KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sarah

Sudah sekitar lima hari berlalu sejak peristiwa memilukan itu terekam oleh kedua mataku. Semuanya masih tampak segar, masih terasa baru tanpa secuil momen pun yang mulai mengelupas. Aku masih dinaungi oleh bayang-bayang kegelapan yang sama dengan hasrat gila yang menumbuhi hatiku layaknya jamur di musim hujan. Kini, aku sendirian. Maksudku, aku merasa telah terlepas dari kenyataan dan masuk ke dalam dimensi yang kejam ini seorang diri. Tanpa teman maupun musuh. Aku benar-benar sendiri menikmati rasa muak yang membabat gundul benang-benang akal sehat yang terbentang lelah. Setiap bunyi detik jarum jam menyiksaku habis-habisan. Ruang dan waktu, realita dan imajinasi, waras dan gila, apa artinya kini? Apa artinya hidup dan mati? Senang dan sedih? Tawa dan tangis? Jika yang tersisa hanyalah karat yang menggerogoti perasaanku sebagai manusia yang hidup atau yang lebih mudah kuartikan sebagai: kehampaan.

Dinginnya malam itu masih tersisa di tubuhku, kerutan dan bulu kuduk yang berdiri disertai kilatan lampu remang-remang itu. Pikiranku bergerak, berguling-guling seakan mencoba menghancurkan isi kepalaku. Apa yang terjadi? Apa yang telah terjadi, Tuhan? Entah karena sesuatu dari dalam jiwa rusakku berangsur pulih atau justru karena aku telah mencapai puncak dari ketidaksadaranku, namun aku menyebut nama Tuhan hampir sepanjang hari, lewat lorong-lorong di batinku hingga menembus lorong-lorong mulutku yang basah. Tapi tetap saja, aku tak bisa merangkak keluar dari lubang ini. Sumur penyesalan ini terlalu lebar untuk kupanjat. Maka aku terus berenang, menyelam sambil sesekali menyembul ke permukaan, di dalam lautan dosa di mana iblis dan setan berkumpul untuk memandikan diri.

***

Bulan purnama bersinar malam ini dalam bulatan yang sempurna. Aku memandanginya dari jendela, lalu berkata dalam hati, “Aku tak suka bulan di malam ini. Aku lebih suka saat ia masih menjadi bulan sabit.” Tapi siapa yang peduli, bulan itu akan tetap berada di atas sana sepanjang waktu, mengikutiku sepanjang malam tanpa lelah. Seperti malam-malam yang telah kulalui sebelumnya.

Tiga tahun…. Tak terasa sudah sekitar tiga tahun lamanya. Perang itu telah mengambil ragaku selama tiga tahun. Desingan peluru, ketakutan, kobaran api, mayat yang bergelimpangan, mayat teman-temanku, wanita, anak-anak, kehancuran total, luka bakar, semuanya adalah mosaik tiga tahun terakhir hidupku. Aku tak bisa tidur, Ayah, dalam tiga tahun ini. Mimpiku dipenuhi oleh perang yang tanpa henti mengguncang tubuhku, sehingga tidak ada bedanya dengan ketika aku bangun. Kadang aku merasa bahwa aku telah lama mati. Kadang aku merasakan liurku mengalir saat menarik pelatuk di siang yang panas. Kadang aku merasa aku terus mendengar deru peluru melayang di telingaku dengan bebas. Kesepian itu menyerangku setiap saat. Termasuk di hari yang telah kurindukan ini, setelah selama tiga tahun, akhirnya aku pulang. Hidup-hidup.

Sempat aku merasakan kembali semuanya. Saat kereta api ini membawaku dengan suara roda-roda besinya yang berisik yang dengan caranya sendiri bergradasi di dalam telingaku meneyerupai suara peperangan itu. Granat, ledakan, senapan, dan sebagainya. Betapa perang itu tak sudi melepaskanku seutuhnya. Dan dalam gerbong usang yang membawa dirinya menembus terowongan gelap, seketika itu aku merasakan lagi kematian dalam diriku. Gelap, hitam, sepi, kosong, dan kelam. Menakutkan berada di sini seorang diri.

Hanya beberapa detik kegelapan itu berlangsung. Segalanya sirna dengan cepat, digantikan oleh pemandangan remang malam hari di luar sana yang bisu. Lampu-lampu kecil di dalam gerbong ini menaburi kepalaku. Aku melihat sekeliling, mencoba keluar dari dalam pikiranku. Baju dinas angkatan darat menyelimutiku dengan gagah. Semua barang-barangku tersimpan rapi dalam tas ransel hijau yang cukup berat, di sela-sela kedua kakiku yang kekar. Kedua tanganku terkepal di atas kedua pahaku sementara tulang punggungku dengan tegak bersandar pada kursi dan jendela kereta. Beginilah mereka mengajariku untuk duduk.

Lalu tanpa sengaja aku melihat gadis muda itu duduk sendiri di ujung gerbong. Baru kusadari, dengan cahaya yang seadanya ini, bahwa penumpang lain telah menghilang dari tempatku, menyisakan diriku dengan pikiranku dan seorang gadis yang nampak tenang di ujung sana. Kursi-kursi di depanku menyiratkan paras kelegaannya setelah cukup lama mereka menopang tubuh-tubuh yang lelah. Mendadak gerbong ini menjadi lebih luas dan lengang dari sebelumnya.

Dalam keadaan akal sehatku yang melahirkan kembali inti kesadaran jiwaku sebagai seorang manusia utuh, aku memandangi sosok gadis itu dengan puncak kerinduan yang selama ini menghantuiku. Betapa telah lama aku kehilangan pemandangan menyejukkan ini. Seorang gadis, dalam balutan mantel hitamnya, memenuhi tiap ruangan kosong di gerbong ini dengan percik-percik keindahan kulit terangnya, untaian rambutnya, tubuh mudanya, dan anting yang menggantung di telinga kirinya.

Gadis itu sendirian. Aku yakin akan hal itu. Ia seorang diri. Sifat angkuhnya terpancar dari caranya duduk dan menyilangkan kaki jenjangnya. Raut wajah polosnya tersibak lewat kesendiriannya dalam memandangi bayangan samar dirinya dari jendela kereta di hadapannya. Dan aura kecantikannya menyingkapkan kehadirannya menembus kedua mataku. Aku tak ingat, dalam tiga tahun ini, bahwa aku pernah merasakan eksistensi dari lawan jenisku yang senyata ini, sekhidmat ini. Aku tak pernah tahu akan hal itu.

Leherku terkunci, dirinya berada dalam jangkauan pandanganku dalam sudut fotografis yang artistik. Tubuhnya bergetar kecil mengikuti irama gerakan kereta api. Ia mengenakan sepatu hak tinggi putih persis seputih pakaian di balik mantelnya. Sejauh yang kuingat, hanya seorang dokter atau suster rumah sakit yang mengenakan baju putih seperti itu. Menurutku ia adalah seoang suster. Suster yang teliti dan rapi dalam pekerjaannya, terlihat dari jari-jari mungilnya yang begitu terawat. Bahkan dari kejauhan ini aku seolah dapat merasakan napas dan aroma tubuhnya memesona kerapuhanku.

Ia memandangku, tepat di kedua mata. Namun segera ia memalingkan mukanya dengan aksen terkejut disertai sinaran kegugupan yang membuat dirinya berpura-pura memandangi sudut gerbong dalam ketenangan. Ia membelai rambut panjang ke belakang daun telinga kirinya sambil membasahi bibirnya. Aku tahu itu adalah rasa gugup yang coba ia hilangkan. Tapi yang terjadi dalam kepalaku adalah sebuah keingintahuan abstrak yang mendidih di sisi otakku yang lain, mempertanyakan maksud dari sikapnya barusan. Kegugupannya. Aku tak pernah menjalani situasi ini. Situasi yang menyangkut diriku dengan seorang perempuan.

Ia menggaruki kedua lengannya. Meregangkan otot lehernya. Merubah posisi duduknya walau sedikit. Semakin kuperhatikan sikapnya semakin tak karuan. Apa artinya ini? Apa arti dari sifat gugup wanita kala seorang pria hadir di tempat yang sama? Ini seperti sebuah tanda, semacam simbol yang harus kupecahkan. Pertanyaan dan gelisah melangkah masuk ke dalam hatiku lewat bentuknya yang misterius. Aku tak mengerti dengan apa yang sedang kuhadapi, walau sesaat, aku tak bisa mengalihkan pikiranku.

Di tengah kecamuk batin ini, gadis itu berdiri, beranjak pergi dari tempat duduknya. Ia melangkah pelan diikuti samarnya ketukan sepatu pada lantai gerbong. Aku menangkap pesan yang melintas di benak. Lewat gerakan yang rutin, dengan sigap aku bangkit. Gadis itu bergerak dalam ruang fokus dari lintasan imaji yang diproyeksikan olehku sementara kaki ini berjalan di belakangnya untuk mengejar keutuhan dirinya yang tampak tercecer di otakku. Ia bergerak masuk menuju kamar kecil.

Aku mempercepat langkahku. Dengan bantuan takdir, aku berhasil menahan pintu kamar kecil sebelum sempat ia tutup sepenuhnya. Aku mendorong diri masuk ke dalam ruangan kecil itu lalu melihat wajah mudanya yang begitu cantik dari jarak dekat. Mataku membeku, mengagumi kecantikan yang dimiliki oleh kedua pasang mata yang balik menatapku dalam getaran kejut nan gemulai. Tanganku menutup pintu rapat-rapat dan punggungku menyandar padanya. Telingaku menangkap gelombang lembut dari teriakannya, “Apa yang kau lakukan..!” Dari sini aku bisa melihat tanda pengenal yang terpasang di dadanya yang bertuliskan nama pemilik kecantikan ini: Sarah.

***

“Jadi, anda akan meninggalkan aku sendirian di rumah sakit ini, Suster?” sambil berbaring, Thomas bicara dengan nada menggoda. Seorang pasien, seorang tentara dengan luka tembak di kepalanya dan keberuntungan yang menaunginya.

“Untuk sementara waktu, Kapten. Ini hal yang mendesak. Lagipula masih ada Suster Linda yang akan merawatmu selama aku pergi.” Sambil dengan sabar dan untuk yang kesekian kalinya menahan rasa jijik, Suster Sarah membuka perban yang membungkus kepala pasiennya itu. Ia tidak lagi terkejut, saat harus kembali melihat luka di kepala pasiennya yang membabat habis seperempat dari bagian kiri kepala dan tulang tengkoraknya sehingga sebagian dari otaknya yang berdenyut dapat terlihat dengan jelas.

“Suster Linda tidak pernah suka mendengar ceritaku. Dia selalu mengalihkan pembicaraan saat aku menceritakan pengalaman selama perang.”

“Oh ya? Mungkin Kapten harus memberinya kesempatan untuk bercerita juga.”

“Dia hanya bisa membicarakan tentang resep masakan sepanjang waktu.”

Mereka berdua tertawa kecil. Suster Sarah dengan kelembutan jemarinya mulai menggulungkan perban baru yang putih mengelilingi kepala Kapten Thomas. Ia memasang senyum selama melakukan pekerjaannya itu. Lewat sorot matanya yang lemah, Thomas memotret lekuk bibirnya yang nanti akan ia rindukan di hari-harinya yang paling sunyi. Tiba-tiba, lewat pemandangan yang sedang ia nikmati, Thomas merasakan bahwa Tuhan telah memberikannya keberuntungan dua kali. Pertama, saat ia mendapati bahwa ia masih diberi kesempatan hidup setelah kepalanya diterjang oleh peluru musuh. Dan yang kedua, yang paling ia syukuri, adalah semangat hidup yang tumbuh dalam dirinya lewat kehadiran sosok Suster Sarah di sisinya yang merawatnya, mendengarkannya, mengganti perbannya, dan tertawa bersamanya. Dan air mata yang turun dari mata Suster Sarah saat pertama kali mengganti perbannya adalah bentuk salam perkenalan yang termanis dalam hidupnya. Rasa empati. Dan ketulusan dari seorang gadis muda.

Suster Sarah telah selesai mengganti perban Kapten Thomas. Ia lalu mengambil sebutir pil kemudian menyuapkan pada mulutnya dengan hati-hati. “Ngomong-ngomong, anda masih punya banyak cerita tentang perang itu ‘kan?”

“Ya, tentu saja. Masih banyak yang belum kuceritakan.”

“Aku hanya memastikan di saat aku pulang nanti, aku tidak akan mendengarkan anda bercerita tentang resep masakan.”

Kapten Thomas tertawa pelan, ia tersenyum senang. Betapa ia akan merindukan tawa kecil ini. “Jadi, kapan kau akan pergi?”

“Sore ini. Kira-kira baru malam nanti aku sampai.”

“Naik kereta api?”

“Ya. Billy akan mengantarku ke stasiun.”

“Sampaikan salamku pada ibumu. Semoga ia lekas sembuh.”

“Tentu. Ia akan senang sekali.” Suster Sarah melihat ke arah jam dan ia sadar bahwa Billy telah menunggunya untuk segera berangkat. Sebelum pergi, ia melepaskan senyumnya kembali pada Kapten Thomas, “Selamat tidur, Kapten.”

Lalu ia melangkah keluar dan mematikan lampu.

***

Tanganku bergerak dengan sendirinya membungkam mulut gadis itu. Maksudku, adalah meredam suara panik teriakannya. Aku merasakan sentuhan bibirnya yang membasahi telapak tangan kananku, begitu menyegarkan walau hanya sedikit.

Aku tak kuasa mengendalikan otakku, yang jelas, hawa dingin, suasana sepi, dan cahaya remang yang menaburi seisi ruang sempit ini seakan membangkitkan gejolak misterius jauh di dalam diriku. Aku terbujuk oleh setiap bisikan yang menyenandungkan irama kerinduan yang telah lepas dan bebas berterbangan. Dengan segenap rasa yang telah lama terpenjara, tubuhku menyambut setiap partikel kenikmatan yang merayap menembus lapisan kulitku yang kasar. Gadis ini adalah surga yang hilang, gadis ini adalah milikku yang paling berharga.

Lihai sekali, Ayah, kala kedua tanganku merobek mantel dan pakaian yang membungkus dirinya. Awalnya tampak begitu menyilaukan, ketika dalam ketelanjangannya, aku melihat pancaran tubuhnya yang ranum dengan lekuk-lekuk yang hampir meluluhlantahkan kesadaranku untuk tetap berdiri. Betapa luar biasa kelembutan kulit yang menyelimutinya dan bintik-bintik kematangan yang masih tersisa di wajahnya membuatku semakin tak terbendung dan terlontar ke langit-langit impian yang tertinggi.

Aku bagaikan raja yang mengendalikan semuanya. Gadis itu berusaha untuk berteriak di balik genggamanku, ia meronta-ronta, mengayunkan pukulannya sambil sesekali menendang kakinya ke arah perutku. Tapi semuanya tak berarti apa-apa. Semakin ia memberontak justru hasratku semakin meninggi. Dari tempatnya yang paling dalam dan gelap, nafsu liarku mengendap secara perlahan, bercampur dengan aliran darah menuju pusat kesadaranku yang diteruskan ke setiap sudut indera menjadi gerak-gerik bisu yang menjelajahi keperawanannya tanpa ragu. Hatiku tertawa bahagia untuk yang pertama kalinya.

Menyentuh tubuhnya memberikan getaran elektrik yang besar ke dalam tubuhku yang kemudian meledak di dalam dan berubah bentuk menjadi serpihan anugerah maha dahsyat. Tangisnya yang dengan sekejap mengganti parasnya dalam bentuk topeng kesedihan, tak dapat menghentikan aktor di balik pikiranku yang terlanjur memainkan adegan percintaan ini dengan sepenuh hati. Ini merupakan sebuah pesta meriah menyambut sisi kehidupanku yang telah terbangun dari tidur panjangnya dengan limpahan madu surgawi yang memabukkan. Aku terlanjur menikmati hidangan khusus ini tanpa setitikpun bayangan untuk menyudahinya.

Tetes demi tetes keringatku mengalir namun tubuhku tak juga merasakan letih. Energi di dalam diriku memperbanyak diri dalam hitungan detik. Gadis itu terlihat telah menyerahkan seluruh tubuhnya pada goresan takdir. Ia tak bergeming dalam dekapan tanganku yang kasar sementara tangisnya telah meninggalkan dirinya sendirian. Tubuhnya gontai berusaha menahan kenyataan di kedua pundaknya, namun ia tak berhasil. Ia telah jatuh dari tempat yang tinggi ke dalam buaian yang kupersembahkan untuknya. Aku terus menatap kedua matanya, melihat semuanya memudar menjadi buih. Aku tak tahu kapan ini akan segera berakhir. Sampai kemudian kereta ini menghentikkan lajunya perlahan-lahan.

***

Sekarang adalah hari ketiga sejak pengirimanku ke pangkalan ini. Akhirnya, yang kunantikan datang juga. Penyergapan yang sudah direncanakan dengan matang itu akan segera dilaksanakan. Semua peralatan telah disiapkan, mereka berjalan dengan menyembunyikan degup jantungnya, mereka berdo’a menyebutkan nama Tuhan berkali-kali, mereka berpaling mencoba memperlihatkan ketidakpeduliannya, sementara aku, aku hanya menenteng senapanku dan berharap sebisa mungkin dapat melewati hari ini dengan baik.

Sepanjang hutan, perasaanku bercampur antara mengagumi keperawanan yang masih dipertahankan oleh sang alam di balik wajah liarnya, dan keresahan yang timbul dari tingginya pepohonan hijau ini yang seakan-akan sedang menatap dan mengawasi nyawaku. Aku bersembunyi di balik gundukan tanah, mencermati sebuah pedesaan sederhana yang terlalu sepi untuk sepagi ini. Mereka bilang, di sanalah musuh bersembunyi, beristirahat, merencanakan perang, menyandera tawanan, tertawa, merakit granat, dan diajarkan untuk membunuh. Aku mendengar senapanku menarik napas seperti singa yang telah menetapkan mangsanya. Siapapun yang ada di sana adalah musuhku, walaupun terkadang aku mempertanyakan apakah mereka memang musuhku ataukah sebaliknya?

Maka saat itu tiba, bel telah dibunyikan. Aku berlari dan dengan membabi buta menembaki apapun yang ada di hadapanku. Rumah-rumah kayu itu dengan mudahnya rubuh. Suara senapan dan ledakan granat begitu gaduh di kedua telingaku. Aku tak ingat ada berapa musuh yang berhasil kutembak, yang kuingat adalah saat senapan ini meletus mengenai tepat di jantungnya, yang terjadi adalah sebuah kepasrahan dan ketundukan diri yang murni pada kuasa yang sangat besar. Aku berteriak sambil terus menarik pelatuk, berusaha mengesampingkan sisi terdalamku sebagai manusia lemah. Satu persatu musuh telah dilumpuhkan.

Ketika semuanya berakhir, baru aku membuka mataku. Mayat-mayat musuh tergeletak di setiap tempat. Darah segar mereka membasahi tanah yang cokelat. Penyerangan ini berhasil dilaksanakan dengan baik. Sampai akhirnya, ketika aku berjalan melewati rumah kayu yang hampir ambruk, aku mendengar sayatan tangis seorang bayi manusia. Di dalam rumah itu, bayi tersebut bersandar di pangkuan ibunya yang telah tiada. Ia menangis kehausan dengan air mata yang hampir mengering. Aku menatapnya diliputi perasaan iba.

Sebuah tangan yang kekar menepuk pundakku dari belakang dan meremasnya. “Tembak, prajurit.” Suara itu begitu menggema di kedua telingaku dan menghentikan laju darahku. “Bagaimanapun juga, bayi ini adalah bibit musuh dan kita tak sudi membiarkan musuh berkembang biak menguasai dunia ini ya ‘kan?”

Tanganku bergetar, mengarahkan senapan pada kepolosan sang bayi. Aku terdiam cukup lama mencermati takdir manusia yang sedang tertulis. “Tembak!” suara itu berteriak menusuk telinga dan seketika itu aku telah menghabisi satu nyawa yang tak berdosa.

Diiringi keringat yang deras bercucuran aku memandangi pemilik tangis bayi yang kini sunyi bagaikan angin. Hatiku berkecamuk, berteriak mempertanyakan yang baru saja terjadi. “Inikah, Ayah, apa yang kau cita-citakan dari anakmu? Inikah impianmu, Ayah?” Sekujur tubuhku bergetar.

Aku menoleh ke belakang dan di sanalah Kapten Thomas berdiri. Ia yang memberiku perintah untuk menembak. Dengan tenang ia menyapa, “Ini hari pertamamu ‘nak? Tenang saja hal seperti ini akan kautemui di hari-hari mendatang. Hari ini kau telah melakukannya dengan baik.” Dan dia benar, Ayah, aku melakukannya lagi di hari-hari berikutnya.

***

Kereta api ini berhenti di sebuah stasiun yang sunyi. Malam telah begitu larut dan bulan semakin pucat. Aku segera berlari meraih tas ranselku dan melompat keluar dari gerbong. Aku tak ingat, pintu kamar kecil yang kutinggalkan itu, apakah dalam keadaan tertutup atau terbuka. Yang jelas, gadis itu kulihat untuk terakhir kalinya dalam keadaan tersungkur disertai lemah tangisannya. Ia tak berdaya ditemani oleh bercak-bercak darah yang menyebar di permukaan lantai yang dingin. Ia memeluk dirinya dalam ketelanjangan yang masih hijau, melindungi dirinya, meratapi kesucian yang telah terkoyak.

Aku berjalan dengan langkah gontai, memangku ransel di atas pundak kananku. Pikiranku begitu gaduh oleh suara-suara bisikan batin yang mengganggu kesunyian di sekelilingku. Aku berusaha untuk tidak mempedulikan semua kekacauan di dalam diri ini, namun telingaku seakan tak berhenti merekam dan memutar ulang suara teriakan dan tangis gadis itu. Air matanya nampak tak segan meluncur deras menghiasi wajahnya, sementara kelembutan tangannya masih tetap terjaga di kala ia berusaha memberontak untuk melepaskan diri. Gadis itu begitu menghantui.

Kereta itu bersiap berangkat kembali menuju tempat selanjutnya. Aku mengawasi dari kejauhan, beberapa orang turun dengan membawa barang bawaannya. Namun, aku tak melihat gadis itu. Gerbong itu terlihat usang ditinggalkan oleh napas kehidupan yang biasanya setia menyertainya. Aku terdiam , menahan kelu di lidah sambil berharap aku dapat melihat gadis itu lagi, walaupun mungkin tidak seutuh seperti sebelumnya. Dan ketika roda-roda besi mulai berputar kembali, aku segera menyadari, bahwa di dalam ingatanku ini aku tak akan bisa melepaskan tubuh gadis itu dari pelukanku, untuk selamanya…

***

One Response to “Sarah”

  1. on 18 Nov 2008 at 22:00riiriss *

    . q gg mudeng crita na !

Tinggalkan Komentar