Episode Luka
Oktober 7th, 2008 by Abd. Qodir al-Amin
SEMBILAN tahun telah kujalani hidup bersama lelaki itu. Sudah sembilan kali kusaksikan gemerlap kembang api pada tiap awal tahun bersamanya. Di kota ini, segala lakon tentang kehidupan aku selesaikan. Dan, setiap episodenya berakhir dengan deru berahi. Cukup beralas tikar cinta saja. Cinta yang semakin liar.
Kenangan tentang suamiku telah aku buang, di dasar sejarah yang paling purba. Pada suatu ketika di mana aku dibawa pergi dari keluargaku, mungkin mereka telah melupakanku.
Sembilan tahun silam, suamiku membawa aku pergi, menyeberang laut yang luas, dan berlabuh di suatu tempat yang asing bagiku. Di tempat itulah, suamiku meninggalkanku.
Lalu ia ucapkan kata-kata itu, kematian di pelupuk mataku. Suamiku pergi, membawa kekecewaan yang lama ia simpan, dan kini tumpah bagai air bah yang menerjang segalanya.
Aku dititipkan kepada sebuah keluarga. Mereka adalah teman suamiku, katanya. Sebuah keluarga dengan sepasang anak kembar yang lucu. Seorang lelaki bertubuh kekar dan sekujur tubuh penuh tato sebagai kepala keluarga. Mobil tronton yang parkir di halaman rumah itu merupakan harta kekayaan terbesar mereka. Di pinggir jalan, pada sebuah tempat yang akan diberkahi asap kotor dari berbagai jenis kendaraan.
***
Aku tidak bisa pulang ke rumah keluargaku. Pulau seberang terlalu jauh. Suamiku tak mewariskan apa-apa selain luka. Aku pun tak mungkin pulang dengan segunung cerita pilu. Tatkala suamiku berpamitan hendak membawaku, akulah isteri yang mati-matian merayu Ebes dan Mamakku menyalami dengan restu. Dan kecupan terakhir pun hinggap di keningku, bersama pelukan Mamakku, melinangkan air mata melepasku. Sedang Ratna, adikku, hanya terpaku di depan pintu.
“Aku tidak mungkin menceraikanmu di depan kedua orang tuamu, karena itu aku membawamu ke tempat ini”
***
Kota ini begitu asing bagiku. Dan dia, adalah tempat berteduhku. Lelaki bertato di sekujur tubuhnya. Rambut ikal sebahu serta kumis yang tebal adalah panggung dramaku dalam babak yang paling suram, sekaligus kehangatan yang kudapat di kota pembuanganku.
Lelaki itu, yang melanjutkan aku kepada sebuah permulaan hidup, sebuah babak suram yang mesti aku perankan. Lelaki itu memerkosaku pada malam ke dua puluh satu, saat semua harapanku mulai terkubur kepada kepastian yang pasti hancur. Dan semenjak itu, aku relakan segala yang masih tersisa untuknya. Aku tak peduli lagi, apakah aku sedang tidur dengan seorang lelaki yang bertato yang setara dengan kejahatan suamiku atau ia lelaki yang telah beristeri dan beranak dua. Yang aku tahu, lelaki itu adalah seorang sopir tronton bertubuh kekar yang sekali dalam sepekan akan menginap di rumah.
Seperti cerita dalam novel-novel perselingkuhan, sepandai-pandainya kucing menyimpan bangkai, akan tercium juga baunya. Isteri lelaki itu akhirnya mendapati kami yang tengah mabuk berahi. Pertengkaran hebat pun meletus. Mengusik persaingan nyamuk berlomba dalam gelap. Dua anak kecil ketakutan bukan main, terpaku di sudut ruang tamu.
Umpatan dan serapah menghujaniku, melukis lebam pada kedua pipiku. Tak henti-hentinya perempuan itu menampariku. Aku tak begitu tahu apa yang ia ucapkan. Yang pasti aku pahami adalah kemarahan dari wajahnya. Mencaci dan memaki dengan bahasa yang aku tak mengerti.
Dan lelakinya meninggalkan kami. Membawa trontonnya pada udara gelap di luar sana. Sisalah kami berempat. Aku yang masih telanjang, isteri lelaki itu dan dua anak kembar yang terpaku, ketakutan.
O… begitu kejamkah dunia. Begitu banyakkah aku melakukan dosa? Aku diusir dari rumah itu. Dengan suara protes dari perempuan yang terluka hatinya. Mengiringi kepergianku dari istana yang tak sempat kutahu di mana perapiannya.
Serupa si gadis korek api, aku berjalan tanpa tujuan. Sendiri bertarung dengan udara malam. Menapaki episode derita yang bertambah babak.
Di jalan yang semakin muram, aku berharap lelaki yang baru saja mendekap tubuhku itu sedang menungguku di pojok jalan. Kubayangkan dia sedang menghisap rokok di bokong tronton yang besar, kemudian berlari menjemputku yang tergopoh menyusulnya, dan kami melanjutkan cinta yang baru saja terpotong pada sepetak ruang di dalam tronton. Di sana, lelaki itu akan menyetubuhiku seperti air liur yang menetes di atas bantal tidurku.
Tapi sekali lagi, seperti si gadis korek api yang malang. Kota ini sudah sepi. Pun ada kehidupan, itu hanya mobil yang arang lewat, menyibak rambutku usai melemparkan lampu terang ke wajahku, hanya suara bising untuk kudengar, kemudian begitu sombong membelakangiku dengan asap dan lampu merah yang sinis dari bokong mobil.
Aku terus berjalan, menyusuri malam senyap bersama daun gugur terseret angin, di jalan. Aku tak ingin menangis, sebagaimana Mamakku mengajariku untuk tidak mudah menitikkan air mata. Meski, dadaku hancur-lebur teringat lelaki yang membawaku ke kota ini. Suami yang membualkan janji tentang kerajaan cinta di seberang laut.
Hingga entah berapa jauh aku berjalan. Berteman dendam, kutanyakan diri keberadaan pencipta. Tuhan, jangan lagi kau berikan aku peran yang begitu terlunta-lunta, karena aku sudah mengerahkan seluruh kesempatan yang ada.
Dan malam mulai sekarat. Angin melemparku dari percakapan orang-orang. Tuhan, kau di mana? Aku mulai menggelandang menjadi perempuan bagai dedaun yang terserak angin di jalanan. Tuhan, kau di mana? Tak cukupkah semua, Tuhan?!
***
AKU terbangun dengan pening di kepalaku. Sebingkai lengan kekar berlabuh di leherku. Kuangkat lengan itu dan menelusuri pemiliknya. Sesosok lelaki dengan tato di sekujur tubuh terlelap di sampingku. Rambut ikal dan kumis yang tebal, memendarkan peri-peri kecil dari wajahnya. Oh, syukurlah… ini hanyalah mimpi. Lelakiku tidak pergi meninggalkanku. Tidak pula lenyap dalam gelap di luar sana, hilang bersama trontonnya dan membiarkan aku terdampar di tepian jalan. Tetapi, tidak! Aku berpikir lagi, tatkala aku benar-benar sadar, tempat ini bukanlah ranjang tempat semalam kami bercinta. Ruangan ini bukanlah tembok batako yang memenjaraku di kota pembuangan. Kardus yang bertumpuk dan box-box itu adalah benda-benda yang selalu diangkut tronton lelakiku. Ya, aku tahu! Tempat ini adalah sepetak ruangan yang aku hayalkan semalam. Lelakiku membopong tubuhku ke dalam bagasi tronton, dan kami melanjutkan cinta yang terpotong.
“Kau sudah bangun, Ratih?”
Telapak tangan yang kasar begitu hangat berlabuh di pipiku. Lelaki itu beranjak dari tidurnya. Seperti ia tahu kebingunganku, ia menarik nafasnya dalam-dalam. “Semalam, kutemukan tubuhmu di tepi jalan.”
Pada akhirnya, belas kasih Tuhan disampaikan lewat tangan besar itu. Senyuman dan ciuman menyala, mengembalikan babak yang seharusnya tak hilang. memberiku sebuah kehangatan pada musim dingin yang belum berlalu. Kubalas pelukan itu erat-erat, dan aku tak ingin bertanya, apa yang terjadi dengan tubuhku ketika angin begitu dingin mengepungku, atau, bagaimana suara binatang melata saat kau temukan tubuhku.
Lelakiku akan mengajakku pergi. Berjanji akan menjalani hidup bersamaku.
“Ratih, saat kubaca surat dari suamimu, ada kelaparan yang menyerang dadaku dua kali lipat. Seperti cerita yang menyindir hidupku. Dalam surat itu, suamimu mengatakan akan menceraikanmu karena kau perempuan mandul. Ia tulis semua ketidakpuasan itu kepadaku, dan berencana menitipkan kau di tengah keluargaku.”
Aku hanya diam, dan hanya ingin diam. Sungguh, jangan mengajakku mengingat lelaki yang membawaku ke tempat ini, lupakanlah! Tetapi ia terus bercerita, dan seperti ketika pertamakali ia meniduriku, aku tak ingin menghentikannya. Berceritalah sepuas kau ingin bercerita, biarkan semua bertumpuk di dadaku, karena saat ini aku tak ingin menjadi apa-apa selain ingin merebahkan tubuhku bersamanya, menjalani sebuah episode luka yang entah kapan Tuhan akan mengakhirinya.
Lepas-kata, 2007
shiiip… penggunaan kata-katanya sangatlah mendukung jalan ceita
Aku menikmati ceritanya
ini sih keren abis!
eh eh, makannya apa sih kok bs nulis yg begini?
ke ke ke
wieka
makacih wieka
tapi aku tetep makan nasi… yach kalo bosen paling-paling makan ati
hahaha
Keren! Alurx bs bqn ter-influence..
Coba skali2 mkn angin, pst cerpenx lbh ok’s..