KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Malam itu, Muhasan telah menetapkan keputusannya. Api dendam dan kesumat yang tiga hari ini ditahan-tahan dan membakarnya akan ia hamburkan. Kebencian yang selama ini meluap-luap dan hampir memecahkan dadanya akan ia muntahkan. Dendam, kesumat, dan kebencian itu akan segera membandang, menghanyutkan dan menggilas tumpas apa saja yang ada di hadapannya. Malam itu benar-benar akan dia tuntaskan urusannya dengan Sumahwi.

Muhasan tidak lagi peduli perkataan orang-orang bahwa Sumahwi adalah pemuda yang pelak maenna[1] dan angko[2]. Tentang hal ini, dia sudah tahu sejak kecil. Karena sejak masih SD dulu, dia duduk sekelas dengan Sumahwi, dan mereka bersahabat karib. Setiap hari mereka berangkat dan pulang bersama. Setiap hari juga, Muhasan, Sumahwi dan teman-teman di kampungnya selalu bermain bersama. Bermain layangan, petak umpet, bola, gundu, gasing, atau balapan dengan menggunakan pelepah pinang yang kering.

Masih jelas dalam ingatan Muhasan, ketika dulu dia, Sumahwi dan Atroyo diejek oleh anak-anak kampung sebelah. Permasalahannya gara-gara sore itu mereka tidak mau melanjutkan permainan gundu. Alasannya karena hari telah beranjak senja dan mereka mau mengaji ke langgar. Baru sekitar lima puluh meter Muhasan dan teman-temannya beranjak dari area permainan, salah seorang anak kampung sebelah berteriak,”Tako’an[3]! Ooy…tako’an! Kalau sudah menang langsung pulang! Dasar tako’an!”

Mendengar ejekan dan tantangan ini, Muhasan dan Atroyo serempak menahan langkah. Telinga Muhasan begitu panas mendengar ejekan itu. Dan panas tidak butuh tempo lama untuk menjalar ke hatinya. Kata tako’an adalah penghinaan yang terasa begitu menginjak harga dirinya. Sumahwi yang terkenal sebagai anak yang sangat angko dan pelak maenna segera berbalik beberapa langkah dan balik menantang anak-anak kampung sebelah itu. Dengan berkacak pinggang dan muka diangkat, dia berkata,

“Ba-lallaba gangan tarnya’

Ba-lallaba juko’ langgung

Ba-lallaba mon bangal kanna’

Ba-lallaba mon tako’ ondur”[4]

Melihat Sumahwi yang tampak tidak gentar sama sekali, nyali anak-anak kampung sebelah yang dari tadi menantang itu menjadi ciut. Pelan-pelan mereka menarik langkah, beringsut surut dan susut. Serupa di depan hidung mereka ada malaikat maut yang siap mencabut. Mereka pun mundur teratur.

Setelah anak-anak kampung sebelah itu benar-benar pergi, barulah Muhasan, Sumahwi, dan Atroyo melangkah pulang. Dalam hati Muhasan dan Atroyo terbersit kekaguman pada Sumahwi. Dia memang anak yang sangat angko.

Mengingat masa kecilnya bersama Sumahwi, secuil rasa ragu melintas di hati Muhasan atas ketetapan yang akan dia tuntaskan malam ini. Sumahwilah yang dulu mengambilkan layang-layang Muhasan yang putus dan tersangkut di pucuk pohon siwalan. Bersama Sumahwi, dia dulu mencari telur puyuh di ladang, di sela-sela rimbunnya kacang tanah yang siap panen, dan kemudian merebusnya di dapur Sumahwi. Bersama Sumahwi, dia berburu burung dengan menggunakan ketapel atau getah pohon nangka. Bersama Sumahwi, dia mencari telur semut rangrang untuk pakan burung hasil buruan. Bersama Sumahwi, dia dulu mencari kerang, kepiting, dan udang di sela-sela batu karang di pantai Bintaro, ketika air laut surut. Bersama Sumahwi, dia mencari rumput laut yang terdampar di pantai dibawa ombak. Dan bersama Sumahwi, dia dulu mencuri degan di kebun kelapa Haji Latip.

Namun, segala kebersamaan masa kecil itu kini hanya menjadi kenangan tanpa makna. Sumahwi telah merusak kebersamaan itu. Selama enam bulan dia merantau ke Jakarta, di belakang Sumahwi telah bermain api dengan Sa’adah, istrinya. Api itu  mulai berhembus dari mulut Atroyo di sebuah sore di warung rujak Nyi Bullah. Dan api itu pelan tapi pasti mulai membakar hati dan kepala Muhasan. “San…saya sebagai sahabatmu, merasa prihatin atas kelakuan Sa’adah dan Sumahwi ketika kamu sedang di Jakarta. Sungguh ini tidak pantas dilakukan oleh seorang istri yang ditinggal suaminya untuk mencari nafkah. Sama halnya sangat tidak layak dilakukan oleh seorang sahabat karib terhadap sahabatnya.” Begitu kata-kata Atroyo yang kini senantiasa mengiang-ngiang di telinganya dan menggerogoti hatinya. Ia tidak menyangka, Sumahwi, sahabat kecilnya tega mengkhianatinya.

Mendengar berita dari Atroyo itu, darah Muhasan mendidih di ubun-ubun. Di rumahnya, ia segera mengintrogasi Sa’adah. “Katakan! Ada hubungan apa kamu dengan Sumahwi? Apa yang kalian lakukan, selama enam bulan aku di Jakarta?” bentak Muhasan dangan nada gusar.

“Jangan sembarangan menuduh ya! Jangan-jangan kamu yang punya gundik di Jakarta, dan sekarang menuduh saya yang tidak-tidak,” balas Sa’adah tak mau kalah sengit.

Pate’[5]! Jaga mulutmu ya! Jangan bicara sembarangan!”

“Kamu juga, jaga mulutmu. Kalau memang sudah tidak suka, tidak usah menuduh macam-macam!”

“Oh ya! Sekarang kamu sudah mulai berani padaku. Aku tambah yakin, kamu memang sudah menjadi perempuan tidak benar sekarang!”

“Tidak benar, bagaimana?”

“Alah…tidak usah berbohong! Akui saja!”

Cekcok suami-istri itu berjalan dengan nada-nada tinggi sampai tengah malam, diselingi grumpyang beberapa piring pecah karena dibanting, dan tentunya diiringi dengan hati yang mulai menjadi serpihan tak karuan. Pertengkaran itu diakhiri dengan Sa’adah yang terhuyung karena tangan Muhasan bersarang di pipinya. Pipi Sa’adah memerah, semerah bara cemburu yang kini bersarang di hati Muhasan.

Muhasan lalu keluar rumah menembus gelap yang pekat. Ia melangkah dengan membawa luka hati yang dalam. Luka itu lalu memaksanya menyusun rencana yang harus segera ditumpaskan. Lokana daging bisa ejei’, lokana ate tada’ tambana kajabana ngero’ dara[6]!

Dan kini, tiga hari setelah percekcokannya dengan istrinya, Muhasan meringkuk di semak-semak di tepi jalan. Ia menunggu saat, di mana ia akan menuntaskan hajatnya. Dia akan memuntahkan api yang berkobar di tubuhnya dan mematikan dingin yang kini menyergapnya. Malam ini, di jalan ini, ia menunggu Sumahwi yang datang dari arisan di rumah Haji Nawawi.

Malam-malam seperti ini, mengingatkan Muhasan pada masa kecilnya dulu. Ketika itu dia bersama Sumahwi dan Atroyo berjalan kaki ke lapangan desa Longos untuk menonton layar tancap yang diadakan oleh sebuah perusahaan jamu. Film yang diputar ketika itu adalah Saur Sepuh. Di sela-sela pemutaran film, ada pertunjukan tari sejumlah manusia kerdil yang menari di atas panggung yang ada di samping mobil sponsor. Seperti berangkatnya yang bersama, mereka juga pulang bersama. Sambil menyusuri jalan yang dingin, mulut mereka tak henti-hentinya mengulas aksi-aksi Brama Kumbara dengan ajian Lampah Lumpuh atau Weringin Nyungsangnya, Mantili dengan pedang setannya, atau Lasmini dengan kecantikan paras wajahnya. Malam itu, tiga bocah kampung itu tiba-tiba menjelma menjadi pengulas film amatiran.

Mata Muhasan melirik ke atas. Di langit, matahari telah lama tumpas. Kini rembulan yang ganti bertugas. Gemintang di langit serupa noktah-noktah pijar di atas lembaran kelam. Seekor kalelawar menukik ke rimbunan jambu mente yang lebat di samping Muhasan. Bercicit keras lalu terbang lagi diiringi suara gedebuk jambu mente yang menghempas tanah yang gersang. Kerik belalang di rimbun semak di pangkal pohon asam menjadi bungkam ketika angin berhembus kencang. Setelah angin berlalu, ia kembali melanjutkan ritual malamnya. Suara burung hantu di kejauhan membawa irama kematian yang begitu mistis. Daun semak-semak, tempat Muhasan meringkuk mulai dihinggapi titik-titik embun. Dingin mulai membasuh malam. Namun itu semua tidak dirasakan Muhasan. Yang ia rasakan hanya dinginnya pisau cap Garpu yang kini terselip di perut bagian kiri, di balik gulungan sarungnya. Dengan pisau itulah ia akan membuat perhitungan dengan Sumahwi, menuntaskan hasratnya.

Pisau itu adalah oleh-oleh Haji Duki, kekeknya, dari tanah suci Mekkah. Pisau itu adalah pisau turun temurun di trah keluarganya. Setelah kakeknya meninggal karena tenggelam ketika melaut di laut sekitar pulau Masalembu, pisau itu dirawat bapaknya, Matruki. Dan sekarang pisau itu ada di genggamannya. Pisau itu selama ini hanya diasah dan dipajang di ruang tamu. Selama ini ia hanyalah hiasan yang menebarkan kebanggaan dan kegagahan keluarga. Tidak lebih. Namun, malam ini pisau itu akan menunjukkan tuahnya. Pisau cap Garpu di balik sarung Muhasan itu kini telah benar-benar haus darah, seperti Muhasan yang juga haus darah.

Pelan-pelan Muhasan menarik pisau cap Garpu dari balik gulungan sarungnya. Pisau itu mengkilat samar ditimpa sinar rembulan. Ia bolak balik pisau itu di atas telapak tangan kirinya. Ia tebaskan pisau itu ke semak untuk memastikan ketajamannya. Lalu ia mengusapkan ujung telunjuk dan jari tengahnya ke sisi mata pisau untuk membersihkannya.

Dari kejauhan, di antara kerik belalang, di antara suara gesekan semak yang dihembus angin, telinga Muhasan dapat menangkap suara langkah kaki mendekati tempatnya bersembunyi. Jantung Muhasan berdegup lebih kencang. Ia lirik pisau di tangannya. Ia genggam erat-erat gagang pisau yang begitu haus darah itu. Keringat dingin merembes di kedua telapak tangannya.

Kian lama, langkah itu kian mendekat. Mata Muhasan segera dipatri ke ujung jalan. Mata dan telinga Muhasan kini menjadi sangat awas. Ia mendengar dengan jelas kresek langkah kadal di atas daun-daun kering. Ia mendengar suara lompatan dua ekor kodok di balik semak-semak. Ia mendengar nafasnya sendiri yang kini mulai memacu. Dan ia kini melihat bayangan seorang yang kini melangkah mendekatinya. Semakin pendek spasi antara Muhasan dan bayangan itu, semakin kencang degup jantungnya, semakin dingin kedua telapak tangan dan kakinya dan semakin panas serta mendidih hati dan kepalanya.

Masih di balik semak-semak, Muhasan kini berdiri. Ia gulung sarungnya sampai ke lutut. Ia mulai mengangkat pisaunya ke depan mulutnya, ia kecup ujung pisau yang sebentar lagi, dapat dia pastikan, akan segera bersimbah darah!

Langkah itu semakin dekat. Sesosok tubuh yang begitu dinantikannya kini telah datang. Sumahwi yang jahanam. Sahabat yang kini menjadi musuhnya. Sumahwi yang pengkhianat. Sumahwi pate’!

Sumahwi melangkah semakin dekat. Semakin dekat. Dan kini sangat dekat. Antara Muhasan dan Sumahwi hanya dipisahkan dengan jarak tidak lebih dari dua meter. Muhasan segera melompat dari balik semak-semak, tempat persembunyiannya. Ia melompat ke arah Sumahwi dengan pisau terhunus di tangan kanannya. Pisau itu mengkilat merah ditampar sinar rembulan yang juga kemerahan.

Lalu, sekawanan kabut hitam membalut wajah rembulan. Seekor kalong melintas cepat dan mencicit tajam. Sementara di kejauhan, burung hantu masih terus saja menyanyikan lagu kematian yang sungguh mistis.

***

Manusia hidup untuk mati dan mati untuk hidup. Kematian adalah keniscayaan bagi setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Kematian hanyalah suatu tempo perpindahan dari suatu negeri ke negeri lain sehingga manusia akan menetap di suatu tempat. Kematian bukanlah sebuah kepunahan, tetapi pada hakikatnya ia adalah kelahiran kembali. Manusia akan dilahirkan di suatu tempat untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.

Meski kematian adalah sebuah hal yang lumrah bagi setiap makhluk hidup, dan semua manusia menyadari itu, tetapi tetap saja kematian yang terjadi kali ini benar-benar menghebohkan. Pagi itu, penduduk desa Longos dihentakkan dengan kematian dua warganya. Di tepi jalan kampung yang jauh dari pemukiman penduduk, ditemukan dua sosok mayat Sumahwi dan Muhasan. Dua sosok mayat itu ditemukan dengan darah yang mulai mengering pada tubuh mereka. Percikan darah juga terlihat dari noktah-noktah merah di atas tanah, rumput, serta daun-daun di sekitar kedua mayat itu.

Pada rusuk bagian kiri Sumahwi ditemukan luka tusuk yang begitu dalam dengan lebar kira-kira lima centimeter dan pergelangan tangan kirinya hampir putus disabet benda tajam. Sementara tangan kanannya masih menggenggam sebilah celurit yang berlumuran darah sampai separuh lekukannya.

Mayat Muhasan ditemukan tak jauh dari mayat Sumahwi. Ia tergolek dengan leher tergorok dan mata melotot. Darah terus saja mengalir dari tenggorokannya yang serupa kran air itu. Tak jauh dari mayatnya ditemukan sebilah pisau Cap Garpu yang berwarna merah kehitaman karena dibalut darah yang telah mengering.

Kedua mayat itu segera dikebumikan oleh keluarga masing-masing. Sa’adah meraung-raung melihat mayat suaminya. Kabut duka kini berlabuh di kedua keluarga Muhasan dan Sumahwi. Tangis pecah, duka tumpah dan kesedihan terus bersimbah mengiringi kepergian Sumahwi atau pun Muhasan yang kembali ke tanah yang merah dan basah.

***

Sudah delapan hari kematian Sumahwi dan Muhasan berlalu. Kematian yang menggegerkan warga desa Longos dan sekitarnya. Hari kemarin kedua keluarga memperingati hari ketujuh meninggalnya mereka. Seperti lazimnya tradisi warga desa Longos, di hari ketujuh kematian digelar acara tahlilan di rumah duka dengan mengundang kiai, sanak famili dan tetangga.

Saat itu, di sebuah malam yang sunyi, Sa’adah berdiri sendiri di belakang rumahnya. Sesosok bayangan berkelebat di antara pohon-pohon pisang. Bayangan itu semakin mendekat ke arah Sa’adah. Hati Sa’adah berdesir mengetahui siapa yang datang. Dia yang Sa’adah nantikan kedatangannya di malam ini. Atroyo!

“Kapan kamu mau menikahiku?” tanya Sa’adah pelan.

“Sesuai janjiku, setelah ‘iddah[7] aku akan segera melamar dan menikahimu. Percayalah! Kita akan menikah. Kita akan menjadi suami istri. Kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku. Kita akan akan hidup bersama,” jawab Atroyo dengan nada begitu meyakinkan.

Mendengar jawaban ini sekuntum senyum mengembang di bibir Sa’adah. Tidak ada secuil pun baris luka terpancar dari kedua bibirnya.

Sementara di langit, rembulan begitu redup. Kabut tipis mengangkangi sinarnya. Dua ekor kalelawar bercicit panjang dan tajam memperebutkan sebuah mangga ranum yang menggantung. Segerombolan angin berhembus sedikit kencang. Sebuah ranting jatuh menghempas tanah dan patah.  Rerimbunan pohon bambu di samping rumah Sa’adah berderit panjang karena batangnya yang bergesekan satu dengan lainnya. Sementara gemerisik dan desau tercipta dari rimbun daun-daunnya.  Suara-suara itu kini berpadu, menciptakan sebuah irama yang kacau dan memuakkan.

Pringgolayan, 12.06.2008.23.00



[1] Pelak maenna: makna harfiahnya adalah bagus mainnya, maksudnya mempunyai kemampuan bela diri yang cukup baik.[2] Angko: Pemberani[3] Tako’an: Penakut atau pengecut.[4]Ba-lallaba gangan tarnya’

 Ba-lallaba juko’ langgung

 Ba-lallaba mon bangal kanna’

 Ba-lallaba mon tako’ undur

Artinya:

Ba-lallaba sayur bayam

  Ba-lallaba ikan tongkol

  Ba-lallaba kalau berani silahkan kemari

  Ba-lallaba kalau takut silahkan pergi.

[5] Pate’: Anjing

[6] Lokana daging bisa ejei’, lokana ate tada’ tambana kajabana ngero’ dara: daging yang terluka masih bisa dijahit. Tapi jika hati yang terluka, tidak ada obatnya kecuali minum darah.

[7] ‘Iddah: Masa tunggu untuk menerima laki-laki lain bagi seorang istri yang ditinggal suaminya, baik karena perceraian maupun kematian.

3 Responses to “Irama Malam yang Memuakkan”

  1. on 11 Oct 2008 at 18:07trish07_baek

    suatu kebodohan..
    yang benar2 bodoh!!
    mengakhiri kehidupan..
    tanpa pernah memulainya!!

    ini sih namanya..
    tak tahu lawan..
    tak tahu kawan!!

  2. on 24 Oct 2008 at 10:36darwis

    maksih komennya yo!!

  3. on 06 Nov 2008 at 16:25bidha

    kenapa para lelaki itu gak pernah isa berfikit dingin dulu
    berapapun berat masalh itu
    tapi kan klo isa di musyawarah kan dengan baik kan dapat jalan yang baik pula

    aku gak nyangka masi da lelaki yang gitu ja mudah di adu domba………………………..

Tinggalkan Komentar