KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan November 2008

Tapi Tidak

Pagi hari di metromini
Kududuk di dekat jendela
Menikmati petikan gitar sang pengamen
Tapi tidak suaranya ketika ia bernyanyi

 

 

Siang hari di kereta
Kuberdiri di dekat pintu
Menikmati angin yang membelai rambutku
Tapi tidak bau sampah yang ikut bersamanya

 

 

Puasa

Pukul 05.00 di rumah
Brak! Bruk! Brak!
Ah, aku kesiangan lagi
Tidak sarapan saja deh

Pukul 08.00 di kereta
“Kacang mede! Kacang! Mede!”
Ah, mana kenyang aku makan kacang?
Makan di kampus saja deh

Pukul 10.00 di kampus
“Pus, sudah mengerjakan tugas makalah?”
Ah, aku lupa
Makannya nanti siang saja deh

Milik-Mu

kadang….
Kau ada disini

kadang….
Kau selalu di hati

namun….
terlalu banyak penat
yang salah dan tersendat

biar…
biar semua pergi
jauh dan jauh hilang
jangan pernah kembali
selalu saja menjauh terbang

takut…
aku takut mengakui
hidupku yang tak terkendali
terseok dan tersesat arah
nyata tanpa pernah menyerah

Absisku antah berantah
ordinat pun carut marut

Aku tak tahu dimana nol
negatif atau positif
semuanya terasa sama

Sebuah dilatasi..
telah membuatku termutasi

menuntunku sampai disini
ketika koordinat terabaikan…
ketika cartesius tak berguna…
tanpa peduli mereka
yang selalu mengukur langkahku!

Kini aku bisa berdiri bebas
tanpa nurani terdikte

Salma mengusap peluh yang jatuh berulang kali di dahinya dengan selendang, sambil sesekali mengibaskan tangannya di atas tempayan, tempatnya meletakkan bermacam-macam gorengan, mengusir serangga-serangga berkaki kotor yang hendak menghinggapi dagangannya. Siang ini entah kenapa, Salma merasa kurang enak badan, keringat dinginnya terus saja mengucur. Namun Salma tahu, dia harus terus bertahan, setidaknya sampai semua laku terjual. Semua ini dilakukannya hanya untuk sang buah hati yang tercinta, Mutiara.

Suatu malam yang sangat hangat dengan warna langit keunguan dan bulan terlihat lebih besar dari biasanya bagaikan memantau kami yang hampir tenggelam dalam suasana. Kali ini, Saga berbicara dengan nada yang amat sangat pelan, seakan-akan bulan benar-benar sedang mendengarkan percakapan kami. Saat itu, memang sepertinya hampir semua orang di Blok B Kompleks Cemara Hijau ini sudah tertidur lelap menanti hadirnya esok hari yang akan memaksa mereka dengan rutinitas yang sudah menggaji mereka.

Dari aku menapakkan alas di wajah dunia
Lalu berlalu seirama gemericik air
Bunyi-bunyi tak henti-henti menangisi
Maka daya mengais puing-puing kesaksian
Atas kesekian helai yang kau tinggalkan

Kau saksikan pula
Malam kelabu dalam guyuran bayu
Terlalu ragu untuk kutegakkan kepalaku
Yang teraliri rintihan lirih bibirmu
Mengalir pula merah yang abadi itu
Menidurkanmu dalam pangkuan dunia

Penantian

rindu panjang penantian
tertatih-tatih palsunya harapan
dokma-dokma cinta tertekan
dalam sangka tiada beban
luka hati tawa berkembang
cinta jauh lari menghilang
sesaat.. rasa terbang melayang
hidup dalam raga yang mengambang…..

Isi Hati

duka tentang penyesalan
menggantung di dalam kalbu
terus membayangi kehidupan
walau dalam kesengsaraan
kertas putih kehidupan
semakin banyak ternodai
terlalu banyak kedukaan
kegelapan dan kehancuran !

ingin membalik halaman
namun tiada kuasa di diri
hanya Tuhan lah yang berhak menjalani
dan membuat semuanya terjadi

Pandanglah Mereka

Lihatlah…
Di sini berjuta-juta penduduk bahkan bermilyaran penduduk…
Mengais rezeki demi menyumpal mulut-mulut mereka yang meronta
Mereka tak suraukan, atas mulut-mulut nakal
Mereka jua tak peduli, apakah itu halal atau haram…

Mungkinkah, zaman telah berubah…
Dikarenakan, selembar kertas yang naik daun menjadi primadona dan mampu merajai akal pikiran manusia…

Next »