Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi, Asa, Sunyi dan Sepi on Oktober 29th, 2008 No Comments »
Tiada lagi yang dapat ku papar…
Tiada lagi asa yang teringin
Menyelinap hening dalam kabut
Sulit mencerna hidup
Goresan pena tiada lagi tercurah
Sedang titisan kalbu menangis dibalik awan
Jiwa Memang tak pantas dalam catatan hidup mu
Namun biarlah ku selipkan senyuman
Diatas senyuman lukaku
Hingga ternitikan bahagiaku meski jauh aku gapai…
Permanent link to this post (53 words, estimated 13 secs reading time)
Jenjang hidup yang tiada henti
Diiringi hati yang kadang tak terarah
Seribu ingin ku selalu berbuat untuk Mu
Namun seringkali ku terjatuh dalam jurang
Berbelok ke angan yang terlalu gelap
Kadang jiwa tertawa dalam ketidaksadaranku
Sedang hati merintih bersama penyesalan
Sekali ingin ku melihat bayangan diri ini yang begitu lemah
Di atas waktu yang tiada tahu kapan kan berhenti
Namun apa yang dapat ku perbaiki
Dari diri ini……
Kar’na ku sadar….
Ku hanya sesosok wanita lemah yang selalu menyadari
Dan terus menyadari
Begitu banyak waktuku yang termakan oleh dosa yang semakin menyelimuti diri
Namun apa yang dapat ku perbuat……???
‘Tuk menepis semua… semua dosa…
Sering ku bersimpuh di tengah gelapnya malam yang telah merajai bumi
Sebelum ku terlalu jauh berjalan
Hingga nanti ku menemukan-Mu dalam ruang yang tak pernah ku tahu….
Ku ‘kan berusaha sekuat hati ‘tuk terus memohon pada-Mu
Sebagai seseorang yang hanya sebatas manusia
Yang tak pernah luput dari segala kesalahan…….
Kar’na ku tahu esok atau entah kapan
Waktuku pasti ‘kan habis……
Permanent link to this post (125 words, estimated 30 secs reading time)
-ini adalah sebuah janji-
Dahulu sayapku sempat patah
Terlampau lemah, tak mampu mengepak
Tiga musim sudah ku sembunyi dalam temaram
Hanya mampu menangis tanpa suara
Pernah terlintas untuk pergi
Sempat berpikir untuk akhiri
Hingga tiba lentera itu
Bawa setitik benderang cahaya asa
Menurut sebuah buku yang kubaca, kita harus pandai memvisualisasikan segala sesuatu yang kita inginkan. Semakin jelas gambaran tersebut, semakin besar kemungkinan untuk mencapai apa yang kita inginkan. Misalnya, jika akan berpidato di hadapan orang banyak, sejak jauh hari visualisasikan saat kita melakukan hal tersebut. Bayangkan apa pakaian yang kita kenakan, bagaimana penampilan kita, apa isi pidato yang disampaikan, kemana mata kita memandang, gerakan tubuh kita, siapa saja orang yang hadir, pakaian yang mereka kenakan, ekspresi wajah mereka, apa yang kira-kira ditanyakan pada sesi tanya jawab, hingga detail kecil lainnya. Gambarkan dengan sangat rinci dalam pikiran bahwa kita mampu memberikan pidato dengan sangat baik
This is a preview of
Aku Jatuh Cinta Pada Sesosok Lelaki yang Belum Pernah Kujumpai
.
Read the full post (1942 words, estimated 7:46 mins reading time)
Dia bagai cahaya
Menyinari gelapnya malamku
Dia bagai suara
Meramaikan kesepianku
Dia bagai boneka
Menemani kesendirianku
Dalam segala keterbatasan
Dia membuatku merasa sempurna
Dalam segala duka
Dia membuatku tertawa
Tak pernah dia bertanya
“Mengapa harus aku??”
Terakhir, aku melihatmu di kerumunan penghuni asrama. Tergeletak bersimbah darah. Semunya terasa kabur. Selamanya aku tidak akan bisa menghapusnya, sekalipun semua itu telah dikubur. Kamu membiarkan tubuhmu jatuh dari loteng – pelataran kosong di atas lantai tiga – asrama kampus. Padahal kamu tahu, kamu bukanlah daun yang bisa melayang bebas terhempas angin saat jatuh dari rantingnya. Dan, aku tahu kenapa kamu memilih perih – ‘terjatuh dengan sengaja’. Tapi aku tidak sanggup mengungkapnya.
di kala senja mulai tiba
aku duduk melingkar bersama
kau dan kami semua berbicara
tentang kita semua dan semua
di saat matahari tenggelam bersama datangnya gelap
kau berdiri tersentak
muka resah gelisah
pandangan hampa entah melihat kemana
Dalam guyuran hujan deras pada 14 Juni 2005, umat Islam Indonesia kehilangan tokoh dakwah besar, yakni Ustadz Rahmat Abdullah. Pria asal Betawi yang wafat di usia 52 tahun ini mendapat gelar Syaikh at Tarbiyah dari Majalah Sabili (2001). Ustadz Rahmat terkenal dengan gaya hidup bersahaja. Meski menjabat petinggi dan salah satu pendiri sebuah partai Islam, lalu terpilih jadi anggota DPR RI periode 2004-2009, ia tidak segan naik kopaja kemana-mana. Sastra, adalah media yang sering ia gunakan untuk syiar Islam. Almarhum meninggalkan satu istri dan tujuh orang anak.
This is a preview of
Mengejar Satu miliar, Merintis Film Dakwah Menuju Layar Lebar
.
Read the full post (1426 words, estimated 5:42 mins reading time)
Semilir angin berhembus, ombak lautan menderu, menjilat-jilat bibir pantai, berperan sebagai soundtrack malam yang gulita. Bintang menyebar di hamparan langit hitam sesekali pancarannya berkilat, tersenyum manja kepada siapa saja yang memandanginya. Dua orang itu masih berdiri, berjauhan, memandangi selat Makassar yang luas sejauh mata memandang. Jauh disana, nampak lentera kecil berwarna-warni menghiasi, berbaris tak teratur, mungkin cahaya itu dari sebuah pulau yang keduanya tak tahu namanya.