Sumarni Jadi Manten
Oktober 22nd, 2008 by Abd. Qodir al-Amin
Pak Kadir tak ingin memikirkannya lagi. Memang, yang sangat berat dilalui adalah ketika menghadapi berbagai komentar dan tanggapan dari kawan-kawannya di tempat kerja nanti. Mulai dari yang memberi motivasi untuk tetap bersemangat sampai yang hanya menyatakan simpati, mulai dari yang sedikit meledek sampai yang benar-benar meledek, dari yang sekedar bertanya bagaimana perasaannya, hingga yang bertanya lalu bagaimana selanjutnya.
Sebenarnya Pak Kadir sudah menerima kenyataan itu. Cukup lama. Dendam dan amarah yang sudah meng-iblis di dalam hatinya sudah dibuang. Ya, dendam itu sudah dikuburnya bersama puing-puing tatkala bencana alam gempa bumi mengobrak-abrik kota tempat tinggalnya. Entahlah, malaikat apa yang tiba-tiba memusnahkan dendam itu. Pak Kadir hanya merasa bahwa dirinya masih dicintai oleh Tuhan. Semua itu disimpulkan dari keadaan tempat tinggalnya yang masih utuh dibandingkan dengan keadaan bangunan di kanan-kirinya yang hancur dan rata dengan tanah. Ajaib! Hanya sepetak kamar kontrakan-nya-lah yang masih utuh tanpa sebaris retakpun. Gempa bumi dahsyat di pagi hari itu hanya menjatuhkan tiga buah buku dari rak yang menempel di dinding, terlempar ke lantai, selebihnya tak ada barang-barang yang hancur. Dan tentunya, hal yang paling membuat pak Kadir bersyukur adalah nyawanya masih selamat tanpa luka sedikit pun di tubuhnya. Benar-benar ajaib!
Sebagai aktivis kemanusiaan, Pak Kadir segera bergabung dengan Komite Kemanusiaan Daerah. Proses evakuasi pun segera dilakukan. Penggalangan bantuan dan segala kebutuhan darurat segera diusahakan. Selintas-lintas, dendam di hatinya berkecamuk, rupanya sakit hati Pak Kadir masih belum sempurna sirna. Tak jarang, di dalam hati, Pak Kadir selalu mengeluh, “Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawa perempuan itu dengan bencana ini?” Namun setelah itu, Pak Kadir akan tersenyum sendiri dan berkata, “Aduhai, alangkah telah membusuknya hati ini.” Kemudian Pak Kadir akan menarik nafas dalam-dalam dan mengucapkan, “Astaghfirullah!”.
***
SUDAH hampir dua bulan berlalu semenjak bencana gempa bumi terjadi, Pak Kadir masih sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai aktivis kemanusiaan. Sakit hati dan dendamnya kini telah benar-benar hilang. Ponselnya tak lagi dipenuhi puisi-puisi kepedihan, deringnya juga tak lagi di dominasi calling-calling dari tante-tante penyuplai kupu-kupu malam.
Mami Elis memang masih sering menelpon, bertanya dengan bahasa khas mucikari, “Migana bakarnya? Ngopan main lagi? Nyokbang Las-Elis baru-baru, tokmong-tokmong and nyeger-nyegeri.” (”Gimana kabarnya? Kapan main lagi? Banyak cewek-cewek baru, montok-montok dan seger.”) Kalau sudah di-telpon begitu, Pak Kadir yang sekarang, akan menjawab, “Ngopane-pane wae, Mami. Saya lagi sibuk, nyokbang job harus diragap-ragap, tokmongnya lebih, bukan las-Elis nyegeri, tapi fulus sama depaning.” (”Kapan-kapan saja, Mami. Saya lagi sibuk, banyak job (kerjaan) yang harus digarap, lebih montok, bukan cewek seger, tapi uang buat masa depan.”)
Bahasa yang digunakan Mami Elis bukanlah bahasa daerah, tapi bahasa yang hanya orang-orang tertentu yang tahu. Mudah saja, hanya bahasa Indonesia yang dibolak-balik dengan imbuhan tertentu. Begitulah, bahasa sandi yang digunakan oleh orang-orang di lingkungan lokalisasi terbesar di kota Pak Kadir, kelihatannya cukup mudah untuk dimengerti, tapi bagi yang tidak biasa tentu cukup repot untuk memahaminya. Mami Elis merupakan salah seorang mucikari senior di lokalisasi tersebut. Pak Kadir mengenal Mami Elis ketika tengah melakukan penelitian untuk skripsinya. Semenjak itu, Pak Kadir menjadi akrab dengan Mami Elis yang waktu itu dijadikan Pak Kadir sebagai salah satu korespondennya. Tak tahu, kenapa tiba-tiba Pak Kadir yang idealis itu berpikir untuk mencoba berlangganan. Yang pasti, gejolak di dadanya selalu menjadi berantakan tatkala teringat perempuan yang sangat dicintainya tak jua memberikan jawaban yang menyejukkan hati. Sejak saat itulah, Pak Kadir menjadikan anak-anak Mami Elis sebagai pelarian dan pelampiasan.
***
Untunglah, Pak Apid memberitahukan kabar itu. Biar pun sore itu cuaca cerah, namun menjadi tidak indah di hati Pak Kadir.
“Pak, Dik Marni akan jadi manten tanggal sepuluh Agustus besok,” ujar Pak Apid memberi tahu perihal pernikahan Sumarni usai menunaikan shalat dzuhur di Masjid Agung, alun-alun kota.
“Ya, saya sudah tahu. Namun saya kurang tahu, apa nanti Marni akan ngundang saya,” Pak Kadir pura-pura sudah tahu, padahal berita itu cukup mengagetkan hati Pak Kadir.
Pak Kadir tidak menyangka sama-sekali kalau ia benar-benar akan ditinggalkan Marni, tepatnya, Marni benar-benar tidak menerima cintanya. Namun demi menutupi dan juga agar tetap memelihara kewibawaan di depan Pak Apid, Pak Kadir pura-pura tegar dengan berusaha sebisa mungkin menyembunyikan rasa perih yang menusuk hatinya. Sedikit beruntung, karena Pak Apid buru-buru pamit, jadi pak Kadir bisa leluasa membiarkan air matanya mengalir, meski masih ada rasa was-was kalau tiba-tiba pak Apid kembali lagi dan melihatnya menitikkan alir mata. Bagaimana tidak! Lebih dari tujuh tahun Pak Kadir berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan cinta seorang Sumarni, tapi harapan itu tak jua kunjung berbuah.
Sejujurnya, Pak Kadir ingin bertanya siapakah pengantin laki-lakinya Marni, namun terlanjur, Pak Kadir sudah berbohong bahwa dirinya sudah mengetahui hal itu. Maka dia tidak bertanya siapa yang menjadi pengantin lelaki dan membiarkan pak Apid meninggalkannya duduk di serambi Masjid sendirian.
Bukan rahasia lagi. Pak Kadir adalah orang yang sangat tergila-gila dengan perempuan asal Kebumen itu. Namanya Sumarni, cukup Sumarni saja. Tidak pakai Siti atau pun Habibatun. Seorang kyai Jawa - lebih betulnya kyai Kejawen- memang pernah meramalkan bahwa Pak Kadir tidak akan dapat meminang Sumarni, karena menurut hitungan Jawa, nama Pak Kadir tidak cocok bersanding dengan nama yang cukup Sumarni saja. Lain lagi bila nama Sumarni ditambah menjadi Siti Sumarni atau Sumarni Habibatun, atau ditambah dua sampai delapan suku kata yang genap, maka hitung punya hitung, dalam aturan main masyarakat Jawa, kedua nama itu pas untuk pendamping Pak Kadir. Bila nama Sumarni ditambah dua suku kata, misalnya Siti Sumarni, maka hitungannya bertemu cocok, bila ditambah empat suku kata, misalnya Sumarni Habibatun, maka hitungannya bertemu tentram, jika enam maka bertemu makmur dan sejahtera, sedangkan delapan suku kata maka bertemu damai dan langgeng. Akan tetapi ketika itu, Pak Kadir tidak percaya Kejawen, dan kini, ketika Pak Kadir gagal mendapatkan Sumarni, barulah Pak Kadir mempertimbangkan apa yang pernah disampaikan kyai Kejawen itu.
Berita tentang pernikahan Sumarni menjadi topik terhangat dalam pembicaraan di lingkungan kerja Pak Kadir. Menurut banyak cerita, Sumarni ketemu jodohnya di Bantul, sewaktu bergabung menjadi relawan untuk bencana alam gempa bumi. Kabarnya, calon suaminya adalah salah seorang donatur yang langsung terpikat ketika bertemu Sumarni pertama kali. Tak tanggung-tanggung, lelaki itu langsung melamar Sumarni dan di luar dugaan kebanyakan orang, Sumarni menerima lamaran itu. Sedikit berbeda dengan cerita versi Pak Apid. Kata Pak Apid, calon suami Marni bukan orang yang baru dikenal seperti isu yang ada, akan tetapi calon suaminya adalah mantan pacar Sumarni sendiri sewaktu mereka masih ada di bangku kuliah. Sebagai sahabat karib, Pak Kadir tentu lebih percaya kepada pak Apid, karena di samping karena dahulu Pak Apid pernah menjadi satu dengan Sumarni di sebuah organisasi kemahasiswaan. Terlebih lagi, setelah kabar tentang pernikahan Sumarni, Pak Apid lebih sering menemui Pak Kadir dan bercerita lebih banyak tentang Sumarni. “Saya sudah ikhlas dan benar-benar ikhlas,” demikian jawaban yang selalu diberikan Pak Kadir tatkala Pak Apid menanyakan perihal perasaan Pak Kadir. Bahkan, Pak Kadir sering menambahi embel-embel, “Kalau Dik Marni bahagia dengan keputusannya, kenapa saya yang mencintainya tidak rela kekasihnya bahagia?!” Kalau jawaban Pak Kadir sudah seperti itu, barulah Pak Apid mengalihkan pembicaraan pada masalah kerja.
Tiga hari lagi tanggal sepuluh Agustus. Meski selalu berkata ikhlas, Pak Kadir tidak dapat menepis kegelisahannya. Ia tak tahu harus bagaimana. Sudah pasti ia akan menunjukkan rasa besar hatinya nanti ketika menghadiri pesta pernikahan itu. Namun yang menjadi kegelisahannya adalah mengapa surat undangan pernikahan kekasihnya itu tak jua diterima? Apa mungkin Dik Marni tidak bermaksud mengundang dirinya, atau memang sengaja tidak memberitahu. Dengan segenap keberanian, Pak Kadir akhirnya menulis pesan lewat ponselnya, bertanya langsung kepada Sumarni, pura-puranya bertanya apakah berita pernikahan itu benar. Tak perlu menunggu lama, hanya selang dua menit ponsel Pak Kadir berbunyi, menghantar pesan dari jawaban kasih tak sampainya itu. Cukup singkat. Sumarni membenarkan berita itu, tak lupa ia meminta maaf karena tidak memberitahu, lalu di akhir kalimat mencantumkan hari dan tanggalnya dan tak lupa kalimat memohon do’a restu. Memang, jawaban itu kalau dirasa-rasa cukup membuat hati Pak Kadir semakin pedih, akan tetapi ada yang lebih ditunggunya; yaitu kalimat yang mengundang kehadiran pak Kadir dalam acara tersebut yang ternyata tidak ada dalam jawaban pesan yang dikirim Sumarni. Mengenai sebab kenapa Pak Kadir ingin diundang, tentu itu merupakan pertanyaan yang mudah dijawab. Pasalnya dengan kehadiran Pak Kadir pada pernikahan Sumarni, Pak Kadir dapat memperlihatkan legowo-nya (lapang-nya) hati Pak Kadir kepada semua orang, sehingga ia tak perlu canggung lagi apabila ada kawannya yang bertanya seputar perasaan atau pun jika nantinya ada yang usil meledek nasib Pak Kadir.
Bukan malang juga bukan untung. Kemungkinan lain yang tak pernah terpikirkan muncul. Tepat lima hari sebelum tanggal sepuluh Agustus, Pak Kadir mendapat telpon dari keluarga di kampung. Intinya Pak Kadir disuruh pulang ke kampong halaman di Magelang. Keponakannya telah lahir. Tanggal sepuluh Agustus akan ada acara Slametan Bubaran Bayi. Sudah menjadi tradisi, bahwa dalam upacara Bubaran, seluruh anggota keluarga harus kumpul guna menjadi saksi dalam upacara pemberian nama si jabang bayi, orang Magelang menyebutnya Slametan Bubaran Bayi. Spontan, hati Pak Kadir diguncang ragu, ia begitu ingin menghadiri pesta pernikahan Sumarni, namun jika ia mengenyampingkan tradisi keluarga, maka ia takut akan dianggap tidak menyambut baik datangnya anggota baru dalam keluarga, apalagi itu keponakannya sendiri. Untuk beberapa saat, Pak Kadir terdiam dan berpikir, “Ah, bagaimana pun urusan keluarga harus didahulukan,” begitu keputusannya. Dan di hari itu pula Pak Kadir langsung memilih pulang ke Magelang dari pada harus menunggu surat undangan yang belum jelas datangnya.
Di kampung, Pak Kadir cukup merasa tenteram. Pasalnya semua orang kini tengah bahagia dengan bertambahnya anggota keluarga. Hanya Pak Apid dari Jogja yang masih sering menelpon, bertanya apa Pak Kadir akan hadir di pernikahan Sumarni nanti.
Malam hari sebelum pernikahan Sumarni, atau malam sebelum upacara Bubaran, Pak Apid mengirim pesan lewat ponselnya yang bernada memaksa agar pak Kadir bisa hadir dalam upacara pernikahan Sumarni. Pak Kadir tidak membalas pesan itu, karena ia yakin betul bahwa dirinya sudah berulang kali menjelaskan kepada Pak Apid bahwa dirinya tidak bisa hadir. Sedikitnya ada dua alasan. Pertama, Pak Kadir tidak mendapat undangan. Dan yang kedua, pada tanggal sepuluh Agustus, Pak Kadir ada acara Bubaran Bayi keponakannya
Pagi harinya, tidak dinyana tidak dikira. Bagai petir bergelantungan di kepala Pak Kadir. Di tengah bunyi-bunyian irama Robbana. Di saat himpit-himpatan warga desa menyaksikan upacara Bubaran, tepat tanggal sepuluh Agustus, salah seorang rekan kerjanya menelpon. Ujarnya, ternyata pengantin laki-laki Sumarni adalah Pak Apid sendiri. Teman baik Pak Kadir. Ya, namanya Afid Burhanuddin atau sering dipanggil Pak Apid.
Magelang-Jogja, 2006-2008
aku ngikutin cerpen-cerpen, dan aku suka. endingnya kebanyakan menggantung, mungkin itu khas dari gayamu. dan menurutku kejutan yang diberikan tidak monoton. aku mengikutinya dengan habis, dan memang cukup menarik. penasaran dech dengan sososkmu… hehehe
Apa ne afid burhanuddin yang dri blora n pke kaca mata? He2..ksah sopo iki yo?!
++
Apik… tapi kyanya q kenal ma tokoh2 dlm cerpen ini?? Sumarni-kebumen-gombong-afid burhanuddin– semuanya sprti mash melkat di sudut kpalaq..
sumpe!!
hehehe, kamu Darwis yang itu ya?
ok, dech! aku nggak nyangkal tentang tokoh-tokohnya. tapi ingat, lho! semua itu (disamping kenyataan, hehehe…) tapi tetap saja endingnya bohong lho… hahaha.
perlu aku tegaskan bahwa aku sama Afid tetap sahabat dan tak pernah ada konflik. sekalipun Afid tidak pernah “CINTA” dengan Sumarni, kok! Afid sudah punya cewek dan sekarang jadi istreinya. Hmm.. bisa dibilang posisi Afid bagi aku hampir sama posisi kamu bagi Sumarni. (tempat curhat, gitu lho!) Dan ketika namanya tak jadikan tokoh dalam cerpen ini, Afid tidak keberatan.
Ups…. kok jadi buka kartu di situs umum sich! ya, sudah nggak apa-apa, yang penting kamu tahu kisah nyatanya.
Thank’s ya udah nyimak cerpen-ku. baca juga donk cerpenku yang berjudul “Anjing Jackur!” meski kamu nggak tahu tokoh-tokohnya (selain “Aku”), itu juga berangkat dari kisah nyata, lho. Hmm… bisa dibilang kisah setelah “Sumarni Jadi Manten”. Nach, kalau cerpen yang berjudul “Episode Luka”, itu juga terinspirasi dari kisah nyata: Tentang seorang perempuan yang datang padaku suatu ketika……. dan Ups! Tentu, aku tak akan menceritakan siapa perempuan itu.. hehehe
Darwis yang baik! Makasih ya sudah baca cerpen.
Di sini, aku cukup banyak belajar luka.
Do’akan semoga aku jadi orang hebat. hehehe
tuch kan??? apa kubilang, pak!
tokoh-tokoh dan cerpen-cerpenmu memang mencurigakan!
hayooo… ketemu orangnya kan?!
fenomenal
Yg prtama kali terucap ktika smpe pd barisan kalimat ending adalah: bajingan! Kena saya! Bkn krn saya jengkel dg tokoh apid trsbt,dan bukan pula saya trsindir dg tema trsbt,mlainkan krn kejutJ
Yg prtama kali terucap ktika smpe pd barisan kalimat ending adalah: bajingan! Kena saya! Bkn krn saya jengkel dg tokoh apid trsbt,dan bukan pula saya trsindir dg tema trsbt,mlainkan krn kejutan yg dihantamkan dg tiba2 oleh si penulis tlah membuat saya shock.Penulis bnr2 brhasil mengerjai saya yg sjak awal tdk menyangka kalau musuh pak kadir trnyata mengerong dlm slimutnya sendiri. Slamat buat pak kadir al-amin. Saya tunggu karya berikutnya.
Ini la njutan kisah dari Sumarni Jadi Manten …..
Setelah lama menunggu, akhirnya Sumarni dan Apid mendapatkan buah dari pernikahannya. Tak disangka, penerus dinasti Apid ternyata perempuan yang secantik ibunya. ANIK KAMPARENA tepatnya nama dari junior itu. “Biarlah aku dan suamiku yang tahu makna nama itu”, ujar Marni. “Ah, kalau seandainya Tuhan kasih aku hamil lagi, aku pengen anak laki-laki. dan aku kasih nama AHMAD BIAN KABERMATA.
Mas Kodir, tolong hubungi aku ya.
E-mail: “namaku lengkap tanpa spasi”@gmail.com
Lama nih gak kumpul2. Kosku masih yang dulu.
sukses
Cerita dari Lurah Kinasih
Ini lanjutan kisah Sumarni Jadi Manten ….
Sumarni sangat bahagia dengan suaminya. Hari demi hari dilaluinya dengan riang, seolah tak lagi ingat kejadian masa lalunya. Di tambah lagi dengan kehadiran buah percintaannya. Ia secantik ibunya. Kini umurnya telah menginjak 10 tahun. ANIK KAMPARENA namanya. Entah apa arti dari nama itu. “Biar aku dan suamiku yang tahu makna dari nama itu”, ujar Marni.
Setahun kemudian, anak keduanya lahir, cowok yang setampan bapaknya. Namanya AHMAD BIAN KABERMATA.
Untuk Mas Qodir
Hubungi aku di e-mail: “nama lengkapku tanpa spasi”@gmail.com
atau “nama lengkapku tanpa spasi”.blogspot.com
Kosku masih yang dulu