KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Dalam guyuran hujan deras pada 14 Juni 2005, umat Islam Indonesia kehilangan tokoh dakwah besar, yakni Ustadz Rahmat Abdullah. Pria asal Betawi yang wafat di usia 52 tahun ini mendapat gelar Syaikh at Tarbiyah dari Majalah Sabili (2001). Ustadz Rahmat terkenal dengan gaya hidup bersahaja. Meski menjabat petinggi dan salah satu pendiri sebuah partai Islam, lalu terpilih jadi anggota DPR RI periode 2004-2009, ia tidak segan naik kopaja kemana-mana. Sastra, adalah media yang sering ia gunakan untuk syiar Islam. Almarhum meninggalkan satu istri dan tujuh orang anak.

Tiga tahun kemudian, seorang sutradara muda bernama Zul Ardhia terinspirasi mengangkat kisah hidup Ustadz Rahmat melalui film “Sang Murobbi, Sebuah Spirit yang Hilang.” Perjuangannya berat, sebab berlandaskan idealisme, ia menolak dukungan rumah produksi mapan. Ambisinya, adalah membawa film dakwah berbentuk VCD/DVD ini ke layar lebar. Meski untuk itu, ia harus mengumpulkan 1 Miliar!

Sosoknya sederhana. Mengenakan celana panjang dan kemeja putih, Zul Ardhia datang sedikit agak telat dari waktu yang dijanjikan. Pria berkacamata ini langsung tersenyum ramah begitu mengenali Majalah Dian Al-Mahri. Tak lupa ia mengucap salam perkenalan dengan menangkupkan tangan di depan dada. Dahinya berkerenyit memandang ke sekeliling restoran. Memang suasananya sedang hingar bingar.

“Pindah ke tempat yang lebih tenang yuk,” ajaknya. Siang ini, ia akan memaparkan panjang lebar mengenai proses pembuatan film yang sedang digarapnya.

Mengapa Ustad Rahmat? Karena Sang Murobbi ini ceritanya sudah meninggal. Kita nggak mau orang yang masih hidup, takutnya jadi mengkultuskan seseorang. Kita mencoba untuk se-objektif mungkin.

Ustad Rahmat memang terkenal sangat bersahaja. Yang kalau ketemu sama orang, bilang Assalamualaikum. Yang kalau nggak ada duit, meski keluarganya butuh makan, tapi kalau orang lain butuh, dia mendahulukan orang lain. Itu semua kan sunnahnya Rasul yang beliau berusaha terapkan. Ustad Rahmat kalau dakwah nggak pernah mau dikasih duit. Bahkan dari cerita yang saya dengar, Beliau kalau khutbah jumat itu kan dikasih transport, beliau simpen. Beliau masukin di dalam kotak, itu nggak pernah dipakai. Nanti kalau ada orang butuh baru diambil dari situ. Begitu dibuka ketika beliau meninggal, Rp.100.000.000 ada lho. Jadi kepedulian, kepekaan, perhatian yang ada di diri beliau kita mau angkat. Kenapa? Karena kita udah kering sama tokoh-tokoh teladan macam begitu.

Pembuatan film yang menelan dana hampir setengah milyar ini sudah berlangsung selama hampir 2 tahun di bawah bendera Majelis Budaya Rakyat (MBR), sebuah organisasi kesenian dan kebudayaan independen beranggotakan praktisi film, jurnalis, dan pemain teater. Syuting perdana dilakukan pada 24 Maret 2008 kemarin. Uniknya, inisiatif pembuatan film lahir hampir bersamaan dengan pembentukan MBR itu sendiri, yaitu beberapa bulan setelah Ustadz Rahmat tiada. Saat Zul mengusulkan membuat film bertema Sang Murobbi, yang artinya Guru, tokoh Ustadz Rahmat terpilih diantara sederet nama lainnya, dinilai sebagai sosok yang paling bisa diterima masyarakat

Ini proses yang berdarah-darah-lah, dalam tanda kutip. Kita nggak punya duit. Kita kan lembaga nirlaba, nggak bisa apa-apa. Ada cuma modal awal berapa puluh juta, habis untuk kegiatan kita. Untuk Sang Murobbi tuh nggak ada. Bismillah aja deh.

Akhirnya pakai dana pribadi bikin proposal, bikin ini, bikin itu. Ketemu ustad ini, ustad itu. Ada satu nama, Ustadz Mahfud Abdurrahman, muridnya almarhum Ustad Rahmat. Beliau-lah yang ngasih dana awal. Awal persiapan, skenario nggak kelar-kelar. Kemudian kita buka casting. Castingnya nggak cocok-cocok karena kita nyari yang bisa ngaji. Jadi sebelum KCB (Ketika Cinta Bertasbih, red) melakukan ini, MBR udah duluan. Sampai akhirnya ketemu sosok Pak Irwan (Irwan Rinaldi, pemeran Ustadz Rahmat, red) itu. Dia kan muridnya almarhum dan sangat kenal Ustad Rahmat. Ngajinya juga bagus. Selain itu, ada juga selebriti yang saya ajak dan mau, ada Astri Ivo, Atik Cancer, Jerio, David Chalik, dan Neno Warisman.

Begitu sudah produksi, Editingnya dimana? Alhamdulillah di rumah saya ada. Akhirnya memang kita nggak mikir margin terlalu besar. Kalaupun kita sekarang, katakanlah, menjual VCD/DVD, ini kan ada cita-cita besar, membioskopkan. Itulah yang membuat orang seperti saya masih bersemangat.

 

Layar Kaca ke Layar Lebar

Perjalanan menuju layar lebar tidak mudah. Meski pemutaran perdana di Pekan Tarbiyah, 27 Juli 2008 lalu yang diadakan di GRJS Bulungan mendapat sambutan meriah (Lebih dari 500 orang datang menonton, termasuk dari daerah seperti Lampung, Yogyakarta, dan Surabaya), masih banyak langkah yang harus dilakukan demi memberi film ini kesempatan yang sama dengan “Ayat-ayat Cinta” dan “Kun Fayakuun.” Untuk mempercepat penggalangan dana, Zul mencoba strategi pemasaran dengan cara pemesanan VCD/DVD. Meski berarti tugasnya bertambah, karena ia diberi amanah untuk menangani distribusi. Beruntung ia dibantu sang istri, Toeti Soedigtiaty, yang mahir urusan administrasi.

Sebetulnya saya menempuh resiko yang amat besar. Kenapa? Karena kemarin saya baru bertemu dengan distributor VCD dan dunia ini sangat kejam. Pasarnya, aduh, jahat banget. Bayangin, saya produksi dengan angka sekian, saya menjual cuma 30.000. Berapa yang mereka minta dari saya? 50%! Artinya tuh VCD 30.000, mereka minta 50%, Rp.15.000. Padahal yang memproduksinya 2 tahun kan saya! Belum lagi, setelah distribusi dimulai 11 Agustus, pasti ada 1,2,3, yang menggandakan. Ya hanya saya masih tahan-lah. Saya percaya masih ada orang-orang yang mau membeli dengan angka segitu dan memang ini infak buat dakwah.

Saat ini, jumlah VCD dan DVD yang terpesan hampir mencapai 10.000 kopi. Kalau jumlah penjualan melejit sampai 40.000 kopi, maka film bisa naik ke bioskop. Namun Pria kelahiran 18 Desember 1965 ini dengan lirih mengatakan, biayanya mencapai 1 Miliar. Terbersit pertanyaan, mengapa ia tidak bekerja sama dengan Production House yang sudah mapan?

Kita nggak mau ketemu dengan produser yang cuma mikirin pasar. Mereka kan yang penting laku aja. Kita nggak menafikan masalah untung-rugi, tetapi ideologi nomor satu. Tujuan kita apa? Yaitu bagaimana nilai-nilai Islam masuk ke penontonnya. Islam itu universal kok. Nilai Islam itu bukan terorisme, bukan fundamentalisme. Islam Rahmatan Lil Alamin! itu yang kita mau munculkan.

Nah sekarang nggak mungkin nilai-nilai itu kita usung, lalu kita ketemu dengan mereka (Production House, red). Nanti “Zul ini buang, zul ini buang, zul ini buang.” Wah! Abis tuh film! Kalau bikin sendiri kan bisa menentukan, kemana arah nih film nanti. Tapi resikonya memang seperti sekarang ini. Tertatih-tatih…hahaha…

Berdakwah butuh independensi finansial, begitulah kesimpulan yang diambil pria yang berkecimpung di bidang film sejak 1989 ini. Secara pribadi Zul juga lebih memilih bergelut di bidang periklanan sebagai mata pencaharian utama – sambil tetap mengerjakan proyek-proyek idealisnya.

Dakwah tuh hidup, kita yang menghidupi. Bukan dakwah menghidupi diri kita. Seperti halnya orang jatuh cinta, kan ada pengorbanan. Dimana-mana dakwah itu mulainya dari nol. Rasulullah itu ketika hendak berdakwah nggak ada modalnya. Modalnya Bismillah aja, berdasarkan ketaqwaan sama Allah karena InsyaAllah, Allah akan mempermudah.

Termasuk ketika ada yang mendanai film ini, kita katakan itu pinjaman. Wajib dikembalikan. Sama temen-temen pun saya bilang, “Mungkin ini fasilitasnya nggak layak, tapi kami berusaha memenuhi hak kalian sebagai kru. Tapi satu hal yang musti kita inget, kalau orang bisa menikmati, mengambil ibroh dari film itu, amal jariyahnya sampai kita mati juga masih ada.” Alhamdulillah, temen-temen sepakat dengan itu.

 

Mencari Spirit yang (Belum) Hilang

Sebagai muslim yang mengamalkan kemampuan di koridor seni, pria yang tinggal di Sektor II, Bintaro, Jakarta Selatan, ini sangat menjaga agar filmnya tidak hanya muncul sebagai pemuas egoisme dan hawa nafsu. Itulah mengapa Zul sangat prihatin dengan keadaan perfilman Indonesia.

Sangat menyedihkan. Kita dikendalikan oleh kapitalisme yang hanya memikirkan pasar. Dia mau jejalin kita dengan apapun, kita terima! Semuanya sejenis, mulai dari pocong, pornografi, Masya Allah. Oke, kita bisa bilang, faktanya memang seperti itu. Justru kalau ada fakta seperti itu, kita perkecil. Bikinlah sesuatu yang membuat kita tidak seperti itu. Yang kita perangi sebenarnya pemikiran maksiat. Kita nggak sadar lho menerima nilai-nilai itu.

Kamu bayangin sekarang, atas nama kebebasan dan kasih sayang, tiba-tiba membanjirlah film bernuansa pornografi. Penontonnya kebanyakan teenager. Akhirnya dampak yang terjadi, kamu muter aja nih keliling Mall, lihat tuh anak-anak kecil di pojok, ngerokok, berangkulan. Dan Itu dipertontonkan. Kayak apa anak kita ke depan kalau itu dibiarkan?

Okelah, kita berkarya aja deh. Ini ada karya kaya gitu, ada karya kaya gini, silahkan dinikmati. Dan ayo, kita berjuang! Kalau kita kalah, ya itu kehendak Allah. Tapi paling nggak kita udah berusaha, udah memulai. Kalau nggak, mungkin hancur aja kita.

Minimnya pilihan adalah sumber dari segala masalah, begitulah anggapan Zul. Padahal, masyarakat Indonesia itu pintar, lanjutnya. Sehingga, meski berat, ia optimis Sang Murobbi bisa diterima sebagai alternatif tontonan. Sebagai seorang kreator film muslim, pria lulusan UIN Syarif Hidayatullah jurusan Tafsir Hadist ini masih menyimpan kobaran keinginan yang menyala, untuk menjadikan dunia perfilman sebagai sarana dakwah yang ampuh. Baginya, film adalah sarana propaganda yang paling efektif untuk menggugah rasa dan mengharubirukan penonton.

Teori itu terbukti ketika pemutaran perdana Juli 2008 lalu, film “Sang Murobbi” berhasil mencampuradukkan emosi para jemaah. Mereka menangis saat adegan film bernuansa kesedihan; ikut tertawa ketika muncul akting jenaka; atau ramai-ramai berseru Allahu Akbar! saat adegan perjuangan.  Dengan wajah berseri-seri Zul berkata, “Ternyata spirit ini masih ada!”

2 Responses to “Mengejar Satu miliar, Merintis Film Dakwah Menuju Layar Lebar”

  1. on 22 Oct 2008 at 19:52Sitisarasvi

    Subhanallah, walhamdulillah, Allahuakbar

  2. on 25 Oct 2008 at 15:09Dewilisa

    Kenapa orang2 seperti Ustatz Rahmat dan Zul Ardhia sangat langka saat ini . Ada apa dengan dunia pendidikan kita?

Tinggalkan Komentar