Milandha
Oktober 8th, 2008 by rey_khazama
Pergi aku mengejar keputusasaan, dalam degup jantung yang berpacu dengan waktu. Bibirku mengucap kata, “Jangan pergi, Na!”
Mimiknya menjadi bisu dengan kata itu, wajahnya yang penuh dengan polesan topeng bedak luntur oleh air mata suci. Gerah dia dengan kekangan yang bertubi-tubi menghantui dirinya.
“Apa yang kamu mau, Rey?” teriaknya dengan suara parau. Bibir tipis itu menelan air mata yang mengalir melalui pipi putihnya.
“Jangan paksa aku untuk merubah semuanya,” jawabnya. Suara itu bersatu dengan serak kerongkongan yang dipaksakan untuk menangis.
Gina Pritania Milandha, sosok suci dengan postur kecil. Umurnya yang menginjak masa tua memaksa dirinya untuk tidak mencintai Rey, pria muda dengan penuh tato di sekujur tubuhnya.
“Terima aku apa adanya,” teriak Rey dengan nada lantang. “Aku memang berandal dari sudut kota terpencil, tapi seorang Rey tak pernah melanggar perjanjian cinta dengan sebuah pengkhianatan,” lanjutnya dengan penuh amarah. Bibirnya bergetar, matanya yang memerah membuat dirinya terlihat seperti menahan diri untuk menangis.
“Itu yang Gina gak suka dari kamu!” ucapnya dengan lirih. “Coba fikir dengan akal sehatmu umurku 29 tahun, dan kamu 21 tahun. Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku!” lanjutnya menghela nafas yang mulai habis oleh kesabaran.
“Apa yang salah dengan usiaku,” jawabku menepuk dada dengan keras. “Bila aku bisa minta kepada Tuhan untuk dilahirkan satu tahun lebih lambat darimu, aku akan memohon saat masih dalam kandungan ibuku,” seorang Rey Khazama mulai kehabisan nafas, menghembuskan nafasnya dengan kencang seperti kuda yang berlari mengejar terbit matahari.
Mereka berdua diam, tak ada sepatah kata lagi terucap selama beberapa saat. Gina hanya bisa menangis dengan menutup kedua matanya dengan telapak tangannya yang halus. Blazer coklat yang dikenakannya dia lepas karena gerah dengan situasi seperti ini. Rey yang membungkus telapak tangannya dengan selembar kain putih mendekatkan dirinya di tubuh mungil seorang Gina. Digenggamnya dengan erat jemari wanita berparas cantik itu. Seorang Rey yang tak pernah rela melihat siapapun wanita di dunia ini menangis maka dari itu dirinya terlihat melemahkan mimik wajahnya, dengan kekuatan hatinya dia peluk dengan erat cahaya jelita yang selalu menghiasi hari buruknya.
“Aku seorang Rey yang berandal, tak pernah bisa mencintai wanita selain dirimu!” ucapnya dengan simbahan air-mata. Keringat di rambut Gina dia usap dengan jari kasar penuh luka.
“Maafin Gina, Rey! Tapi mungkin ini adalah takdir bagi kita,” jawab Gina dengan nada sendu penuh irama rendah. Aku mengangguk dengan perlahan untuk mengalah.
Dalam hatiku yang terdalam ingin kukatakan kepada dunia, bahwa jiwa keras ini bisa luluh oleh sebuah air mata seorang kaum ibu, otot yang besar ini bisa lembek oleh kasih sayang dari pencinta buah hati. Mata kosong tanpa balas ini mau memberi perhatian untuk seorang harta illahi yang singgah di muka bumi.
Malam itu berakhir. Di sebuah taman kecil di tengah pusat kota bandung. Surau adzan terdengung di telingaku untuk mengingatkanku akan pentingnya berfantasi dengan sang penakluk alam. Kutengadahkan kepalaku di atas kepala Gina sembari mengucap.
“Berikan aku Milandha kedua, ya Allah.”
ceritanya cukup singkat bgt!!!!aku lom ngerti….
gw lg malay baca bang,,kpn2 aja ya!!
ok juga tiap kata dan pendalaman karakter di cerita ini!!!
Anjiiir……….
Jadi mo nangis nich………