KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Surat Cinta

Aku pernah menulis surat cinta. Surat cinta untuk lelaki yang selalu kuharapkan. Surat cinta yang begitu sederhana dan apa adanya. Tanpa bahasa puitis yang romantis. Tanpa kata–kata yang penuh dengan cinta. Karena aku tak pandai bercinta dengan kata.
Jangan dibayangkan surat cintaku aku tulis di selembar kertas berwarna merah dadu dengan gambar hati yang membara dan kumasukkan amplop yang berwarna senada. Jangan pula dibayangkan surat cintaku aku tulis di selembar kertas berbau kasturi atau cendana. Apalagi ada gambar lipstikku yang menempel di bawahnya. Aku menulis surat cintaku hanya di selembar kertas berwarna putih dengan warna amplop yang sama. Tak ada harum yang istimewa kecuali bau kertas itu sendiri, dan hanya nama yang kutulis dengan ukuran sangat kecil yang kutulis di pojok kanan bawah.
Aku akan memberikan surat itu padanya, saat aku sudah siap. Tapi sampai sekarang rasa siap itu belum jua datang untuk menjemputku. Surat itu hanya berani kuselipkan di antara lipatan buku harianku. Aku tak berani memberikannya, karena aku takut kehilangannya. Karena kami telah berjanji akan menjaga rasa persahabatan ini tanpa ada cinta yang selayak Romeo dan Juliet. Mungkin dia juga (pernah) menulis surat cinta untukku yang mungkin juga bernasib sama dengan surat cintaku. Hanya sebagai penghuni buku harian!
Kadang aku merasa jika dia juga menaruh rasa yang sama. Dia mencintaiku lebih dari sahabat. Namun, sekian lama aku menantinya, tak pernah sekalipun dia melanggar janji kami. Kami tertawa lepas, berteriak bebas, dan bergerak tanpa batas. Kegiatan rutin yang selalu kami lakukan tanpa ada yang peduli.
Suatu ketika, setelah nasib surat cintaku yang tak ada perkembangan. Dia datang kepadaku. Memberikan setangkai mawar putih padaku. Waktu itu, pipiku semerah darah menahan gejolak cinta yang meletup-letup. Aku menerimanya, berharap dia akan melanggar janji kami, kemudian menjadikanku mawar putih di hatinya. Pikiranku melambung tinggi, khayalanku sebentar akan dapat kurengkuh. Aku tersenyum lebar selebar hatiku kala itu. Tapi TIDAK!! Dia hanya diam tanpa kata dan jawaban, kemudian dia melangkah meninggalkanku begitu saja. Membiarkanku dalam kebisuan dengan hati menganga membawa cinta yang setengah telanjang. Aku sakit kala itu. Kecewa. Tak elak, butiran bening mengalir satu persatu dari mata bulatku.
Sejak saat itu, aku hanya diam, dia pun begitu. Tanpa ada pertanyaan dan jawaban di antara kami. Tak ada lagi teriakan bebas, tawa lepas dan gerak tanpa batas dari kami. Semua menjadi membosankan. Aku mencintainya namun aku juga membencinya. Aku patah hati sebelum aku berhasil menyambung hati itu sendiri. Entahlah, apa arti mawar putih itu.
Mawar putih itu mengingatkanku pada surat cintaku yang pernah kutulis untuknya. Hanya menjadi bagian penghuni baru di tempat yang tak semestinya. Seharusnya, mawar putih itu bertahta abadi di dalam hatiku. Bukan di sudut kamarku. Sampai suatu ketika, wangi mawar putih itu berganti dengan bau debu, warnanya pun berubah menjadi biru. Mungkin mawar itu mengerti, jika dia tak layak berada di kamarku. Hingga aku memutuskan untuk menjadikannya penghuni baru dustbin. Aku sudah bosan melihat mawar itu teronggok sepi di sudut kamarku.
Dia tak juga mau memulai bicara, begitu pun aku. Kebisuan yang mungkin sudah bisa didengar oleh seekor gajah karena bukan mulut kami yang berkata namun hati kami. Aku tahu dia mencintaiku lebih dari sahabat. Mungkin dia juga tahu kalau aku selalu menunggu ucapan cinta darinya. Tapi mengapa aku harus menunggu terlalu lama? Aku bosan tapi aku tak pernah bisa berpaling. Aku tak tahu apa yang ada di benaknya.
Semua terjadi begitu cepat, aksi diam kami sudah berjalan lebih dari satu bulan. Aku semakin takut kehilangan dia, tapi aku juga tak akan mampu memulai bicara dengannya. Teringat lagi surat cintaku untuknya. Aku ingin membuangnya dan menghilangkan semua cintaku untuknya. Aku membuka amplop putih yang kini sudah ada noda berwarna cokelat yang tak tahu darimana asalnya. Kubaca lagi kalimat pertama, aku menangis.

17 Agustus 2008
Untuk Kamu,
Tak usah kamu bertanya untuk apa aku mengirim surat ini. Karena aku juga tak mengerti, mengapa pena yang kupegang begitu lancar menuliskan kalimat demi kalimat yang ingin aku ungkapkan.
Aku mencintaimu lebih dari sahabat.
Mungkin aku terlalu blo’on untuk bisa memahami rasa yang ku impan selama ini, persahabatan yang telah lama terajut membuatku tak peka dengan semua yang kurasakan.
Namun, ketika aku di dekatmu aku yakin rasa ini tak salah.
Kisah cinta yang basi!!! Menurutku. Tak adakah cerita yang lebih menarik? Atau paling tidak, tidak murahan seperti ini?
(Maaf) Sebenarnya aku muak dengan ini. Tapi, semakin aku muak, semakin aku tak mampu melepaskan namamu dari atribut hatiku.
Biarkanlah aku mencintaimu….
Meski (mungkin) kamu hanya menganggap ini surat tak penting. Percayalah…. Suatu saat engkau akan mengerti jika surat ini begitu penting buatku…
Maaf…
Dari sahabatmu…

* * *

17 Agustus 2008
Untuk Cintaku,
Ku tuliskan goresan hati ini ketika malam telah bergelayut manja di pelupuk mataku
Inginku menjadi bagian dari mimpi indahmu…
Ingin pula aku menjadi raja di hatimu…
Tidurlah engkau dengan nyenyak tanpa beban dan membawa kenangan kita. Tertawa lepas, berteriak bebas dan bergerak tanpa batas.
Maaf, aku mencintaimu lebih dari sekedar sahabat…
Telah lama aku merasakan ini, namun sungguh! Tak berani aku melanggar janji kita.
Semoga saja kamu juga merasakan apa yang aku rasakan…
Jika engkau telah terlelap, bawalah aku ke alam mimpimu. Karena, mungkin esok aku telah pergi sebelum engkau membuka mata…
Aku mencintaimu,

Surat dari dia, surat yang telah lama ditulisnya dan (mungkin) hanya sebagai penjaga lacinya. Aku menerimanya saat pemakamannya siang tadi. Air mataku telah kering. Tak ada lagi yang ingin aku tumpahkan. Semuanya terlambat. Dia pergi membawa cinta dan janji yang sungguh dijaganya. Kecelakaan itu merenggut semuanya. Cintaku, cintanya, janji kami bahkan sakit hati kami. Tapi satu hal yang tak pernah terenggut, dia sahabatku.

10 Responses to “Surat Cinta”

  1. on 10 Oct 2008 at 12:02sekar

    bagus rangkaian katanya…terus berkarya wahai anak muda..salut..!!

  2. on 15 Oct 2008 at 12:23rona

    lumayan lah… gak mengecewakan,lumayan… gampang dicerna,apa gak ada yang lebih ngebuat mikir lagi?

  3. on 17 Oct 2008 at 17:16kekasih_hujan

    terima kasih komentarnya…
    insya Allah
    saya akan membuat yang bisa ngebuat mikir lagi…
    terima kasih…

  4. on 18 Oct 2008 at 11:59chris

    yups…… sebagai pelajaran bagus bangetz klo “cintA” ngomong, jangan menunggu.

  5. on 19 Oct 2008 at 10:44ichaa :)

    saya menangis membacanya.
    saya bisa merasakan rasa kehilangan yg dirasakan tokoh dlm cerita itu.
    sungguh sakit, memang jika cinta terlambat diucapkan.
    sungguh sulit, memang mencintai seseorang lebih dari sahabat.
    nice, sisth!
    :)

  6. on 24 Oct 2008 at 10:08Dimas

    aku juga sang pencinta……
    aku juga punya sejuta kata.
    tapi aku tak sanggup……..
    aku tak bisa………….
    karena jika aku mengingat DIA,
    aku takkan berhenti mengeluarkan air mata.

    Bantu aku……..
    bantu aku dengan doa kalian semua,,,,,,,,

    aku ingin bangkit.

  7. on 25 Oct 2008 at 08:04Lail_cloudy

    Kayakny aku juga mengalami cinta yg begitu. Bila hubungan ini berlanjut lebih jauh,aku takut hubungan persahabatan ini menjadi renggang. Cinta tidak harus memiliki kan?

  8. www.yahoo.com

  9. on 20 Nov 2008 at 19:56nbel

    ceritanya bagus banget

  10. on 01 Jan 2009 at 19:32iyut

    keren..
    Cinta bkn untk d pendam
    Krna hnya akn mninggalkn perih
    Keep fight

Tinggalkan Komentar