Inikah Cinta Seorang Anak?
Oktober 8th, 2008 by galeley
Senja itu, saat matahari perlahan mulai menyembunyikan wajahnya. Dari dalam bilik kamarku, aku mendengar suara kedua putra putriku memanggilku, “Mama, Mama.”
Aku menjawab, “Iya sayang ada apa?”
Dengan wajah polos dan sedikit memelas, keduanya menghampiriku. Di tangan mereka tergenggam permainan monopoli. Kata putraku yang baru berusia sembilan tahun, “Mama main sama kita Ma!”
Rupanya mereka menginginkan aku menemani mereka bermain. Aku lalu meninggalkan kamarku dan mengikuti langkah mereka ke ruang tamu untuk bermain. Tak lupa juga aku mengajak suamiku untuk ikut bermain bersama kami.
Kata putraku, “Papa sama Adik jadi teman, Mama sendiri saja ya, karena aku yang jadi banknya.” Maksud putraku, dia sebagai tempat mengeluarkan uang. Maklum putriku baru berusia lima tahun, sehingga dia masih butuh bimbingan untuk permainan seperti monopoli.
Mulailah kami bermain, kadang ada canda yang membuat kami saling berpandangan dan tertawa. Tapi rupanya kemenangan tidak berpihak padaku, aku hampir kehabisan uangku.
“Uang Mama hampir habis,” canda suamiku. Aku hanya tersenyum. Dalam hati aku mengakui kekalahanku.
Tiba-tiba putraku dengan polosnya berusaha mengalihkan perhatian suami dan adiknya dengan menjatuhkan tempat uang yang ia pegang, lalu dengan cekatan dia mengambil beberapa uang lembar dan langsung memberikannya padaku tanpa sepengetahuan Papa dan Adiknya.
Aku sendikit tersentak dengan apa yang baru saja dilakukan putraku, aku memandangnya seakan meminta jawaban atas apa yang baru saja ia buat. Tetapi putraku hanya tersenyum dan mengedipkan mata padaku, seolah-olah menyuruh aku untuk diam. Walaupun sedikit bingung aku berusaha memahami isyarat itu.
Permainan kami lanjutkan lagi. Aku bahagia melihat suami, dan kedua putra putriku bermain tanpa merasa terbeban sedikitpun, seolah-olah tidak ada yang mereka pikirkan sama sekali. Kadang mereka saling mengolok, yang membuat putri merengek, tapi akhirnya mereka tertawa lepas.
“Uang Mama hampir habis lagi, Pa,” kata putriku.
Aku berusaha membela diri dengan berkata, “Santai saja, uang Mama masih ada kok, Mama belum kalah.”
Akan tetapi begitu mataku bertemu mata putraku, aku dapat melihat dengan sangat jelas. Ada pancaran kesedihan dan rasa iba untuk diriku. Tiba-tiba putraku langsung mengambil beberapa lembar uang dan memberikan lagi padaku, tapi sayang kali ini kurang beruntung. Putriku melihatnya lalu berkata, “Papa, Kakak main curang, masa Mama dikasih uang yang bukan punya Mama.”
Putriku terus menangis dan tidak mau lagi melanjutkan permainan kami. Suamiku hanya memandang aku. Aku hanya tersenyum dan sedikit malu karena aku sadar apa yang baru saja dilakukan putraku bukan sesuatu yang baik.
Aku mendakati putraku dan bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu, Nak? Itu perbuatan yang keliru dan tidak boleh diulangi lagi.”
Tapi dengan polos dan tanpa beban dia menjawab, “Mama, aku tidak mau melihat Mama kehabisan uang.”
“Tapi ini kan hanyalah sebuah permainan,” kataku kepadanya.
“Mama, sekalipun ini hanya sebuah permainan, aku tidak ingin melihat Mama merasa sedih karena tidak punya uang untuk bermain lagi,” jawab putraku.
Aku langsung memeluknya dan meneteskan air mata. Dalam hatiku aku berkata, ‘Tuhan, inikah yang dinamakan cinta seorang anak kepada ibunya?’
Di dasar hatiku paling dalam aku sungguh amat bahagia, karena kedua anakku telah tumbuh menjadi anak-anak yang baik, walaupun dengan karakter yang berbeda. Tapi aku tetap bangga memiliki mereka. Hatiku terus berkata, ‘Tuhan terima kasih, karena sudah mempercayaiku membesarkan mereka. Anak-anakku, Mama sadar ternyata kebahagiaan Mama ada di dalam diri kalian berdua.’
Aku lalu teringat kata-kata seorang yang tidak mau menyebutkan namanya.
‘Bukan daging dari dagingku, bukan tulang dari tulangku, tapi secara ajaib milikku. Anakku, jangan lupa sedikit pun. Kau tidak tumbuh di bawah hatiku tapi di dalam hatiku.’
hmmm
bagus.,.,.,.,
aku sangat papa juga mama ku