KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Balada Lelaki Hidung Belang

Tempat pelacuran di mana-mana sama saja. Mau di gang-gang sempit. Mau di hotel-hotel berbintang. Mau di pinggir jalan sekalipun. Sama saja. Yang membedakan hanya pelayanannya saja.

Satu malam lagi aku menjelajahi tempat pelacuran di negeri ini. Kalau dihitung-hitung sudah banyak uang dan waktu yang kuhabiskan untuk melakukan pesiar malam seperti ini. Tapi aku tidak akan pernah berhenti sampai aku menemukan dia. Cinta sejatiku.

Semuanya bermula sepuluh tahun yang lalu. Jadi artinya sudah sepuluh tahun, hari demi hari aku menjelajahi tempat-tempat pelacuran di negeri ini. Sepuluh tahun. Tiap malam berkeliling. Pindah dari satu wanita ke wanita lain. Semua demi menemukan dia. Cinta sejatiku.

Ya. Sepuluh tahun sudah. Hari ini genap sepuluh tahun itu. Mungkin aku harus membuat sebuah perayaan. Seandainya aku tidak bertemu peramal sialan itu mungkin aku tidak akan menghabiskan sepuluh tahun hidupku berkubang dosa dalam kehidupan malam seperti ini.

Cinta sejatimu ada di tempat yang tak kau duga. Mutiara paling indah selalu ada di kedalaman laut yang paling dalam. Terkubur dalam lumpur.

Itulah kata-kata si peramal yang membuatku menjadi seorang pria hidung belang. Kalau kau ingin menemukan cinta sejatimu kau harus mencarinya di tempat yang paling gelap dan menjijikan. Di sanalah dia berada. Kau akan mengenalinya begitu melihatnya.

Jadi disinilah aku sekarang. Memuaskan nafsuku atau nafsu wanita penghibur ini. Entahlah. Sambil berusaha mencari cinta sejatiku. Aku menghabiskan malam-malamku dengan berpikir apakah wanita yang kukencani ini cinta sejatiku. Tapi seperti kata peramal itu, Kau akan mengenalinya begitu melihatnya. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku tidak mengenali salah satu dari mereka sebagai cinta sejatiku, sampai aku bertemu Maya.

Entah bagaimana begitu bertemu dia, aku langsung tahu dialah cinta sejatiku. Dari luar, Maya tidak ada bedanya dengan wanita-wanita lain yang kutemui selama sepuluh tahun terakhir ini. Tempat pertemuan kami juga bukanlah di hotel berbintang atau tempat romantis lainnya. Tapi hanya di sebuah pojok taman kota. Di bawah pohon rindang. Di tengah kegelapan malam.

Tapi seperti kata peramal itu, Kau akan mengenalinya begitu melihatnya. Ya aku langsung mengenali Maya sebagai cinta sejatiku. Entah dari mana perasaan itu. Datang begitu saja seperti firasat.

Malam itu setelah melepaskan nafsu binatang kami, kami duduk di bangku taman sambil merokok. Setelah cukup lama saling diam, aku membuka pembicaraan.

“Sudah lama kerja begini?”

“Setaun.”

“Kenapa?”

“Kenapa? Biasa ekonomi.”

“Emang pendidikan terakhirnya apa?”

“S1 Ekonomi.”

Kami sama-sama diam lagi.

“Kamu tau, begitu ketemu kamu saya merasa ada yang lain.”

Tidak ada reaksi.

“Saya merasa tertarik dengan kamu.”

Masih tidak ada reaksi.

“Saya merasa kamu itu cinta sejati saya.”

“Hahahaha. Yang bener aja, Mas. Cinta sejati? Hahaha. Mana ada? Di dunia kami ini, tidak ada yang namanya cinta sejati. Yang ada hanya cinta instant. Itu pun kalau mau dikatakan cinta. Kami biasa berganti pasangan tiap malam, kami tidak tahu apa artinya cinta itu. Apa lelaki yang tidur dengan kami itu cinta sejati kami? Siapa yang tahu.”

“Tapi saya serius. Saya udah sepuluh tahun keliling Indonesia buat ketemu kamu. Cinta sejati saya.”

“Wah saya jadi tersanjung. Tapi Mas, apa Mas gak salah tempat. Nyari cinta sejati kok di tempat begini? Di sini gak ada yang namanya cinta Mas.”

“Tapi saya serius. Nanti saya akan hidupi kamu. Kamu gak usah melacur lagi.”

“Mas, Mas, Mas. Maaf. Tapi saya lebih senang melacur dari pada jadi istri orang.”

“Kenapa?”

“Soalnya sebagian besar pelanggan saya adalah orang yang sudah beristri. Bagaimana kalau nanti setelah menikahi saya, Mas juga seperti mereka? Gak ada jaminan kan? Sudahlah Mas. Kalo Mas emang mo sama saya, datang aja ke sini tiap malam. Saya kasih diskon. Tapi jangan suruh saya berhenti melacur. Ini hidup saya.”

Jadi begitulah akhirnya. Aku selalu datang ke tempat Maya. Setiap hari. Berusaha membujuk dia. Tapi dia tetap tidak mau. Tapi dia tidak menolak melayaniku. Ya biarkanlah, yang penting aku sudah menemukan cinta sejatiku, bukan?
Bandung, 27 September 2008

13 Responses to “Balada Lelaki Hidung Belang”

  1. on 01 Nov 2008 at 07:52red widi

    simple…

  2. on 07 Nov 2008 at 16:17oline

    aneh…

  3. on 22 Nov 2008 at 12:50ade

    impossible

  4. on 27 Nov 2008 at 22:00Oed

    Bagus…

  5. on 28 Nov 2008 at 14:06lennyerwin

    lugas,,menarik,,antiq

  6. on 05 Dec 2008 at 18:49ticha_chan

    gak bangeeeeeeeeeeetzzzzzzzzzzzzzz
    koq getoo sech?

  7. on 12 Dec 2008 at 19:48Blink_Zhee

    EndiNkx gaGh kReN…

    sSah paiiAh cRi cnTa sJti mLh g bS nKah

  8. on 22 Dec 2008 at 10:03aBaBaA-nyahaha!

    haha! akhir yg ga terduga..

  9. on 25 Dec 2008 at 22:47Blink_Zhee

    LaGiaN juGa doSa taU’

    uDh p’caYa ma RaMaLan maLah akHiRnYa b’buWaDh haL niSta!!

  10. on 22 Jan 2009 at 14:41wiwiek_itemmaniez

    yAH LUMayan deh

  11. on 25 Mar 2009 at 05:05Cannabie

    Ga bermutu.

  12. on 08 Apr 2009 at 19:38arie

    sipp lah

  13. on 10 Apr 2009 at 12:09maz_Ren0

    gak ngerti

Tinggalkan Komentar