KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Anjing Jackur

Sengaja aku datang ke Jakarta dengan tidak memberitahu istriku. Meski satu bulan lalu aku sempat memberitahunya lewat telpon. Ada yang harus kuselesaikan sebelum bertemu dengan istriku. Sesampai di Jakarta aku menginap di rumah kawanku di Kebun Jeruk. Kepada kawanku, aku bercerita alasan kenapa tidak menginap di tempat istriku. Memang, rasanya tidak baik menceritakan masalah keluarga kepada orang lain, tapi bagaimana pun aku perlu bukti untuk bisa mengambil keputusan.

Pagi itu aku berencana hendak mema-matai istriku, namun kawanku menyuruh agar aku istirahat dulu, karena malam tadi aku baru sampai di Jakarta. Meski capek, tetap saja aku tak dapat istirahat dengan tenang. Kepadaku, kawanku berjanji akan membantu, bahkan sejujurnya, kata kawanku; dia punya beberapa informasi tentang istriku, tapi kawanku hendak menceritakannya sore nanti sepulang kerja. Sebagai syarat untuk mendapat informasi dari kawanku, aku harus istirahat. Terpaksa, aku menurut.

“Kalau lapar tinggal masak mie di dapur. Kalau haus tinggal ambil minum di kulkas. Kalau jenuh, nonton tv dan kalau mau cemilan, di meja kamar tidurku ada kacang bawang, kutaruh di dalam toples warna hijau,” kata kawanku sebelum berangkat.

“Kalau tak ada halangan dan kamu juga tidak keberatan, nanti aku pulang bersama Jono, dia juga punya informasi tentang istrimu,” tambah kawanku sambil menutup pintu. Sebentar kemudian terdengar suara sepeda motor berbunyi.

“Gun! Tolong tutupin gerbang!” teriak kawanku yang segera melaju dengan motor bebeknya. Aku keluar  untuk menutup gerbang.

Guk! Guk! Guk! Tiba-tiba saja terdengar suara anjing menggonggong dari samping pintu. Jantungku hampir jatuh karenanya.

“Ayo, Jackur! Jangan berisik! Ck, ck, ck!” Untunglah, aku sedikit tahu cara mengajak anjing berdamai. Panggilan ‘Jackur’ aku dengar dari kawanku ketika anjing itu tengah menggonggongi-ku malam tadi, ketika aku baru sampai di rumahnya.

Dari dalam rumah, aku selalu mendengar anjing itu menggonggong tiap kali ada orang lewat. Meski berada di dalam pagar halaman, tetap saja orang yang lewat akan terkejut. Rumah di seberang juga memelihara dua ekor anjing. Kalau dilihat dari ukuran besarnya, sepertinya anjing tetangga adalah pasangan betina dan jantan. Yang bertubuh lebih kecil, berbulu putih itu jantannya, dan yang hitam kecoklatan betinanya.

Seperti kata kawanku, aku mengambil toples warna hijau berisi kacang bawang dan minuman kaleng di kulkas. Karena tak biasa tidur pagi, kunyalakan tv di ruang tamu. Untuk sementara, aku ingin melupakan perihal istriku. Aku berharap, mataku akan terkantuk dan terlelap di depan tv. Suara si anjing coklat Jackur itu cukup mengganggu, tapi karena aku tak begitu suka anjing, kudiamkan saja, asalkan dia tidak menggonggongi-ku yang ada di dalam rumah. Bisa-bisa tetangga berprasangka kalau aku ini maling.

Jika dipikir-pikir, aku cukup beruntung punya banyak teman di kota besar ini. Tiga tahun lalu aku bekerja di sebuah PT di Jakarta. Di PT itu aku mengenal banyak teman, termasuk orang yang akhirnya menjadi istriku. Tapi karena aku hanya pekerja borongan, kontrak kerjaku habis, dan setelah sebulan tak dapat pekerjaan pengganti aku memutuskan pulang dan menjadi kuli bangunan di kota sendiri. Isteriku tetap ngotot tinggal di Jakarta, katanya sayang kalau pekerjaannya ditinggal begitu saja.

“Cari kerja itu sulit, kalau sudah jadi karyawan tetap, sayang kalau dilepas”. Isteriku memang beruntung, maklum saja dia orang berpengalaman, jadi bisa mengajukan untuk menjadi karyawan tetap. Malahan sekarang sudah jadi supervisor di PT tempat kami dulu sama-sama kerja. Tidak sepertiku, meski sempat bergelar sarjana, namun sia-sia saja. Ijazahku hanya kenangan masa-masa jadi orang pendidikan.

***

Suara anjing Jackur meng-gukguk keras. Rupanya ada orang yang datang. Kutengok jam dinding, ah! sudah hampir jam lima sore. Tak terasa aku tertidur cukup lama. Tv-nya masih menyala. Suara sepeda motor berhenti di halaman rumah.

“Hush! Jackur, diam!” Itu suara kawanku. Ketika aku keluar membuka pintu, kulihat ada tiga orang sedang memarkir sepeda motor. Yang satu, motor bebek kawanku, dan yang satunya lagi Honda Tiger. Pantas saja, si-anjing menggonggong. Kawanku pulang bersama dua orang, Jono dan Faisol. Setelah aku bersalaman dan mempersilahkan masuk, kawanku menggandeng tanganku, membawaku masuk kekamar. Bisik-bisik di telingaku,

“Sorry, Gun! Awalnya aku hanya akan pulang bersama Jono, tapi ketika Faisol tahu kamu ke Jakarta, dia pingin ikut menemuimu.”

“Apa Faisol tahu tujuanku datang ke Jakarta?”

“Tidak, aku tidak menceritakannya, tapi kalau Jono sudah kukasih tahu.”

“O, ya sudah, nggak apa-apa.”

Karena ada perubahan keadaan, akhirnya urusan informasi istriku ditunda dulu. Seperti reuni di SMA saja, kami berempat ngomong ngalor-ngidul tentang masa lalu, waktu kami masih satu kerja di PT. Obrolan penuh tawa itu bahkan sampai ngomongin sejarah anjing Jackur, tepatnya kenapa namanya Jackur. Kawanku bercerita, sebenarnya nama Jackur diambil dari nama orang di kampungnya dan juga kebiasaan orang itu. Konon, sebelum kawanku pindah ke Jakarta, dia sempat diomeli selama dua jam oleh orang yang bernama pak Jaki, hanya gara-gara kawanku menginjak sebatang tanaman sayur-sayuran di kebun Pak Jaki. Di kampung kawanku, Pak Jaki memang terkenal pandai; pandai berbicara, pandai menipu dan pandai merayu orang. Tapi orang sekampung lebih mengenalnya sebagai orang yang pandai banyak omong. Tidak peduli ada di mana dan dengan siapa, orang itu akan cas-cis-cus berbicara. Kalau melihat orang itu lagi bicara, para pemuda di kampungnya akan bilang “Tuh, si Jack lagi bedekur”. Di kampung kawanku, bedekur adalah sebutan bagi burung yang sedang berkicau, tak peduli burung apa, asal burung itu mengoceh, disebutnya sedang bedekur. Ketika kawanku memutuskan untuk memelihara anjing di Jakarta, ia ingat si Bedekur di kampungnya, persis dengan anjingnya yang menggonggong terus seharian, apalagi ketika melihat orang lewat. Alhasil diberilah nama anjing itu Jackur sebagai pengingat bahwa kawanku pernah dimarahi orang hingga dua jam lamanya.

“Kenapa tak diberi nama ‘Jackgonglan’ saja? Burung kan berdekur, kalau anjing menggonggong, jadi Jackgonglan, yang artinya: pak Jaki-mengongggong-sialan, hahaha nggak lucu, ya?!” kata Jono di sela-sela cerita kawanku.

“Nggak lucu, blas!” sahut kawanku, kemudian tawa kami meledak kembali.

Rupanya, obrolan kami terlalau asyik, sampai-sampai obrolan berlanjut di warung kopi larut malam. Harapanku untuk mengetahui kabar istriku terpaksa tertunda sampai besok. Jono dan Faisol dan juga kawanku, kebetulan kejatah ship malam untuk hari kerja besok, jadi malam itu kami berencana begadang sampai pagi. Tiba-tiba saja kami semua terdiam, mungkin masing-masing sudah kehabisan bahan obrolan. Aku yang memang tak punya mood ngomongin masa lalu diam saja. Tapi, Faisol membuka obrolan. Tapi kali ini rautnya kelihatan sedikit serius.

“Gun, sebenarnya kamu masih suaminya Sari nggak, sih? Maksudku, apa kamu masih menjalin rumah tangga dengan Sari?”

Terus terang pertanyaan itu membuatku kaget. Aku kira Faisol tidak pernah ketemu Sari, istriku. Meski satu PT, tapi Faisol dan Sari beda bagian. Tempat kerjanya pun lumayan berjauhan.

”Minta maaf saja kalau terlalu pribadi. Tapi aku sering lihat Sari pergi kemana-mana sama si Arif. Itu lho, si Arif-kacamata, teman satu kontrakanmu dulu.”

Aku jadi serius mendengarkan Faisol. Jono dan kawanku menatapku. Sepertinya mereka hendak bertanya, apa sekalian saja memberitahukan Faisol perihal tujuanku datang ke Jakarta?

“Ya, sudahlah! Faisol tahu juga nggak apa-apa”

Aku mulai menerangkan tujuanku ke Jakarta kepada Faisol. Akhirnya, satu persatu dari mereka menceritakan apa yang mereka tahu tentang Sari, istriku. Ketiganya bercerita tentang kedekatan istriku dengan Arif selama aku tak di Jakarta. Namun yang membuatku untuk tidak tergesa-gesa mengambil keputusan adalah cerita kawanku dan Jono yang mengatakan bahwa istriku kadang seperti orang ’stress’. Mukanya pucat, tatapannya kosong, dan ketika disapa hanya mlongo seperti orang yang sedang tak berakal. Kasarnya, orang linglung.

***

Sudah dua minggu aku berada di Jakarta. Aku berpindah-pindah tempat. Kalau hari ini aku menginap di rumah kawanku, besok aku menginap di tempat Jono, bergilir lagi ke tempat Faisol. Namun yang paling sering, aku menginap di rumah kawanku, meski sebenarnya aku tak begitu kerasan karena harus selalu mendengar gonggongan anjing. Di rumah kawanku, aku bisa lebih bebas ngapain saja, karena tempat Jono dan Faisol adalah perumahan kontrakan maka aku tidak begitu nyaman berada di sana. Selama itu, Jono, Faisol dan juga kawanku berusaha mencari informasi terbaru tentang istriku. Aku juga sepakat ketika mereka berencana menyebarkan kabar perihal kedatanganku di Jakarta. Sebatas hanya untuk memancing apakah Sari akan mencariku atau tidak, minimal sms ke handphoneku.

Ternyata kabar kedatanganku tidak membuat istriku mencariku, malahan kawan-kawanku yang lain yang banyak menghubungi handphoneku. Bertanya tentang kabar-lah, minta mampir-lah, atau sekedar minum kopi bareng. Jono pernah bilang padaku, bahwa ia sempat terang-terangan memberitahu Sari kalau aku nginep di tempatnya, namun Sari tak bereaksi apa-apa.

Emosi, sedih, curiga dan kebencian kepada Arif semakin tak tertahankan. Di suatu siang, di hari minggu, aku mencari Arif. Dengan motor kawanku, aku menelusuri gang-gang di Jakarta. Di sana aku bertemu Arif. Untunglah, aku dapat menahan diri sehingga aku dapat bicara baik-baik. Aku mengajak Arif main ke rumah Pak Mansur yang tinggal di belakang PT. Sekalian silaturrahim, kataku. Pak Mansur adalah mantan satpam di PT tempat kami kerja. Dulu aku bersama istriku, Arif dan juga teman-teman yang lain sering mampir ketempat Pak Mansur.

Setiba di sana, Pak Mansur sedang tidak di rumah. Kami duduk-duduk di emperan rumah Pak Mansur.

“Kita tunggu saja Pak Mansur di sini!” kataku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Agar Arif tidak curiga kalau aku sudah punya banyak informasi, aku hanya bercerita tentang ketidak-percayaanku terhadap kesetiaan istriku.. Alasan kenapa aku bercerita kepada Arif, karena Arif teman baikku juga teman baiknya Sari. Dari situlah kami mulai berbincang.

“Setahuku, Sari itu orangnya setia,” ungkap Arif setelah mendengar rentetan ceritaku.

“Tapi aku tak begitu percaya. Setahuku Sari itu orangnya liar-liar jinak.”

“Maksudmu?”

“Ya, kau tahu kenapa aku menikahinya!? Waktu itu aku setengah mabuk, melihat Sari yang sedang tertidur, naluri lelakiku muncul, kupeluk dia, kuciumi dan kuraba tubuhnya. Awalnya Sari menolak, tapi beberapa saat kemudian Sari melayaniku dengan senang hati. Sejak saat itu kami sering melakukan hubungan badan.”

“Kalau sama-sama mencintai kenapa tidak!?” tanya Arif sambil mengeluarkan rokok dari jaketnya.

“Tidak! Kamu salah. Selama ini kami tidak saling mencintai. Bahkan selama Sari berhubungan badan denganku, ia juga masih sempat menjalin asmara dengan orang lain. Meski aku melarangnya, tapi dia bilang bahwa dirinya hanya mencari kesenangan untuk hatinya. Sebagai perempuan, ia tentu sangat mendambakan sentuhan dari lelaki yang dicintai. Begitu katanya.”

Arif menyodorkan rokok padaku. Aku mengambil sebatang, menyalakannya dan, Buuul! Asap melingkar dari bibirku kemudian perlahan budar diterpa udara.

“Hubungan kami memang aneh. Setelah beberapa lama, kami sepakat untuk menikah dengan janji Sari tak akan berhubungan lagi dengan laki-laki lain. Sampai saat ini, kami menjalin rumah tangga tanpa ikatan cinta.”

“Tanpa ikatan cinta?”

“Ya! Kenapa aku nekat menjalaninya? Itu karena aku laki-laki. Aku tak ingin membuat kehidupan Sari jadi hidup yang hitam. Apalagi ketika itu kami sama-sama pekerja borongan. Bisa-bisa Sari melacur untuk tetap bisa bertahan di Jakarta.”

Arif menatapku, merangkul.

“Ini hanya penilaianku saja. Sari masih sangat berharap padamu. Memang sih, ketika aku bertanya kepada Sari tentang kamu, Sari hanya akan menjawab ‘Jangan merusak suasana dengan ngomongin suamiku. Suamiku tidak pernah mengerti aku’. Tapi aku yakin, Sari masih sangat berharap kepadamu, dalam arti Sari sangat mencintaimu.”

Sesaat aku dan Arif terdiam. Aku merebahkan tubuhku di teras. Sebenarnya ada pertanyaan yang ingin kulontarkan: Sejauh mana hubungan Arif dan istriku selama aku di kampung? Aku tahu persis karakter Arif. Empat tahun lamanya aku mengenal Arif, bahkan sempat tinggal di satu kontrakan. Boleh dikata, Arif tipe orang yang sepakat dengan free sex, dia juga merupakan tipe lelaki perayu ulung. Istriku yang liar-liar jinak itu akan sangat mudah untuk dipikat oleh orang seperti Arif.

Ketika kami berdua sama-sama terdiam. Datang seorang perempuan bercelana jeans-biru, kaos warna putih dan rambut di cat pirang sebahu. Tak salah lagi, itu Sari, istriku. Aku semakin penasaran, karena menurut informasi yang kudapat dari Jono, siang itu Sari memang janjian ketemu Arif di rumah pak Mansur. Itu alasan sebenarnya, kenapa aku mengajak Arif ke tempat pak Mansur. Wajah Sari tak menunjukkan ekspresi apa pun seolah sudah tahu keberadaanku. Dengan dingin Sari hanya bertanya kenapa aku ada di Jakarta. Ada gelagat Arif menyembunyikan sesuatu dariku. Ia berkemas memakai jaketnya, katanya ia hendak menjemput pacarnya, Lia. Setahuku, Arif dan Lia sudah tidak lagi pacaran. Mereka sudah benar-benar putus hubungan tiga tahun yang lalu. Ada perasaan ganjil di pikiranku. Lia yang mana? Lia yang dulu atau Lia yang baru?

Aku tahu persis Arif itu orang licik. Aku yakin betul ada maksud tertentu. Apalagi ketika mendengar bahwa Arif akan membawa Lia ke tempat Pak Mansur dan menyuruh kami menunggu. Sekilas, aku sempat melihat Arif memandang Sari penuh misteri sebelum pergi. Motor Arif melaju membawa pertanyaan aneh di hatiku.

“Sari, kamu kenapa? Ada suami yang sudah lama tak ketemu kok malah diam saja. Kesini! Duduk di sampingku, dekat denganku, Sayang!” Meski sebenarnya suasana hati sedang runyam, aku tetap merayu istriku. Tiba-tiba saja istriku memelukku, dia menangis tersedu-sedu.

“Mas, maafkan aku! Maafkan aku!”

Aku tak begitu mengerti kenapa ia merengek meminta maaf. Karena air mata perempuan adalah kelemahanku, aku hanya bisa menenangkanya dan mengusap kepala istriku. Sekuat tenaga aku menghibur istriku dan mengingatkan kenangan-kenangan lucu sewaktu kami tinggal bersama. Cukup ampuh! Istriku tersenyum, mencubitku dan minta dimanja. Beberapa waktu kemudian Arif kembali lagi bersama Lia.

“Hallo, Gunawan imut! Gimana kabarnya, lama tak ketemu. Jadi pertapa di mana saja kamu?” sapa Lia penuh dengan kehangatan.

Amelia. Cewek asli Jakarta ini cantik sekali sore itu. Tapi aku tahu siapa dirinya. Perempuan idialis yang sangat manis dalam berakting. Hatiku semakin yakin kalau ada yang tak wajar. Arif tampak begitu mesra dengan Lia.

***

Suatu malam, ada pesta perayaan ulang tahun PT. Didatangkanya artis-artis dangdut untuk menghibur para karyawan. Panggung terbuka pun berdiri megah. Malam itu aku berbohong kepada istriku kalau aku akan menginap di Kebun Jeruk. Di sana, aku akan menemui seseorang yang katanya menjanjikan pekerjaan untukku, jadi aku tak bisa menemani istriku nonton panggung hiburan ulang tahun PT. Mengenai alasan kenapa aku berbohong, itu sudah pasti, aku ingin memata-matai istriku.

Bersama kawanku, aku keliling di sekitar tempat perayaan ulang tahun PT. Setelah berjam-jam aku tak menemukan istriku, perasaanku mulai resah. Istriku jelas-jelas tak ada di kontrakannya, di rumah Pak Mansur juga tak ada, kucari di tempat teman-temanya juga tak ada. Terlintas di pikiranku untuk pergi ketempat Arif, tapi entah kenapa aku mengurungkan niat itu. Aku sengaja tidak menghubunginya lewat handphone, bisa-bisa Sari menyadari kalau aku sedang memata-matainya. Karena aku tak kunjung menemukannya, dengan sangat putus asa aku kembali ke rumah kawanku di Kebun Jeruk. Kawanku tidak ikut pulang, mungkin dia ingin berjoget ria di depan panggung hiburan, kemudian lelah dan tidur di ruang security.

Sesampai di rumah kawanku, aku cukup heran karena tak mendapati anjing Jackur. Biasanya dia akan menggonggong kalau aku pulang. Malahan malam itu anjing di seberang rumah yang menggonggong tanpa betinanya. Karena penasaran, aku mencarinya hingga belakang rumah. Ah! Ternyata anjing Jackur tengah berduaan. Mereka berbaring saling menjilat di belakang rumah. Anjing siapakah itu? Tidak salah lagi, itu anjing milik tetangga di seberang. Bagaimana ia bisa sampai di sini? Melompat pagar? Tidak mungkin! Ah, sudahlah. Sepertinya mereka bahagia, lagian aku bisa lebih nyaman bila Jackur tidak menggonggong.

Ketika aku menuju kembali ke halaman rumah, aku mendengar anjing di seberang menggonggong. Itu si jantan. Kasihan, mungkin dia sedang menangis karena ditinggal pasanganya, berselingkuh dengan Jackur. Hah! Tunggu dulu! Berselingkuh? Aku jadi ingat istriku. Ya, Tuhan. Perasaan apa ini? Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang. Aku membayangkan Sari sedang berpelukan mesra dengan Arif, Ah, tidak! Lebih tepatnya, malam ini mereka sedang telanjang bulat di sebuah kamar yang remang. Bajingan!

2006-2008

4 Responses to “Anjing Jackur”

  1. on 11 Oct 2008 at 09:54prince-adi

    fokus
    dan kuat karakternya
    suka sangat

  2. on 11 Oct 2008 at 15:00cutiest_phe

    Kok gantung gitu c?
    Ga seru ah..

  3. on 14 Oct 2008 at 01:34Fauzan Masri. Z

    Menyakitkan sekali jadi suami seperti itu! Meringkuk, mencoba memungut harga diri yg sudah hilang di kolong nafsu. “Hidup di dunia hanya sekali, rugi jika tidak merasakan cinta, karena cintalah hidup punya harga dan bisa dinilai.” tapi itu menurut aku! Menilai karakter “Aku” dalan cerita, sepertinya punya sifat ingin menjadi penyelamat, tapi sayang yang ingin diselamatkan adalah seekor ular, yang pura-pura lemah, pura-pura tak berdaya, saat mangsa mendekat, ditambah lagi si “Aku” suka cewek yang manja, membuat egonya sebagai lelaki tergugah, tapi sayang sekali, semuanya itu telah membunuh nurani alaminya sebagai seorang pecinta sejati yang mati ditelan nafsu .

  4. on 02 Apr 2009 at 09:39Lurah Kinasih

    Min, hubungi aku. Ada kerjaan buat kamu ….

    afidburhanuddin@gmail.com

Tinggalkan Komentar