KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sembodro Kampung Damai

Roro menunduk tanpa berani menatap wajah bapaknya yang sudah mulai melintir kumis melintangnya. Bukannya kecil nyali cuma dia takut tak bisa menahan tawanya bila melihat gaya bapaknya kalau sudah marah. Tanpa memandang pun Roro sekuat tenaga untuk tidak tersengeh dengan menggigit bibirnya meski perutnya sudah terasa tegang menahan gelak.

Mungkin hanya Roro satu-satunya dalam keluarga besarnya yang paling tidak bisa menahan tawa. Siapa sih yang nggak mengkeret bila melihat Lurah Brodin, lebih 20 tahun menjadi Lurah belum ada satu maling pun yang berani menjamah rumah penduduknya. Seluruh penduduk kampung dari yang kecil sampai yang tua, dari Pak Hansip sampai Pak Camat begitu hormat padanya. Eiiit…! Tapi Lurah Brodin bukannya orang yang gila hormat, nyatanya biarpun jadi lurah tidak segan-segan cancut tali wondo, terjun langsung pegang arit dan pacul tiap Minggu pagi untuk gotong royong. Biarpun di depan rumahnya selalu ada mobil kijang mengkilap, toh Lurah Brodin selalu ke kantor desa naik sepeda kumbang. Seandainya jauh sedikit maka lurah Brodin akan nyarter becak yang mangkal di depan kantor desa.

Lurah Brodin tak pernah menggunakan aji mumpung, tidak pernah memakai jabatannya untuk “ndebah dhodho“. Nggak percaya…? Tanyakan seluruh penduduknya, pernahkan dia pakai baju Pamong Prajanya bila di luar. Baju itu hanya dia gantung di kantor desa. Lurah Brodin mungkin satu-satunya lurah yang sering mendapat teguran dari Bupati karena alergi memakai baju dinas. Lurah Brodin lebih bangga dengan celana hitam dengan kaos loreknya.

“Setidak-tidaknya hormati jabatanmu Pak Lurah Brodin!” Itulah teguran yang sering dia dengar.

“Maaf lo Pak, saya tidak mau orang hormat dan segan pada saya hanya karena jabatan dan baju saya. Justru saya bimbang penduduk saya tak mengenal bila saya pakai baju seragam.” Dan nyatanya Kampung Damai yang dipimpinnya selalu aman. Tak ada satu record pun di kantor polisi penduduknya melakukan tidak kriminal, judi, togel, atau tawuran.

“Mau ke mana kamu? Bapak belum selesai bicara!” tegur Lurah Brodin ketika melihat Sembodro alias Roro putrinya berdiri meninggalkan ruang keluarga.

“Bicara apa lagi Pak? Roro sudah tahu keputusannya. Bapak tidak setuju kan kalau Roro kerja ke luar negeri?” Dengan hati penuh ketidakpuasan Roro meninggalkan bapaknya menuju ruang tamu. Di sana sudah ngumpul ketiga kangmasnya yang sengaja datang hanya ingin melihat hasil perang tanding antara Roro, adiknya, dengan Lurah Brodin, bapak mereka.

“Ehh kalian! Kalau mau tertawa, tertawa saja nggak usah cengar-cengir kayak marmut!” Ketiga kangmasnya semakin mengumbar senyum melihat mimik adiknya yang sedang marah.

“Alaaah beraninya meledek wanita! Coba kalau berani di depan Bapak yang lagi melintir kumis!” sambung Roro sambil menghempaskan pantatnya ke sofa.

“Ternyata cara pikir Lurah Brodin sama piciknya dengan mereka! Apa salahnya sih kalau Roro kerja ke luar negeri, memang terhina kalau jadi babu? Takut ditertawakan orang? Sudah Roro bilang, niat Roro ke sana itu bukan buat Roro pribadi, tapi buat kampung ini juga. Roro ingin merubah cara pikir orang-orang kita yang selama ini selalu memandang negatif pada pembantu rumah di luar negeri. Coba deh lihat di kampung kita, begitu tamat SMP atau SMA orang tua sudah bingung mencarikan jodoh. Dua, tiga tahun, cerai! Ekonomilah, nikah terlalu mudalah,” Roro ngedumel menandakan betapa kecewanya dia terhadap bapaknya

“Sudah habis ngomelnya?” Tiba-tiba Lurah Brodin sudah berdiri di pintu tengah.

Bukannya takut, Roro malah menjawab sambil berdiri, “Ngomong banyak pun nggak ada gunanya, Pak” Disambernya jaket dan helem yang ada di meja.

“Mau ke mana, Bapak belum habis bicara!” Lurah Brodin berusaha mencegah langkah Roro

“Ke bengkel. Menghitung mur dan baut! Itu lebih penting.” Dan bruuuum.. Binter Kawasakinya pun melesat meninggalkan halaman rumah joglo tempat dia membesar.

Lurah Brodin memandangi satu persatu keluarganya. Istrinya wanita pintar dan patuh padanya. Ketiga putranya semua bergelar Insinyur Pertanian, tak pernah sekecap pun menjawab bila dia bicara. Tapi yang satu ini, si bungsu putri satu-satunya begitu susah diatur, lebih mudah mengatur orang kampung dari pada mengatur Sembodro.

“Nyerah aku Bune, nyerah. Di keluarga kita nggak ada yang atos koyo watu. Aku beri nama Sembodro agar tumbuh jadi wanita lemah lembut, eeeh kok malah jadi Srikandi,” keluh Lurah Brodin

“Siapa yang bilang dalam keluarga kita nggak ada yang keras kepala? Ya ngak mungkin Roro itu nurun orang lain. Seharusnya kamu itu bersyukur karena keturunanmu ada yang njibles kamu. Kacang ora bakal ninggalke lanjaran le.” Eyang kangkung Roro, bapak kandung Lurah Brodin yang dari tadi diam, akhirnya memberi komentar. Ada senyum tipis di bibir Bu Lurah. Lurah Brodin hanya diam. Tanpa bla…bla..bla.. diambilnya sabuk “othok” yang selalu menjadi ciri khas Lurah Brodin. Pak Broto bergelak. Tawanya memecah kekakuan di rumah itu.

“Kalian lihat bapakmu. Persis to dengan adikmu tadi?” Yang ditanya cuma nyengir nggak berani berkomentar

“Brodin, Brodin,” sambungnya sambil terus dengan tawanya

oooOooo

Pendopo kecamatan sepi, tidak seperti malam-malam sebelumnya yang selalu ramai orang jagongan, main catur, atau sekedar nonton tv.

“Man, tilpuno camatmu! Penting, aku tungu di dalam!” perintah Brodin pada hansip jaga. Nah, satu lagi kelebihan Lurah Brodin, meskipun hanya seorang lurah, Pak Camat pun dengan lapang hati akan datang bila Lurah Brodin yang minta. Belum genap 15 menit SUV metalik masuk halaman pendopo kecamatan. Seorang lelaki muda melangkah keluar.

“Malam Pak,” sapanya begitu melihat Lurah Brodin.

“Aku pingin ngomong Gung.”

Monggo Pak, di sini atau di rumah ?” jawab Agung Laksono, camat muda yang masih bujang dan ganteng.

Lurah Brodin menyandarkan punggungnya di sofa dalam ruang kerja Agung.
“Kepalaku rasanya mau pecah Gung. Kalau saja Roro minta kawin, besuk juga aku nikahkan. Laa ini kok minta ijin mau kerja ke luar negeri. Apa nggak mumet aku. Jawab ya, susah, jawab tidak, lebih susah.”

“Apa Dik Roro memaksa dan buat ancaman?” Agung mulai memancing

“Memaksa iya tapi kalau buat ancaman belum. Aku kenal Roro pasti dia sudah mengatur langkah selanjutnya dan pasti itu suatu serangan yang lebih meng-KO aku, bapaknya.” Agung hanya tersenyum

“Menurutmu bagaimana Gung? Aku tahu Roro pasti sudah ngomong sama kamu tentang rencananya itu.” Agung mengangguk mengiyakan

“Sudah lama Dik Roro mengutarakan keinginannya itu, juga alasan-alasan dan ke depannya. Secara pribadi saya juga keberatan tapi melihat betapa besar keinginannya itu, sebagai orang yang dituakan saya setuju dengan keinginan Dik Roro.” Tiba-tiba Lurah Brodin tertawa terbatuk-batuk. Agung keheranan namun dibiarkan saja Lurah Brodin melepas tawanya.

“Kamu tahu Gung, aku pernah terkencing-kencing melihat Roro pegang sapu lidi. Ha..ha…” Lurah Brodin kembali bergelak

“Roro itu lebih luwes kalau pegang obeng atau kunci inggris. Ha..ha…” Tawa Lurah Brodin pasti terdengar oleh mereka yang ada di pendopo depan. Agung tersenyum, dia pun merasa geli. Tak bisa dia bayangkan bagaimana Roro akan pegang sothil atau sendok nasi sedangkan selama ini dia asyik dengan bengkelnya. Teman sebayanya bersolek dan bergincu, wajah Roro penuh dengan minyak pelumas. Gadis desa begitu prigel di dapur, Roro lebih asyik dengan obeng dan onderdil motor. Namun begitu, di mata Agung, Roro adalah gadis muda yang sangat istimewa.

“Alangkah baiknya kalau kita memberi kesempatan buat Dik Roro untuk mewujudkan angannya itu. Saya rasa Bapak lebih mengenal Dik Roro. Kalau alasan Bapak cuma takut Dik Roro terpengaruh arus kehidupan di luar negeri seperrti yang banyak digembar-gemborkan media, saya rasa itu hanya sebagian kecil dari mereka. Tidak semua yang diberitakan seburuk kenyataannya. Toh banyak juga para TKW yang berhasil, yang pada awal keberangkatan cuma berbekal ijasah SD banyak yang pulang sudah membawa ijasah SMP atau SMA bahkan ada juga yang bisa mendapat Diploma dari Perguruan Tinggi. Yaa kalau ada satu dua yang melenceng, namanya juga manusia. Masing-masing punya kepribadian berbeda,” dengan hati-hati Agung memberikan pendapatnya.

“Apa Roro bisa dipercaya Gung?”

“Maksud Bapak?”

“Jauh dari orang tua, jauh dari keluarga. Kalau dia salah langkah siapa yang mengingatkan, ini yang aku kuatirkan,” suara Lurah Brodin tak lagi segarang tadi, duduknya melorot.

“Apa selama ini Dik Roro pernah mengecewakan keluarga? Saya yakin Dik Roro tak akan berani berbuat satu perbuatan yang mengecewakan keluarga.”
“Berkali-kali Gung. Roro itu selalu membuatku kecewa.”

“Bapak pasti bergurau. Saya kenal dia dari kecil Pak. Meskipun bandel tapi dia nggak pernah neko-neko. Betul kan Pak?”
“Iya, iya. Tapi Roro selalu dengan maunya sendiri. Kamu tahu sendiri, tidak mau mendengar orang lain. Disuruh ke SMA malah masuk STM. Lihat semua kangmase jadi orang. Roro? Apa nggak makan hati itu namanya? Gung, kopinya mana? Mulutku dah pahit.” Agung pun keluar sebentar menyuruh anak buahnya pesan kopi jahe dan rondo royal kesukaan Lurah Brodin

“Tapi Dik Roro bisa menunjukkan presatasi yang tidak tanggung-tanggung kan Pak? Sketsa pendopo kabupaten yang dibuatnya bisa mengalahkan beberapa karya para arsitek dan kita semua tahu siapa pembuat sketsa pendopo kabupaten yang berdiri megah itu, putri Lurah Brodin.” Agung melangkah menuju meja kerjanya, dikeluarkan setumpuk album dan mengulurkan pada Lurah Brodin.

“Hanya sekedar untuk mengingatkan Bapak, Dik Roro banyak andilnya di desa yang Bapak pimpin juga di kecamatan yang saya bawahi.” Agung duduk di samping Lurah Brodin yang membuka lembar demi lembar foto yang tertata rapi. Tiap lembar foto selalu terpampang wajah putrinya dalam berbagai kegiatan. Dalam diamnya ada rasa bangga pada putrinya yang selalu membangkang terhadapnya.

“Saya bisa melihat dalam diri Dik Roro ada jiwa kepemimpinan dan saya yakin, itu dia dapat dari Bapak dan juga eyang kakungnya. Jadi tidak ada alasan kalau Bapak melarang dia merantau dengan tekat yang sangat mulia, mencari tambahan modal untuk memperbesar bengkel agar bisa menampung anak-anak muda Kampung Damai yang ingin mengasah ketrampilan mereka. Coba Bapak lihat ini !” Agung memperlihatkan sebuah foto.

“Bapak bandingkan keadaan bengkel sekarang dengan dua tahun yang lalu. Begitu pesat kemajuannya. Meski bengkel Karang Taruna Tunas Muda menjadi salah satu proyek percontohan dari sekian juta karang taruna yang ada di negeri kita namun tak sesenpun dana yang mengucur dari atas.” Agung berhenti sejenak, dipandangnya Lurah Brodin wajahnya tak lagi tegang meskipun kumisnya tetap ndaplang seperti kumis Gatutkoco.

“Seandainya Dik Roro ke luar negeri dengan alasan lain, sayalah orang pertama yang melarangnya. Dik Roro rela mengorbankan dirinya, masa mudanya demi keinginannya melihat bengkel yang dia bina bisa lebih besar dengan peralatan canggih dan tidak mustahil bisa menjadi bengkel resmi salah satu merek kendaraan. Oh ya, ada satu lagi yang hampir saya lupa,” Agung kembali menghampiri meja kerjanya.

“Ini proposal yang Dik Roro buat dan akan dia bawa ke luar negeri nantinya untuk menarik anak-anak muda kita yang ada di sana mau bergabung dan menanam modal. Saya sudah mempelajarinya.” Diulurkan satu map merah jambu pada Lurah Brodin.

“Kok saya sebagai lurahnya dilangkahi?” ujar Lurah Brodin setelah membaca sekilas. Agung tersenyum lebar.

“Ini salah satu langkah susulan seandainya cara kekeluargaan tidak bisa dia tempuh. Dik Roro akan mengetepikan Bapak sebagai orang tuanya dan dia akan pakai jalur resmi sebagai penduduk Bapak. Dan ini, map ini berisi lebih dari 500 tanda tangan pendukung Dik Roro tapi maaf ini rahasia,” senyum Agung Laksono semakin lebar, dengan ekor matanya sekilas dilihatnya ada seulas senyum di bibir Lurah Brodin.

“Aaah mumet aku Gung. Aku pulang.” Diseruputnya kopi sampai pada tetes terakhir alias ludes sampai ampasnya.

“Saya antar Pak, sudah malam.” Agung menawarkan jasa meskipun dia tahu jawabannya pasti tidak. Tapi kali ini ternyata Agung salah besar.

“Lha sepedaku nanti siapa yang hantar ke rumah.” Gelagapan juga Agung. Bukan keberatan untuk menghantar tapi terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Lurah Brodin.

“Biar anak-anak yang hantar, saya jamin sebelum Bapak berangkat ke kantor sepedanya sudah parkir di depan rumah. Monggo Pak.” Agung membuka pintu mobil untuk Lurah Brodin. Pendopo kecamatan yang sudah mulai ramai orang jagongan sudah tak heran melihat kesopanan Camat Agung.

oooOooo

Tidak ada pembicaraan antara Lurah Brodin dan Agung namun perang dahsyat terjadi dalam diri Lurah Brodin. Perang antara perasaan seorang ayah dan Lurah. Sebagai ayah inginnya dia melihat putrinya dekat dengannya betapa inginnya dia melihat Roro segera menemukan jodoh. Angan itu rasanya terlalu jauh untuk sekarang ini. Sembodro alias Roro, gadis ayu anak Lurah Brodin lebih mementingkan kemajuan pemuda kampung dari pada kepentingan diri sendiri.

Tin! Tin! Suara klakson mobil agung membuyarkan lamunan Lurah Brodin. Dari dalam mobil, Lurah Brodin dapat melihat bengkel karang taruna masih ada pelanggan meskipun sudah tengah malam. Dilihatnya Roro masih di sana dan Lurah Brodin paham bagi Roro bengkel tersebut seperti rumah keduanya.

“Mampir dulu Pak?” tanya Agung
“Nggak. Aku ngantuk. Gung kalu nanti kamu mampir, beritahu Roro aku tetap tidak setuju. Titik.” Agung cuma mengangguk tak bisa dia bayangkan kekecewaan hati Roro terhadap bapaknya.

“Kalau dia mau membawa semua pendukungnya nyerbu balai desa, itu lebih bagus,” sambung Lurah Brodin. Suaranya tidak ada beban, ada tawa dalam hati Lurah Brodin, tawa kemenangan.

oooOooo

Sudah semingu terjadi perang dingin di rumah besar Lurah Brodin. Perang Baratayudha antara Sembodro dan Lurah Brodin. Dalam diam, Roro si gadis muda, gadis desa yang punya ambisi besar, sudah menggalang kekuatan laskarnya dan sudah menyusun hari penyerangan. Lurah Brodin tak tinggal diam, meski cuma sendiri namun dia yakin rencananya ini menjadi kemenangan.

Akhirnya hari itu datang juga, Roro memimpin laskarnya menuju kantor desa. Tidak tanggung-tanggung pendukungnya. Di barisan depan ada sekitar 15 wanita muda dengan spanduk ‘KAMI AKAN BERANGKAT BERSAMA DEMI KAMPUNG KAMI’. Rombongan itu berjalan tertib, para Pamong Desa menggiring mereka masuk ke halaman samping kantor desa. Hanya lima orang yang dipersilahkan masuk untuk berunding.

“Bagus..! Suatu saat nanti aku yakin kamu bisa mengulingkan kekuasaanku,” Lurah Brodin berdiri setelah beberapa saat adu argumentasai dengan Roro. Dengan diiringi yang lain Lurah Brodin menemui pendukung Roro.

“Saya berdiri di sini sebagai Lurah kalian bukan sebagai Brodin, bapaknya Roro. Sebagai bapak, saya sudah kalah dalam perang melawan anak kandung sendiri namun sebagai Lurah sayalah pemenangnya. Dari awal saya sudah bisa menebak Roro pasti akan membawa kalian semua ke sini. Inilah kemenangan saya. Di samping sebagai pendukung Roro, kehadiran kalian di sini secara tidak langsung akan menjadi saksi dan hakim. Ingat! Bila suatu saat nanti Roro menyimpang dari tujuan awal, bukan Brodin bapaknya yang berhak menegur dan mengingatkan, tapi kalian semua yang hadir di sini. Selain itu,” Lurah Brodin berhenti sejenak dihampirinya Roro yang berdiri agak jauh darinya diraihnya pundak Roro.

“Kalau Roro pergi hanya dengan do’a Brodin saja rasanya nggak cukup. Kini ada banyak orang di belakang saya, bapaknya, yang turut mendo’akannya. Nah Roro, apa kamu sanggup mengemban kepercayaanku dan sanggup mempertanggungjawabkan pada mereka yang hadir di sini?” suara Lurah Brodin bergetar, kini dia benar-benar merasa kalah, kalah oleh perasaannya sendiri.
Mata Roro berkilat, ada genangan mengkristal di mata indahnya dan inilah untuk pertama kalinya Roro merasa betapa lembut kasih ayahnya. Perlahan diciumnya telapak tangan Lurah Brodin. Sudah terlalu lama Roro tak melakukan ini.
Tak ada kata-kata yang terucap namun Roro telah mengukir prasasti di hatinya bahwa kepergiannya hanya semata demi Kampung Damai.

3 Responses to “Sembodro Kampung Damai”

  1. on 10 Oct 2008 at 17:54trish07_baek

    ini baru namanya
    Shizuka VS Giant..!!
    he2..(ga nyambung!!)

    Bu Sekar..
    emank bisa
    ngais dolar
    di negeri..
    Tirai Bambu??
    ^^

  2. on 21 Oct 2008 at 10:16mojang

    jalan ceritanya terarah dengan penggunaan bahasa dan pemenggalan kalimat yang cukup baik…. terus berkarya bu Sekar

  3. on 25 Nov 2008 at 18:13Itutdsw

    Sya bukan orang sastra, tapi sya cukup bikin orang bersemangat

Tinggalkan Komentar