaku.” Aku menarik nafasku sejenak.
“Setelah aku pikir-pikir, mungkin memang jalan terbaik menitipkan aku di tempat ini. Karena disini aku mendapatkan orang tua yang begitu memperhatikan aku. Dia tidak pernah bosan untuk mengajakku berbicara walaupun dia tahu aku bukanlah tipe anak yang suka diajak ngobrol.”
Ibu kepala panti kembali tersenyum.
“Kamu tahu, Kiran. Dunia ini memang penuh dengan segala sesuatu yang sulit dimengerti oleh manusia. Kebahagiaan dan kesedihan bahkan kadang sangat sulit kita bedakan. Adakalanya kita merasa sangat bahagia padahal sebenarnya justru kitalah orang yang paling menyedihkan saat itu. Tapi, lepas daripada itu. Dunia ini begitu indah untuk kita lewati begitu saja tanpa melihat apa yang ada di dalamnya.”
Aku menganggukkan kepalaku. Kini aku mulai mengerti. Aku mulai paham semuanya. Apa itu kehidupan, apa itu kebahagiaan dan kesedihan, dan apa itu kekurangan dan kelebihan. Walaupun aku memiliki kekurangan di dalam kehidupanku tapi ternyata disana juga terdapat kelebihan yang justru membuatku merasa menjadi lebih baik.
“Sudah malam. Lebih baik kamu tidur. Besok sekolah kan???”
Aku kembali menganggukkan kepalaku. Aku beranjak dari tempat tidur dan pergi menuju pintu.
“Bu, terima kasih.”
Ibu kepala tersenyum. Nampaknya dia menyadari inilah pertama kalinya aku mengucapkan terima kasih dengan begitu tulus dari dalam hatiku.
***
Aku begitu kaget ketika melihat Kiran berdiri di depan kelas sendirian. Dia langsung menghampiriku ketika aku datang. Tidak kusangka ternyata dia menungguku.
“Terima kasih,” gumam Kiran.
“Apa??” tanyaku gak dengar. Padahal sebenarnya dengar sih. Cuma suaranya kecil banget. Kalo mau bilang terima kasih itu suaranya harus keras.
Kiran menarik nafasnya.
“Terima kasih,” katanya. Kali ini lebih keras.
Aku mengangkat alisku.
“Buat???”
“Buat semuanya. Berkat kamu aku menyadari sesuatu dan sesuatu itu sekarang sudah membuka mataku.”
“Oh…….. santai aja kali.”
Kiran hanya memandangku bingung. Dia menatapku.
“Itu….. gue….. gue…..” Kali ini aku yang jadi salah tingkah. Kenapa hanya karena dipandangi gadis ini aku bisa begitu gak karuan.
“Lu mau gak jadi cewek gue.”
Kiran menyipitkan matanya.
“Ya sudah, teman aja deh dulu. Lu mau ga????” tanyaku.
Yah, teman dulu gak apa-apalah. Aku bakalan usaha terus untuk mendapatkan hati Kiran.
Kiran memandangku lekat-lekat dan kemudian tersenyum. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum. Serius!!! Baru kali ini. Oh Tuhan………….. aku mau banget kalo waktu dihentikan selamanya hanya untuk melihat senyum gadis ini.
“Kamu teman pertama aku lho.” Kiran membuka mulutnya.
Aku langsung tersadar dari keterpesonaanku.
“Wah…. gue senang sekali. Kalo begitu, boleh dong gue jemputin dan nganterin lu ke sekolah tiap hari.”
Kiran nampak berpikir sejenak.
“Yah…. bolehlah,” jawab Kiran akhirnya.
Aku terkekeh. Aku masuk ke kelas diikuti Kiran.
Kiran memang berbeda. Dia memang sangat istimewa, buat orang-orang yang akan menjadi temannya, buat anak-anak di panti, buat ibu kepala panti, dan buat aku. Karena apa??? Karena dibalik semua sikap dinginnya, dia adalah gadis yang tulus, sangat tulus. Dan aku sangat bersyukur bisa menjadi salah satu orang yang bisa menyaksikan ketulusannya itu.
jangan menyerah kasih ketulusan bagi muana………………………
semangat…………….
So guuuuddd!!! Hiksss… Jadi terharu nih…
keren bangetttttt….!!!!!!
so, kesabaran akan membuahkan hasil yg tidak akan mengecewakan..
bwt everyone diluar sana, tetep sabar, ikhtiar & tawakal yaa… (utk semua hal yg lu cari di dunia ini..)
klo emang itu yg terbaik bwt lo, tunggu aja tanggal main nya..!!!
heheeee…
boleh di copy g bwt tugas ga?
yah…
coba kalo diterusin lagi ampe jadian ehehehhehe
ayo dung sekuel in..
yng ini bru kren bnran mil…
jmpol d…