Tragedi 080808
Oktober 4th, 2008 by finix
“Aku harus pergi, Win,” ucap cowok jangkung berkulit sawo matang itu pamit kepada cewek yang duduk di sampingnya. Sembari membawa tas ranselnya yang berisi pakaian dan buku-buku yang memang sengaja disiapkannya dari hari kemarin.
“Berat banget bagi aku untuk melepas semua ini. Apalagi kamu berangkat ke Medan, tempat yang amat jauh dari kampung halaman kita. Aku ingin sekali kamu di Jakarta barang satu hariii aja.”
Rio menggeleng pelan dan tersenyum lembut. “Aku gak bisa menunda keberangkatanku. Ini demi masa depanku, Win. Aku harus menyelesaikan studiku di sana. Kuharap kau mengerti.”
“Ya, aku ngerti. Aku akan selalu mendukung keputusanmu. Tapi, aku ngrasa berat aja kamu akan jauh dari aku dan kita akan jarang sekali bertemu, atau bahkan tidak.”
“Kamu jangan berkata seperti itu, aku pasti akan pulang ke Jakarta, kalo ada libur panjang. Aku pasti akan menemuimu, kamu gak usah khawatir, okey.”
Windy mengangguk, mengiyakan namun juga tak merelakan. Diusapnya pelan peluh yang kembali menetes.
“PESAWAT PENERBANGAN 003 JURUSAN JAKARTA – MEDAN, AKAN SEGERA DIBERANGKATKAN. MOHON UNTUK PARA PENUMPANG SEGERA MENYIAPKAN DIRI. TERIMA KASIH.”
Terdengar suara lembut perempuan itu seolah akan segera memisahkan antara mereka. Rio dan Windy terkesiap.
“Win, aku berangkat sekarang. Jaga dirimu baik-baik yah. Aku janji sesampainya di sana aku akan kabarin kamu. Dan aku juga janji, aku akan menemui kamu pada tanggal, bulan dan tahun yang sama, sebagai tanda waktu paling bersejarah buat kita,” ucap Rio yang kemudian pergi meninggalkan cewek cantik dengan rambut lurus sebahu itu sendirian. Rio berlari, menggapai masa depannya.
“Riiooooo….. Aku akan selalu merindukanmuu,” teriak Windy sekeras-kerasnya. Rio sempat menoleh dan melambaikan tangannya.
“I Miss U too, Windy,” balas Rio, meskipun terdengar samar. Rio menghilang dari pandangan.
Windy mendesah sekaligus menghela nafas panjang. Kini dia sendirian. Cowok yang dikaguminya selama ini telah pergi untuk meraih cita-citanya. Kembali terdengar suara panggilan itu, namun dia tak menghiraukannya. Hatinya seakan kehilangan semangat. Windy berjalan pulang dengan langkah melenggang berat.
***
Setelah hampir setengah harian dia di bandara, menunggui perpisahan yang tak direlakannya. Ia memejamkan mata, untuk sekedar melepas lelah karena rasa lelah itulah yang telah membawanya ke alam mimpi.
“ddrrrrtttttt…..ddrrrrrttttt….”
Satu pesan diterima, telah menyadarkannya dari alam mimpi. Windy menggeliat sejenak, dilihatnya angka dalam jam didingnya itu menunjukkan pukul 16.35 WIB. Baru lima jam yang lalu keberangkatan Rio ke Medan, tapi huhhh rasanya seperti sudah satu minggu. Windy meraih hapenya di atas meja, lalu membaca SMS itu.
“Win, g terasa y, skg Qt ud jauh. Jga drimu baek2 y dsna. Miss’U.”
Sebuah pesan dari Rio yang telah memberinya kembali bersemangat.
“Miss’U 2, Yo… km jnji kn, km akn sll mnemui Q, hngga jdoh akn mmpersatukn Qt. Q syg km, Yo…”
Senyum simpul kembali merekah dari bibir Windy yang tipis agak kemerahan.
“ddrrrrtttttt…..ddrrrrrttttt….”
Kembali dia membuka pesan yang di terimanya dengan wajah ceria.
“Q jg syg m km, Win.. Ap pun yg tjd, Q akn sll syg & akn sll mjdkn km org yg terspcial dhti’Q. Ud dl y, q cpe bgt ne, km jg pst cpe kn? Ok Gud Evening.. Daah ”
“Gud Evening 2, daaah… ” Balas Windy mengucapkan salam perpisahannya.
***
Langit sore itu gelap gulita. Suara guntur bergemuruh disertai kilatan cahaya. Sesekali angin berhembus cukup kencang menemani kristal-kristal hujan turun ke bumi. Hari ini adalah hari dimana Rio akan menemui Windy untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama terpisah oleh jarak. Ya, tepat di tanggal 8 Agustus 2008, seperti yang dijanjikannya, pada waktu tanggal, bulan dan tahun yang sama dia akan menemui sang bidadari hatinya, melepas kerinduan yang tercipta dan tumbuh dalam hatinya.
Windy masih sendirian di penantian itu. Menunggu kedatangan sang pangeran hati. Waktu terus berlalu tapi Rio tak juga muncul. Udah lewat 1 jam dari janjinya untuk menemuinya. Kemana dia??? Hati ini terasa dongkol apalagi hujan turun semakin deras.
Cuaca dingin, Windy hanya sendiri menunggu di halte, tanpa ada kawan ataupun lawan. Jalanan sepi, Cuma beberapa kendaraan yang lewat itupun dapat dihitung dengan jari. Dari kejauhan ada angkutan umum yang kemudian berhenti tepat di hadapannya. Mereka membawa hadiah untuk Windy yakni cipratan lumpur yang sekarang menempel di bajunya. Uuughh…sial!!! Gerutunya dalam hati.
“Pulang kemana Neng? Ayo ikut!!! Di belakang udah gak ada angkot lagi,” teriak sang driver menawari Windy untuk menjadi penumpangnya. Dia hanya geleng-geleng kepala. Karena masih berharap Rio akan datang menjemputnya lalu membawanya ke tempat kenangan antara Windy dan Rio.
Satu jam dua jam telah terlewati. Tapi dia tak jua muncul. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan dia. Pikirannya sudah dihantui rasa kacau. Windy meraih sesuatu dalam tasnya. Sebuah handphone, tapi sayangnya tak ada tulisan atau gambar apa-apa, hp-nya lowbath.
“Bagaimana caranya aku bisa menghubungi dia??” tanya Windy dalam hati.
Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 4 sore, hujan mulai reda. “Haruskah aku pulang sekarang? Kenapa sih Rio tak menepati kata-kata yang seperti dijanjikannya? Benarkah dia lupa akan janjinya kepadaku?” Rasa kecewa mulai menghiasi tanya dalam hatinya.
Windy mulai beranjak dari penantian itu lalu, mulai melangkah pergi bersama sejuta rasa kesal dan kecewanya. Tiba-tiba sebuah suara mencegatnya, “ Windy, tunggu aku…!!” panggil seseorang yang telah dinantinya selama berjam-jam.
Dari seberang jalan, Rio melambaikan tangannya dan tersenyum. Begitu pula dengan Windy, dia membalas senyumnya meski ada rasa kecewa, namun rasa rindunya yang begitu besar telah mengalahkan semua itu.
Rio mulai menyeberang jalan, namun dari arah berlawanan, sebuah truk gandeng dengan kecepatan tinggi melaju dengan cepatnya.
“Riooooo awaaaasss!!!” teriak Windy panik. Lalu dia berlari mendorong Rio ke tepian jalan. Namun tetap tak terhindarkan kecelakaan maut itu.
“Aaaaaghhhhh!!” Sebuah teriakan histeris dari seorang korban kecelakaan.
“Windy!!!!” jerit Rio yang melihat peristiwa naas itu.
Rio menghampiri tubuh Windy yang terpental dan tergelepak ke pinggir jalan. Windy merintih kesakitan. Serta merta darah itu mengalir dari tubuhnya yang mungil. Rio menjerit tak kuasa menahan tangis melihat keadaan Windy tak berdaya.
***
Sembilan September 2009.
Windy duduk di kursi berjalan itu, memandang langit senja yang memerah. Kursi itu telah dijadikan pengganti kakinya yang telah hilang setahun silam.
“Win, ada yang ingin ketemu kamu,” suara Ibu yang lembut membuyarkan lamunannya.
Windy terdiam dan berpikir setahu dia, gak ada lagi yang peduli sama dia semenjak ia menjadi cacat. Ahhh, mungkin mereka sudah berubah.
“Suruh masuk aja, Bu,” sahut Windy datar.
“Kreeekkk….” Pintu kamar dibuka.
“Selamat Ulang tahun, Windy ku sayang.” Sebuah ucapan dari seorang pemuda yang sedari dulu dinantinya. Rio.
Windy menoleh dan menangis haru.
“Terimakasih Yo, ternyata kamu masih ingat sama aku,” ucap Windy lirih.
Rio tersenyum simpul, “Aku akan selalu ingat kamu, bidadari cantikku.”
“Tapi Yo, aku bukan lagi bidadari cantik buat kamu. Aku ini cacat, Yo. Kamu lihat
kan keadaanku sekarang, lebih buruk.”
“Win, kamu jangan ngomong seperti itu. Bagiku kamu tetap sempurna.”
Windy menggeleng, “Tidak Yo, kamu gak usah menghibur aku. Aku tak pantas lagi buat kamu.”
“Siapa bilang.”
“Yo, aku ini sudah hidup selama satu tahun lebih tanpa kaki, tanpa kaki!!! Yo, aku ini cuma membuat repot kaluargaku, itulah yang membuatku sedih.”
“Kamu jangan bilang seperti itu. Kamu harus tetap semangat !!!”
Windy menggeleng.
“Win, maukah kamu jadi pasangan hidupku??”
“Ahhh, ngaco kamu!!! Udah deh jangan bercanda seperti itu.”
“Win, kamu bisa membedakan mana yang serius dan mana yang tidak kan? Aku serius, Win. Apakah kamu mau jadi pasangan hidupku?”
“Nggak. Nggak mungkin Yo. Aku ini cacat, Yo.”
“Kamu gak usah ragu, aku akan menerima kamu apa adanya, meskipun keadaan kamu seperti ini. Aku akan tetap menikahi kamu. Tahun depan aku lulus, setelah aku dapat tugas dan mapan, aku akan langsung menjadikanmu sebagai istri. Kamu mau kan menunggu aku?”
“Yo, aku gak tahu harus jawab apa. Aku memang cinta ma kamu. Tapi aku tahu diri, Yo. Calon polisi seperti kamu yang gagah tak pantas mendapatkan aku, seorang gadis cacat. Aku gak ingin nantinya kamu menyesal.”
“Tidak Win. Aku akan lebih menyesal lagi kalau menyia-nyiakan kamu dan pengorbananmu selama ini. Tolong Win, beri aku kesempatan untuk merawatmu sepanjang hidupku. Kamu mau kan?”
Windy menangis terharu. “Terima kasih, Yo.”
Ternyata masih ada orang yang mau menerima dia apa adanya. Itulah yang namanya cinta sejati, takkan berubah perasaan sayang itu, meskipun keadaan telah berubah.
baGuZzzzzz……..
bNgt lOcH…
sedih banget,..
menurut w sech si cowo kayak ngerasa bersalah gitu berhubung si cewe dah nylametin si cowo dari kecelakaan.makanya dya ngelamar si cewe, pi tetep baguz ko.Ditunggu ya cerita berikutnya,
bagus juga tapi endingnya mudah di tebak. kok mirip film india MANN ya? tapi bagus juga siiip