Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Pagi itu, tumben-tumbennya Dita melenggang di koridor kampus. Tempat yang sudah begitu asing dan memuakkan baginya. Tempat yang telah kehilangan identitasnya sebagai wadah bagi para intelektual. Basecamp bagi kaum hedonis yang ingin menambah sebuah titel di depan dan belakang namanya tapi terkadang sulit (baca:tak mau) mempertanggungjawabkannya. Sang pecahbelah membalut tubuh dengan baju super ketat hingga menggambarkan sketsa tubuhnya yang aduhai, melukis wajahnya dengan makeup yang super tebal. Sang batangan tampil pula dengan make up, parfum menyesakkan hidung. Mengukur segalanya dari materi. Superlente.
“Duh, Ray keren banget deh main gitarnya!! Mau dong dinyanyiin sambil main gitar!”
“Uh, norak banget sih, Mon!”
“Ya ampun, semua anak kelas kita juga pada ngefans sama Ray gara-gara dia keren banget kalo lagi main gitar! Mang lo nggak?”
“Biasa aja.” Aku pergi meninggalkan Monik.
Posted in Puisi, Sunyi dan Sepi on Oktober 22nd, 2008 3 Comments »
Haruskah aku tetap berharap
Sedang kutahu asaku tiada tergapai
Terlalu jauh…
Akankah aku tetap menunggu
Sedang kupasti penantianku
Tiada berhujung…tiada tepi
Hariku berlalu tiada irama,
Tiada warna.
Hampa tiada makna
Kerinduanku ibarat bayang
Keinginanku laksana kabus
Ada…namun tiada
Wujud..tiada tersentuh
Kala rembulan tak bersinar
Ku terpaut sendiri
Sepi…lamunan tiada arti
Hati kian jadi beku
Kala sang bintang ditelan malam
Ku telusuri angan tanpa pasti
Hampa…menggores luka
Masih kulangkahkan khayalan tanpa henti
Kala angin mengusik raga
Ku pikirkan yang tak ku mengerti
Kosong…membatu…
Termenung ku dalam keangkuhan
Pagi yang indah memulai hari. Embun mengusir kegelapan. Sinar matahari melanjutkan nafas kehidupan. Langkah kaki bergerak perlahan menginjak tanah yang basah. Rupanya tentara sedang melakukan serangan terhadap markas pemberontak. Tepat berada di tengah hutan, luput dari pantauan udara. Menyisir hutan dengan membagi serangan dalam beberapa tim.
Langit mendung. Petir bersahut-sahutan bergema mengguncang bumi. Hujan turun dengan deras. Malam yang tak nyaman untuk beranjak meninggalkan rumah dan waktunya menemukan kehangatan yang tersaji dalam kebersamaan keluarga. Sesuatu yang tak bisa didapatkan seorang pria yang menunggu kematian menjemputnya. Ada rindu yang tak terbalas dan menggumpal pada dada Suherman. Bagai petir yang mengamuk lebih dari kilatan cahaya itu di atas langit. Menggeroti kekuatan tubuhnya yang semakin lemah akibat penyakit diabetes yang dideritanya. Semua orang menangis. Semua orang meneteskan air mata untuk sesosok tubuh yang terbaring di ranjang itu. Pria yang memiliki hati layaknya segenggam emas atau berlian itu terbujur kaku disiksa rindu pada anaknya. Semua orang hampir mengadukan pada Tuhan tentang ketidakadilan yang menimpa pada jiwa yang selalu mendamaikan hati mereka.
Pak Kadir tak ingin memikirkannya lagi. Memang, yang sangat berat dilalui adalah ketika menghadapi berbagai komentar dan tanggapan dari kawan-kawannya di tempat kerja nanti. Mulai dari yang memberi motivasi untuk tetap bersemangat sampai yang hanya menyatakan simpati, mulai dari yang sedikit meledek sampai yang benar-benar meledek, dari yang sekedar bertanya bagaimana perasaannya, hingga yang bertanya lalu bagaimana selanjutnya.
Sebenarnya Pak Kadir sudah menerima kenyataan itu. Cukup lama. Dendam dan amarah yang sudah meng-iblis di dalam hatinya sudah dibuang. Ya, dendam itu sudah dikuburnya bersama puing-puing tatkala bencana alam gempa bumi mengobrak-abrik kota tempat tinggalnya. Entahlah, malaikat apa yang tiba-tiba memusnahkan dendam itu. Pak Kadir hanya merasa bahwa dirinya masih dicintai oleh Tuhan. Semua itu disimpulkan dari keadaan tempat tinggalnya yang masih utuh dibandingkan dengan keadaan bangunan di kanan-kirinya yang hancur dan rata dengan tanah. Ajaib! Hanya sepetak kamar kontrakan-nya-lah yang masih utuh tanpa sebaris retakpun. Gempa bumi dahsyat di pagi hari itu hanya menjatuhkan tiga buah buku dari rak yang menempel di dinding, terlempar ke lantai, selebihnya tak ada barang-barang yang hancur. Dan tentunya, hal yang paling membuat pak Kadir bersyukur adalah nyawanya masih selamat tanpa luka sedikit pun di tubuhnya. Benar-benar ajaib!
Mengapa hari begitu kelam
Di saat engkau tak lagi dekat
Tertinggal bayang yang selalu menemani
Kau pergi…
Membawa kata
yang tiada lagi menerangi indahnya lentera hati
Hati begitu hitam
Sampai ternangis tanpa jejak
Diikat erat kehampaan
Kini sepiku kembali datang
bersama hujan yang tiada mereda
aku duduk terdiam.
hening, ditengah kesuyian.
menatap mendungnya langit hati yang kusam.
meniti kekuatan yang hancur termakan api.
tatkala kutatap matahari.
ia menusuk mataku.
tubuhku sesaat terjatuh.
“mengapa aku tak bisa menatapnya?” ujarku.
lalu sebuah suara menggelegar ditelingaku
“kau tak pantas menatap matahari, karena kau terlalu lemah”
Cinta…
mengapa kau tebarkan perasaan indah saat pertama kali cinta itu ada?
mengapa kau tiupkan rindu saat sunyi menghujam nafasku?
mengapa kau biarkan jeruji gelisah menelan kebebasan hatiku?
Cinta…
mengapa kau titipkan jutaan harapan padaku?
jika nanti aku berbunga-bunga karenanya?
dan jika nanti kau mengambilnya, aku akan terluka?