Tentang John yang Dibilang Perantau Sukses
Oktober 9th, 2008 by Roy Manu Leveran
Suryadi, yang lebih kental dengan sapaan John, terlihat murung di pojok etalase counter pulsa dan aksesoris miliknya. Entah apa sedang berputar di pikirannya. Panas yang menyengat seolah menyatu dengan ratapannya. Dia lebih memilih menyendiri di sudut etalase siku counter pulsa dan aksesoris itu. Beberapa hari belakangan, dia begitu menikmati kesendiriannya. Hanya senyum simpul agak berat yang tersungging dari bibirnya jika ditanya oleh orang. Sehingga semua pegawainya menjadi salah tingkah dengan gelagat sang tuan. Mungkin, dia sedang memikirkan bagaimana cara melebarkan sayap-sayap usahanya.
Aji, salah satu pegawai yang telah lama bersama John, terlihat asyik bermain-main dengan debu. Sementara Manuel tampak serius membelalakkan mata ke arah laptop. Tangannya terlihat akrab dengan tombol-tombol keyboard. Lihat pula keriangan di wajah Tini, yang tanpa beban menghamburkan uang saku. Mereka kelihatan tidak peduli kepada tuan. Apa boleh buat, sebetulnya mereka sering menanyakan gerangan apa yang terjadi pada sang tuan. Namun, John hanya melemparkan senyum yang agak berat kepada mereka.
John masih saja melamun di sudut counter pulsa dan aksesoris miliknya. Sesekali, mata sang tuan menyapu seisi tempat usahanya. Banyak kekosongan di setiap gantungan tempat barang-barang dijual. Satu minggu terakhir, dia selalu mendapati barangnya yang hilang setiap kali membuka counter di pagi hari. Pikirannya semakin kacau saja. Wajahnya pun terlihat semakin menua. Bahkan badannya terlihat sangat kurus sekali.
***
John terlahir sebagai Suryadi, pemuda yang berasal dari ujung timur negeri, Nanggroe Aceh Darussalam, NAD. Sebagai perantau di kota sebesar Jakarta, John tak hanya bermodalkan kenekadan saja. Kemampuan dan ijazah dengan predikat Sarjana Teknik adalah bukti nyata yang selalu dibawanya untuk melamar pekerjaan. Alhasil, pekerjaan pun didapat, tepatnya di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Namun, itu tak berlangsung lama. Mungkin karena kejenuhan pada bidang yang digelutinya.
Terlalu lama menganggur membuat John berpikir keras. Tanpa banyak tanya, dia memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Aksesoris adalah pilihannya, karena saat itu, banyak orang keranjingan pernak-pernik seperti: anting, kalung, cincin, pin, dan semacamnya. Dengan uang seadanya, dia beranikan diri untuk memulai usaha tersebut. Dia tak peduli kata orang yang akan mencibirnya nanti. Menurutnya, seorang sarjana bukan berarti haram untuk berjualan aksesoris.
Awalnya, sangat terlihat keuletannya dalam berjualan. Dan sepertinya memang bakatnya mulai muncul dalam bidang usaha dagang. Nama John-pun didapatnya sewaktu berjualan. Tempatnya berdagang tidak tetap. Karena hanya bermodalkan terpal yang digelar untuk menjajakan barang dagangannya. Dia berdagang di sekitar sekolah-sekolah, pasar malam, bahkan di stadion pun pernah dilakoninya. Jika waktu sekolah berakhir, sesegera mungkin dia berpindah ke sekolah lain untuk mendapatkan hasil lebih untuk dibawa pulang.
“Yang paling pahit adalah saat hujan turun, mau tidak mau, dagangan mesti digulung dan secepat mungkin beres-beres,” celetuk John suatu ketika ditanya oleh temannya.
“Banyak yang bilang laris, tapi sebenarnya uang yang didapat harus diputar lagi. Wah, repotnya kalau jaga sendirian, pasti ada satu atau dua barang yang hilang,” lanjutnya.
***
Lama berkecimpung (juga karena lelah mengangkat dan menyusun dagangan) dalam dunia aksesoris, John mencoba usaha lain yang lebih pasti: counter pulsa dan jual-beli handphone. Meski dana yang dipunya tidak mencukupi, namun John tak gentar. Dia meminjam uang ke bank dengan jaminan usahanya akan disita jika dalam jatuh tempo tidak mampu membayar. Dengan khayalan dan mimpi-mimpi akan sukses, dia “berjudi” dengan pihak bank.
Kini usahanya mulai menetap dengan nama John Cell. Seakan tak ingin lupa dengan usahanya terdahulu, selain pulsa dan jual-beli handphone, dia juga melengkapi kiosnya dengan aksesoris. Banyak orang menganggap dia perantau yang sukses. Kios pulsa yang selalu jadi rebutan anak-anak sekolah dan aksesoris yang disesuaikan dengan trend masa kini membuat kiosnya selalu dipenuhi pelanggan. Awalnya, dia memiliki tiga orang pegawai: Rizky, Mono, dan Aji. Namun, Rizky dan Mono terdepak karena lalai mengemban tugas dari tuannya. Sementara, Aji masih bertahan.
Tak lama, masuklah pegawai wanita pertama, Tini. Menyusul kemudian adalah Manuel, mantan mahasiswa yang tak lagi melanjutkan kuliahnya lantaran faktor ekonomi. Selama mereka bertiga menjaga kios John Cell, tidak banyak yang berubah. Hanya saja, beberapa bulan semenjak mereka bekerja, John selalu murung dan menyendiri.
Kekacauan di tubuh ekonomi John bermula ketika jatuh tempo pembayaran sewa tempat, sementara keadaan memaksanya untuk meminjam ke seorang rentenir. Selama ini dia menyewa tempat kepada beberapa sekuriti merangkap preman kampung, karena tempat usahanya berada di atas lahan milik Pertamina. Dia pun tak mengerti apa sebetulnya hak mereka memungut bayaran kepadanya.
“Benar itu lahan Pertamina, namun apa boleh buat, yang penting saya bisa terus usaha,” katanya pasrah.
Setelah pembayaran sewa tempat itu, John sering murung dan menyepi di sudut etalase kios pulsa dan aksesoris miliknya. Di satu sisi, otaknya terus diperas tentang bagaimana cara memajukan usahanya. Di lain sisi, dia juga harus memutar otak dan tenaga guna melunasi hutangnya kepada si rentenir. Padahal, dalam hal berusaha, tak jarang dia memberikan pulsa kepada pelanggannya lebih dulu dengan imbalan diterima menyusul. Tak hanya satu atau dua orang, sehingga catatan buku tagihannya menumpuk nama-nama orang yang secara berkala berhutang kepadanya.
Perlahan dia melanjutkan usahanya. Meski kadang dengan terpaksa dia harus menagih hutang kepada pelanggan-pelanggan yang tercatat dalam buku tagihannya. Itu dilakukan semata-mata hanya untuk menutupi hutangnya kepada si rentenir.
“Ya, dibilang gali lubang tutup lubang tidak, tapi kenyataannya seperti itu,” jawabnya polos.
“Antara tega dan tidak tega juga, tapi mesti gimana lagi?” gumamnya dalam hati.
“Saya pernah menggadai handphone saya, Nokia N73, Nokia 3230 dan lain-lain untuk menutupi sebagian hutang, tapi masih belum menutup juga,” keluhnya.
Sampai sekarang pun hal-hal seperti itulah yang dapat dilakukannya. Karena memang tak ada jalan lain. Padahal, banyak orang yang mengatakan dia seorang perantau sukses. Namun, siapa sangka, John yang dikira banyak orang adalah seorang pedagang sukses ternyata terlilit hutang pada seorang rentenir. Entah sampai kapan dia terlibat hutang dengan si rentenir itu. Sampai kapan pula dia akan terus merenung dan meratap sendirian di pojok etalase warung pulsa dan aksesorisnya.
parah lu…bos sendiri diceritain…
gw bilangin lu supaya dipecat lu…
tp lumayan jg bosss….
BABEL
hebat loe bisa hidup di jakarta dengan modal nekat doang.gw salut ma loe boss